Healer?

1703 Kata
Healer? Mungkin sangat terdengar asing di telinga kita semua. Tapi, di sini sebuah penghargaan yang sangat besar jika mereka memiliki healer. Pangkat healer adalah pangkat yang paling tinggi di antara seorang tabib dan dokter. Di bandingkan yang lainnya healer lebih di butuhkan di bandingkan yang lainnya. Ibarat sebuah udara yang selalu di butuhkan oleh manusia seperti itulah tugas healer yang sesungguhnya tidak terlihat namun sangat di butuhkan. -Arthemis Amysthyst Matcha. Aku masih menatap Iznti dengan tatapan tidak percaya, sebuah keajaiban yang benar-benar luar biasa saat ini terjadi padanya. "Kau beneran sudah sadar?" tanyaku seperti orang bodoh yang melihatnya seketika bangun dari tidurnya. "Iya, Iznti sudah sadar, kau yang telah menyadarkannya Emys." Ucapan Horald membuatku tersenyum dengan manis dan mengepalkan tanganku dengan pelan. Terima kasih Tuhan, terima kasih. Engkau sudah menjawab semua doaku saat ini. Aku menghapus air mataku dengan pelan dan memeluknya dengan pelan. Aku langsung melepaskannya dan menatapnya dengan intens. Holard hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum manis ke arah kami berdua. Aku salah tingkah dan merasa tidak enak dengan Iznti yang aku peluk secara tiba-tiba. Jujur saja, aku benar-benar reflek dengan apa yang telah aku lakukan saat ini. Itu semua di luar kendali aku, aku melihat ke arah Iznti dengan sangat pelan dan menundukkan kepalaku. “Maaf aku reflek melakukan semuanya, aku tidak bermaksud sama sekali melakukan semuanya.” Iznti hanya terkekeh pelan dan menganggukkan kepalanya dengan santai. “Tidak masalah selagi tidak berlebihan,” ujar Iznti dengan sangat santai. “Dasar, masih sakit saja tetap ngeselin. Rasanya ingin sekali marah kepadanya,” gumamku dengan sangat sebal. “Kau berkata apa?” tanya Iznti dengan sangat simpel. “Tidak, aku hanya masih tidak percaya bisa mengobatimu saat ini." "Kau yang menyembuhkanku?" tanya Iznti dengan sangat kaget. "Ya dia yang menyembuhkanmu saat ini. Aku melihatnya secara langsung tadi," jelas Horald. "Ha? yang benar saja. Itu bukan aku ko," ujarku dengan sangat sopan. "Jelas-jelas kau yang membuatnya sadar. Kau beneran seorang healer? Kau sangat hebat lah bisa menyembuhkannya dalam hitungan detik," ucap Holard dengan sangat bangga. "Healer? Apa itu? Semacam makanankah? Atau semacam serambi yang sering aku makan?" tanyaku dengan bingung. "Serambi itu sangat manis aku sangat menyukainya. Waktu itu aku pernah memakannya pada saat aku berada di bumi." "Tentu saja, benar-benar sangat menyenangkan dan sangat enak sekali ketika memakannya. Aku sangat menyukainya," ujarku dengan sangat polos. "Jadi, healer adalah hal yang seperti itu kah?" tanyaku dengan sangat bingung. Seketika semua orang yang ada di ruangan ini langsung tertawa terbahak-bahak. Aku hanya mengernyitkan dahiku dengan pelan melihat tingkah mereka semua. "Ada apa? Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku? Atau aku salah menilainya?" tanyaku dengan bingung. "Healer itu bukan makanan Emys, tentu saja dia berbeda dengan serambi. Jika serambi itu barusan beneran makanan. Ya Tuhan, kau membuat ku tertawa terpingkal-pingkal Emys. Aku tidak tahu ternyata kau selucu ini," ucap Holard sambil tertawa ngakak di depanku. "Coba kau jelaskan kepadaku, apa artinya healer? Kenapa kau bisa menyebutku dengan sebutan itu? Padahal aku tidak mengetahuinya sama sekali. Coba jelaskan sekarang juga," tanyaku semakin bingung. "Okey, dengarkan aku baik-baik. Healer adalah pangkat tertinggi di atas dokter dan tabib. Jika seorang Tabib dan dokter memakai ramuan, alat medis, dan barang-barang medis lainnya. Kalau healer ia akan menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan orang lain. Jadi, dia adalah orang yang sangat di butuhkan dalam menyembuhkan orang juga pada saat terserang ilmu orang lain." "Pangkat tertinggi di atas dokter? Sedangkan aku saja tidak mengerti apapun dengan dunia kesehatan. Bagaimana bisa aku menyembuhkan seseorang dengan itu? Lalu bagaimana aku menyembuhkannya? Kenapa bisa aku membuatnya bangun padahal aku tidak melakukan apa-apa saat ini," tanyaku semakin bingung. "Kau tadi menangis di atas tangannya Iznti, air matamu tak sengaja mengenai tangannya. Air mata itu terserap ke dalam kulitnya dan menimbulkan sebuah cahaya biru yang sangat terang di dalam tubuh Iznti tadi. Dari cahaya itu yang mengatur jalannya darah dan bertemu dengan alirannya akhirnya ia membuka matanya dan tersadar dari koma, Kau memang tidak menyadarinya karena memang kau tidak mengetahui itu semua Emys," jelas Holard. "Jadi, kau adalah seorang healer yang telah menyembuhkan aku?" tanya Iznti dengan tidak percaya. Mendengar pertanyaan dari Iznti aku hanya menggelengkan kepala dengan pelan dan tersenyum dengan manis. "Tidak, aku bukan seorang healer. Aku hanyalah seorang anak yang berangking rendah di sekolah ini. Aku juga tidak mengetahui apapun tentang medis. Jadi, kau tidak perlu memikirkan apapun. Mungkin tadi hanya sebuah kebetulan semata," jawabku dengan sopan. "Baiklah istirahatlah. Aku dan Horald akan kembali ke kamar kami berdua. Kau jaga diri di sini, semoga lekas sembuh," ucapku dengan lembut. Horald langsung membungkukkan badannya di depanku. Aku mencoba bangkit dari tempat duduk dan naik ke atas punggung Horald. Tak lama kemudian tangan Horald keseleo dan tak sengaja menjatuhkan aku di depan sofa yang ada di depan ruangan ICU. Bruk! Aku kembali duduk di bangku itu. Horald langsung menatapku dengan tatapan yang sangat sedih. "Apakah kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya. Tanganku sangat sakit tadi," jelas Horald. Aku tersenyum dengan manis dan menarik tangannya dengan lembut. "Bolehkah aku melihat tanganmu yang sakit? Aku akan memijitnya dengan pelan," ucapku dengan rasa bersalah. Horald menunjukkan tangannya yang keseleo ke depanku. Aku langsung dengan telaten memijitnya dengan pelan dan menraik uratnya yang nyangkut. Setelah selesai aku menyuruhnya untuk menggerakkan tangannya dengan pelan. "Gerakkan tanganmu dengan pelan. Semoga dia sudah membaik," ujarku. "Kau memang seorang healer. Biasanya meskipun di pijat berulang kali akan lama jika tangan ku ke seleo. Tapi, karena kau aku sudah sembuh. Terima kasih Arthemis," ucap Horald dengan manis. "Jangan seperti itu. Aku hanyalah manusia biasa yang selalu melakukan kesalahan. Sudahlah, aku akan berjalan kaki ke kamarku." Aku mencoba berjalan dengan perlahan. Aku menggunakan kakiku berjalan sampai beberapa langkah. Sangatlah aneh, aku sekarang tidak merasakan rasa sakit lagi. Aku tidak merasakan rasa kebas seperti tadi. Tunggu, lalu kemana rasa sakit itu semua lenyap? Kemana semua itu? Aku sangat kegirangan karena tidak merasakan sakit di kaki dan pundakku lagi. Aku meloncat-loncat dengan kegirangan di depan Horald. Horald yang melihatku meloncat-loncat menatapku dengan tatapan bingung. "Apa yang sedang kau lakukan? Kakimu sedang sakit, kenapa kau malahan meloncat-loncat seperti orang gila?" tanya Horald dengan bingung. Aku langsung berlari menghampiri Horald dan memeluknya dengan singkat. Aku melepaskan pelukan itu dan tersenyum dengan manis di hadapannya. "Kau harus tahu satu hal. Bahwa saat ini kakiku sudah tidak sakit lagi, aku sangat senang sekali. Rasa sakit itu hilang begitu saja dalam hitungan menit," ucapku dengan kegirangan. Tanpa sadar aku kembali memeluk Horald dengan erat. Tak lama kemudian aku langsung tersadar dan melepaskan pelukanku. Aku tersenyum dengan canggung dan merutuki kebodohan yang telah aku lakukan saat ini. "Hmmmm, maaf aku tidak sengaja." Holard hanya tersenyum manis dan menatapku dengan dalam. "Tidak masalah, kalau kau butuh pundak dan pelukan aku selalu siap menyambutmu dengan hangat. Sudah masuk lah ke dalam kamarmu." "Terima kasih sudah mengantarkan aku sampai ke depan kamar. Lebih baik kau segera kembali ke asramamu. Jika ada orang yang melihatmu, maka kau akan terkena masalah karena hal ini." "Kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku. Aku akan baik-baik saja sampai ke dalam asrama. Lebih baik kau sekarang kembali dan beristirahat dengan tenang di dalam," ucap Horald sambil tersenyum manis. "Aku sudah sembuh," jawabku dengan santai. "Jangan berkepala batu. Mungkin kau memang sudah sembuh, tapi energimu masih melemah. Jadi, lebih baik kau kembali beristirahat sampai tenagamu pulih. Meskipun jasad sudah baik namun energi belum sepenuhnya baik maka akan berdampak buruk padamu di kemudian hari," jelas Holard. Holard dan aku masuk ke dalam ruangan ku tadi. Ia membaringkan aku di atas tempat tidur, dan menyelimuti ku dengan selimut tanpa menggangu Metha yang sedang tidur di pinggiran ranjang. "Syut, kembalilah tidur sebelum Metha bangun. Kau harus selalu beristirahat agar cepat kembali beraktivitas. Selamat malam," ucap Horald dengan manis. "Besok aku akan kembali ke sini untuk menjengukmu. Tenang saja, nanti akan ku bawakan makanan yang kau inginkan. Apa yang kau senangi?" tanya Horald dengan pelan. "Aku sangat menyukai buah kelengkeng. Apakah aku boleh memintamu untuk membawakan itu?" tanyaku dengan pelan. "Baiklah, akan ku bawakan buah itu. Sekarang beristirahat lah," ucap Horald sambil tersenyum manis. Aku tersenyum manis dan menganggukkan kepala dengan pelan. Horald keluar dari ruangan ini dengan sangat perlahan tanpa mengeluarkan suara yang berisik. Aku yang merasa sudah nyaman kembali tertidur di atas ranjang dengan perasaan yang tenang saat ini. Arthemis POV Off. Author POV On. Metha terbangun dari tidurnya, ia melihat Arthemis yang masih tertidur dengan lelap di depannya. Metha tersenyum dengan manis dan berlari menuju kamar mandi. Metha bersiap-siap untuk sarapan dan bersekolah pagi ini. Ia pergi dengan cara mengendap-endap agar tidak terdengar oleh Arthemis dan mengusik tidurnya. Matahari semakin naik ke atas, namun itu semua tidak mengusik tidur seorang Arthemis Amysthyst Matcha. Pelajaran di sekolah ini juga telah usai membuat semua siswa dan siswi yang ada di sekolah ini berhamburan keluar kelas. Ada yang pergi ke kantin, ada yang pergi ke asrama, lapangan, hutan, sungai dan masih banyak lagi. Berbeda dengan Metha, ia membawa sebuah bingkisan makanan di tangannya dan berjalan menuju ruangan Arthemis. Metha tersenyum dengan manis melihat bingkisan yang ada di tangannya, ia ingin sekali melihat sahabatnya tersenyum dan memakan makanan ini dengan lahap. Metha masuk ke dalam ruangan Arthemis dan menaruh bungkusan makanan itu di atas meja dekat kasurnya. Ia melihat Arthemis yang masih tertidur dengan damai di atas ranjang. "Ternyata kau sampai saat ini belum bangun? Dasar kau ini, kenapa begitu lama kau sembuh? Aku sudah merindukan senyumanmu itu Arthemis," gumam Metha sambil memegang kening Arthemis. Tak lama kemudian seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan ini dengan alat medis yang lengkap di tangan mereka berdua. "Apakah mereka berdua belum bangun?" tanya dokter itu kepada Metha. "Iya dok, dari pagi Arthemis belum bangun dari tidurnya." Dokter itu terkejut bukan main dengan pernyataan yang di berikan oleh Metha. "Apakah kau yakin?" tanya dokter itu memastikan. "Iya, aku dari pagi di sini. Ia belum membuka matanya sama sekali dari tadi," ujar Metha. "Baiklah aku akan mengganti semua perban yang ada di tubuhnya. Tapi, aku sangat bingung sekali. Kenapa ia sangat lama sembuhnya? Sedangkan Prince Iznti yang koma dan banyak luka sudah pulih tanpa adanya bekas luka sedikitpun." ujar dokter itu. "Ha? Yang benar saja dok. Bukannya luka itu lama ya kalau kita obati. Kenapa Iznti yang banyak luka bisa sembuh seperti sedia kala?" tanya Metha dengan bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN