Tatapan Aneh

1764 Kata
Keluar dari zona nyaman membuatku sangat senang. Karena selama ini aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Selamat datang dunia baru! Selamat datang kebahagiaan baru dan selamat tinggal banyak kesedihan selama ini. Rasa sakit, dan bahkan rasa sedih yang aku rasakan selama ini rasanya sudah lenyap bersama hilangnya waktu yang semakin hari semakin berjalan. Hidup sama seperti roda yang terus berjalan dan terus berputar di setiap waktunya dan di setiap harinya agar kita terus bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan saat ini kepada setiap umatnya pada setiap waktunya. -Arthemis Amysthyst Matcha. "Benar apa yang Kakak katakan. Aku sudah malas dengannya yang berada di sini. Dia benar-benar selalu menyusahkan kita saja. Tidak berpikir kalau dia hanya seseorang yang menumpang di rumah ini." "Bener banget. Ingin rasanya selama ini aku mengusirnya dengan sangat kasar di hadapan Ayah. Tapi, mau bagaimana lagi dia adalah anak kesayangan Ayah melebihi kita semua. Rasanya aku iri dengan dia. Dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan menjentikkan jarinya." "Sudah biasa hidup di lingkungan yang kaya maka dari itu dia selalu tidak bersyukur dengan apa yang dia miliki saat ini. Biarkan sajalah dia pergi dan menghilang dari bumi ini. Toh, dia hanya sampah yang tidak berguna bagi kita. Sekarang kita yang akan menikmati semua kekayaannya dan harta yang ia miliki." "Tapi-------" ucapan Andra menggantung dan membuat semua orang bingung dengan apa yang akan ia katakan saat ini. "Ada apa Andra? Apakah kamu tidak senang dengan apa yang kita dapatkan saat ini?" tanya Ibu mereka. "Bukan tidak senang. Justru ini yang aku inginkan saat ini melihatnya pergi dan selalu pergi dari kehidupanku Ibu. Tapi, jika dia pergi meninggalkan kita maka kita yang akan Ayah marahi karena kepergiannya. Ayah akan mengira kalau kita yang mengusirnya dari rumah ini dan membuatnya tidak nyaman di rumah ini." "Tidak akan, kamu tenang saja. Kalau masalah Ayah. Ibu yang akan menjelaskan semuanya. Toh anak itu benar-benar sangat tidak di untung. Di tinggalkan sebentar saja dia sudah pergi dan kabur dari rumah. Biarkan saja dia di luaran sana, karena dia akan menjadi gelandangan di luaran sana." "Benar apa yang Ibu katakan saat ini. Kalau Ayah menyalahkan kita maka kita harus menjawab semuanya dengan sangat tegas. Toh, kita juga tidak mengusirnya saat ini. Dianya saja yang benar-benar keterlaluan pergi dari rumah ini tanpa sepengetahuan yang lainnya." "Nah, tenang saja keep calm. Selagi kita masih bersama kita bisa menjelaskan kepada Ayah dengan sangat hati-hati. Jangan sampai saja ada yang keceplosan apa yang kita lakukan selama ini kepadanya. Maka itu yang akan menjadi sebuah masalah yang baru bagi kita nantinya. Jadi, kalian semua harus berhati-hati kalau bersikap dan menjelaskan semua yang terjadi di depan Ayah nantinya." "Baik Ibu, kami akan melakukan apa yang Ibu katakan saat ini." Mereka tertawa puas dan saling bersenda gurau antara satu sama lain di depan ruang tv yang sedang mereka tempati tanpa rasa bersalah sedikitpun. Author POV Off. Arthemis POV On. Aku bersiap mandi dan merapikan tampilanku. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku merasa sangat bosan di dalam kamar asrama saat ini. "Apa yang ingin aku lakukan untuk mengurangi kebosanan ini?" tanyaku dalam hati. Aku berjalan menuju jendela luar yang menampilkan banyak keindahan di luarnya. Seketika sekelibat pikiran cemerlang terbit di dalam otakku saat ini. "Apa aku jalan-jalan mengelilingi sekolah saja? Sepertinya sangat menarik," gumamku dalam hati. Aku hendak berjalan menuju pintu utama kamar ini. Tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku dengan kencang. Tok! Tok! Tok! Aku langsung bergegas membukakan pintu kamar dan terlihat seorang wanita cantik bermanik silver dan bersurai silver. Aku langsung menatapnya dengan tatapan yang mengagumkan. Ia melambaikan tangannya kearahku hingga membuatku langsung tersadar dan tersenyum manis melihatnya. "Maaf, kau ingin mencari siapa?" tanyaku dengan sopan. "Arthemis Amysthyst Matcha?" tanya balik wanita itu. "Iya benar, ada apa ya?" tanyaku dengan takut. Wanita itu yang melihatku takut dengan dirinya hanya tersenyum dengan kecil dan menepuk pundakku dengan sangat pelan. "Halo, kenalin aku Metha Alious Selena. Aku berasal dari bangsa Dyrnatous, salam kenal Arthemis!" ucap wanita itu dengan nada excitednya. Aku hanya tersenyum dan mengulurkan tangan dengan lembut ke arahnya. "Halo Metha. Salken too, semoga kita bisa berteman dengan baik ya di sini. Tolong bantu aku untuk mengikuti pelajar di sini," ucapku dengan senyuman manis. "Pasti, kau tenang saja. Aku akan membantumu, btw kau akan kemana? Kenapa sudah rapih sekali?" tanya Metha dengan sangat ramah. "Aku hanya ingin berjalan-jalan menyusuri sekolah ini. Aku sangat bosan di dalam kamar, maka dari itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah. Siapa tahu itu bisa membuat aku tidak bosan," jelasku. "Oalah seperti itu." "Apakah kau ingin ikut?" tanyaku dengan pelan. "Aku akan ikut bersamamu, tunggu aku ya sebentar saja. Aku akan mandi dan berganti pakaian," ucap Metha sambil berlari ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Aku terduduk di depan kasur asrama dan menunggu Metha yang mandi saat ini. Aku kira awalnya asrama yang aku tempati akan sangat sempit dan sangat tidak bagus seperti ini. Tapi, kali ini justru sangat di luar ekspektasiku. Kamarku dan Metha memang di dalam satu ruangan tapi di dalam ruangan itu terdapat 2 pintu kamar di dalamnya, di tengah-tengah ruangan terdapat ruangan tempat berkumpul kami yang sudah lengkap dengan beberapa keperluan. Aku berjalan-jalan melihat apa yang ada di ruangan tengah ini. Ruangan ini justru sama seperti dengan rumah kecil yang terdapat 2 kamar dan ruang tamu. Aku mengambil beberapa buku hiburan yang sangat menarik menurutku saat ini. 15 menit berlalu. Aku yang merasa bosan dengan apa yang aku kerjakan menggedor pintu kamar Metha dengan pelan. Tok! Tok! Tok! "Metha apakah kau sudah selesai?" teriakku dari luar kamar. "Iya, tunggu sebentar. Aku sudah selesai berganti pakaian," jawab Metha dari arah dalam. Tak lama kemudian Metha keluar dengan anggunnya. Ia menggunakan dress berwarna biru laut dengan rambut yang di beri jepit kecil di sebelah kananya. Membuat kesan manis dan cantik yang khas darinya. "Sudah, ayo kita keliling sekolah ini. Aku juga akan mengantarmu ke ruangan Tuan Psyche untuk mengambil baju seragam sekolah ini," jelas Metha. "Baiklah, ayo kita keluar dari sini. Aku sudah tidak sabar untuk melihat ruangan-ruangan yang ada di sekolah ini." Kami keluar dari kama dan berkekeling sekolah, Metha mengenalkan aku kepada semua ruangan yang ada di sekolah ini. Aku hanya menyimak dan mengingat apa yang ia ucapkan. Hingga akhirnya kami sampai di ruangan Tuan Psyche.  "Nah, ini ruangan Tuan Psyche. Ayo kita masuk ke dalam," ajak Metha sambil menarik tanganku untuk masuk ke dalam. Aku hanya diam dan mengikuti Metha untuk masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat ruangan yang bersih dan sangat rapi, aku melihat seorang Tuan Psyche yang sedang sibuk dengan laporan yang ada di depannya. Kami segera menghampiri Tuan Psyche yang sedang sibuk. "Selamat malam Tuan, maaf mengganggu waktunya sebentar." "Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Makan malam sudah mau di mulai, eh nona Emy," tanya Tuan Psyche dengan sopan. "Selamat malam Tuan," sapaku dengan sopan. "Tuan, kami ke sini ingin mengambil seragam sekolah untuk Emy, maka dari itu aku mengajaknya kesini terlebih dahulu sebelum makan malam. Jika sudah makan malam, kami tidak akan boleh keluar dari asrama," jelas Metha. "Oh iya, I'm sorry. I'm forget," jelas Tuan Psyche. Aku tersenyum dengan manis ke arahnya, "It's okay sir. Lagi pula itu salahku untuk tidak minta seragam kepadamu tadi," ucapku. Tuan Psyche langsung mengambil seragamku di dalam lemari dan memberikannya pada kami berdua. Aku langsung merimanya dan menandatangani surat pengambilan seragam yang ada di buku Tuan Psyche. "Terima kasih Tuan," ucapku dengan sopan. "Lebih baik kalian ke kantin sekarang juga. Karena kalau tidak kalian tidak akan kebagian makan malam," ucap Tuan Psyche mengingatkan kami berdua. "Baik Tuan, ini kami akan menaruh baju dan pergi ke kantin untuk makan malam. Terima kasih sudah di ingatkan," ucap Metha. "Kalau begitu kami pamit ya Tuan, selamat malam." Aku dan Metha langsung keluar dari ruangan Tuan Psyche dan berjalan menuju kamar asrama kami untuk menaruh baju seragamku. Sesampainya di kamar, Metha memberikanku beberapa dress yang sangat cantik ke arahku. Aku hanya mengernyitkan dahiku dengan bingng. "Ini baju untuk apa?" tanyaku dengan bingung. "Ini adalah baju kebangsaanmu. Kau harus memakainya," jelas Metha. "Jadi, aku harus berganti pakaian sekarang juga?" tanyaku. "Iya," jawab Metha. Aku hanya mengikuti anjuran dari Metha untuk memakai baju yang baru saja di berikannya. Pandanganku langsung terjatuh pada dress berwarna silver yang memiliki bentuk yang sangat elegan dengan rambut yang aku kepang setengah. Aku memakai jubahku yang berwarna hitam list emas yang berlambang bulan dan es dengan warna silver yang ada di sudut kanan jubah itu yang menandakan aku bangsa Athena. Metha menggunakan dres berwarna coklat dengan jubah yang berwarna biru langit berlambang bumi dan tanah yang menandakan ia berasal dari bangsa Dyrnatous. Setelah siap dengan baju yang kami kenakan, aku dan Metha berjalan menuju kantin. Selama perjalanan semua siswa yang ada di sekolah ini menatapku dengan tatapan yang tajam dan mengerikan. Aku langsung menggenggam tangan Metha dengan kencang dan menghembuskan nafasku dengan kasar. Metha yang mendengar itu langsung mengelus tanganku dengan pelan dan tersenyum dengan manis. "Tenanglah, mereka tidak akan mengganggumu saat ini. Karena kau bersamaku kau tenang saja," jelas Metha. "Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa karena aku berjalan bersama dua Most Wanted sekolah ini pada saat ke asrama?" terkaku saat ini. Metha hanya tertawa dengan kecil dan mengelus tanganku dengan pelan. "Tidak, mereka tidak akan seperti itu. Mereka menatapmu seperti ini karena suraimu dan manik matamu yang sangat berbeda dengan bangsa Athena. Mereka bingung karena kau tidak memiliki persamaan dengan bangsa Athena tapi memakai jubah bangsa Athena. Maka dari itu mereka menatapmu seperti itu," jelas Metha. "Surai dan manik mata? Apa perbedannya?" tanyaku dengan bingung. "Bangsa Athena memiliki manik mata biru dan miliki surai hitam yang sangat menawan. Tak hanya itu saja, mereka memiliki wajah yang hampir sempurna seperti Dewa yang enak untuk di pandang. Sedangkan kau, manik mata dan suraimu yang berbeda dari mereka." Aku terdiam dan menelaah semua perkataan dari Metha. Perkataan Metha semakin membuatku bingung saat ini, kenapa jika kedua orang tuaku dari bangsa Athena aku tidak mirip sekali dengan mereka semua? Kenapa justru Aetos menyuruhku bilang dari bangsa Dyrnatous. Ada apa sebenarnya? Hanya pertanyaan itulah yang selalu di dalam otakku saat ini. "Apakah ada yang di sembuyikan dariku? Kenapa Aetos menyembunyikan sesuatu tanpa menjelaskannya?" gumamku dengan pelan. Metha dan aku berjalan menuju bangku yang ada di pojok kantin. Kantin ini sangat ramai sekali, mereka terlihat berwarna-warni menggunakan jubah kebangsaan mereka semua. "Kau ingin pesan apa?" tanya Metha. "Di sini adanya apa saja?" tanyaku dengan lembut. "Semuanya ada, kau tinggal pesan lalu nanti akan ada makananmu di sini," jelas Metha. "Aku ingin ramen dan es jeruk jika ada," ucapku tak yakin. "Okey, aku akan memesankannya untukmu," jelas Metha sambil pergi meninggalkanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN