Kesedihan

1783 Kata
Aku tak tahu apa kesalahanku yang sesungguhnya. Kenapa bisa semua orang membenciku karena peringkatku di sekolah yang paling terendah. Apakah salah jika kita memiliki peringkat seperti itu? Apakah aku salah terlahir dari keluargaku karena aku mendapatkan rangking yang tidak seharusnya? Kenapa ini menjadi sebuah teka-teki yang sangat dalam bagiku saat ini. Ada apa ini sebenarnya? - Arthemis Amysthyst Matcha. Aku yang mendengar ucapan mereka hanya bisa menahan tangisanku saat ini. Karena aku merasa kalau saat ini sendiri di dunia orang tanpa adanya seorang teman yang bisa menemani aku dan menerima aku apa adanya. Kenapa semua kehidupan sama saja? Kenapa tidak ada yang adil di dunia ini? Apakah ini adalah buah dari kesalahanku yang selama ini di simpan oleh Tuhan? Arthemis POV Off. Author POV On. Mereka semua mengejar Iznti dan Tania yang berada di hadapan mereka, Arthemis yang melihat mereka mengejar Iznti dan Tania hanya terdiam dan menahan tangisannya di hadapan orang banyak. Ia sangat sedih melihat semua teman-temannya lari dari sisinya dan mengejar seseorang yang sangat hebat di depan sana. Arthemis yang merasa sendiri hanya bisa menghela nafas dengan panjang dan memanggil Aetos yang tidak tahu di mana dia berada saat ini. Ntahlah hanya dia dia yang bisa mengerti apa yang ia rasakan saat ini. "Aetos kau di mana? Aku sangat merindukanmu. Aku juga membutuhkanmu saat ini. Aku tau aku sudah tidak nurut padamu kemarin, maafkan aku. Tapi, aku mohon di sampingku saat ini." "Aetos datanglah kepadaku. Jangan biarkan aku terus mencarimu seperti ini. Karena aku benar-benar sangat takut Aetos. Ini bukanlah kehidupan aku yang sebenarnya. Tolong kembalilah, tolong selalu berada di sisiku saat ini. Karena aku hanya sebatang kara di dunia ini." Arthemis memelankan jalannya dan menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan yang ada di dalam hutan itu. Ia menutup matanya dengan pelan dan menahan rasa sakit hatinya agar tidak masuk ke dalam relung hatinya yang sangat dalam Bruk! Frans langsung berlari mendekat ke arahnya dan membantunya untuk berdiri. Namun, Arthemis masih belum bergeming di atas rerumputan itu. Arthemis tetap duduk dan mengabaikan Frans yang mencoba membangunkannya dari tempat duduk tersebut. Frans yang merasa ada penolakan dari Arthemis langsung terdiam. Frans yang paham dengan apa yang ia lihat saat ini langsung dengan pelan duduk di sampingnya dan merangkul Arthemis dengan pelan. "Kenapa? Aku tahu kau sakit hati mendengar ucapan Tania. Tapi, bagaimanapun dia adalah teman kita. Jaga ya rasa egoisnya. Jangan sampai kita semua kemakan rasa egois masing-masing. Aku mohon padamu," ucap Frans sambil merangkul Arthemis dengan pelan. "Apakah salah menjadi seorang anak yang memiliki ranking terendah di sekolah ini? Apakah salah jika aku mendapatkan peringkat seperti itu? Kenapa semua orang membuatku merasa seperti orang yang paling bodoh dan orang yang paling tidak baik di dunia ini? Kenapa mereka selalu menyalahkan aku dan berkata kalau aku selalu menyusahkan orang lain?" tanya Arthemis dengan nada lirihnya. "Apakah aku semenyusahkan itu di hadapan mereka? Apakah aku benar-benar sangat menyiksa mereka semua selama ini? Kenapa mereka benar-benar sangat tidak suka denganku?" tanya Arthemis lagi. "Tidak ada yang salah, kau seharusnya bisa lebih belajar lagi. Gak jelek kalau kamu mau belajar, aku melihat kamu mau belajar ko. Gak ada yang berhak bilang seperti itu. Kenapa kamu bisa berpikir sampai sana? Biarkan saja dengan perkataan mereka semua. Karena apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya benar. Kalau kamu seperti ini sama saja kamu membenarkan apa yang di katakan oleh mereka semua." "Sekarang aku tanya. Apakah kamu seperti apa yang mereka katakan? Apakah kamu akan melakukan hal yang mereka semua gunjingkan? " tanya Frans dengan sangat pelan. Arthemis menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan dan kembali menutup matanya saat ini. Ia merasa kalau dia benar-benar merasa menjadi beban teman-temannya yang sangat hebat. "Nah, kalau kamu tidak melakukan itu semua. Kenapa kamu harus takut dengan mereka? Sudah jangan pernah mendengarkan apa yang orang lain katakan. Karena itu semua tidak benar. Karena semakin kamu mendengarkan apa yang orang lain katakan. Maka itu akan selalu menjadi boomerang yang paling besar dalam hidup kamu saat ini," jelas Frans dengan sangat pengertian. "Tapi Frans, aku cape, aku cape mendengar omongan teman-teman tentang diriku. Seolah-olah aku hanya anak pembawa sial dan menyusahkan banyak orang di sini. Jika memang aku menyusahkan kalian, lebih baik aku pulang saja dan mencari guardianku seorang diri. Kalian pergilah sendiri, aku akan pergi mencari guardianku." "Tidak, kami semua akan bersamamu. Sudah ya kita kembali, aku yang akan menjadi pelindungmu dari apapun itu. Jangan memasukkan kata-kata itu ke hatimu lagi ya. Aku yakin ko kalau kamu adalah orang baik yang selalu memaafkan orang lain. Kembali ya bersama kami," ucap Frans dengan lembut. "Aku akan mencarinya saja sendiri. Kalian boleh melanjutkan perjalanan dan mencari Guardian kalian masing-masing," jelas Arthemis. "Hei, kamu tidak tahu betapa mengerikannya hutan ini. Sekarang dengarkan aku, kalau mereka berani membuat kamu seperti ini atau membuat kamu merasa tidak nyaman. Maka aku yang akan membela kamu. Apalagi omongan mereka semua. Mudah sekali kita akan menjebak mereka dan memutar balikkan fakta jika memang itu tidak benar. Itu bisa di kenakan masalah nantinya." "Kalau kamu malahan mencari Guardianmu sendiri. Ada apa-apa dengan dirimu, maka kami semua yang akan terkena masalah besar oleh sekolah. Kami di sini untuk saling melengkapi dan saling menjaga. Aku tahu maksud dari para guru kenapa kita di satukan." "Apa yang mereka maksud? Bukannya itu hanya sebuah permainan belaka saja ya?" tanya Arthemis. "Tidak, itu bukan permainan belaka. Tapi, mereka benar-benar ingin kita semua kembali dengan selamat. Oh ya, kalau kamu memang tidak suka dengan mereka. Kamu bisa berpergian berada di sampingku. Simpel bukan kalau masalah seperti itu? Aku yakin kamu akan nyaman nantinya," ajak Frans dengan sangat baik. "Apakah kau yakin akan berteman denganku? Sedangkan aku adalah anak pembawa sial dan orang yang hanya bisa menyusahkan orang lain saja saat ini. Kau akan terkena masalah nantinya jika bersamaku." "Tidak akan, kau adalah temanku sama seperti yang lainnya. Tenanglah aku akan menjagamu dari yang lainnya sampai kita menemukan Guardianmu. Sekarang kita kejar mereka ya. Karena kalau tidak kita akan ketinggalan jauh nantinya," ajak Frans. Arthemis masih berdiam diri dan tidak menggubris perkataan Frans sama sekali. Ia masih berdiam diri dan masih belum mempercayai ucapan dari Frans. "Emy, ayolah tidak ada apa-apa. Kau akan baik-baik saja saat bersamaku saat ini. Sudah ya biarkan saja Tania nanti urusan Bu Hernyme saja. Dia akan kita adukan jika melakukan hal yang tidak seharusnya." "Aku masih belum yakin dengan semuanya," jelas Arthemis. "Tenang saja. Aku tidak akan melakukan yang lebih dari ini. Sekarang kita kejar mereka saja ya," jelas Frans. Arthemis hanya semakin terdiam dan menundukkan kepalanya dengan sangat pelan. Ia merasa tidak enak hati dengan kebaikan Frans yang sangat luar biasanya saat ini untuknya. Tak lama kemudian, Cecilia, Calista, dan Iznti langsung menghampiri mereka berdua dan berdiri melingkari Arthemis. Iznti yang kaget dengan Arthemis yang duduk dengan sangat lemah langsung menatapnya dengan sangat kaget. "Kau melakukan apa terhadapnya?" tuding Iznti dengan sangat kesal. "Tenang, aku tidak melakukan apapun kepadanya. Aku hanya membantunya menenangkan diri agar mendapatkan semua jawaban yang emang harus dia dapatkan." Mereka semua hanya mengabaikan jawaban Frans dan langsung mendekat ke arah Arthemis yang sedang terdiam dan terduduk dengan lemas. "Amyst kau tidak apa-apa? Apakah Frans melakukan hal yang kejam padamu? Apa yang telah dia lakukan kepadamu? Sini katakan kepadaku semuanya?" tanya Cecilia dengan sangat khawatir. "Tidak, Frans tidak melakukan apapun kepadaku. Ia menyuruhku untuk kembali," ucap Arthemis sambil tersenyum paksa. "Maafkan ucapan Tania, aku tau kau sangat tersakiti. Jadi, aku mohon maafkan dia. Aku tahu ko dia tidak bermaksud seperti itu. Cara dia memang salah dalam menilai seseorang. Tapi maukah kamu memaafkan dia sekarang?" "Tenang saja, aku sudah memaafkan dia sebelum dia meminta maaf kepadaku. Kalian tenang saja saat ini." "Sekali lagi aku minta maaf atas nama Tania." Arthemis menatap Iznti dengan tidak percaya. Selama ini Iznti tidak pernah meminta maaf padanya. Ia salah satu orang yang tidak mau kalah sebenarnya. Tapi, hari ini ia berubah total terhadap Arthemis. "Kembalilah bersama kami. Kita akan mencari Guardian kita secara bersama-sama. Jangan memisahkan diri atau merasa kamu adalah orang yang membuat kami susah. Karena itu semua tidak benar. Kamu akan menolong kita nantinya jika kita membutuhkan," ucap Iznti. "Ayolah Emy, kamu adalah yang terbaik. Maka ikutlah bersama kami agar kita bisa mendapatkan Guardian kita dengan cepat. Ayolah," pinta Cecilia. Iznti mengulurkan tangannya ke arah Arthemis. Arthemis yang paham dengan semuanya langsung menerimanya dan bangun dari tempat itu. Setelah bangun Arthemis langsung berdiri di samping Frans dan Cecilia. "Sudah ayo kita pergi dari sini, kita mencari Guardian kita." "Ayok!" seru mereka semua dengan sangat senang. Kami mulai berjalan berkeliling lagi. Frans yang berdiri si samping Arthemis hanya tertawa kecil melihat tingkah Arthemis yang sangat manis di sebelahnya saat ini. "Kau ternyata lebih pendek dariku awkwkwk. Aku tidak menyangka kalau kamu akan sependek ini," ucap Frans sambil meledek Arthemis. "Dih. Kau terlalu pede sekali untuk mengatakan itu," ucap Arthemis sambil tertawa dengan manis. "Aku ini sosok orang yang sangat enak di peluk tau. Kau saja yang benar-benar tidak tahu kalau aku memiliki kelebihan itu." "Tidak, aku kan baru kenal kamu saat ini. Pada saat kamu melawan Iznti aku hanya ragu dan sangat bimbang akan memilih siapa. Karena aku sangat tahu bagaimana kehebatan sekarang sahabatku itu. Dia tidak bisa terkalahkan oleh semua orang selama ini." Arthemis dan Frans berjalan dengan bergandengan tangan. Sedangkan, mereka yang lainnya sekarang sedang berjalan berpisah-pisah. Iznti berjalan di depan mereka semua dan yang lain mengikutinya dari belakang. Mereka semua dengan saksama dan teliti melihat apa yang ada di dalam hutan ini. Arthemis dengan sangat pelan melihat sekelilingnya dengan sangat intens dan menatapnya dengan sangat kagum di hadapan yang lainnya. "Ini hutan sangat beda dari yang lainnya. Aku benar-benar baru pertama kalinya datang ke hutan yang seperti ini. Sungguh ini sangat menyenangkan," jelas Arthemis. Semua orang yang berada di sana langsung menghentikan langkahnya dan menatap Arthemis dengan sangat bingung saat ini. Cecilia mendekat ke arah Arthemis dan memegang kepala temannya itu agar tidak salah makan atau dia sedang menderita sakit panas. "Kau yang benar saja. Selama ini kamu tidak pernah keluar rumah atau bagaimana?" tanya Calista dengan sangat bingung. "Hehehehe, benar apa yang kamu katakan. Selama ini aku tidak pernah keluar dari rumah. Maka aku sangat senang sekali bisa melihat sebuah tempat yang seindah ini. Rasanya ingin sekali terus berkeliling dan melihat apa yang ada di dalamnya." "Siapa tahu aku mendapatkan sebuah hal yang sangat luar biasa di dalam dan benar-benar sangat hebat begitu yang bisa aku ceritakan ke kalian nantinya." Mendengar apa yang di katakan Arthemis mereka semua hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan menghembuskan nafas mereka dengan pelan. Frans yang berada di sampingnya hanya bisa mengacak-acak rambut Arthemis dengan sangat gemas dan membuat sang empunya merasa kesal. "Kau benar-benar menyebalkan, aku tidak habis pikir dengan orang yang menyukai kamu saat ini. Padahal kamu adalah orang yang paling menyebalkan saat ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN