Guardian itu bukan untuk di takutkan. Justru seekor guardian harus di dekati dan dijinakkan oleh kita sendiri. Karena dalam sumpah dan pekerjaan mereka, mereka selalu mengatakan bahwa mereka akan selalu setia dan mengabdikan diri kepada kita sebagai penjaga seumur hidup yang selalu melindungi kita dari apapun itu. Maka seekor Guardian akan tetap menghampiri tuannya dan bersikap manja jika dia bertemu dengan tuannya pada saat itu juga.
- Arthemis Amysthyst Matcha.
"Tidak masalah jika menyebalkan. Yang jelas aku banyak penggemar. Dari pada menyebalkan tapi tidak memiliki seorang penggemar? Itu yang lebih mengerikan. Soalnya itu lebih ke arah sebuah hal yang benar-benar sangat luar biasa."
"Itulah yang aku rasakan saat ini. Kamu sangat mengerikan di bandingkan yang sebenarnya," ledek Arthemis.
Mereka semua tertawa mendengar apa yang Arthemis katakan kepada Frans. Rasanya mereka memiliki sebuah hiburan yang baru dengan teman-teman yang baru saja di pasangkan sebagai kelompok mencari Guardian mereka.
"Kau memang sosok orang yang sangat aneh Arthemis. Kau bilang kalau hutan ini bagus dan sangat menyenangkan. Karena kamu belum mengetahui yang sebenarnya maka dari itu kamu bisa mengatakan itu semua."
"Emangnya ada yang salah? Ini adalah hutan memang sangat asri dan sangat rindang. Enak sekali di pakai untuk tertidur dan yang lainnya."
Mereka semua terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan. "Ya, memang sih hutan ini sangat rindang dan sangat menawan. Tapi, banyak cerita yang mengerikan yang terjadi di sini."
"Ada apa itu? Katakan semuanya padaku? Aku akan terus mencari tahu jika aku tidak mendapatkan semuanya?" tanya Arthemis dengan sangat penasaran.
"Hutan ini di kenal sebagai hutan yang paling hebat dan memiliki kekuatan yang sangat hebat. Ada beberapa orang yang berada di sini terus mereka tidak bisa kembali ke rumah mereka masing-masing. Katanya ada yang suka mengambil darah manusia dan memakan mereka hidup-hidup dan masih banyak lagi."
"Maka jarang ada yang mau ke hutan ini. Baru kali ini aku juga datang ke sini dan melihat semuanya dengan secara langsung."
Mereka semua menganggukkan kepalanya dan menyetujui apa yang di jelaskan oleh Frans. Arthemis hanya bergidik ngeri dan mendekat ke arah Cecilia.
"Sudah sekarang kita semua berangkat saja mencari lagi. Karena nanti kalau semakin petang akan membuat kita sangat sulit menemukan mereka semua."
Mereka menganggukkan kepalanya dan Iznti berjalan mendahului mereka semua dengan sangat cepat. Frans dan Arthemis hanya terdiam dan berjalan berdampingan di belakang Cecilia dan Calista yang berada di hadapannya. Di paling belakang tempat mereka adalah Tania dan teman-temannya yang sedang bersenda gurau.
Frans yang merasa hanya ada keheningan di antara mereka hanya menghembuskan nafas dengan kasar dan memutar bola matanya. Ia langsung menatap Arthemis dengan sangat dalam dan mulai membuka pembicaraan di antara mereka berdua.
"Arthemis apakah kau tahu siapa yang menolong Iznti kemarin? Dia seorang laki-laki yang kuat dan tangguh? Dia benar-benar sangat hebat bisa menenangkan kamu dalam waktu yang sekejap saja," tanya Frans.
"Cowo? Yang menolong Iznti? Dia menenangkan aku?" tanya Arthemis dengan sangat pelan.
Arthemis tampak berpikir sejenak dan mengingat apa yang terjadi padanya kemarin pada saat dia melakukan itu semua terhadap Iznti.
"Iya, dia yang menolong Iznti. Dia sangat hebat dan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Itu benar-benar hanya di miliki oleh setara dengan Prince Iznti dan yang lainnya. Siapa dia sebenarnya?" tanya Frans dengan sangat penasaran.
"Oh, dia. Dia adalah hewan peliharaanku yang sangat aneh. Aku saja tidak tahu banyak tentangnya," ucap Arthemis dengan seadanya.
"Hewan peliharaan? Apa sosoknya selama ini?" tanya Frans.
"Iya hewan peliharaan aku di bumi. Dia hanya berbentuk seekor burung rajawali. Aku selama ini hanya tau dia seekor rajawali biasa yang tidak bisa berubah jadi manusia. Tapi, kemarin ia malahan melindungi aku dan berubah menjadi seseorang," dumel Arthemis dengan kesal.
"Kenapa kau seakan-akan marah padanya?" tanya Frans.
"Bagaimana aku tidak marah? Dia tidak pernah bercerita tentang dirinya. Dia juga selalu menghilang sana-sini, aku sebal menunggunya dan mencarinya. Di kira aku ini apa coba? Dia kalau menunggu saja meskipun sebentar pasti dia akan memarahi aku seharian penuh. Tapi, sekarang dia juga tidak ada dan tidak hadir padahal aku sudah memanggilnya," ucap Arthemis dengan kesal.
"Mungkin dia memiliki pekerjaan lain mangkanya dia tidak bisa mendengar panggilanmu saat ini. Kalau kamu mau tahu ya. Dia itu sangat kuat kemarin, ia bisa memisahkan kalian berdua. Padahal kekuatan kalian sangat besar. Kalian sama-sama terpental dan saling tersakiti kemarin. Bu Armthe saja yang guru seperti itu sangat tidak sanggup memisahkan kalian."
"Tapi, cowo itu dengan sangat mudahnya ia memecahkan semuanya dan membawa Iznti ke dalam ruangan rawat. Semua orang kemarin benar-benar sangat panik dan sangat luar biasa takutnya karena melihat kalian yang terkulai lemah."
"Sekuat apa dia sampai kau bisa bilang seperti itu? Padahal selama ini dia biasa-biasa saja. Dia bahkan tidak pernah melakukan hal yang tidak seharusnya di depanku. Dia hanya bisa terbang saja menurutku. Lalu apa yang kalian banggakan terhadapnya?" tanya Arthemis dengan bingung.
"Sangat kuat, ia benar-benar kuat. Selama ini tidak ada yang bisa memisahkan Prince dan seseorang yang sedang bertarung. Tapi, dia justru menolong prince. Iznti tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Biasanya dia yang memenangkan pertandingan atau pertarungan terhadap kekuatan kita semua."
"Tapi, kemarin kamu adalah sosok yang hebat yang bisa membuat Iznti kalah dengan ilmunya. Kamu benar-benar sangat hebat. Kalian tidak ada yang menang. Tapi, kalian semua memiliki sebuah nilai plus karena kalian bisa better di hadapan orang banyak. Apalagi kamu Arthemis."
"Mungkin hanya kebetulan saja. Karena kita gak pernah tau selama ini. Toh, aku juga hanya peringkat yang paling rendah di sekolah ini. Maka kalian jangan khawatir dengan kekuatan aku. Aku tidak sekuat itu, buktinya saja aku peringkat terakhir di sekolah. So ngapain kamu pusing dengan semuanya. Sekarang kita fokus saja mencari Guardian kita semua," ucap Arthemis dengan tak percaya.
"Kalau kebetulan ia yang akan ikut terluka. Tapi, dia tidak terluka sama sekali. Ia malahan menghancurkan banyak senjata dan menenangkan kalian berdua. Padahal kenyataannya kalian sedang mengeluarkan senjata yang sangat legendaris di dunia ini. Maka itu yang benar-benar sangat membuat banyak orang kagum dengan dia."
"Biar ku tebak, sepertinya dia memiliki level bintang delapan deh soalnya dari kekuatannya sudah terlihat dia seperti itu."
"Ha? Level delapan? Yang benar saja kau. Itu adalah rangking yang sangat tinggi. Ia berangking lebih tinggi daripada Iznti," ucap Arthemis dengan nada yang tidak percaya.
"Iya, dia sekitar ranking segitu. Dia adalah guardianmu Arthemis. Kau tidak perlu mencarinya lagi, karena dia sudah ada bersamamu," ucap Frans.
"Dia sekarang tidak bersamaku. Ia sedang menghilang, aku tidak tahu dia berada di mana," ucap Arthemis sambil menghela nafas panjang.
"Tunggu saja, pasti ia akan kembali kepadamu. Dia adalah guardianmu. Tidak mungkin dia meninggalkan mu dalam hal apapun," ucap Frans.
"Tunggu. Guardianku? Yang benar saja kau?" tanya Arthemis tak percaya.
"Iya, dia adalah guardianmu. Dia selalu ada untukmu, dia selalu menunggumu, dia juga selalu ada di saat apapun. Dia itu sebagai penjagamu selama ini."
"Aetos? Guardian?" gumam Arthemis dengan pelan.
Arthemis memejamkan matanya dengan pelan dan mencoba mengingat apa yang pernah di ucapkan oleh Aetos. Tiba-tiba terlintas ucapan Aetos yang menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang guardian milik Arthemis. Arthemis langsung paham dan kaget mengetahui kenyataan ini.
"Sudah paham kan. Kita jalan ya," ucap Frans.
Tak lama kemudian terdengar suara aneh dari arah semak-semak, Arthemis yang merasa penasaran langsung menoleh ke arah semak-semak itu dan berjalan ke arahnya. Semua orang yang mendengarnya pun langsung menoleh ke arah semak-semak itu.
"Arthemis jangan mendekati itu," ucap Iznti.
"Tidak apa-apa, aku akan mendekati semak-semak itu."
Arthemis terus berjalan perlahan menuju depan semak-semak itu. Tak lama keluar seekor kucing kecil, yang sangat menggemaskan dari belakang semak-semak itu. Arthemis yang senang dengan melihat binatang, langsung mendekatinya.
"Arthemis itu adalah monster, kau harus menjauhinya. Jauhi lah kau jangan mendekat lagi," teriak Frans khawatir.
"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja."
Arthemis datang dan mendekat ke arah kucing itu. Ia mengelus kucing itu dengan pelan dan lembut. "Ah kamu sangat lucu sekali kucing kecil. Siapa namamu?" tanya Arthemis sambil memegang bulunya yang halus.
Ketika Arthemis memegangnya, justru kucing itu menggonggong dengan kencang. Semua orang yang ada di situ langsung mundur dan menjauhi kucing itu.
"Khuk! Khuk! Khuk!" gonggongnya.
Arthemis hanya terkekeh pelan dan kembali mendekatinya. Arthemis terus mengelus pelan bulu lembut kucing kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Kamu sangat menggemaskan anak manis. Aku tahu kau bukan kucing kecil, melainkan kamu adalah anak anjing yang sangat menggemaskan. Kau tidak mau bertemu dengan tuanmu? Aku yakin, kau pasti ingin bertemu dengannya kan?" tanya Arthemis dengan lembut.
"Khuk! Khuk! Khuk!"
Kucing itu terus menggonggong dengan keras membuat Arthemis terus tertawa dan masih mencoba mengajaknya berkomunikasi.
"Tuanmu ada di sini anak baik. Ayo ikut aku ke tuanmu, ia bisa memberikanmu makanan yang banyak. Kau bisa makan apapun jika kau ikut dengannya. Yuk, ikut dengan tuanmu sekarang juga."
Lama kelamaan anak kucing itu mulai melunak dan berjalan dengan manis ke arah Arthemis. Ia menggosokkan badannya dengan pelan di kaki Arthemis dengan manja.
Arthemis yang merasa geli dan lucu itu langsung menggendong anak kucing itu dan berjalan ke arah Ana yang ada di samping Tania. Ana yang merasa sedang ingin di hampiri oleh Arthemis berjalan mundur mendekat ke arah Iznti.
"Kau ini yang benar saja, kau malahan menjauhi guardianmu sendiri. Mendekat lah dan gendong guardianmu. Ia sangat terlihat menggemaskan sekali," ucap Arthemis mendekat ke arah Ana.
Ana yang masih merasa takut dan tidak yakin, akhirnya ia mencoba mendekat dan menggendongnya dengan perlahan. Tak lama kemudian, cahaya berwarna putih yang sangat bersih keluar dari mereka berdua.
Di nadi tangan kanan Ana langsung terlihat sebuah jiplakan seperti tato yang menggambarkan guardiannya. Sedangkan anak kucing yang bersama mereka saat ini di punggungnya terlihat tato bernama Ana yang sangat kecil. Anak kucing itu juga berubah menjadi wujud anak anjing yang sesungguhnya.
Ana menatap Arthemis dengan tatapan tak percayanya. Jujur semua orang yang berada di sini sangat takut dengan kucing kecil tadi dan hendak pergi meninggalkannya. Namun, jika mereka tadi meninggalkan kucing ini maka Ana tidak akan bertemu dengan guardiannya.
Arthemis tersenyum manis dan kembali berjalan dengan nyaman di samping Frans. Iznti masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Karena selama ini yang ia tahu, Arthemis adalah seorang anak yang memiliki rangking yang paling rendah di sekolahnya.
Arthemis kembali ketempatnya dan tersenyum dengan manis. Frans yang masih terkejut dengan apa yang di lihatnya sekarang ini masih tetap diam.
"Lebih baik kita berjalan kembali dan mencari Guardian yang lainnya," ajak Iznti sambil berjalan mendahului mereka semua.
"Bagaimana kau bisa memahami semuanya? Padahal dia berbentuk seperti kucing. Tapi, bersuara anjing. Aku sangat kaget melihatmu bisa mengenali itu adalah guardian," ucap Frans.
"Aku juga tidak tahu kenapa, aku hanya mengikuti semua feeling yang ada di hatiku saat ini."