Mau sekuat apapun orang selalu menggunjingmu. Ia tidak akan bisa membuatmu lemah. Gunjingan akan terus keluar dari mereka yang tidak menyukaimu. Maka, tutup telinga dan tutup matamu saja. Jalan pada jalanmu maka di situlah kau akan merasa paling beruntung di dunia ini.
-Arthemis Amysthyst Matcha.
Kami bertiga tertawa bersama hari ini. Holard yang melakukan hal konyol di hadapan kami berdua, ia memang bisa menjadi penaik mood bagi kami. Karena ia selalu bertingkah selayaknya seorang badut yang menghibur banyak orang.
"Kau benar-benar sangat konyol Horald. Pantas saja banyak sekali yang menyukaimu dan banyak yang mengatakan bahwa kamu adalah sosok yang luar biasa. Kau memang sangat menghibur banyak orang," jelasku sambil terkekeh dengan pelan.
"Sudah biasa kalau seperti itu. Makanan sehari-hari bagiku jika hanya di tertawa kan oleh banyak orang mah. Rasanya itu adalah sebuah hal yang biasa saja. Karena itu adalah pekerjaan aku."
"Hahahaha, kau memang sangatlah kocak. Aku benar-benar tidak menyangka dapat bertemu denganmu di sini. Karena hal ini aku benar-benar sangat bersyukur sekali di pertemukan oleh orang-orang sepertimu."
"Hahahaha, biasa saja. Nanti kau akan mendapatkan banyak orang yang sayang denganmu kembali dan banyak orang yang dekat denganmu. Itu hanya membutuhkan proses saja. Kamu harus bisa menyesuaikan semuanya dengan sangat baik nantinya ya," jelas Horald.
Aku menganggukkan kepala dengan sangat pelan dan mengikuti apa yang Horald katakan. Karena aku akan berpisah sama mereka nantinya. Aku gatau ini sistemnya bagaimana. Tapi, yang jelas hidup ini sendiri kita yang harus selalu mengatasi semua masalah dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan kita semua.
Ya, meskipun aku dekat dengan Horald dan Metha aku juga tidak akan membiarkan mereka dan membuat mereka kesulitan karena aku yang sangat manja nantinya. Karena bukan tipe aku untuk tidak berusaha sekuat tenaga agar bisa mendapatkan yang terbaik. Itu adalah sebuah hal yang pantang bagiku saat ini.
Aku hanya terkekeh pelan dan menggelengkan kepala dengan sangat pelan melihat tingkah konyol dua sahabat baruku saat ini. Mereka benar-benar sangat menghibur sekali.
Tak lama kemudian, banyak segerombolan cewe datang mendekat ke arah kami semua. Aku hanya mengabaikan mereka dan terus melihat ke arah Horald yang sedang bertingkah konyol bersama Metha di hadapanku saat ini. Aku yang tadinya senyum menjadi menekuk kembali wajahku dan menghembuskan nafas dengan sangat pelan.
"Sudah dong, mukanya jangan di tekuk lagi. Kan Horald sudah menghiburmu saat ini. Apakah kamu tidak kasian dengan dia yang sudah berusaha membuatmu selalu bahagia. Ayolah jangan seperti ini. Tersenyumlah terus seperti tadi, kami senang melihatmu tersenyum di bandingkan melihat kamu yang menekuk wajah seperti kain yang belum di setrika ini," ujar Metha sambil menarik ujung bibirku untuk mengembang ke atas.
Aku hanya tersenyum kecil dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Pasalnya aku akan tahu apa yang aku dengarkan saat ini adalah sebuah hal yang tidak seharusnya aku dengarkan. Pasti akan ada sebuah hal yang menyakitkan yang aku dapatkan apalagi itu adalah omongan orang lain nantinya.
"Aku tak habis pikir dengan Bu Hernyme, ia malahan menyuruh kita untuk satu kelompok dengan anak berangking paling rendah di sekolah ini. Hello? Gila kali ya, di kira kita semua ini bodyguard pribadinya dia apa? Kenapa gak di jadiin satu aja sih sama orang-orang yang punya rangking rendah. Heran banget, pasti dia nanti jadi orang yang paling bodoh di kelompok kita. Karena di kelompok kita hebat-hebat," dumel cewe itu dengan tidak suka.
"Bener banget sama apa yang lo ucapin. Kalau sama Prince Iznti, semua orang pasti mau satu kelompok sama dia. Siapa coba yang gak ingin sekelompok sama satu orang yang memiliki wajah sempurna seperti dia. Dia itu dambaan semua wanita di sini," ucap gadis satunya dengan kegirangan.
Aku hanya bergidikkan bahuku dengan pelan dan melihat mereka dengan tatapan yang tidak suka. Aku kembali melihat tingkah aku Horald dan Metha yang benar-benar sangat menghiburku saat ini.
"Dari lima orang yang aku takutkan adalah gadis dari bangsa Athena itu. Kalau ia kenapa-napa di jalan pasti kita yang akan terkena masalah, hanya itu saja yang aku takutkan. Karena dia benar-benar tidak bisa mengendalikan kekuatannya dan dirinya sendiri pada saat marah. Itu yang menjadi masalah kita," ujar gadis itu.
"Emang gadis pembawa masalah, hanya dia itu di sini. Tidak seharusnya dia bersama kita. Sudahlah aku sudah tidak sudi menerimanya di kelompok kita," ujar gadis yang satunya.
Aku mengepalkan tanganku dengan kencang. Aku sangat kesal sekali mendengar ucapan mereka berdua. Ingin rasanya saat ini aku bawa mereka ke sungai sss dan aku celupkan kepala mereka berdua di dalamnya.
Biarkan saja mereka di makan oleh ikan piranha yang sangat ganas. Aku memang seorang gadis berangking rendah, tapi bukan berarti aku selalu menyulitkan orang lain. Selama ini toh aku bisa melakukan apapun sendiri.
Kalau bukan karena Horald dan Metha mungkin saja aku sudah menamparnya di hadapan orang banyak. Atau yang lebih parahnya lagi, aku bisa saja memotong lidahnya, menjahit bibirnya atau mengoyak muka mereka dengan sangat sadis.
Jika saja mereka berdua tidak ada kesabaranku memang sudah habis saat ini. Metha hanya menenangkan ku agar aku tidak mengeluarkannya saat ini.
"Tenanglah, suatu saat nanti mereka akan tahu siapa kamu sebenarnya. Sudah ya, kamu sekarang istirahat aja. Nanti kalau kita sudah mau mulai jalan kamu berdiri."
Metha mengajakku duduk di salah satu bangku taman yang ada di sini. "Duduklah di sini terlebih dahulu, nanti jika memang sudah kumpul secara berkelompok baru kita mendekat ke arah mereka. Aku sarankan, kamu gak usah banyak berpikir tentang bagaimana kedepannya dan bagaimana kamu akan mengakrabkan diri oleh mereka. Kamu jadi diri kamu aja itu sudah sangat baik," jelas Metha.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan. "Terima kasih sudah selalu ada buat aku," ucapku dengan lembut.
"Tidak perlu berterima kasih, karena itu adalah tugasku sebagai seorang teman."
Arthemis POV Off.
Author POV On.
Bu Hernyme datang menghampiri murid-muridnya yang ada di lapangan. Ia melihat satu-persatu muridnya dengan saksama. "Kumpul pada kelompoknya masing-masing," teriak Bu Hernyme.
Semua siswa berhamburan mendekat ke arah Bu Hernyme. Mereka berbaris sesuai dengan kelompok yang sudah di tentukan. Di dalam satu kelompok terdapat 7 orang, Cecilia, Iznti, Frans, Tania, Arthemis, Callista, dan Ana.
Ana dan Tania menatap Arthemis dengan tatapan yang tidak suka. Iznti yang memahami pandangan itu hanya berdeham dengan keras dan berdiri di samping Arthemis.
"Duduklah melingkar bersama teman kelompok kalian. Setiap kelompok 3 orang yang akan merapalkan mantra yang saya kasih. Dengan catatan tiga orang itu memiliki kekuatan yang setara," jelas Bu Hernyme.
Iznti menatap Arthemis dan yang lainnya. "Siapa yang akan mengucapkan mantranya?" tanya Iznti dengan datar.
"Kalau kekuatan setara hanya Ana, Tania, dan Frans yang bisa. Sisanya kita tidak bisa merapalkan ya karena kita tidak memiliki ke setaraan," jawab Callista.
Cecilia menggambarkan sesuatu di depan mereka semua. Gambar itu terlihat sangat aneh dan di gambar di depan kami semua. Arthemis yang baru pertama kali melihatnya hanya bisa mengernyitkan dahinya dengan pelan.
"Baiklah," ucap Iznti sambil memegang tangan Arthemis di sebelah kanan dan sebelah kiri Iznti memegang tangan Frans.
Arthemis yang merasa kaget dengan sikap tiba-tiba Iznti langsung menoleh ke arahnya dan melihat sekelilingnya. Ia melihat semua kelompok saling bergandengan tangan dan menutup matanya. Arthemis juga melakukan hal yang sama dengan mereka semua.
"Erimos Sta Synora," ucap Tania, Ana, dan Frans secara bersamaan.
Tak lama kemudian mereka semua ketarik masuk ke dalam gambar yang di gambar oleh Cecilia tadi. Semua orang yang ada di lingkaran itu hanya menutup matanya dan membukanya setelah merasa sudah sampai.
Arthemis membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Tempat yang begitu asing baginya saat ini. Ia juga sangat bingung kenapa hutan ini sangat mencekam, mengerikan, menakutkan, dan terlihat menyiksa.
Bulu kuduk Arthemis berdiri mendengar banyak suara aneh-aneh di telinganya. "Dimana ini? Lalu ini tempat apa?" tanya Arthemis dengan nada takutnya.
"Ini adalah hutan perbatasan, di sinilah kita akan mencari Guardian kita semua. Jadi, disini kita harus bisa menjaga satu sama lain. Ketika ada salah satu dari kita semua yang meminta bantuan atau membutuhkan bantuan maka yang lainnya akan membantunya. Maka, salinglah menjaga satu sama lain."
Bulu kuduk mereka semua merinding. Banyak cewe yang lebih mendekat ke arah mereka berdua. Iznti menghela nafasnya dengan panjang dan berdiri di samping Arthemis.
"Kalian lebih baik berjalan di tengah, biar gue sama Frans di pinggir kanan kiri kalian. Jangan pernah gentar dan jangan pernah takut di sini. Karena kita akan mencari jati diri kita di sini. Kita bisa," ucap Iznti dengan datar.
Semua orang yang ada di sana hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Mereka mulai berjalan perlahan untuk melihat sekelilingnya.
"Mau kemana terlebih dahulu ini kita Iznti? Aku tidak tahu daerah sini," tanya Frans dengan bingung.
"Kita akan mulai berjalan ke arah barat agar kita dapat melihat apa yang ada di sana Frans," jawab Iznti.
Mereka semua berjalan menuju arah barat. Iznti yang notabennya ketua kelompok dari mereka mengarahkan mereka ke jalanan yang sudah di tetapkan. Mereka semua menatap sekeliling mereka dengan takut. Karena banyak sekali suara-suara aneh yang berada di sini.
"Tetap saling bergandengan tangan. Karena di sini sangat berbahaya apalagi kalian yang cewe," ucap Iznti dengan tegas.
Mereka semua berjalan bergandengan tangan dan melihat sekeliling mereka dengan saksama. Sudah lama mereka mengitari arah barat namun nihil tidak ada satupun yang mereka temukan. Merasa lelah dengan perjalanan ini mereka duduk di pinggiran hutan.
"Huft aku sangat lelah," gumam Tania.
"Semuanya merasa lelah Tania. Bukan hanya kau saja, jangan banyak mengeluh. Lakukan saja yang sudah di tugaskan pada kita," ucap Frans dengan nada yang ketus.
"Biasa saja," ucap Tania dengan nada yang tinggi.
"Sudah diam, tidak baik bertengkar di tempat orang."
"Diamlah kau anak berangking rendah!" seru Tania.
Arthemis yang tadinya hanya mengingatkan mereka agar tidak bertengkar di tempat umum hanya menahan tangisnya, ketika mendengar ucapan Tania. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan sendirian ke arah barat sendirian.
"Kau keterlaluan Tania," ucap Frans langsung mengejar Arthemis yang sudah beberapa meter di depannya.
Iznti tanpa babibubebo langsung bangun dari tempat duduknya dan mengejar mereka semua. Hingga akhirnya semuanya bangkit dari tempat duduk dan mengejar Arthemis.
"Kau benar-benar keterlaluan Tania. Ini bukan saatnya menjudge seseorang. Dia hanya mengingatkan apa yang benar, kenapa kau sangat marah sekali. Apakah ada yang salah?" tanya Cecilia.
"Aku tidak suka padanya. Dia sudah berani mengambil perhatian Iznti dariku saat ini. Aku tidak akan membiarkan dia mendekati Iznti," ucap Tania dengan nada yang tak suka.
"Meskipun kau bilang kau tidak menyukainya. Tapi, kita saat ini adalah teman dan kelompok. Kita harus saling bersama, jika terjadi apa-apa terhadap Arthemis kau mau bertanggung jawab? Kalau orang tuanya marah dan murka apa kau ingin melihatnya?" tanya Calista
"Ingat ya, bangsa Athena memiliki kekuatan yang lebih besar daripada bangsa kita. Dyrnatous dan Athena mereka itu kakak beradik. Kedua bangsa yang kuat itu susah untuk di kalahkan. Jika Arthemis kenapa-napa, nyawa kita yang akan menjadi taruhannya. Bukan hanya itu saja kita juga akan di tegur oleh Bu Armthe dan Bu Hernyme." Tania hanya mengabaikan apa yang di katakan oleh teman-temannya dan mengejar Iznti di depan.