Gambaran Guardian

1739 Kata
Guardian adalah seorang penjaga yang menjagamu dari awal hingga kau mati. Maka sayangi dan cintai guardianmu dengan baik. Karena dia adalah temanmu di saat apapun itu. Tidak peduli mau sebanyak apapun sahabat ataupun keluargamu. Karena mereka bisa saja menusukmu dari belakang jika pada waktu yang tepat. Tapi, tidak dengan seorang Guardian. Mereka akan tetap bersamamu dan selalu melakukan yang terbaik untukmu. Mereka tidak akan menusukmu ataupun mencacimu di saat apapun. Maka sayangilah mereka dan cintailah mereka semua sebagaimana seharusnya kita mencintai orang-orang yang kita sayang. -Arthemis Amysthyst Matcha. "Dengarkan aku ya Emyssss sayang. Guardian adalah seekor hewan yang menjaga kita dan ia juga bisa menjadi seorang partner kita. Yah, bisa di bilang juga sebagai polisi lah yang menjaga masyarakat. Jika itu tugas polisi, kalau dia hanya menjaga kita seorang. Mereka bukan hanya seorang hewan biasa tapi mereka adalah sosok hewan yang dapat menjaga kita dalam hal apapun," jelas Metha sambil menahan kesalnya. "Mereka juga bisa menjadi sahabat sekaligus keluarga yang bisa kita sayangi. Karena tidak ada sahabat ataupun teman yang sejati di dunia ini. Sejatinya di dunia ini yang akan selalu peduli dan peka dengan keadaan kita adalah diri kita sendiri. Maka dari itu kita membutuhkan seorang Guardian agar bisa menjaga kita dalam setiap waktu dan setiap saat." "Okey, baiklah aku paham sekarang. Jadi, ia adalah seekor hewan yang suka menjaga kita. Dia juga bisa menjadi semuanya, mereka juga termasuk orang-orang yang setia dengan kita karena mereka selalu menjaga kita dengan sangat baik. Tak hanya itu saja mereka juga selalu memberikan kasih sayang dan perhatian yang sangat luar biasa kepada kita dalam hal apapun yang membuat kita merasa kalau kita sangat berharga." "Nah, itu dia. Benar seperti itu adanya, biasanya mereka melakukan banyak hal yang harus mereka lakukan dan mereka perjuangkan. Jadi, kita harus mencari mereka dengan sangat teliti nantinya dan mengenali mereka dengan sangat baik." "Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui itu adalah guardian kita? Padahal kita tidak tahu darimana kita bisa tahu mereka adalah penolong dan penjaga kita. Bisa saja guardian orang lain mendekat ke arah kita dan mengelus kita dengan sangat baik itu bisa saja terjadi bukan?" tanya Arthemis dengan bingung. "Aku pun juga tidak tahu bagaimana caranya menemukannya. Aku hanya di beritahu kalau kita harus mencari Guardian kita sendiri. Mereka hanya memberikan sebuah clue bahwa kita harus bisa menjaga diri dengan sangat baik dan jangan pernah berpencar atau berpisah dari rombongan karena itu akan membuat diri kita sendiri dalam bahaya." "Apakah kau tau Metha?" tanya Horald. "Tidak, aku tidak tahu apa yang ingin kau katakan." "Aku pernah dengar dari keluargaku. Bahwa guardian akan menghampiri kita sendiri. Jadi, kita harus mencarinya. Jika kita sudah mencarinya maka ia akan menghampiri kita dengan sendirinya. Mereka juga akan mengelus kaki dan memberikan tanda kepada kita sebagai gambaran kalau dia adalah Guardian kita sendiri." "Tapi, aku juga tidak tahu pasti itu benar atau tidak. Soalnya aku belum pernah merasakan apapun tentang guardianku," jelas Horald dengan tak yakin. "Lah, kamu mengetahui konsepnya tapi kamu tidak mengetahui bagaimana caranya. Kalau kamu tidak yakin ya sama saja kamu belum bisa di katakan bisa mengenalinya. Bagaimana sih kamu ini?" tanya Metha dengan sangat sebal ke arah Horald. "Aku hanya memberikan sebuah gambaran saja. Siapa tahu nantinya akan berguna bagi kita semua atau berguna bagi orang-orang yang berada di sekeliling kita saat ini. Pokoknya kita harus bisa menemukan mereka dengan sekuat tenaga dan sekeras apapun kita harus menemukannya." "Dimana kita akan mencari mereka?" tanya Arthemis. "Kita akan di bagi kelompok. Kita bisa mencarinya di hutan perbatasan. Di sanalah kita akan menemukan guardian kita," jelas Horald. "Jadi, kita akan di bagi kelompok? Siapa saja kelompoknya?" tanya Metha dengan bingung. "Aku dengar bahwa Bu Hernyme sudah memberikan nama kelompok di papan pengumuman. Maka dari itu kita harus melihatnya." "Kenapa harus berkelompok? Kenapa kita tidak mencarinya sendiri?" tanya Arthemis dengan bingung. "Hutan perbatasan adalah hutan yang sangat berbahaya. Jika kita ke sana tanpa kelompok ada beberapa kemungkinan. Kau kembali tanpa nyawa, atau kau kembali dengan cacat. Itu saja, di hutan itu sangat terkenal tentang berbagai macam bentuk hewan buas, Monster, dan masih banyak lagi bahaya yang mengintai." "Maka dari itu kita di bagi kelompok, untuk bisa saling melindungi satu sama lain pada saat menjari Guardian kita semua," jelas Horald. "Baiklah aku paham sekarang, kalian mau melihatnya? Soalnya aku ingin melihat siapa saja kelompokku saat ini," ucap Arthemis dengan senyuman manisnya. "Kau masih sakit, biarkan kami saja yang melihatnya di papan pengumuman. Kau tunggu sini akan aku lihat kan siapa nama kelompokmu." "Tidak, aku ingin ikut dengan kalian. Jika memang kau tidak memperbolehkan aku jalan, aku akan meminta Horald untuk menggendongku sampai ke depan Mading. Ayolah izinkan aku keluar. Aku sangat bosan berada di ruangan ini terus," ucap Arthemis sambil mengeluarkan puppy eyesnya. "Tidak Arthemis. Kau masih belum pulih, nanti aku akan memberi tahumu tentang kelompoknya ya," bujuk Metha. "Horald," panggil Arthemis dengan manja. "Huft, baiklah. Izinkan saja dia ikut Metha. Biarkan aku yang menggendongnya, aku juga yang akan bertanggung jawab jika ia kembali kehabisan energi." "Huft baiklah kau boleh ikut. Tapi, dengan satu syarat. Kau tidak boleh sama pecicilan dan menghabiskan banyak energi di sana. Awas saja jika kau petakilan akan ku skap kau di dalam kamar," ancam Metha. Arthemis hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Metha. "Baiklah aku berjanji," ucap Arthemis sambil mengacungkan kelingkingnya. Mereka bertiga berjalan ke arah papan pengumuman. Di depan papan pengumuman sudah banyak anak murid yang membaca pengumuman kelompok dari Bu Hernyme. Mereka bertiga mendekat ke arah papan pengumuman itu dan membacanya dengan pelan. Author POV Off. Arthemis POV On. Aku membaca papan pengumuman itu dan mencari keberadaan namaku saat ini. Namun nihil di kelompok kedua sahabatku namaku tidak ada di daftarnya. Aku terus mencari namaku di kelompok lain. Hingga akhirnya, aku dapat menemukannya. Tapi------ namaku berada di kelompok anak berangking tinggi. Sedangkan, aku adalah satu-satunya anak yang berangking rendah. Aku mendenguskan nafasku dengan sebal dan kembali ke kamar asramaku terlebih dahulu. Kedua temanku yang merasa perubahan sikapku langsung mengejarku dengan cepat. "Sudah dong jangan di tekuk terus mukanya. Kita makan aja deh ya, mau makan apa? Biar gue yang bayarin," ucap Horald berusaha menghiburku. "Kita jalan-jalan keliling sekolah aja mau gak? Atau kita mau keluar cari angin? Kan kamu suka kalau cari angin Mys." Aku terus menggelengkan kepalaku dan terus berjalan ke arah kamar asramaku. Aku langsung masuk ke dalam asrama putri dan meninggalkan Horald dan Metha yang berada di belakangku saat ini. Horald pergi meninggalkan ruangan asrama wanita. Metha langsung mengejarku masuk ke dalam ruangan dan menemaniku. "Ayolah, jangan merajuk seperti ini. Aku tidak ingin kau selalu menekuk mukamu seperti itu," jelas Metha. Jujur aku bukan marah karena aku tidak bisa satu tim dengan kedua sahabatku. Yang membuatku kesal adalah kenapa harus satu kelompok dengan mereka semua? Seharusnya aku adalah anak berangking rendah. Aku di satukan dengan anak berangking dua atau gak bintang tiga. Jika aku di satukan dengan anak berperingkat tinggi, sama saja aku akan minder di hadapan mereka semua. Aku terus berdiam diri dan merebahkan tubuhku dengan pelan di atas kasur. "Sudah dong, tidak cape tah kamu menekuk wajahmu dari tadi. Aku aja yang melihatnya sangat cape. Udah ya, senyum dong. Jika kamu terus menekuk wajahmu seperti itu, kau akan terlihat lebih tua daripada umurmu." "Terserah aku tidak peduli dengan hal itu," ucapku dengan singkat. "Oh ayolah, jangan merajuk pada Bu Hernyme. Karena dia mungkin punya niat baik di balik ini semua. Dia ingin kamu menggali potensi diri kamu lagi. Ayolah jangan seperti ini." Moodku benar-benar sangat ancur saat ini. Bu Hernyme benar-benar bisa melakukan hal yang di saat bersamaan. Ia membuatku merasa nyaman dan menjatuhkan aku bersama angan-angan. Dia tadi bersikap manis, tapi sekalinya membuat kelompok ia malahan membuatku ingin gantung diri saat ini juga. Ia malahan menyatukan aku dengan manusiaa yang berangking paling tinggi di sekolah ini. "Aku masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bu Hernyme. Kenapa aku bisa di barengi oleh siswa yang berangking tinggi. Sedangkan, aku adalah siswa yang berangking paling rendah di sekolah ini. Seharusnya ia menyatukan aku dengan anak berangking dua atau gak tiga," ujarku dengan kesal. "Sudah ya emosinya, lebih baik kita bersiap-siap. Kita siapin perlengkapan dan baju yang akan di bawa besok. Tenang saja ya," ucap Metha menengahiku dan meredam emosiku dengan pelan. Dengan berat hati aku mulai berkemas perlengkapan apa saja yang akan aku bawa besok di hutan perbatasan. Aku mulai memasukkan peralatan ku di dalam tas dari mulai pakaian, obat-obatan, senjata, bahan makanan, minuman, dll. Setelah aku rasa cukup, aku menaruhnya di dekat pintu. Aku mulai merebahkan diri dan menatap awan-awan yang ada di kamarku. Aku mulai merasa rasa kantuk menyerang ku hingga akhirnya aku tertidur. Keesokan harinya, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Mentari telah mengeluarkan cahayanya dengan secara perlahan. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan semua badanku dan berganti pakaian. Setelah selesai kami semua di suruh sarapan dan kumpul di lapangan. Di sinilah kami berkumpul saat ini, di saat semua orang masih tertidur karena waktu liburnya. Kami malahan berkumpul di lapangan pagi-pagi buta seperti ini. Bu Hernyme tersenyum dengan manis melihat kami semua yang sudah siap untuk pergi ke hutan perbatasan. Ia memberikan semangat kepada kami semua untuk menjalankan misi menjadi seekor guardian kami semua. Dan beberapa hari ini aku juga sudah lama tidak melihat Aetos. Kemana dia? Biasanya kemanapun aku pergi, dia akan selalu menemaniku. Tapi, saat ini ia malahan menghilang tanpa jejak dari kehidupanku. Semenjak kejadian aku di suapi olehnya, ia pergi tanpa memberitahu kemana ia akan pergi dan kapan ia akan kembali. Ini adalah kali keduanya ia seperti itu. Ia selama ini datang di saat aku butuh saja. Aku menghela nafas dengan kasar saat mengingat Aetos yang pergi tanpa pamit kepadaku. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri kami berdua. "Apakah kalian semua sudah siap?" tanya Horald sambil menghampiri kami berdua. "Tentu saja, kami sudah siap. Apalagi kita akan berjalan-jalan di hutan. Aku sangat senang sekali bisa melihat dunia luar," jelas Metha dengan sangat excited. "Bagaimana denganmu?" tanya Horald padaku. "Siap tak siap aku harus menerimanya," jawabku dengan singkat. "Oh, ayolah. Jangan seperti ini, kau bisa memiliki kekuatan yang tak pernah di miliki oleh orang lain. Kenapa harus minder? Ayo tunjukkan bakatmu yang sebenarnya. Aku yakin semua orang akan membutuhkanmu," jelas Horald. "Apalagi kita akan berpetualang menyerang banyak monster di luaran sana. Aku yakin ini sangat menyenangkan," ucap Metha menyemangati ku. "Bagimana denganmu Horald?" tanya Metha. "Aku selalu siap kalau dalam masalah berpetualang. Karena itu adalah kesukaanku. Aku senang sekali bisa berpetualang ke daerah sana," jelas Horald.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN