Ancaman

1710 Kata
Ketika hidup dengan orang lain terasa sangat lebih mengerikan di bandingkan tinggal bersama keluarga aslimu. Maka, hargailah waktu dengan baik dan lindungi semua keluargamu saat ini. Karena kita gak pernah tau yang akan terjadi di masa depan. Apakah kita akan masih ada dan bersama keluarga kita atau malah kita di tinggalkan terlebih dahulu dengan mereka semua. -Arthemis Amysthyst Matcha. "Tapi, jika aku keluar dengan menggunakan kalung ini. Mereka akan mengambilnya dariku," gumamku dengan sedih. Aku memegang leherku dengan lembut. "Aku akan menaruhnya di sini nanti," gumamku. Aku berjalan menuju laci tadi dan melihat lagi ada apa di dalamnya. Aku menggeledah laci itu dan aku menemukan sebuah buku kuno yang membuatku mengernyit bingung. "Ini buku apa? Kenapa ini sangat aneh sekali?" Aku membaca nama yang ada di atas bukunya dan kembali mengernyitkan dahiku. "Princess Amythsyst." Aku yang merasa penasaran dengan buku itu langsung membukanya dan membacanya. Banyak tulisan-tulisan kuno yang membuatku sangat bingung. "Ini buku apa? Kenapa buku ini ada nama tengahku? Dan kenapa juga tulisan di buku ini sangat asing di mataku?" Aku terus membaca bukunya dengan baik. Tak terasa waktu semakin berlalu malam pun semakin menunjukkan dirinya, aku terlalu larut membaca buku itu hingga berjam-jam pun berlalu. Aku langsung tersadar dengan tugasku yang menumpuk di rumah ini. "Astaga, aku lupa dengan tugasku saat ini." Aku melepaskan kalung yang ada di leherku dan menaruhnya di dalam kotak asalnya. Aku membereskan buku dan kotak itu lalu memasukkannya lagi ke dalam laci yang ada di ruangan itu. Aku mengambil senter yang ada di ruangan ini dan keluar dengan tergesa-gesa dari lorong itu. Aku berjalan mengendap-ngendap berjalan keluar dari ruangan itu. Aku mengintip dari celah guci yang ada di depanku. Merasa aman dengan situasi di luar aku langsung keluar dan pura-pura membersihkan guci itu. "Huft, syukurlah mereka semua belum pulang." Aku menghela nafas dengan panjang dan membersihkan rumah ini dengan cepat. Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, aku beralih ke dapur untuk memasak makanan yang ada di dalam kulkas. "Ku suka dirinya, namun aku sayang." Aku bersenandung kecil sambil memasak makanan untuk makan malam. Di rumah sendirian membuatku bebas, rasanya sangat nyaman ketika aku di rumah seperti saat ini. Tidak seperti ada manusia-manusia jelmaan iblis itu yang membuatku seperti di neraka saat di rumahku sendiri. Tak lama kemudian suara mobil berhenti di depan rumah, Ibu dan ketiga saudara angkatku pulang saat ini dengan membawa barang belanjaan yang sangat banyak. Aku hanya bisa tersenyum miris ketika melihat mereka yang turun dari mobil dengan membawa barang-barang. Mereka tersenyum senang dan bercanda di ruang tengah. "Emys!!!!" teriak Ibu angkatku. Aku yang sedang menata makanan di atas meja makan langsung meninggalkan makanan itu dan menghampiri mereka semua. "Iya Bu," jawabku dengan sopan. "Kau bereskan semua barang belanjaan ini. Kami ingin beristirahat di kamar, jika ayah pulang bilang saja kami sudah makan di luar." Setelah mengucapkan itu padaku, Ibu langsung pergi ke kamarnya meninggalkan kami berempat di ruang tengah. Aku menundukkan kepala dengan pelan dan mengambil barang-barang itu. Andra menarik badanku dengan kencang hingga membuatku berdiri dengan tegap. "Ingat satu hal, jangan pernah kamu berbicara apapun kepada ayahmu. Jika kau masih betah di rumah ini, kau harus menuruti apa yang kami perintahkan. Jika kamu berani mengucapkan satu kata saja kepada ayah nyawamu menjadi taruhannya," ucap Andra sambil menengulkan kepalaku dan meninggalkan aku di ruang tengah. "Ingat ya," ucap Grilly sambil menepuk pundakku dengan pelan dan meniggalkan aku bersama Angga saat ini. Hanya tersisa aku dan Angga di ruang tengah. Angga berjalan mendekat ke arahku saat ini. Mendekat dan semakin mendekat ke arahku. Melihat Angga yang berjalan mendekat, terus berjalan mundur hingga terjatuh di atas sofa yang ada di ruang keluarga. Angga terus mendekatkan tubuhnya dan mengunci tubuhku dengan tangannya. Aku hanya bisa pasrah saat ini saat melihat dia mendekat ke arahku. Angga semakin mengikis jarak kami saat ini, "Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah mengucapkan apapun tentang ini semua kepada ayah, jika kau berani megucapkan ini semua kepada ayah, maka kau akan tau akibatnya. Bukan hanya tangan ini saja yang akan terluka. Sekujur tubuhmu akan terluka karena ulahmu sendiri ingat itu," ancam Angga. Mendengar ancaman dari Angga, aku hanya bisa terdiam membeku dan menatap manik matanya dengan sangat dekat. Angga langsung segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan aku sendirian di ruang tengah. Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. Aku bangkit dari tempat duduk dan mengambil barang belanjaan mereka semua. Aku membereskannya dan menaruhnya dengan benar pada tempatnya. Setelah aku selesai menaruh semua belanjaan itu, terdengar suara mobil ayah parkir di parkiran rumah. Aku dengan cepat mengganti pakaianku dan keluar dari kamar. Aku menunggu ayah sambil merentangkan tangan untuk memeluknya. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku, rasanya ingin aku menangis dan mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini. Ayah masuk ke dalam rumah dengan senyuman hangatnya. Aku langsung menghampirinya dan memeluknya dengan pelan. "Aku rindu Ayah," gumamku dengan lirih. Ayah yang kaget melihat sikapku saat ini hanya tersenyum dengan manis. Ia mengacak-acak rambutku dengan pelan dan mengecup kepalaku dengan lembut. "Ayah jauh lebih merindukanmu," ucap Ayah sambil melepaskan pelukanku dengan pelan. Aku melapaskan pelukannya dan mengambil tas kantornya dengan tangan kananku. Sedangkan tangan kiri aku sembunyikan di belakang punggung. Ayah yang merasa aneh dengan sikapku hanya mengernyitkan dahinya dengan pelan. "Kenapa kamu sembunyikan tangannya di belakang punggung?" tanya Ayah dengan lembut. "Aku tidak apa-apa Ayah, hanya saja tangan kiriku agak sedikit sakit tadi." Tanpa aba-aba ayah menarik tanganku dengan lembut dan melihat pergelangan tanganku yang membiru serta telapak tangan yang di balut oleh perban. Ayah menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. "Siapa yang melakukan ini? Jawab Ayah dengan jujur ya," tanya Ayah dengan sangat lembut. Aku hanya menggelengkan kepala dengan pelan dan membungkam mulutku untuk mengucapkan siapa yang melakukan ini semua padaku. Jika aku bilang ini adalah ulah Angga, maka Ayah akan marah besar pada mereka semua. Setelah Ayah marah pada mereka, besok aku akan lebih di siksa lagi. Bahkan terkadang lebih parah dari ini, ingin rasanya aku mengadu pada seseorang. Ingin sekali aku menumpahkan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi, apalah daya. Aku tidak memiliki nyali untuk melawan mereka semua. Tanpa sadar air mataku menetes dan mengalir deras di pipiku. Ayah menghapus jejak air mataku dengan pelan dan membawaku untuk duduk di ruang tengah. "Ada apa? Bilang sama Ayah tentang semuanya. Jangan pernah sungkan untuk bilang apapun kepada Ayah. Siapa yang melakukan ini semua kepadamu? Ayah akan membayar semuanya," ucap Ayah dengan tegas. "Apakah Ayah yakin bisa membayar semuanya? Bagaimana jika itu diri Ayah sendiri?" tanyaku dengan pelan. "Maksudnya?" tanya Ayah dengan bingung. "Jika itu diri Ayah sendiri, apakah Ayah akan menghabisinya?" tanyaku dengan lembut. "Ayah tidak mengerti apa yang kau ucapkan saat ini," jelas Ayah. "Ayah lebih baik makan dulu ya. Aku gak papa," ucapku sambil membantu ayah untuk bangun dari sofa. "Di mana Ibu?" tanya Ayah. "Ibu berada di kamar, ia sedang beristirahat." "Andra, Angga, Grilly?" tanya Ayah lagi. "Mereka sudah pada tidur saat ini," jawabku seadanya. "Apakah mereka tidak makan?" tanya Ayah. "Mereka sudah makan duluan sebelum Ayah datang," jawabku lagi. Ayah hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Kami berdua jalan ke arah meja makan. Aku mengambilkan nasi dan lauk untuk Ayah sambil menahan nyeri di tanganku. Setelah mengambilkan makanan untuk Ayah, aku ikut makan di sebelahnya. Hanya ada keheningan yang tercipta di ruang makan. Tidak ada yang berbicara di antara kami berdua saat ini. Aku menghabiskan makananku dengan cepat dan membereskan semuanya. "Lebih baik Ayah lupakan semuanya. Sekarang Ayah istirahat dan masuk kamar ya. Aku tidak mau Ayah sakit karena kepikiran hal yang tidak pasti," ujarku. "Ayah akan mencari tahu sendiri siapa yang sudah tega melakukan ini semua padamu. Seharusnya yang melakukan ini tau siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah seseorang yang sangat istimewa," ucap Ayah. "Aku hanya seorang anak yang selalu menyusahkan orang lain. Seharusnya aku menyusul ayah dan ibuku untuk pergi dari dunia ini. Terima kasih Ayah sudah merawatku sampai hari ini," jelasku. "Tidak perlu mengucapkan itu. Ayah sangat senang bisa mengurusmu saat ini kau adalah anak yang baik," ucap Ayah sambil mengelus kepalaku. Setelah selesai membereskan semuanya aku langsung kembali berjalan menuju kamar atas. Selama ini Ayah tahu kalau aku tidur di kamar atas. Padahal aslinya aku sama sekali tidak tidur di kamar itu. Ketika Ayah masuk ke dalam kamar, aku akan kembali ke gudang belakang untuk beristirahat. Aku berjalan menuju tangga dan melihat Ayah yang sedang menungguku di sana. "Emmy," panggil Ayah kepadaku. "Iya," jawabku dengan santun. "Kemarilah," panggil Ayah. Aku berjalan mendekat ke arah Ayah dan duduk di sebelahnya. "Ada apa Ayah?" tanyaku dengan lembut. "Mana lukamu? Biar Ayah yang mengobati semua lukamu. Meskipun Ayah tidak tahu luka ini siapa yang menyebabkannya. Tapi, ayah yakin kalau ada seseorang yang kejam dan tega membuatmu seperti ini." "Kemarilah," ujar Ayah. Aku mendekat ke arahnya dan menyodorkan tangan kiriku kepadanya. Ia dengan telaten membuka perban ku dan membersihkan luka yang ada di tanganku. "Shhhh," ringisku dengan pelan. "Shhhhh, apa ini begitu menyakitkan?" tanya Ayah. "Iya, ini begitu sangat menyakitkan. Rasanya begitu nyeri Ayah," aduku pada Ayah. "Ayah akan pelan-pelan, tahan sedikit ya." Aku mencoba menahan rasa sakit yang ada di tangan kiriku saat ini sambil melihat wajah ayah yang sangat fokus mengobati lukaku. Beberapa menit kemudian Ayah selesai membersihkan luka dan mengobatinya. "Sudah kembalilah ke kamar. Ayah akan ke kamar duluan. Selamat malam anak cantik," ucap Ayah sambil mengecup keningku dengan lembut. "Iya Ayah," ucapku. Ayah masuk ke dalam kamar sambil meninggalkan aku di ruang tengah. Merasa aman dengan semuanya, aku masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku membuka pintu kamar dan langsung merebahkan badanku di atas tembat tidur. Beginilah kamarku. Kamar ini begitu sesak sekali hingga membuatku tidak nyaman. Tapi, mau bicara apalagi. Aku tidak bisa membantah apa yang mereka katakan. Saat ini lebih tepatnya aku menjadi orang yang sangat cupu. Hanya bisa menangis dan mengadu pada Tuhan tentang semua yang aku alami hari ini. Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan dan sangat menyakitkan. Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku juga sadar bahwa aku hanya anak pembawa sial. Tapi, kedua orang tuaku selalu membawaku ke kebahagiaan. Rasanya aku ingin menyusul mereka saat ini. Aku ingin selalu bahagia kepada mereka semua. "Ayah, Bunda, aku rindu kalian. Kapan kalian menemuiku saat ini?" gumamku dengan pelan. "Kalian baik-baik saja kan? Kalian bahagia kan? Aku tidak marah jika kalian bahagia di sana. Aku akan sangat senang jika kalian tersenyum di sana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN