Ntahlah apa yang terjadi sebenarnya, aku sama sekali belum mengerti dengan apa yang baru saja aku alami. Maka dari itu, izinkan aku untuk tersenyum dan menelaah apa yang baru saja aku terima. Butuh beberapa waktu dan butuh beberapa hal agar untuk tetap bersama dengan mereka orang-orang baru yang berada di sekitarku saat ini. Tidak peduli mereka siapa dan aku pun baru tahu tentang hal ini baru saja. Berikan aku sedikit waktu agar bisa menelaah semuanya.
-Arthemis Amysthyst Matcha.
"Iya, aku saja sampai bingung melihat Iznti yang telah sehat seperti sedia kala. Ia hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan energinya saja. Jika itu semua sudah pulih maka ia bisa bersekolah seperti biasa," jelas dokter itu.
Dokter itu perlahan membuka perban yang ada di kaki Arthemis dengan pelan. Namun betapa kagetnya mereka semua melihat luka yang ada di kaki Arthemis hilang tanpa bekas dalam satu malam.
Kemudian mereka membuka perban yang ada di bahu Arthemis. Lagi, lagi mereka kaget melihat luka yang tanpa bekas di tubuh Arthemis. Metha, dokter, dan perawat itu langsung terdiam terpaku melihat itu semua. Pasalnya selama ini mereka merasakan lama sekali jika ingin sembuh dari luka dalam dan luka luar.
Tapi, kali ini kejadiannya sangat berbeda. Iznti dan Arthemis sembuh tanpa bekas luka yang baru saja terjadi. Dokter itu terdiam dan melihat dengan saksama bekas luka yang berada di sana. Dengan pelan ia membolak-balikkan kaki tersebut dan melihat luka itu kembali.
"Aku baru tahu ternyata obatku semanjur itu? Selama ini yang aku tahu bahwa obatku akan bereaksi akan sedikit waktu yang lama. Tapi, mereka berdua sangatlah aneh. Kenapa bisa sembuh dalam waktu semalaman? Padahal selama ini obatku tidak pernah semanjur ini dan sehebat ini sebelumnya?" tanya dokter itu dengan heran.
“Ha? Maksudnya bagaimana Dok? Prince Iznti bukannya dia koma ya pada saat ini?” tanya Metha dengan sangat bingung.
"Iya, Prince Iznti yang lebih aneh bagiku saat ini. Ia koma dan aku tidak bisa menebak kapan ia akan sadar. Tapi, pas aku cek ke dalam kamarnya tadi. Ia sudah bangun dan makan buah yang ada di ruangan itu," ucap dokter itu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Bukannya Iznti yang lama ya untuk masalah bangun? Kenapa sekarang Arthemis yang masih terlelap padahal yang terluka parah adalah Iznti?” tanya Metha dengan sangat bingung.
“Itu dia yang menjadi pertanyaan dokter juga. Kenapa mereka bisa bertukar seperti ini. Ada sebuah keanehan yang terjadi saat ini yng membuat pertanyaan dokter. Karena ini sama sekali jarang terjadi,” ujar dokter itu dengan sangat santai.
Metha terdiam dan heran melihat kejadian yang aneh di depannya saat ini. Dokter berjalan menemui perawatnya dan meminta jarum suntik dengan obatnya. Ia akhirnya menyuntikkan obat itu di lengan Arthemis agar sang empunya bisa cepat sadar dalam tidurnya.
"Baiklah kita tunggu setengah jam lagi. Jika ia tidak sadarkan diri lagi, maka kita harus memanggil Healer dari kerajaan Dyrnatous."
Mereka bertiga menunggu Arthemis tersadar dari tidurnya. Mereka bertiga sibuk membaca buku yang ada di dalam ruangan itu, ada yang menatap keindahan alam di luar ruangan. Ada yang menatap Arthemis dengan tatapan yang dalam.
2 jam pun berlalu. Tidak ada tanda-tanda Arthemis untuk sadar dari tidurnya. Mereka sangat panik melihat Arthemis yang tidak sadarkan diri saat ini juga. Metha yang melihat sahabatnya tidak sadarkan diri kembali menjadi panik dan menghela nafasnya dengan sangat pelan. “Dokter ini sudah 2 jam, tidak ada tanda-tanda Arthemis sadar dari tidurnya? Kita harus bagaimana?” tanya Metha dengan sangat khawatir.
Dokter itu langsung bangkit dan memeriksa keadaan Arthemis kembali. Tangan yang dingin dan wajah yang masih pucat membuatnya sangat panik melihat keadaan Arthemis saat ini. Dokter tersebut menatap dalam ke arah perawat yang berada di belakangnya dengan sangat panik.
"Perawat, minta Healer pada Bu Hernyme dari kerajaan Dyrnatous. Jika tidak memanggil Healer kita tidak bisa menolong Arthemis dengan cepat. Cepat lakukan sekarang juga," ujar Dokter tersebut dengan sangat panik.
"Baik Dok," ucap Perawat itu sambil meninggalkan ruangan ini.
Tok....Tok....Tok......
Tak lama kemudian Perawat, Healer Siska, dan Bu Hernyme masuk ke dalam ruangan Arthemis dengan tergesa-gesa. Mereka semua takut terjadi apa-apa terhadap Arthemis. Suasana di ruangan Arthemis sangat tegang dan tidak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka semua saat ini. Bu Hernyme benar-benar menatap Arthemis dengan sangat takut dan menghela nafasnya dengan kasar.
"Dokter, ini ada seorang Healer. Ia dari kerajaan Dyrnatous, Healer Siska yang akan mengobatinya. Aku dengar dari perawat ini soalnya Arthemis belum sadarkan diri sampai saat ini," jelas Bu Hernyme dengan sangat khawatir.
Dokter dan Metha hanya menganggukkan kepala dengan pelan. "Benar apa yang perawat itu katakan Bu. Arthemis sama sekali belum sadarkan diri sampai saat ini," jelas Dokter itu.
"Salam kenal Healer Siska. Silakan obati pasienmu saat ini," ucap Dokter itu sambil memundurkan diri dan membiarkan Healer Siska masuk ke dalam ruangan itu.
Healer Siska langsung pucat melihat Arthemis yang terbaring lemah di depannya saat ini. Rasa gemetar dalam tubuhnya sangat berasa saat ini. Semua orang yang ada di sini memperhatikan Healer Siska dengan saksama dan kebingungan. Pasalnya Healer Siska sangat takut dan bingung melihat Arthemis yang terbujur lemah saat ini.
"Ada apa Healer Siska?" tanya Bu Hernyme dengan sangat bingung dengan sikap Healer Siska yang sangat aneh.
"Apakah ia adalah anak dari keluarga bangsawan Matcha?" tanya Healer Siska dengan lembut.
"Iya, bagaimana kau mengetahui tentang hal itu? Padahal kami tidak mengatakan apapun kepadamu tentang siswa yang akan kamu obati?" tanya Bu Hernyme dengan kebingungan.
"Oh, tidak. Aku hanya menebak saja apa yang terjadi padanya, karena wajahnya sama sekali tidak asing dengan anak dari keluarga Matcha. Aku akan menyembuhkannya sekarang juga.”
Healer Siska mendekat ke arahnya dan menempelkan tangannya di kening Arthemis. Ia mengecek denyut nadi Arthemis dengan pelan dan menelaah apa yang menyebabkan ia seperti ini. Ternyata, Arthemis terlalu menggunakan kekuatan Healer yang terlalu besar hingga membuatnya kehabisan energi. Healer Siska hanya tersenyum kecil menatap Arthemis dengan lembut.
"Kalian tenang saja. Ia sedang mengisi energinya yang habis. Maka dari itu ia sangat lemah, tenang saja saya akan membantunya untuk mengisi energinya dengan cepat. Ia sudah tidak kenapa-kenapa," jelas Healer Siska.
“Kenapa kamu tahu bahwa dia anak dari seorang bangsawan Matcha?” tanya Bu Hernyme dengan penuh selidik.
“Aku pernah bertemu dengan mereka semua dalam pertemuan pada saat itu. Keluarga Matcha membutuhkan seorang Healer, dan mereka memakai diriku sebagai Healer tersebut. Maka aku hanya menebak saja karena wajahnya yang tidak asing.”
Mereka semua hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan dan terdiam membiarkan Healer Siska bekerja dengan sangat baik. Healer Siska mengambil obat kedokteran dan suntiknya yang ada di tangannya. Ia juga mengalirkan sedikit energinya agar mempercepat pemulihan Arthemis. Ia menyuntikkan cairan itu di lengan Arthemis dan tersenyum dengan manis.
Setelah selesai ia melakukan itu semua, ia menaruh semua barang-barang itu di tempatnya. "Aku izin pamit undur diri dulu. Lakukanlah yang terbaik Siska. Aku akan selalu berhutang padamu," ujar Bu Hernyme dengan sangat senang.
"Tidak usah berkata seperti itu. Aku hanya melakukan tugasku. Selamat kembali bertugas Bu," ucap Healer Siska dengan ramah.
"Ia akan baik-baik saja. Satu jam lagi ia akan sadar," ucap Healer Siska dengan sangat ramah kepada mereka semua.
"Baiklah kami semua akan keluar dari ruangan ini. Aku titip Arthemis padamu ya Siska. Aku percayakan semuanya padamu saat ini," ucap Bu Hernyme sambil meninggalkan ruangan ini.
Metha, dokter, dan perawat itu pergi dari ruangan ini menyusul Bu Hernyme. Healer Siska duduk di samping ranjang Arthemis.
"Akhirnya aku menemukanmu saat ini sayang. Sudah lama rasanya kita tidak bertemu satu sama lain. Apa kabar denganmu? Apakah kau selama ini baik-baik saja di bumi?" gumam healer Siska.
Healer Siska menggenggam erat tangan Arthemis dengan pelan. "Kau sudah tumbuh dengan dewasa. Kau sudah besar sekarang ini. Pasti paman dan bibi sudah merawatmu dengan sangat baik."
"Tidak, setelah kepergian mereka berdua hidupnya sangat miris. Ia seperti orang yang kehilangan arah, banyak cambukan yang ada di tubuhnya saat ia datang ke sini."
Siska yang merasa kaget dengan pernyataan itu langsung terkaget dan menatap seseorang yang ada di belakangnya dengan datar.
"Maksudnya kakak apa?" tanya Healer Siska dengan tak percaya.
"Kelaurga Matcha memang mengurusnya dengan baik. Tapi, pengikut mereka malahan menyiksa adikmu dengan sangat kejam. Mereka sangat gila akan harta dunia, mereka sangat gila dengan kekuasaan. Mereka selalu berpikir kalau ingin menghabisi Arthemis dengan cepat."
"Pemilik dan pewaris kekayaan keluarga Matcha adalah Arthemis. Aku saja kaget mendengar apa yang di ceritakan Aetos ke padaku."
"Jelaskan padaku tentang semuanya Hernyme!" ucap Healer Siska dengan tegas.
Ya, Hernyme adalah kakak sepupu dari Arthemis dan Siska. Arthemis adalah adik kandung dari Siska.
"Aetos datang kepadaku pada malam hari, ia menjelaskan semuanya tentang apa yang di alami oleh Arthemis di bumi. Semenjak paman dan bibi meninggal, Arthemis di asuh oleh orang kepercayaan paman dan bibi. Mereka itu adalah orang yang sangat baik dulunya."
"Mereka pada saat ada paman dan bibi merawat Arthemis dnegan senyuman, kasih sayang, dan masih banyak lagi. Tapi, ketika Paman dan bibi meninggal. Hanya suaminya saja yang menyayangi Arthemis dengan sepenuh hati."
"Istri dan anak-anaknya sangat kejam dan begis kepada Arthemis. Mereka tidak akan segan-segan mencambuk Arthemis dengan tali pinggang jika ia tidak mau melakukan apa yang di suruh oleh mereka."
"Mereka juga akan sangat enteng menyika Arthemis dengan sangat kejam. Selama ini Arthemis penuh kesedihan, ia selalu merindukan paman dan bibi. Ia juga selalu menyebut paman dan bibi di saat tidurnya," jelas Bu Hernyme.
"Bagaimana kau tahu tentang itu semua?" tanya Healer Siska.
"Setelah semua orang tertidur, aku mengendap-endap masuk ke dalam kamar Arthemis. Aku menemaninya sampai sebelum fajar. Aku selalu mendengar ketika ia tertidur. Ia selalu bilang takut di dalam tidurnya."
"Aku takut ayah, bunda. Ambil aku dan bawa aku bersama kalian. Ayah, bunda bantu aku. Aku selalu merasakan sakit saat ini."
"Ia selalu menggumamkan itu. Ia selalu menangis di dalam tidurnya. Itulah yang membuatku sangat sedih melihatnya."
Healer Siska mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Ia bersumpah bahwa ia akan menghabisi semua orang yang melakukan ketidak adilan kepada adiknya. Selama ini paman dan bibinya telah menjaganya dengan baik.
Mereka selalu memperlakukan Arthemis seperti layaknya sebuah emas yang sangat berharga. Namun, setelah mereka tiada. Banyak orang yang menyiksa Arthemis tanpa ampun di bumi.
"Sebenarnya aku sangat kaget melihat Tuan Psyche membawa Arthemis dan Aetos datang ke hadapanku saat itu. Aku menutupi rasa kagetku di depan mereka. Namun Bu Armthe sudah merasakan kalau itu bagian dari kita."
"Ia menyayangi Arthemis dengan sangat sepenuh hati. Selama Arthemis sakit, ia selalu datang dan memeluk Arthemis dnegan lembut. Ia menggantikan baju dan memandikan Arthemis di saat ia tidak sadarkan diri."
"Aku akan menjaganya dengan baik. Sekarang kau bisa pulang dan bilang pada Bibi, bahwa anak kesayangannya aman di tanganku."