Episode 2. Minta Ijin Menikah.

994 Kata
Hari ini hari libur aku terbangun ketika suara adzan subuh berkumandang, lalu akupun segera bangun dan bangkit menuju kamar mandi, sselsai mandi aku bersiap-siap menuju masjid, sebelum itu ku lihat istri ku masih terbaring di ranjang dan ku kecup bibirnya untuk bangun dan melaksanakan sholat subuh. di rumah saja. " Yank bangun dong sholat dulu gih, mas mau sholat subuh ke masjid dulu ya, bisik ku di telinganya," itulah yang rutin aku lakukan setiap pagi membangunkannya untuk sembahyang subuh di rumah sementara aku menuju masjid yang tidak jauh dari rumah. Sebelum aku keluar kamar aku pastikan dia sudah terbangun, dia lalu terduduk dan bangkit dari ranjang lalu menuju kamar mandi. *** Usai sarapan pagi aku mengajak Mitha untuk jalan-jalan, aku tidak ingin dia kepikiran terus tentang ide bunda yang membuatku stres juga. " Yank kita jalan-jalan yuk?" kataku sambil ku duduk di depan televisi memainkan remote mencari Chanel yang bagus. " Aku malas mas " katanya singkat sambil memainkan gawainya dan terduduk bersandar di sofa sebelah ku, kucoba menariknya supaya dekat denganku, terapi dia tidak mau " Kenapa sayang kok ga mau mas sentuh?" tanyaku sambil ku usap lembut jarinya dan ku ciumi wangi Handbody yang melekat di kulitnya yang halus. " Ga kok mas aku ga apa-apa," katanya sambil menunduk dan melanjutkan lagi memainkan gawainya. " Jangan seperti ini yank, mas ga sanggup kamu diamkan seperti ini," akupun bersimpuh di hadapanya memandangi matanya yang teduh. " Mas, bunda mau ke sini dia katanya mau bicara sama aku," katanya sambil mengigit bibirnya. " Apa ? dia chart kamu sayang?" di hanya menganggukan kepalanya saja. " Mitha istriku, tenang ya yank, InshAllah mas janji tidak akan menduakan kamu, mas akan sebisa mungkin menolak permintaan bunda, yank, beri mas kesempatan untuk menjelaskan semuanya sama bunda, oke?" kataku meyakinkan istri ku supaya dia tidak down terus. Seketika raut wajahnya berubah, dan tadinya menunduk kini wajah ayu itu menatapku dengan senyum bahagia. Tak lama kemudian ada suara klakson berbunyi di depan pintu gerbang, sesaat aku menoleh keluar ternyata mobil bunda sudah ada di depan, buru-buru aku keluar rumah menuju pintu gerbang dan membukakan pintu gerbang itu lebar-lebar, supaya mobil yang di kemudikan Zahra bisa di masukkan ke halaman rumah. Setelah ku tutup pintu gerbang itu, aku membukakan pintu mobil samping untuk bunda. " Assalamu'alaikum bunda?" sambil kucium tangannya dengan takzim " Waalaikum salam nak, maaf ya bunda mendadak datang ke sini sesuai janji bunda," kata bunda sambil ku tuntun wanita yang melahirkanku itu masuk ke dalam rumah, sementara Zahra mengikuti kamu dari belakang. " Duduk dulu Bun" kataku sambil menuntunnya untuk merebahkan diri di sofa ruang tamu. " Mana Mitha nak?" tak lama kemudian yang di tanyakan muncul dari dalam, Mitha pun mendekat dan mencium tangan bunda dengan takzim. " Zahra tolong buatin minum buat bunda ya?" kataku sambil menuntun istriku untuk duduk di sebelahku. " Iya Mas " kata Zahra sambil berlalu menuju dapur. " Bunda datang ke sini bukan tanpa alasan, sebelumnya bunda sudah minta ijin ke mas Kautsar dan Mitah untuk ngobrol bareng dengan terbuka." " Mitha mungkin Mas mu sudah bilang sama kamu nak, dengan maksud bunda tempo hari memanggil suamimu ketemu sama bunda dan sekarang bunda, dengan penuh rasa hormat memohon dengan sangat bunda meminta suamimu untuk menikah lagi nak, maaf kan bunda bila hal ini menyakitkan mu, tetapi bunda sudah mempertimbangkan semuanya, dan bunda harap kamu meridhoi dengan keputusan bunda itu anakku." kata bunda sambil menggenggam tangan Mitha dan menciumnya. Tak terasa air mata Mitha tumpah dan meluncur dengan derasnya. " Maafkan Mitah bunda bila semala ini Mitha tidak baik jadi menantu bunda, dan membuat bunda tidak bahagia, tetapi mohon maaf bunda saya tidak bisa bunda berbagi suami dengan siapapun," isaknya penuh dengan kepedihan apa lagi aku rasanya hatiku di cubit- cubit. " Apa alasanmu tidak mau Mitha?, kamu tahu tidak bila kamu bersedia maka balasannya adalah surga yang indah," kata bunda dengan enetengnya, aku sendiri yang mau di kasih madu saja sudah ketir-ketir membayangkannya saja. " Bukan begitu bunda, tetapi saya yang tidak kuwat melihat suami saya bersama wanita lain selain saya," kataku dengan mantap. " Tapi bagaimana kalau bunda memaksa?" Kata bunda kalem " Kenapa bunda tega berlaku seperti itu sama saya, hanya karena saya belum bisa mempunyai keturunan," " Mitha bukan hanya keturunan anakku, kamu akan dapat imbalan pahala yang jauh lebih mulia, nak" kamu mengertikan balasannya adalah surga tekan bunda pada Mitha. " Saya mohon bunda jangan paksa Mitha untuk melakukannya, saya juga berat bunda saya tidak sanggup sama sekali." akupun mulai bersuara ketika melihat istriku tertekan, ku buat dia nyaman dengan merangkul pinggangnya. " Iya bunda masak bunda tega seperti itu, misal Zahra menikah dan di madu suami sama Zahra apa bunda juga ridho, dan ikhlas, kalau Zahra sendiri tidak mau lebih baik Zahra minta cerai saja," kata Zahra ikut menimpalinya, dan akupun melotot ke arahnya, amit-amit deh jangan sampai Mitha minta cerai dariku. " Astaghfirullah, Zahra kamu ini ngaco ngomongnya" kataku sambil mendelik ke arahnya. " Jaga ucapanmu Zahra, kamu masih kecil tahu apa kamu tentang rumah tangga" kata bunda ketus. " Gini saja Mitha bunda akan kasih kamu waktu untuk memikirkannya ya, tolong kamu pikir baik-baik, seminggu lagi bunda akan ke sini mendengar jawabmu," kata bunda tegas Pov author Mitah hanya tertunduk tanpa reaksi, tangannya yang di genggam erat suaminya dan mereka saling beradu pandang, lewat tatapan mereka seolah mereka berkata untuk saling menguatkan hati satu dengan yang lainnya. " Ga papa sayang apapun keputusannya pasti bunda terima, asal satu saja yang jangan pernah kamu minta, Berpisah dari mas, kamu tahu jawabannya sayang Mas ga akan melepaskanmu dan kita sekarang berjuang sama-sama, oke," kata mas Kautsar yang berbisik-bisik di telingaku, sambil mengecup kepalaku, mendengarnya membuat hatiku berbunga-bunga dan wajahnya yang tadinya kuyu kini merah merona dengan kalimat-kalimat sakti yang meluncur dari bibirku, aku puas melihatnya bangkit kembali lagi Bantu love ❤️ ya reader supaya author semangat terus upload, dan jangan baper ini hanya hiburan semata ya ikuti cerita-cerita aku yang lain juga ya terimakasih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN