Kurang lebih sudah 15 hari Nathan hidup didalam hutan, ia mulai terbiasa dengan suasana disana. Selama disana, dia menyadari bahwa; sendiri ternyata tidak buruk.
Seperti biasa, setiap pagi setelah bangun tidur, Nathan mencari stok makanan dihutan sambil latihan. Dirinya semakin berkembang, sihirnya juga semakin kuat.
Kini Nathan tengah berjalan, memetik buah dan sayuran yang ada dihutan itu. Sambil berlari, dia belajar memanah. Anak panah yang ia buat sendiri dari kayu. Untuk buah-buahan yang kulitnya tidak keras mungkin akan memudahkan anak panah itu menembusnya. Jika buah atau sayur yang kulitnya atau luarnya keras, anak panah itu tidak akan mempan.
Selain itu, Nathan juga sudah bisa membuat beberapa s*****a beracun. Namun s*****a itu tidak pernah ia coba dihutan ini karena takut akan merusak ekosistem.
Banyak yang Nathan dapatkan hari ini, cukup untuk mengisi perutnya hingga malam hari. Dengan suasana hati berbunga Nathan kembali ke goa yang sudah seperti rumahnya.
Namun, sebelum sampai di goa, saat Nathan sedang berjalan, terdengar suara langkah kaki dari arah berlawanan. Suara itu semakin mendekat.
"Ada orang, aku harus sembunyi sepertinya." Ucap Nathan.
Tak pikir panjang, saat suara langkah kaki itu semakin mendekat, Nathan menggunakan sihir tak terlihatnya.
Benar saja, dua orang elf lewat tepat dihadapannya. Pakaian yang dikenakan oleh dua elf itu seperti pakaian pasukan kerajaan.
"Mereka elf red blood? Sedang apa disini?" gumam Nathan.
"Kita harus mencari satu-satunya elf yang selamat dimalam itu!" Ucap salah satu elf red blood itu.
"Harus dicari kemana memang?"
"Entahlah, tapi harga kepalanya sungguh besar."
"Ah menyebalkan!"
"Apakah aku? Harga kepalaku? Maksudnya apa? Aku jadi buronan?" Nathan bertanya pada dirinya sendiri.
Beberapa saat setelah elf red blood itu berbincang, mereka berlalu, masuk lebih dalam ke dalam hutan. Nathan akhirnya bisa bernafas setelah mereka berlalu.
Nathan segera mempercepat langkahnya menuju goa. Meninggalkan area tak aman itu. Sepertinya dia harus memperketat pengaman ditempat persembunyiannya.
Setelah sampai di goa, nathan menghapus jejak nya dengan sihir, menutup mulut goa dengan tanaman merambat agar tak ada yang curiga jika ada seseorang yang tinggal didalam goa itu.
"Bagaimana bisa aku jadi buronan? Memangnya aku punya salah apa pada kerajaan ini?" Nathan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Masa bodoh dengan semua itu, aku hanya perlu fokus pada tujuanku."
Setelah bergelut dengan pikirannya, Nathan menenangkan diri dengan memakan buah-buahan dari hutan yang ia kumpulkan tadi. Cukup kenyang dengan 3 buah, dirinya memilih untuk beristirahat sejenak.
~
Ditempat lain, di Kerajaan semanggi.
Seluruh anggota Kerajaan tengah berkumpul didalam ruangan khusus, tampaknya mereka tengah membahas sebuah masalah serius.
"Jadi? Bagaimana?" tanya Kaisar pada semua orang yang tengah berkumpul diruangan itu.
"p*********n yang terjadi di Desa Carrot pada malam itu membuat hampir seluruh penduduknya tewas, Kaisar." tutur seorang kepala prajurit.
"Hampir? Maksudmu?" tanya Kaisar.
"Seseorang berhasil lolos malam itu, seorang Anak muda, namun keberadaannya sekarang tak diketahui." Jelas salah satu prajurit.
"Kenapa Kaisar menjadikan Anak muda itu buronan kerajaan?" tanya salah satu Selir.
"Jika dia hanya seorang elf white blood biasa, pasti dia tidak akan selamat. Tapi, para elf blue blood yang mencoba menahan p*********n malam itu mengaku bahwa ada salah satu Anak muda yang ikut menyerang. Mereka yakin kalau Anak itu salah satu penduduk Desa Carrot. Anak itu mampu mengeluarkan pedang bayangan." Jelas Kaisar dengan raut wajah serius.
"Pedang bayangan? Apa itu?" tanya Marco, orang yang menjabat sebagai Kepala prajurit di Kerajaan Semanggi.
"Sihirnya dinamakan Shadow's katana, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengeluarkannya. Orang-orang dengan darah terlarang." Jelas Kaisar lagi.
Pernyataan itu membuat seisi ruangan terdiam. Mereka mencoba menelan kata darah terlarang.
"Jadi, aku menjadikan dia buronan karena dia memiliki darah itu. Dia sangat berbahaya! Sekarang, aku ingin poster buronan itu disebarkan ke seluruh wilayah kerajaan!" ucap Kaisar.
Mereka hanya mengangguk mengerti, memberi hormat lalu keluar ruangan, melaksanakan perintah dari sang Kaisar.
***
Cukup lama Nathan tertidur pulas, tak terasa hari sudah sore. Langit biru itu telah digeser oleh langit orange dengan sedikit mendung. Sepertinya akan turun hujan.
"Hoammmh." Nathan menguap. Lalu bangkit dari tidurnya, merubah posisinya menjadi duduk. Mengucek matanya yang masih tersirat rasa kantuk.
Bangkit dari duduknya, Nathan melangkah mendekati seember air yang dia ambil dari sungai tadi siang. Air itu ia ambil untuk membasuh wajahnya setelah bangun tidur. Membuatnya segar kembali.
Nathan pergi keluar, guna mencari buah, sayur, air dan ikan untuk makanannya. Dia menyusuri setiap jalur dihutan dengan sesekali bersenandung, menghibur hatinya.
Semakin hari, Nathan semakin berkembang. Latihannya sambil mencari makanan ternyata berhasil. Kini dirinya bukanlah seorang Anak yang lemah lagi.
Nathan sudah mengumpulkan banyak belati, pisau, dan anak panah beracun. Sihirnya semakin kuat. Fisiknya juga. Tinggal menunggu hari yang ditentukan, maka unek-uneknya selama ini akan terbayar.
"Mungkin aku harus menunggu satu minggu lagi sebelum menjalankan misi itu." Ucap Nathan sambil memegang dagu-nya.
Nathan selalu bergelut dengan pikirannya saat berjalan dihutan. Entah untuk mengusir rasa bosan atau hal lainnya.
Selalu banyak yang Nathan dapatkan dihutan itu. Rasanya ia tak perlu takut akan kehabisan makanan. Hutan itu memiliki simpanan makanan yang berlimpah.
"Segini saja sudah cukup!" Ucap Nathan sambil menatap makanan yang ia dapatkan hari ini.
Saat hendak kembali, langkah Nathan terhenti ketika selembar kertas jatuh dari atas. Nathan menatap kertas itu, lalu satu kertas dan disusul beberapa lembar kertas lagi terjatuh dari atasnya. Nathan mendongak ke atas, seekor burung tengah menjatuh kan banyak kertas.
Dipungutnya salah satu kertas itu. Sebuah poster buronan dengan namanya tertulis disana.
DEAD OR ALIVE
{NATHAN D OLIVER}
Tertulis juga harga yang sangat tinggi diposter itu. Seulas senyuman terukir diwajah tampan Nathan. Dia tidak menyangka akan menjadi buronan di umur semuda itu.
Dibuang kertas itu, Nathan melanjutkan langkahnya. Dia tidak jadi kembali karena lupa mengambil air.
Nathan berjalan menuju sungai dengan menarik gerobak kecilnya. Tak ada rasa lelah karena ia sudah terbiasa.
Semakin dekat dengan sungai, suara arusnya pun sudah terdengar. Hembusan angin dan udara segar seperti biasanya.
Nathan melepas tarikan gerobaknya, beralih mendekati sungai dengan sebuah tombak yang akan digunakan untuk menangkap ikan. Sebelumnya Nathan kesulitan mendapatkan ikan, tapi sekarang sudah tidak.
Hanya beberapa kali tusuk dia mendapatkan banyak ikan. Membawa beberapa kantung air juga.
"Tidak ada yang berubah dari hutan ini, sungai yang sejuk dan hutan yang melimpah. Ini terlalu nyaman untuk aku tinggalkan." Ucap Nathan sebelum dirinya meninggalkan sungai.
○TBC○