Prolog
Gelap. Hanya suara desiran angin dan bayangan-bayangan yang merayap di malam. Elarion, dengan mata terbelalak berdiri di bawah rimbunnya pepohonan. Tubuh ibunya yang tergeletak di tanah, meresap oleh kegelapan yang menggantung di sekitarnya.
Dia melihat ibunya diseret oleh bayangan misterius, wajahnya penuh ketakutan. Suara getaran gelap memenuhi udara, menyiratkan bahwa sesuatu yang jauh lebih kuat dari dunia nyata telah mengambil alih.
Di tangannya, Elarion memegang fragmen terakhir dari mantra keluarganya yang hancur.
"Sesuatu telah terbangun" gumamnya, tetapi angin membawanya pergi seolah mendengar bisikan kegelisahan itu.
"Berjanjilah padaku Elarion, bahwa kau akan membawanya kembali" bisik ibu Elarion dengan napas terakhirnya, mata berusaha membaca ke dalam hati putranya.
"aku akan melakukannya bu. Aku akan menghentikan semua ini" sahut Elarion, namun suaranya tergetar oleh rasa sakit yang tak terukur.
Bayangan gelap berputar di sekitar mereka, menelan ibu Elarion dengan cepat dan tanpa ampun. Suara gemuruh yang tak terdengar oleh telinga manusia menyertai perpisahan tragis itu.
Elarion merintih dalam keputusasaan.
"Tunggu Jangan tinggalkan aku!" Dia meraih tangan ibunya yang sudah terbentang.
"Anakku, ada kekuatan yang tak dapat dilihat oleh mata kita. Tetapi kau punya kekuatan di dalam dirimu. Jadilah penerang di dalam kegelapan," pesan terakhir ibunya, suaranya meredup seiring dengan kepergiannya.
Elarion terdiam di antara pepohonan yang berkisar, mendengarkan suara angin yang menjadi saksi bisu perpisahan yang tak terhindarkan. Dunia seakan berubah, dan Elarion kini memegang takdir yang lebih besar dari hidup dan mati ibunya.
Dia menatap langit malam yang penuh dengan bintang dan mengangkat kepala
"Apa aku benar benar bisa melakukannya?" Ucap Elarion dengan sedikit keraguan .
Namun, di tengah keheningan yang menggantung, suara lembut dan menggoda menyelinap di telinganya.
"Anak muda, perjanjianmu adalah perjalanan ke kegelapan yang tak terbatas. Apakah kau siap membayar harganya?"
Elarion terkejut, melihat sosok bayangan muncul di hadapannya. Kepalanya tertunduk, mengenakan mantel hitam yang menyerap cahaya seakan bagian dari malam itu.
"Siapkan dirimu Elarion, karena langkah pertamamu ke dalam dunia yang terkutuk telah diambil."
Dengan itu, bayangan itu menghilang, meninggalkan Elarion yang berdiri di bawah gemuruh angin malam. Kepalanya dipenuhi pertanyaan, dan hatinya bergetar oleh panggilan kegelapan yang tak terduga.
Dalam keheningan, Elarion meraba-raba tanah dengan tangan gemetar. Setetes air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan embun malam yang menyelimuti segalanya. Hati dan pikirannya terombang-ambing di antara ketakutan dan tekad yang tumbuh di dalamnya.
Mata Elarion memandang langit yang penuh dengan bintang. Ia merenung pada janjinya pada ibunya yang masih bergema di udara.
"Aku akan menjadi penerang dalam kegelapan" bisiknya, tekadnya bersinar dalam kegelapan yang menyelimuti hutan.
Namun, di tengah malam yang gelap, suara lembut terdengar lagi
"Penerang atau pelopor kehancuran, Elarion?" suara itu berkata dengan nada yang menantang.
Elarion menoleh, mencari sumber suara itu, namun tak ada yang tampak. Hanya bayangan-bayangan yang bergema di antara pohon-pohon hutan yang seolah menyimpan rahasia yang tak terungkap.
"Apa yang kau inginkan dariku?" seru Elarion dengan suara yang penuh rasa penasaran dan kebencian.
"Jawaban yang akan kau temukan, bukan di bawah langit biru yang bersih, melainkan dalam kegelapan yang mendalam. Selamat datang dalam pembuangan, Elarion" bisikan itu menggema, meninggalkan Elarion dalam pertanyaan yang semakin bertumpuk di benaknya.
Elarion meresapi kata-kata yang menggantung di udara, keheningan malam semakin menyudutkannya. Hutan gelap seolah olah memberikan sambutan misterius pada sang penyihir yang ditinggalkan oleh bayangan misterius.
Dia menutup mata sejenak, merenung pada panggilan gelap yang baru saja menghantuinya. Setetes embun yang turun dari daun pepohonan jatuh di wajahnya, menyadarkan dia dari lamunan singkatnya.
"Jangan matikan api di dalam dirimu, Elarion" bisikan lembut ibunya menggema di benaknya. "Kau adalah sang penerang, bahkan dalam kegelapan."
Dengan tekad yang tumbuh lebih kuat dan kegelapan yang menemaninya, Elarion membuka mata dan melangkah ke dalam bayangan hutan yang berkisar. Langkah pertamanya menuju takdir yang tak terduga telah diambil, dan dunia yang terkutuk pun menyambutnya dengan pelukan malam.