Perhatian Ayah

1711 Kata
Rumahku adalah surgaku, mungkin hanya beberapa orang yang dapat menyebutkan itu saat ini. Bagiku, rumah ini tetap menjadi neraka ketika siang hari. Berbeda dengan malam hari, rumah akan terasa damai dan tentram ketika Ayah pulang dari kantor. Tapi, ketika ia sudah kembli ke kantor maka rumah ini akan kembali menjadi seperti neraka yang paling mengerikan. Tidak ada hati ataupun kasih sayang di dalamnya hanya saling menjatuhkan dan saling menghancurkan satu sama lain agar bisa menguasai apa yang harus di kuasai di suatu saat nanti. -Arthemis Amysthyst Matcha. "Ayah Bunda, maafkan aku ya yang tidak nurut pada kalian pada saat itu. Aku tahu aku ini anak yang nakal dan tidak mau nurut padamu. Aku mohon maafkan aku," gumamku dengan sangat lirih. "Aku sudah mengikhlaskan kalian ko. Bunda, Ayah, maafkan aku. Aku sudah lelah saat ini. Ingin rasanya aku pergi dari muka bumi ini. Tolong aku, jemput aku sekarang juga. Aku mohon." "Bantu aku keluar dari semuanya, bantu aku untuk tersenyum kembali. Bantu aku untuk menemukan hal yang baru. Ayah Bunda, aku rindu," ucapku dengan tangisan yang sangat pilu. Rasanya ingin aku pergi meninggalkan dunia ini. Aku benci mereka semua, aku benci orang yang bermuka dua, dan aku juga benci seseorang yang haus akan harta. Aku sangat benci keributan, aku benci caci maki, dan penyiksaan. Tapi, semuanya hanyalah sebuah angan. Sebuah angan kebahagiaan yang sedang ku dambakan. Sebuah angan yang tidak tau kapan terjadinya. Aku tersenyum miris menatap kosong ke arah depan. Arthemis Amysthyst Matcha yang dulu sudah tiada di dunia ini. Hanya ada seorang Emys yang selalu di siksa dan di caci maki di dalam rumah yang kejam ini. Tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi senyuman, dan tidak ada tegur sapa. Semuanya lenyap seperti di telan bumi. Aku menggenggam tangan dengan kesal mengingat apa yang telah mereka lakukan padaku. Rasa benci kepada mereka semua membuatku ingin menghabiskan waktuku dengan cepat. "Aku akan bersumpah, suatu saat nanti. Jika aku sudah dewasa, aku akan membuat kalian semua bertekuk lutut di hadapanku. Aku tidak akan tinggal diam saat ini juga. Mungkin kalian senang dengan apa yang kalian lakukan saat ini." "Tapi, itu semua tidak akan bertahan lama. Aku akan menghabisi kalian dengan kedua tanganku secepatnya, lihat saja nanti jika permainan sudah di mulai." Aku mulai memejamkan mataku dengan pelan. Hingga akhirnya aku terlelap di dalam bunga tidur. Baru saja aku terlelap dalam tidurku, tiba-tiba ada seseorang wanita yang membangunkan aku dengan lembut. "Amy bangun, Nak. Amy," panggil wanita itu dengan lembut. Aku yang merasa tidurku terusik hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar dan mencoba membuka mataku dengan pelan. "Enghhhh," eluhku sambil mengambil posisi yang enak. "Bangun Nak," panggil wanita itu dengan lembut. Aku mengucek mata dengan pelan dan melihat siapa yang ada di depanku saat ini. "Bunda?" tanyaku dengan pelan sambil mengucek mataku dengan kasar. Bunda dan Ayah kandungku ada di depanku saat ini. Rasanya sangat tidak mungkin ketika mereka menghampiriku seperti ini. Aku hanya tersenyum manis dan memeluk mereka berdua. Mereka langsung berhambur membalas pelukanku. Aku memejamkan mata dengan pelan dan menikmati beberapa momen yang Tuhan kasih padaku saat ini. "Tuhan, jika memang ini adalah mimpi tolong jangan bangunkan aku untuk sebentar saja. Tapi, jika ini nyata maka izinkanlah aku untuk bahagia selamanya dengan orang-orang yang aku sayang." Setelah puas berpelukan aku langsung melepaskan pelukan itu dan menatap mereka dengan tatapan yang dalam. Mereka yang paham dengan sikapku yang sangat berubah drastis hanya tersenyum dengan manis. "Ayah tahu apa yang kau rasakan saat ini. Ayah tau apa yang kamu rasakan sampai detik ini. Tetap tersenyum apapun yang kamu rasakan ya, karena kami selalu ada di sampingmu saat ini." Ayah mengelus kepalaku dengan pelan dan tersenyum dengan manis. "Kau harus tahu satu hal. Meskipun kami jauh darimu, kami akan selalu memantau kamu dari kejauhan," jelas Ayah sambil mengelus kepalaku. "Ayah, jemput aku. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Tangan aku sakit Ayah," eluhku sambil menitihkan air mata. "Ayah tahu apa yang kamu rasakan. Jangan menangis lagi ya," ucap ayah sambil menarik kepalaku untuk bersandar di dadanya. Bunda yang ada di sebelah ayah hanya menatapku dengan tatapan sedih. "Apakah ini rasanya begitu menyakitkan?" tanya Bunda dengan lembut. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan pelan dan menangis sesegukan di pelukan Ayah. Bunda hanya mengelus telapak tanganku yang terbalut perban dengan pelan dan menahan tangisnya. "Maafkan kami, maaf karena sudah membuatmu seperti ini. Jujur kami juga tidak ingin meninggalkanmu seorang diri di dunia yang kejam ini, kami juga sangat sedih ketika melihat mereka sering menyiksamu dengan kejam. Maafkan kami yang tidak bisa membelamu," ucap Bunda sambil mengelus tanganku. "Bunda, jangan khawatirkan aku ya. Aku kuat ko, aku tidak akan kenapa-kenapa. Bunda cukup selalu doakan aku yang terbaik dan selalu mendatangi aku saja seperti ini sudah cukup," balasku dengan lembut. "Apakah hal seperti ini sangat cukup untukmu?" tanya Ayah. Aku melepaskan pelukan Ayah dan menatap mereka dengan sangat lembut. "Hal inilah yang membuat aku tetap kuat untuk menjalani kehidupan. Terima kasih sudah selalu ada bagiku selama ini, Im really miss you." Ayah mengelus kepalaku dengan pelan dan sesekali mengecup keningku dengan lembut. Bunda hanya tersenyum manis dan mengelus pundakku dengan lembut. "Kami punya sesuatu yang sangat berharga untukmu. Kau harus menjaganya dengan baik ya," ucap Ayah dengan lembut. "Apa itu?" tanyaku dengan bingung. Ayah dan Bunda mengajakku ke arah jalanan yang tadi pagi aku lewati sendirian. Aku mengernyitkan dahi dengan pelan melihat sikap mereka yang tiba-tiba seperti ini. Selama ini mereka tidak pernah menunjukkan apapun kepadaku. Tapi, hari ini mereka mengajakku ke tempat yang sudah ku temui duluan tadi pagi. Ayah menatapku dengan tatapan lembut, ia merangkul pundakku dengan pelan dan menuntunku ke arah tempat itu. Hingga akhirnya kami sampai di depan ruangan itu. Ibu mengucapkan tulisan yang ada di samping pintu. Aku hanya tersenyum manis melihat mereka berdua saat ini. Rasanya aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini. Rasanya sudah lama tidak merasakan kehangatan ini. Kehangatan keluarga yang utuh dan kehangatan pelukan kedua orang tua yang masih bisa aku peluk. Tuhan kenapa kau begitu jahat membuat aku merasakan kesedihan yang teramat dalam ini? Kenapa Kau malah mengambil Ayah dan Ibuku dengan cepat? Kenapa Kau ingin aku merasakan kedinginan tanpa pelukan kedua orang yang sangat aku sayangi ini? Harapanku saat ini, sangat mudah. Aku ingin sekali merasakan kehangatan ini. Kehangatan yang tiada duanya. Ayah menatapku dengan pelan dan mengajakku masuk ke dalam ruangan itu. Kami bertiga sudah berada di ruangan yang sangat nyaman itu dan duduk di atas sofa yang ada di dalamnya. "Ayah, bolehkah aku bertanya?" tanyaku dengan pelan. "Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Ayah. "Pintu itu kenapa sangat hebat? Ia bisa membukanya tanpa menggunakan kunci. Apakah Ayah buat pintu itu?" tanyaku dengan bingung. Bunda tersenyum dengan manis ke arahku dan mengacak-acak rambutku yang sudah rapi. "Itu pintu bukan pintu biasa Myst. Pintu itu akan terbuka jika kamu mengucapkan mantra yang ada di sebelah pintu tersebut," jelas Bunda sambil tersenyum manis. "Mantra?" tanyaku dengan bingung. "Kau pasti sering mendengar tentang hal itu? Kau pasti penggemar sebuah film fantasi pasti mengerti apa yang ibu ucapkan," ucap Bunda. "Aku masih bingung dengan semuanya. Kenapa itu semua bisa terjadi? Apakah semua orang bisa membuka pintu itu dengan mengucapkan mantra yang ada di sebelahnya?" tanyaku dengan bingung. "Mantra akan muncul ketika kita bertiga hadir di depan pintu. Selain dari kita bertiga tidak ada orang lain yang tahu kalau ada ruangan ini. Mereka tahu tapi hanya melihat lorong panjang yang kosong dan tempat penyimpanan barang saja." "Berbeda dengan kita. Kalau kita masuk ke dalam sini semuanya akan hilang dan hanya ada pintu ini dengan mantra di sampingnya. Kau bisa menggunakan ini jika kau ingin kabur dari rumah," jelas Bunda. "Ayah memiliki sesuatu untukmu," ucap Ayah sambil berdiri dari duduknya. Ayah berjalan menuju laci yang tadi pagi aku temukan dan mengambil kotak serta buku yang ada di dalamnya. Ia kembali berjalan menghampiriku dan membuka kotak itu dengan pelan. Ia membuka kotak itu dan mengambil sebuah kalung liontin yang ada di dalamnya. Kalung itu? Kalung yang aku lihat dan aku pakai tadi pagi di dalam sini. "Itu apa?" tanyaku dengan polos. "Ini adalah Liontin milikmu. Kau bisa berjalan-jalan ke dunia yang hebat ketika kamu mengucapkan beberapa mantra yang ada di dalam buku ini. Kau harus apal semua mantra yang ada di dalam sini." Aku mengambil buku itu dan menatapnya dengan dalam. "Kenapa nama buku ini ada nama Princessnya? Padahal namaku aslinya tidak memiliki sebutan itu?" tanyaku dengan bingung. Ayah dan Bunda hanya tersenyum tipis dan mengelus puncak kepalaku dengan pelan. "Suatu saat kau akan mengetahui semuanya. Sekarang kau cukup pakai kalung ini dan menghapal mantra yang ada di dalam buku ini. Jika memang di perlukan kau bisa menggunakannya," jelas Ayah sambil tersenyum manis. Ayah mendekat ke arahku dan memakaikan kalung itu di leherku. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dengan pelan hingga membuatku terlonjak kaget. Aku mengerjapkan mataku dan menoleh ke arah samping kanan dan kiriku. "Huft, ternyata hanya sebuah mimpi. Ini jam berapa?" gumamku sambil menghela nafas dengan kasar. Aku langsung bergegas turun dari ranjang dan membasuh mukaku dengan pelan. Aku menatap mukaku di depan cermin yang ada di hadapanku saat ini. "Sungguh menyedihkan mukamu saat ini My," gerutuku. "Kau tampak lebih menyedihkan daripada seorang upik abu. Kau memang hidup di dalam rumah, tapi kehidupanmu sama dengan anak jalanan yang tak punya arah dan tujuan." Aku hendak membasuh mukaku lagi, tak terasa aku melihat kalung yang semalam Ayah dan Bunda berikan kepadaku. Aku memegang kalung itu dengan pelan dan menampar pipiku sendiri dengan kuat. "Awsss!" rintihku dengan pelan. "Ternyata ini sama sekali tidak mimpi. Ini semua nyata, jadi semalam mereka benar-benar bersamaku? Apakah itu benar?" tanyaku dalam hati. Aku mengelus liontin itu dengan sangat pelan dan tersenyum manis ke arah cermin yang ada di depanku. "Aku harus menyembunyikan kalung ini dan buku itu di tempat yang tepat. Aku tidak mau sampai mereka tahu tentang semuanya," gumamku dengan sangat lirih. Aku langsung membasuh mukaku kembali dan membersihkan tubuhku dengan cepat. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku langsung menyimpan buku yang Ayah berikan semalam ke dalam sebuah lemari kecil yang ada di dalam kamar ini. Aku yang merasa sudah aman dengan semuanya, langsung keluar dari kamar dan memasak sarapan untuk orang-orang yang ada di dalam rumah ini. Aku turun ke dapur, sampai di dapur aku melihat Ayah angkatku yang sedang berkutat dengan alat dapur yang tidak biasa ia pegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN