Ada dua kemungkinan ketika kita mendapatkan sebuah mimpi. Yang pertama mimpi itu akan hanya menjadi bunga tidur semata. Atau yang kedua mimpi akan menjadi kenyataan. Mungkin sebuah mimpi jika di lihat oleh sebuah mata saja itu akan terlihat sangat tidak nyata. Tapi, jika di pikirkan memakai logika itu semua akan terasa nyata dan bahkan itu memang nyata adanya. Itu semua juga bukan sebuah dunia mimpi dan ilusi. Tapi, kembali pada konsep utama kali ini, sebuah mimpi yang terlihat nyata dan terlihat ada pada saat ini.
-Arthemis Amysthyst Matcha.
Aku yang merasa sudah aman dengan semuanya, langsung keluar dari kamar dan memasak sarapan untuk orang-orang yang ada di dalam rumah ini. Aku turun ke dapur, sampai di dapur aku melihat Ayah angkatku yang sedang berkutat dengan alat dapur yang tidak biasa ia pegang.
"Apa yang sedang Ayah lakukan pagi buta seperti ini?" tanyaku dengan pelan.
Ayah yang merasa terpanggil langsung menoleh ke arahku. "Eh, sudah bangun putri kesayangan Ayah. Ayah sedang memasak makanan untuk kalian semua," ucap Ayah angkatku.
"Emang Ayah bisa memasak?" tanyaku sambil mengambil beberapa sayuran untuk di potong.
Mendengar pertanyaanku Ayah hanya terkekeh pelan dan kembali melanjutkan acara masaknya. "Kau tidak tau dulu aku adalah seorang chef terkenal di Indonesia," ucap Ayah.
"Benarkah? Aku tidak mengetahui itu," ucapku sambil tertawa kecil.
"Ya, itulah adanya." Aku terkekeh dengan pelan dan menatap ayah dengan sangat dalam. Banyak sekali yang aku syukuri saat ini saat bersama ayah. Dia benar-benar sangat membuat aku bersyukur dan selalu berharga di setiap waktunya.
Ya, meskipun aku bukan anak kandungnya. Tapi, setidaknya dia selalu ada dan selalu paham dengan apa yang aku inginkan. Ia juga, selalu menyayangi aku sama seperti ia menyayangi kedua anak dan istrinya. Itulah yang membuat aku lebih berharga dari sebelumnya saat ini.
"Emys?" panggil Ayah sambil melambaikan tangannya ke arahku, aku yang merasa di panggil langsung terperanjat kaget ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan yang sendu.
"Iya Ayah. Ada apa?" jawabku dengan sangat sopan dan menutupi semua kegugupan yang aku rasakan saat ini.
Jujur saja, aku sangat takut saat ini. Soalnya Ayah sudah sangat tajam melihat diriku dari atas sampai bawah. Aku sangat takut dia mengetahui apa yang di lakukan oleh anak dan istrinya yang sangat kejam saat ini kepadaku.
"Tanganmu kenapa?" tanya Ayah dengan sangat lembut.
"Gapapa ko Yah, tadi ada insiden kecil aja mangkanya begini," ujarku dengan sangat hati-hati.
"Insiden kecil gak mungkin satu badan luka dong?" tanya Ayah.
Tubuhku menegang mendengar pertanyaan dari ayah. Rasanya ingin sekali aku menenggelamkan diri ke sungai dan tidak muncul ke permukaan lagi sampai suatu hari nanti. Tapi, apalah daya. Aku tidak bisa melakukannya saat ini. Aku hanya bisa pasrah kepada Dewi Fortuna agar bisa berpihak kepadaku pagi ini.
"Itu hanya perasaan Ayah aja, aku gapapa ko. Tadi, aku abis jatuh aja dari tangga karena buru-buru ke dapur pengen minum. Yaudah deh dapat beginian," jawabku dengan sangat takut.
"Bukan karena ulah mereka semuakan?" tanya Ayah dengan sangat tegas.
"Tidak Ayah, tenang aja. Mereka semua baik kepadaku saat ini. Mereka juga selalu sayang sama Emys sekarang ini. Ayah tenang aja ya."
"Maafkan Ayah, Ayah akan meninggalkan kamu dan anak-anak Ayah dalam waktu dekat ini. Ayah di tugaskan di Jepang selama beberapa hari ke depan."
Aku yang mendengar ucapan itu langsung menatap Ayah dengan berkaca-kaca. Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya agar semua orang tau betapa menderitanya aku hidup di rumah ini. Aku menahan tangis dan mencoba tersenyum di hadapan Ayah.
"Kapan ayah akan berangkat?" tanyaku dengan pelan.
"Ayah akan berangkat siang ini ke bandara, kamu baik-baik bersama mereka ya. Kalau mereka melakukan hal yang di luar kendali segera laporkan ke Ayah," ucap Ayah sambil tersenyum manis.
"Kenapa mendadak sekali? Bukankah kalau tugas seperti itu dari jauh-jauh hari sudah di bilangin ya?" tanyaku.
"Iya, cuma Ayah baru berani bilang sama kalian sekarang. Ayah tidak mau kalian bersedih karena akan Ayah tinggal perjalanan dinas," jelas Ayah.
"Justru dengan adanya Ayah bilang mendadak kayak gini sangat menyiksa aku lebih dalam. Mereka akan semakin berkuasa dan semakin semena-mena terhadapku saat ini," teriakku di dalam batin.
"Ayah akan membawakan banyak oleh-oleh untuk kalian semua. Kalian tenang saja, Ayah akan membawakan apa yang kalian pinta."
"Aku tak butuh apapun. Cukup Ayah pulang dengan selamat itu sudah sangat berharga," jelasku sambil kembali memotong sayuran itu.
Ayah tersenyum simpul melihat tingkahku yang sangat dingin. Aku yang di tatap seperti itu tetap fokus ke dalam masakan itu. Kami berdua masak tanpa ada yang membuka satu patah katapun.
Setelah selesai memasak Ayah kembali ke kamarnya dan berganti pakaian. Aku langsung menata makanan itu dan menyediakannya di atas meja makan. Tak lama kemudian, Ayah, Ibu angkat, dan anak-anak mereka turun ke abawah dengan muka tersenyum paksa.
"Pagi Emy," sapa Ibu dengan nada ramahnya.
"Pagi Emy sayang," sapa semua anak-anaknya ke arahku
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan duduk di kursi makan. "Ular akan menjadi ular sampai kapanpun. Semua orang di rumah ini selalu melakukan hal yang sangat fake, mengkin di depan Ayah mereka baik. Tapi, di belakang Ayah........." umpatku dalam hati.
Mereka duduk di bangkunya masing-masing dan mengambil makanan yang ada di hadapannya. Aku kembali berdiam diri dan fokus ke dalam makananku.
"Ada yang Ayah ingin bicarakan," ucap Ayah dengan tegas.
Semua orang yang ada di meja makan langsung menoleh ke arahnya dan menatap Ayah dengan bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Ibu angkat.
"Ada apa Ayah?" tanya mereka semua.
"Ayah akan berangkat ke Jepang, Ayah take off jam 9. Kalian baik-baik di rumah, Ayah akan segera kembali. Jaga diri dan jaga rumah ini baik-baik," ucap Ayah.
Aku hanya menundukkan kepala dengan dalam dan menahan tangis melihat Ayah yang ingin pergi. Ibu dan anak-anak mereka tersenyum dengan licik ke arahku saat ini.
"Kenapa sangat mendadak sekali? Kami baru saja bertemu denganmu. Masa harus di tinggal lagi?" tanya Ibu dengan baik.
"Maaf, itu semua tugas. Aku tidak bisa melepaskan tugas begitu saja," jelas Ayah.
"Baiklah kalau seperti itu. Aku akan mengantarmu ke bandara," jelas Ibu.
"Tidak usah, aku akan pergi sendiri. Kamu fokus menjaga anak-anak di rumah," jelas Ayah.
"Tapi-----" ucapan Ibu terpotong oleh Ayah.
"Aku sudah biasa pergi sendiri. Jaga mereka saja," jelas Ayah.
"Baiklah kalau seperti itu."
Kami semua melanjutkan sarapan kami dengan tenang. Setelah selesai makan aku membereskan semua bekas makanan itu dan menaruhnya di atas wastafel.
Ayah sudah siap dengan kopernya dan berdiri di depan pintu keluar. Aku dan yang lainnya menghampiri Ayah untuk berpamitan.
"Ayah pergi ya," pamit Ayah.
"Iya, Ayah hati-hati ya."
"Iya Ayah, hati-hati di jalan."
"Jaga diri Ayah baik-baik."
Aku tersenyum dengan manis melihat ke arah Ayah yang sedang berpamitan dengan anak-anak kandungnya.
"Ayah, hati-hati di jalan. Aku harap Tuhan selalu bersamamu di manapun kau berada. Kami di sini akan selalu menunggumu pulang dengan selamat," ucapku dengan nada yang dingin.
"Kau jaga diri baik-baik ya, Ayah sayang pada kalian semua."
Ayah keluar dari rumah dan memanggil taksi yang tak jauh dari rumah ini. Ayah memberikan kopernya ke arah supir itu dan menatap kami dengan sangat dalam.
Ia masuk ke dalam taksi itu sambil melambaikan tangannya. Setelah selesai berpamitan Ayah langsung hilang di telan tikungan. Ibu dan yang lainnya menatapku dengan tatapan datar.
Ibu menjenggut rambutku dengan sangat keras dan menarikku ke dalam rumah. "Ayo, ikut Ibu!" seru Ibu sambil menarik rambutku.
Aku hanya meringis kesakitan saat ini. Rasa panas dan nyeri sangat menguasai kepalaku saat ini. Ibu terus menarik rambutku sambil berjalan ke dalam rumah. Ia menarik rambutku dengan keras dan membanting tubuhku ke arah kamar mandi.
Brak!
Tubuhku terbanting tembok dengan sangat keras. Ibu terus menarik rambutku dan membuka keran bathtub untuk mengisi air.
"Kau bilang apa saja pada suamiku?" tanya Ibu dengan snagat datar.
"Aku tidak bilang apapun pada Ayah," jelasku.
Plak!
Satu tamparan dari Grilly mendarat mulus ke arah pipiku saat ini.
"Apa yang telah kau katakan pada Ayah?" tanya Grilly.
"Aku tidak mengatakan apapun padanya."
Plak!
"Shhhhh........" ringisku. Angga datang dari arah belakang Grilly dengan sebuah tali pinggang panjang yang sangat kekar.
"Jawab kami, apa yang kau katakan pada Ayah?" tanya Andra.
"Aku tidak mengatakan apapun pada Ayah."
Plak!
Angga terus mencambuk bagian depan badanku dengan sangat kencang. Tak hanya itu saja Ibu juga menjambak rambutku dengan sangat keras saat ini.
"Heh anak pembawa sial. Jujur apa yang lo katakan pada Ayah. Gak mungkin Ayah marah sama kami kalau kau tidak mengadu apapun."
"Aku tidak mengatakan apapun pada Ayah."
Angga terus mencambuk badanku dengan sangat keras. Ibu memutar badanku dan Angga langsung mencambuk badanku di bagian belakang dengan sangat keras.
"Shhhhhh......."
Aku hanya bisa meringis dengan pelan. Rasanya sakit sekali saat ini. Di cambuk bagaikan binatang yang tak punya hati berkali-kali rasanya ingin membuatku mati seketika. Ibu menjambak rambutku dengan sangat keras dan menatapku dengan tatapan datar.
"Shhhhhh........ s----s-----s-akit Bu," ringisku dengan sangat pelan.
"Apa? Sakit?" tanya Andra.
"Sakitan mana bodoh sama kita yang di marahin sama Ayah?" tanya Grilly.
"Lo ini bisanya muka dua sama Ayah. Mangkanya Ayah lebih sayang sama lo. Iya kan?!" seru Andra.
"Ingetnya, sadar diri lo itu siapa? Lo itu hanya anak pungut yang gak ada artinya di mata kami. Lo itu hanya seorang jamur yang menempel di keluarga kami."
"Lo itu gak berguna, lo itu juga gak pantes bersama kami. Lo gak punya apa-apa, Lo itu miskin mangkanya Ayah mengangkat lo sebagai anaknya. Dia gamau kalau lo terlantar di jalanan karena kelaperan," teriak Grilly.
Angga terus mencambuk badanku bagian belakang dengan sangat kencang. Ibu melepaskan jambakannya dan menatapku dengan senyuman yang mengembang.
"Ini yang di bilang anak kuat? Anak kuat dari mana? Baru juga begitu sudah tidak sanggup. Ingat ya, kamu hanya seorang anak pungut yang gak berguna."
Andra menjambak rambutku dengan sangat keras hingga aku terjengkang ke belakang. Setelah menjambak rambutku, Andra menyelupkan mukaku ke arah bathub penuh berisi air itu dengan sangat lama.
Aku merasa sesak dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Andra menarik rambutku dnegan sangat kencang dan kembali melakukannya secara berulang-ulang. Aku sama sekali tidak bisa bernafas dengan baik di dalam air dan di daratan. Begitu cepat gerakannya membuatku tidak bisa bernafas.
Setelah selesai ia menyiksaku di dalam air, ia mengangkat kepalaku dengan kencang dan menjenturkan kepalaku di tembok dengan sangat kencang. Setelah di rasa puas mereka keluar dari kamar mandi dengan cepat.
"Kerjakan semua pekerjaan rumah. Saya dan yang lain akan keluar sebentar. Sampai kau tidak mengerjakan semuanya kau akan kami siksa lebih dari ini," jelas Ibu.