Masa lalu adalah sebuah kenangan yang sangat menyakitkan. Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya bahwa saat ini aku mendapatkan banyak kasih sayang dan senyuman di setiap harinya. Tak hanya itu saja, aku merasa kalau mereka semua yang berada di sini sangatlah royal dan memiliki sebuah perasaan kemanusiaan yang sangat tinggi di bandingkan dengan di dunia. Biasanya mereka akan melakukan sebuah hal yang mereka anggap benar dan mereka anggap baik di mata mereka yang berhujung menyiksa seseorang yang berada di sekitar mereka dengan sangat kejam. Itulah yang aku rasakan dan aku sedihkan. Mereka benar-benar sangat menyiksa diriku dengan kejam dan membuangku seenak jidat pada kisah masa laluku.
-Arthemis Amysthyst Matcha.
"Mereka benar-benar sangat kejam. Aku rasanya ingin mati saja jika berada di sana, hingga akhirnya aku menemukan tempat ini. Aku merasa kalau tempat ini adalah tempat yang benar-benar sangat nyaman dan sangat nikmat untuk terus di huni. Karena aku benar-benar merasa sangat nyaman dan merasa sangat lebih baik berada di tempat ini," jelas Arthemis.
"Sekarang kau sudah memiliki banyak orang. Kau bisa menganggap ku kakakmu saat ini. Tersenyumlah karena kau tidak sendirian lagi di dunia ini. Aku selalu sayang padamu dan begitu pun yang lainnya," jelas Bu Hernyme sambil tersenyum dengan manis.
Arthemis hanya tersenyum dengan manis dan menatap Bu Hernyme dengan intens. Ia merasa sangat beruntung ketika menemukan banyak orang seperti Bu Hernyme dan Metha. Ia merasa bahwa ia sangat di sayangi di sini. Berbeda dengan di bumi ia hanya akan selalu di perlakukan tidak adil dan tidak berperikemanusiaan oleh mereka semua.
Bu Hernyme melanjutkan menyuapinya dengan lembut. Waktu terus berjalan dengan cepat. Hingga akhirnya Arthemis menyelesaikan makannya. Bu Hernyme menaruh piringnya dengan sangat pelan dan tersenyum manis di hadapan Arthemis. Dengan pelan Bu Hernyme mengelus kepala Arthemis dengan sangat pelan dan memberikan kasih sayang kepadanya. Arthemis hanya bisa tersenyum kecil dan menatap Bu Hernyme dengan sangat pelan.
"Sudah ya, Ibu kembali ke ruangan Ibu dulu. Jaga diri baik-baik, nanti ada Metha yang dateng untuk menjaga kamu. Kamu akan baik-baik saja di sini. Jangan banyak mengkhawatirkan yang tidak seharusnya ya. Karena Ibu akan selalu membantu kamu dengan sangat baik saat ini," jelas Bu Hernyme dengan sangat ramah.
“Baik Bu, terima kasih sudah melakukan banyak hal dan melakukan banyak sekali hal yang membuat saya merasa sangat berarti pada saat ini. Terima kasih sudah memberikan saya kasih sayang baru pada saat di sini. Saya tidak mengerti lagi harus mengatakan apa kepada Ibu jika kita tidak bertemu pada saat ini. Terima kasih atas segalanya. Karena saya sangat bersyukur sekali bertemu dengan kalian semua.”
“Tenang saja, tidak masalah ko. Kamu adalah bagian dari kami semua. Jangan sedih dan jangan suka mengeluh dengan keadaan karena itu semua benar-benar akan sangat menyiksa kalian nantinya. Tenang saja, kita semua yang berada di sini semuanya adalah saudara dan teman kalian semua. Baik dalam hal apapun, katakanlah apa yang akan kalian lakukan dan ikuti semuanya dengan sangat baik di sekolah ini,” jelas Bu Hernyme.
Arthemis hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Bu Hernyme mengelus kepala Arthemis dengan pelan dan tersenyum dengan manis. Bu Hernyme perlahan keluar dari kamar itu sambil membawa bekas makan Arthemis.
Arthemis terdiam dan menatap dalam ke arah awan-awan yang ada di atas kepalanya. Ia mengingat semua kejadian yang ia lalui selama ini. Baik dari sebelum ayah dan ibunya meninggal hingga akhirnya ia hidup sebatang kara di dunia. Dengan mudahnya mereka membuat banyak sekali hal yang memang seharusnya tidak di lakukan. Dari sebuah penyiksaan mental dan penyiksaan segalanya yang membuat Arthemis lebih merasa kalau dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dan kesalahan yang tidak seharusnya di lakukan. Padahal kenyataannya itu sama sekali tidak benar.
Arthemis menitihkan air matanya, ia sangat merasa sedih mengingat masa lalu. Tak lama kemudian suara pinter terbuka terdengar di telinga Arthemis. Ia langsung menoleh ke arah pintu masuk, terlihat Metha yang sangat khawatir dan langsung datang menghampirinya dengan berlari kecil.
Metha langsung memeluk Arthemis dengan pelan dan menatapnya dengan dalam. "Kau tadi kenapa? Kenapa kau tidak bangun dari pagi? Kau baik-baik saja kan?" tanya Metha secara berentet.
"Bisa gak sih kalau nanya itu satu-satu? Gue jadi bingung mau jawab yang mana dulu. Pelan-pelan kenapa kalau nanya, gue ini baru sadar lah," cibir Arthemis dengan kesal.
"Yayayaya, maafkan aku sayang. Kamu baik-baik saja?" tanya Metha dengan manis.
"Ya, seperti yang kau lihat. Aku sudah lebih baik daripada sebelumnya. Bagaimana dengan kabarmu?" tanya Arthemis dengan senyuman manisnya.
"Aku baik-baik saja, namun hatiku yang sedih. Melihat sahabatku sedang sakit di sini," jelas Metha sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah dong. Aku sudah baik-baik saja, mungkin besok aku sudah bisa mulai keluar dari ruangan ini. Tenang saja, jika aku sudah keluar. Kau harus mengajakku berkeliling sekolah ini," ucap Arthemis dengan santai.
"Baiklah aku akan mengajakmu berkeliling jika kau sudah keluar dari sini," jawab Metha.
"Oke," jawab Arthemis.
Tok....Tok...Tok.....
"Siapa sih itu? Ko kayak gegabah banget ngetoknya," tanya Metha dengan kesal.
"Buka saja pintunya, nanti kau akan tahu siapa yang datang. Jika kamu tidak membukanya, maka kau tidak akan tahu siapa yang datang," ujar Arthemis dengan santai.
Metha berjalan ke arah pintu masuk dan melihat Horald yang datang dengan wajah yang sangat khawatir. Metha langsung membuka pintu dan mempersilakan Horald masuk ke dalam ruangan itu.
Tanpa babibubebo lagi. Horald langsung masuk ke dalam dan menghampiri Arthemis dengan sangat khawatir.
"Kau kenapa? Aku mendengar bahwa kau tidak sadarkan diri selama seharian? Benarkah itu? Kau sakit lagi? Apa yang sakit?" tanya Horald dengan sangat khawatir.
Metha menutup pintu dengan cepat dan langsung menghampiri mereka berdua. Metha melihat Horald yang sangat khawatir dengan keadaan Arthemis membuat Metha bingung dengan sikapnya kali ini.
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau seperti orang yang benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Arthemis. Lalu, sejak kapan juga kalian saling kenal?" tanya Metha sambil mengintrogasi keduanya.
"Eh, i---itu."
Horald hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Oh ya, ini untukmu. Semoga kau menyukainya," ucap Horald sambil memberikan sebuah bingkisan yang berisi buah kelengkeng.
"Terima kasih Horald," ucap Arthemis dengan senyuman manisnya.
"Sejak kapan kau berada di sini Metha?" tanya Horald sambil mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sejak tadi, jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang jawab pertanyaanku. Kalian kenal di mana? Bukannya kau belum mengenal seseorang pun kecuali Iznti, laki-laki yang menolongmu, aku, cold boy, Tuan Psyche, dan Bu Hernyme."
"Lalu sejak kapan kalian kenal?" tanya Metha sambil memicingkan matanya.
"Semalam aku sempat tersadar. Aku berjalan ke ruangan ICU tempat Iznti di rawat hingga akhirnya kami bertemu dan berkenalan. Jadi, kau jangan kaget seperti itu jika aku kenal dengan Horald. Karena ia yang menolongku semalam," jelas Arthemis.
"Semalam? Semalam kau sudah sadar? Tapi, kau tidak membangunkan aku?" tanya Metha tak percaya.
"Bukan seperti itu. Semalam aku melihatmu tertidur dengan lelap. Kau sangat kelelahan, tidak mungkin aku membangunkanmu karena ingin berjalan ke ruangan Iznti."
Metha memutar bola matanya dengan malas. "Kau pergi tanpa memberitahu orang lain. Jika terjadi apa-apa kepadamu siapa yang akan bertanggung jawab?" tanya Metha dengan kesal.
"Dengarkan aku ya. Aku ini bisa jaga diri, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau harus mempercayai aku untuk hal itu. Aku tidak mau kau seperti Aetos yang selalu mengintaiku di manapun dan kapanpun," cibir Arthemis dengan kesal.
"Aetos siapa?" tanya Metha dengan bingung.
"Oh, dia adalah temanku yang menemani aku waktu sebelum aku ke sini," jelas Arthemis.
Metha dan Horald hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Mereka bertiga berbincang-bincang mengenai pertemuan awal mereka kepada Metha.
"Sebelum aku ke sini, siapa yang menjagamu tadi?" tanya Metha dengan kepo.
"Aku di jaga oleh Bu Hernyme dan Healer Siska. Mereka membantuku untuk minum dan makan, Healer Siska juga mengobatiku dengan tenaganya," jelas Arthemis.
"Kau kehabisan tenaga karena semalam? Kan aku sudah bilang, kau harus menjaga energimu dengan baik. Kau malahan meloncat-loncat seperti anak monyet yang kegirangan karena kakimu sudah sembuh," cibir Horald dengan kesal.
"Sebenarnya kau dari mana saja? Kau baru menemuiku sekarang ini. Mereka sudah panik melihatku tidak sadarkan diri. Tapi, kau tidak datang sama sekali tadi. Teman macam apa kau ini?" tanya Arthemis dengan kesal.
"Maafkan aku yang baru saja datang. Aku tadi mendapatkan banyak tugas dari guruku. Yah, biasa lah tugas selalu menghantui semua siswa yang ada di sini."
Tak terasa matahari sudah mulai menghilangkan cahayanya. Arthemis melihat ke arah jendela yang terbuka lebar yang saat ini menampakkan cahaya senja yang sangat indah.
"Sungguh indah, aku sangat senang bisa melihat keindahan senja seperti ini secara langsung," jelas Arthemis sambil fokus ke matahari yang perlahan-lahan turun.
"Kau suka dengan senja?" tanya Metha.
"Ya, aku sangat menyukainya. Aku benar-benar cinta dengan senja, karena senjalah salah satu temanku selama ini."
Metha dan Horald langsung menoleh ke arah Arthemis dan menatapnya dengan dalam. "Maksudnya?" tanya mereka berdua secara bersamaan.
"Selama ini, aku hanya berteman dengan alam. Aku tidak pernah berteman oleh manusia lain."
"Jadi, selama ini kau introvert?" tanya mereka secara bersamaan.
"Tidak, hanya saja aku memiliki sesuatu yang tidak bisa ku ceritakan saat ini."
Mereka berdua menganggukkan kepala. Tiba-tiba ada seseorang yang mengantarkan makanan khusus dari Bu Hernyme ke dalam ruangan ini.
Ia meletakkan makanan itu di atas meja, dan langsung keluar dari ruangan ini tanpa menegur siapapun. Setelah puas melihat matahari terbenam di barat. Metha langsung mengambil makanan yang di berikan oleh anak tadi.
"Berikan kepadaku, aku akan makan sendiri."
"Tidak, aku yang akan menyuapi. Kau cukup mangap dan makan ini semua, tenagamu belum sepenuhnya pulih. Jadi jaga dan simpan energi itu," jelas Metha.
"Aku bisa makan sendiri, tidak usah khawatir tentang itu semua," jelas Arthemis.
"Meskipun kau benar-benar kekeh ingin makan sendiri, aku tidak akan membiarkannya. Makanan dan diam saja," ucap Metha dengan tegas.
Arthemis yang tidak bisa melakukan apapun hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti semua yang di ucapkan oleh Metha.
"Bagaimana sekolah hari ini? Apakah sangat menyenangkan?" tanya Arthemis dengan sangat excited.
"Sangat membosankan. Kita hanya di ajarkan tentang alam, kami berkeliling hutan saja selama seharian tanpa melihat ada yang baru. Tidak guna rasanya mengelilingi hutan seperti tadi," jelas Metha.
"Oh seperti itu, ternyata kau kebalikan dariku. Aku malahan sangat suka jika harus berjalan-jalan di hutan."
"Lalu bagaimana denganmu Horald?" tanya Arthemis.
"Biasa saja, hanya saja Bu Hernyme menyuruh kita untuk mencari Guardian kita sendiri. Kita harus cepat mencarinya dan cari jati diri kita sendiri."
"Guardian? Makhluk macam apa itu? Aku sama sekali tidak pernah mendengarnya. Apakah dia seperti polisi? Atau ia malahan seperti tentara?" tanya Arthemis dengan polosnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu, hanya menepuk jidatnya dengan pelan dan menghembuskan nafas dengan sebal. Mereka harus mengelus d**a untuk tidak mengamuk di depan Arthemis. Mereka harus menahan amarahnya karena Arthemis adalah manusia bumi yang baru saja beradaptasi di dunia ini.