Tatapan yang aneh dan senyuman yang aneh membuatku sangat risih untuk bertemu dengan banyak orang. Rasa insecure yang melanda jiwaku sangatlah besar, saat tau aku tidak memiliki kemiripan dengan bangsa Ayah dan Ibuku. Itulah yang menjadi sebuah misteri baru dan pertanyaan baru di dalam benakku. Sebenarnya siapa aku? Kenapa aku tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan mereka semua.
- Arthemis Amysthyst Matcha.
Setelah selesai memesan makanan, Metha kembali ke bangku kami dan tersenyum manis ke arahku. "Nanti akan di antar oleh pelayannya ke sini," jelas Metha.
“Apakah kamu sudah lama di sini Metha?” tanyaku.
“Maksudmu?”tanya Metha mengintimidasi ke arahku.
Aku hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkukku yang tak gatal. “ Maksudku apakah kamu sudah lama sekolah di sini? Soalnya kan di sini katanya banyak yang dari kecil sudah masuk ke dalam sekolah ini. Kalau kamu dari kecil atau barusan dewasa barusan masuk ke dalam sekolah ini.”
“Ya, aku memang sudah berada di sini pada saat masih kecil. Kalau kamu?” tanya Metha dengan sangat penasaran.
“Aku? Aku sibuk mengikuti kedua orang tuaku yang selalu berpergian. Aku sekolah dan hanya sampai sekolah menengah pertama saja. Sisanya aku tidak melanjutkan pendidikanku lagi karena ayah dan ibuku yang telah tiada,” jawabku dengan sangat lemah.
“Maaf aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu saat ini Emys,” ujar Metha dengan sangat tak enak hati.
“Tenang saja, aku sudah biasa ko jika di tanya kemana orang tuaku selama ini. Saat ini memang aku hidup sebatang kara dan hanya Tuan Psyche yang membantuku pada saat aku masuk ke sini. Aku benar-benar sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan saat ini.”
“Tuan Psyche adalah orang yang sangat baik. Dia benar-benar sangat baik, bukan hanya padamu saja. Kami saja merasakan hal yang sama denganmu. Tuan Psyche adalah sosok orang yang sangat baik dalam hal apapun. Dia benar-benar luar biasa jika membantu orang lain. Mangkanya dia selalu di panggil manusia baik oleh kami. Karena kemurah hatinya dan kebaikannya,” ujar Metha.
“Iya, dia memang pantas mendapatkan panggilan itu,” ujarku dengan sangat santai.
“Aku pernah di tolongnya pada saat aku baru masuk ke sini. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku dan menyerang temanku dengan sangat kejam. Tapi, Tuan Psyche langsung menarikku dengan sangat pelan dan mengingatkan aku untuk tidak kelepasan saat marah. Karena itu bisa menjadi sangat membahayakan bagi banyak orang.”
“Kita sama-sama memiliki hutang budi sama dia. Aku juga merasakan hal yang sama soalnya dengan apa yang kamu rasakan. Sudahlah biarkan saja waktu yang nanti akan menjawab semua pertanyaan kita suatu saat nanti.”
Tak lama kemudian seorang pelayan membawa pesanan kami berdua. "Permisi, ini makanan kalian. Silakan di nikmati," ucap pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih," ucap kami berdua.
Pelayan itu langsung undur diri dan kembali ke tempatnya. Kami menatap makanan itu dengan senang dan memakannya.
"Aku kira tidak ada makanan. Seperti ini di sini. Ternyata makanan di bumi ada," ucapku dengan senang.
"Di sini makanan apapun yang kau inginkan ada. Kau tenang saja, mau makanan khas sini hingga makanan yang ada di bumi mereka semuanya ada."
"Tapi, bagaimana mereka tau makanan apa saja yang ada di bumi?" tanyaku dengan bingung.
"Kita adalah makhluk Immortal. Jadi, kita bisa tahu apapun yang terjadi di dua dunia ini. Kita memiliki sebuah perbatasan dengan bumi yang sangat mudah di tembus. Tapi, seorang makhluk Immortal jika ingin melewati perbatasan tersebut harus memiliki izin yang jelas."
Mendengar penjelasan dari Metha aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan dan menghabiskan makananku tanpa sepatah katapun.
Kami akhirnya menyelesaikan ritual makan kami, setelah selesai makan aku melihat banyak anak-anak yang berhamburan pergi dari kantin dan kembali ke asramanya masing-masing.
Metha mengajakku untuk kembali ke kamar. "Ayo kita ke kamar, aku akan menunjukkan beberapa buku kepadamu."
Metha menarik tanganku dengan lembut dan kami berjalan menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, kami langsung mengunci pintu dan duduk di ruang tengah kamar asrama.
Aku duduk di atas karpet bludru yang ada di sana, sedangkan Metha mengambil beberapa buku yang akan di tunjukkan kepadaku. Ia menghampiriku dengan membawa beberapa buku dan menunjukkannya.
Tak terasa waktu telah lama berlalu, hingga membuat kami lupa dan hanyut di dalam kesibukan kami dalam membaca buku. Terdengar suara teriakan dari luar ruangan yang sangat menggema di telinga kami berdua.
"Jam malam!" teriak seseorang itu dari depan.
Metha langsung menutup bukunya dan membereskan beberapa buku itu ke tempat asalnya dengan tergesa-gesa. Aku hanya bingung menatapnya yang sedang tergesa-gesa seperti itu.
"Ada apa?" tanyaku dengan bingung.
"Cepat masuk ke dalam kamarmu dan pejamkan matamu. Jika kita ketahuan belum tidur kita akan di hukum. Cepat, ini sudah jam malam tidak ada yang boleh masih sadar jam segini," jelas Metha sambil mendorongku untuk masuk ke dalam kamar.
Aku hanya menganggukkan kepala dan menuruti apa yang di ucapkan oleh Metha. Kami berdua masuk ke dalam kamar masing-masing dan menutup mata hingga tidak ada suara di dalamnya.
"Jam malam!" teriak seseorang di luaran sana.
Aku terus mencoba memejamkan mataku untuk terpejam. Hingga tak lama kemudian jeritan itu semakin lama semakin jauh dan menghilang. Merasa aman aku membuka mataku dan menatap awan-awan yang ada di dalam kamar ini dengan senang.
Rasanya seperti mimpi aku mendapatkan kebebasan seperti ini. Selama ini aku hanya bisa berdiam diri di rumah tanpa bisa memiliki teman. Hanya ada kata siksaan dan kesedihan di dalam kehidupanku selama ini.
Mungkin itulah yang memang harus aku rasakan tanpa adanya orang tua di sampingku. Aku sangat bersyukur bisa merasakan kebahagiaan yang seperti ini. Aku berharap ini akan dapat aku rasakan selamanya.
Aku tersenyum kecil dan mencoba memejamkan mataku dengan pelan. Hingga akhirnya aku terlelap dan terhanyut dalam dunia alam bawah sadar.
Waktu terus berlalu, hingga kami tak sadar fajar telah menunjukkan cahayanya kepada kami semua. Aku yang merasa terusik dengan cahaya keindahan fajar yang indah langsung terbangun.
Aku tersenyum senang karena hari ini adalah hari pertamaku untuk bersekolah. Aku bergegas langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badanku dan memakai pakaian yang baru di berikan kepadaku semalam.
Aku memakai jubah kebangsaan ku dan tersenyum dengan senang. Aku langsung keluar kamar, aku melihat Metha keluar dengan cantik memakai jubahnya. Aku tersenyum dengan senang dan menghampirinya.
"Pagi Metha!" sapaku dengan senyuman manis.
"Pagi Emys. Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Metha dengan sangat ramah.
"Hari ini perasaanku sangat baik. Bagaimana denganmu?" tanyaku.
"Sama denganmu. Ayo, kita turun ke bawah. Jam sarapan akan di mulai sebentar lagi, jika kita terlambat kita tidak akan kebagian makanan."
Aku dan Metha langsung turun ke bawah untuk melakukan ritual sarapan kami. Aku melihat kantin sudah di penuhi dengan seluruh siswa baik laki-laki dengan perempuan.
Tanpa sengaja aku melihat sosok Iznti yang sangat menawan. Rahangnya yang tegas, muka yang ganteng, dan postur tubuh yang sangat mewan membuatku terpikat oleh kharisma dan pesona seorang Iznti.
Metha melihatku dengan saksama dan menoleh ke arah apa yang aku lihat saat ini. Metha tersenyum kecil dan berdehem dengan keras.
"Khem! Khem!"
Mendengar deheman itu aku langsung menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kau kenapa?" tanyaku dengan bingung.
"Aku tidak apa-apa, hanya ada sesuatu yang menyangkut saja di tenggorokanku tadi. Ngomong-ngomong kau suka dengan Iznti?" tanya Metha sambil mengintrogasi ku saat ini.
"Tidak," jawabku dengan tegas.
"Kau yakin? Tapi, aku melihatnya berbeda. Kau terpikat oleh pesona seorang Iznti. Katakan saja jika kau terpikat olehnya," ledek Metha.
"Tidak," jawabku sambil tersenyum kecil.
Tak lama kemudian makanan kami sampai. Aku dan Metha langsung makan tanpa ada pembicaraan sedikitpun di antara kami berdua. Setelah selesai makan kami langsung pergi menuju tempat tes murid baru yang ada di hutan belakang sekolah.
Aku mengikuti semua siswa yang ada di sini berjalan ke arah hutan yang ada di sana. Aku melihat keindahan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Hari ini adalah hari pertamaku untuk ujian praktek.
Kemarin aku tidak mengikuti ujian tertulis, maka aku akan menyusul ujian tertulis ku di setelah ini. Aku melihat banyak siswa yang telah di panggil dan satu persatu dari mereka telah di nyatakan lulus oleh guru-guru kami.
Aku menunggu giliranku sambil menahan rasa takutku saat ini. Hingga tibalah saatnya untuk aku maju ke depan menunjukkan semua yang ada pada diriku. Aku menghembuskan nafas dengan pelan dan menutup mataku sejenak.
"Baiklah peserta yang terakhir. Arthemis Amysthyst Matcha akan melawan Iznti Dyloious Primson. Kepada kedua anak tersebut silakan maju ke depan."
Aku langsung menegangkan badanku saat ini. "Iznti?" Aku langsung terdiam, tak lama kemudian aku menyadarkan lamunanku dan maju ke depan. Saat ini aku berhadapan dengan Iznti. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat datar.
Arthemis POV Off.
Author POV On.
"Baiklah peserta yang terakhir. Arthemis Amysthyst Matcha akan melawan Iznti Dyloious Primson. Kepada kedua anak tersebut silakan maju ke depan."
Semua orang yang berada di situ terkejut bukan main. Pasalnya Iznti adalah murid level paling atas di antara mereka semua. Ia harus melawan anak baru yang belum mengerti apa-apa. Semua orang yang berada di situ hanya meremas tangannya dengan pelan.
Metha melihat Arthemis dengan tatapan ingin membantunya. Tapi, apalah daya ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Mereka hanya terdiam dan menonton pertandingan yang sangat menegangkan itu.
Di sekolah ini memiliki beberapa level kekuatan. Itulah yang membuat sekolah ini berbeda-beda. Sistemnya di sini memakai bintang.
Bintang satu itu mereka yang memiliki dasar dan belum mengerti apa-apa. Tapi, sangat jarang sekali siswa yang mendapatkan level ini. Karena pada dasarnya mereka sudah di ajarkan oleh orang tua mereka sendari kecil tentang apa yang mereka punya.
Bintang dua mereka yang yang bisa dasar saja tapi tidak bisa mengendalikannya. Ini juga sangat jarang, kemungkinan hanya 1% dari siswa di sini yang memiliki bintang itu.
Bintang tiga. Ini salah satu bintang yang banyak di miliki oleh mereka semua. Ada seperempat siswa di sini memiliki bintang ini. Karena mereka bisa menguasai dasar namun kekuatan mereka masih kecil. Mereka juga baru di perkenalkan pada beberapa elemen.
Bintang empat. Setengah siswa di sini mendapatkan bintang ini. Karena ini sudah termasuk level sedang. Mereka lebih kuat daripada anak yang berlevel bintang tiga. Mereka juga sudah memiliki beberapa tingkatan elemen.
Bintang lima. Sepertiga dari mereka mendapatkan bintang ini. Ini sudah menuju tinggi, mereka sudah menguasai elemen-elemen namun belum bisa menguasainya.
Bintang enam. Hanya ada beberapa orang yang memiliki ini. Karena ini mereka sudah menguasai semuanya.
Bintang tujuh ini hanya dimiliki oleh para bangsawan, kerajaan, dan beberapa orang penting. Karena ini sudah sempurna menurut mereka semua.