○Rasa

1027 Kata
Kini, Desa Carrot telah hangus terbakar. p*********n dimalam itu tak bisa dihentikan. Seluruh warga Desa mati terbunuh, terbakar oleh api para penyihir itu. Serangan yang merenggut nyawa orang tua dan kedua sahabat Nathan. Meninggalkan bekas dendam yang mendalam, meninggalkan jejak ingin membunuh yang dalam. Hanya Nathan yang tersisa. Pihak Kerajaan tidak dapat membantu karena terjadi p*********n di Desa yang lainnya juga. Para prajurit dan kaisar turun tangan, mereka berpencar ke setiap desa. Kecuali Desa Carrot. Desa yang penuh canda tawa anak kecil, keseharian yang menyenangkan, Desa yang damai, harus berakhir menyedihkan. Kini tinggal Nathan sendiri, meratapi kepergian kedua sahabat dan orang tua-nya. Dia sendiri, didalam hutan, bersembunyi dari keramaian. Hidup sebatang kara tanpa canda tawa sahabatnya. Andai saja saat itu dia tetap bersama Emma dan Grizzly, mungkin mereka dan para penduduk bisa selamat. Berhari-hari Nathan tinggal didalam hutan, sendiri, sepi. Tanpa belaian orang tua-nya. Makan tumbuhan hutan, minum air sungai, tidur dengan selimut daun pisang. Menyedihkan. Hari ini, Nathan mencoba menangkap hewan untuk dimakan dagingnya. Dia menelusuri setiap jalur, namun tak ada yang bisa dimakannya. "Aku lelah." Nathan mengurungkan niatnya untuk mencari binatang, dia memilih untuk memetik buah-buahan saja. Sudah satu minggu Nathan merenung dalam kesedihan, orang-orang tersayangnya direnggut dalam satu malam oleh musuh bebuyutannya. "Sudah cukup aku merenung, hal bodoh yang tak ada hasilnya ini akan aku akhiri! Akan aku balaskan kematian Emma, Grizzly, Ayah dan Ibuku!" Nathan bangkit dari duduknya, menatap kepalan tangannya yang tengah mengumpulkan tekad untuk balas dendam. Tidak akan dia biarkan begitu saja orang yang telah merenggut berlian dari hidupnya. Sebelumnya, Nathan mencari tempat untuk tidur dulu. Besok pagi dia akan memulai latihannya. Nathan kembali menyusuri hutan, mencari tempat yang cocok untuk beristirahat. Sementara dia berjalan, matahari sudah mulai tenggelam. Langit orange itu akan digantikan oleh malam yang dingin. Beberapa meter sudah Nathan lalui, kini dia sampai didepan sebuah goa yang tidak terlalu besar namun cukup untuknya berteduh. Nathan memasuki goa itu, agak panjang dan.. bagian dalamnya juga lumayan luas. Nathan merebahkan tubuhnya diatas hamparan pasir didalam goa. Berlindung dari dinginnya malam, melepas penat setelah seharian beraktivitas. Dipejamkannya mata yang lelah, memasuki dunia mimpi yang indah. *** Ccit cit cit~ Suara burung di pagi itu membuat Nathan terusik dari tidurnya yang nyenyak. Nathan beranjak dari tidurnya, merubah posisinya menjadi duduk. Mengucek matanya yang masih berat dengan punggung tangannya. Nathan mengehla nafas, bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari goa. Meregangkan tubuhnya, menyambut udara pagi yang membuatnya fresh. Kini dirinya harus mencari makanan untuk sarapan. Dilangkahkan kaki-nya meski sedikit gontai karena baru bangun tidur. Langkahnya dipercepat hingga mulai berlari, melewati setiap halang rintang. Nathan menganggap itu adalah latihan pertamanya. Latihan untuk kelincahan. Berlari, meloncat, mengatur kecepatan sambil memetik buah yang dilihatnya. Melelahkan, Nathan memilih untuk beristirahat sejenak, memakan buah yang dia dapatkan. Beberapa saat dia habiskan untuk memakan buah dan mengatur kembali energi-nya. Kini dia akan berlari menuju sungai, mencari minum sambil berlatih. Entah sudah berapa puluh meter Nathan berlari, rasanya seperti dirontokkan semua tulangnya. Tapi, meskipun begitu, dia akhirnya sampai di tepi sungai. Sungai yang damai, airnya bersih. Hembusan angin pagi, suara kicauan burung, dan suara arus sungai. Suasana yang langka. "Segarnya..." ucap Nathan. Puas dengan suasana segar itu, Nathan melepas pakaiannya dan mulai mandi di sungai itu. Hanya beberapa saat, airnya sangat dingin. Selesai mandi, nathan mulai latihan kembali. Kini dia melatih pernafasannya. Mencoba merelaksasi dirinya. Menenangkan pikiran dan hatinya yang dipenuhi dendam. Setelah sepuluh menit, Nathan beranjak dari duduknya. Mengambil posisi kuda-kuda. Mulai berlatih ilmu bela diri. Satu! Dua! Satu! Dua! Setiap ayunan gerakannya dihitung. Seluruh tubuhnya digerakkan. Cukup sampai tiga puluh menit Nathan berlatih. Melelahkan. Kini perutnya lapar lagi. "Melelahkan.." ucap Nathan. Disela-sela istirahatnya, Nathan membayangkan, Emma dan Grizzly masih disampingnya saat ini. Menikmati damainya pagi ini. Namun, semua itu hanya membuat ingatan Nathan kembali pada malam itu, malam yang kelam. Dimana semua orang tersayangnya direnggut. Setiap detik kenangan manis dan pahit itu terekam jelas diingatan Nathan. Momen bahagia-nya bersama Emma dan Grizzly, canda tawa kedua sahabatnya itu, dan wajah cemberut mereka. Hangatnya pelukan kedua orang tua Nathan, larangan sang Ibu, ajaran sang Ayah. Memutar memori itu membuat hati Nathan seperti diiris pisau. Sakit. Rindu dan dendam antara orang tersayang dan para penyihir. Perasaan yang menyiksa dirinya yang sebatang kara. Sepi, sendiri, didalam hutan. Dipeluk oleh rindu, ditusuk oleh dendam. Semuanya ditelan bulat-bulat oleh Nathan. Meskipun begitu, Nathan masih bisa tersenyum. Mengingat Emma yang menyatakan perasaannya pada Nathan. "Huh, Emma, meski nyawa mu sudah diujung saat itu, kamu masih terlihat manis." Ucap Nathan sambil mengulum senyum. "Cukup bersedihnya, itu tidak membuat mereka kembali. Aku akan membuat para penyihir itu merasakan apa yang aku rasakan!" tutur Nathan penuh emosi. Bangkit dari duduknya, Nathan mendekati sungai. Menatap pantulan wajahnya di air itu. Wajah yang tampan seperti pangeran. Namun, apa gunanya wajah tampan jika dia hanya sebatang kara? Tidak ada gunanya Nathan terus meratapi hidup. Dirinya harus bangkit. Hanya dia yang bisa membalaskan kematian kedua sahabat dan orang tuanya. Setelah menatap lekat pantulan wajahnya di air, Nathan beranjak pergi meninggalkan sungai itu. Dirinya harus mencari makanan untuk bertahan hidup. Sebelum benar-benar pergi, Nathan menangkat 2 atau 3 ekor ikan disungai. Lalu memetik beberapa buah-buahan. Seperti mangga, jambu, kelapa dan berry liar. Terlalu berat jika dibawa semua. Nathan menggunakan sihir bayangannya untuk membuat sebuah gerobak. Semua makanan yang ia bawa ditaruh didalam gerobak itu. "Padahal aku sudah memakai gerobak, tapi masih saja berat, huh!" Nathan mengeluh. Hari sudah mulai sore. Langit biru itu akan digeser oleh langit dengan garis orange. Garis cahaya senja dari sang matahari. Terus berjalan menyusuri hutan, hingga sampai kembali ke tempatnya tidur tadi dalam. Didalam sebuah goa yang sunyi. Nathan menarik masuk gerobak kecil yang penuh makanan itu. Menyalakan api didalam goa dengan sihirnya. "Sepertinya aku harus membuat semuanya dengan sihir, yang benar saja jika aku harus terus tidur diatas pasir? Jika nanti ada kelabang bagaimana?" ujar Nathan pada dirinya sendiri. Malas, dia memilih makan dahulu. Menyalakan api, menusuk ikan dengan ranting dan membakarnya. Menunggu ikan itu matang. Sesekali menggigit buah agar tidak bosan. Habislah satu buah mangga dilahapnya, ikannya juga matang disaat yang bersamaan. "Hari ini sungguh melelahkan." Ucap Nathan. Direbahkanlah tubuhnya yang lelah, dilepas kembali penat yang menyelimutinya. Berharap malam ini akan mimpi indah. ○TBC○
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN