Hitam di atas Putih

1364 Kata
Keesokan harinya, di saat sang Surya mulai memberikan kehangatan pada seluruh penghuni bumi. Terlihat seorang wanita cantik melangkah cepat meninggalkan rumah dua lantai yang di sekelilingnya dihiasi berbagai macam bunga dan sayuran. Dia adalah Rosa. Rosa terus berlari menyusuri jalan pedesaan, tidak peduli dengan tatapan para warga yang menaruh curiga terhadapnya. Rasa kecewa menguasai dirinya saat ini. Betapa tidak, pesonanya yang selama ini tidak terbantahkan ditolak mentah-mentah oleh lelaki yang baru saja dikenalnya. Wanita itu terus berlari sambil sesekali terlihat tangannya menyeka air mata yang tiada henti membasahi pipi. "Ini sungguh memalukan, aku tidak terima," ucap Rosa lirih sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi, "Siapa dia, berani menolak kecantikanku yang paripurna ini," ucap Rosa lagi. Masih dengan isaknya yang kian menjadi. "Tunggu ... Nak Rosa ...!" teriak seorang wanita dari kejauhan. Rosa seketika menghentikan larinya. Dia tahu siapa wanita yang telah memanggil namanya. Dia mengusap pipinya kasar, mencoba menegarkan hati. Wanita itu mengingat kembali tentang Memet dan perjanjian kerjanya. "Kalau aku pulang, itu berarti aku akan kehilangan tanah beserta ternaknya. Tapi kalau aku bertahan, kemungkinan besar aku masih bisa melunasi hutang-hutangku pada rentenir botak itu.” Rosa mencoba bernegosiasi dengan dirinya sendiri. “Tapi ... Sanggupkah aku meladeni lelaki ingusan itu. Oh ... ini sungguh membuatku dilema." Rosa merasa galau dengan apa yang ia alami saat ini. "Non Rosa ... tunggu Bibi!" Surti berteriak memanggil, namun Rosa tetap saja tidak bergeming. Wanita itu enggan untuk menyahut atau pun menoleh. Meskipun dia tahu Bik Surti memanggilnya. Semua itu lantaran ia sakit hati karena merasa tertipu dengan wanita paruh baya tersebut. Rosa hendak melangkah, melanjutkan niatnya untuk pulang, tapi tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Membuat Rosa kembali terdiam. "Maafkan Bibi, Non!" Rosa hanya menunjukkan ekspresi datar. Membuat Surti bingung dan merasa bersalah terhadap wanita di depannya. "Kenapa bukan lelaki ingusan itu sendiri yang meminta maaf, kenapa harus bibi. Begitu pengecutnyakah lelaki itu!" Rosa berucap sedikit berbisik. Takut ada orang lain yang mendengar. Meskipun di dalam hatinya, dia sangat membenci sikap Memet yang pengecut, tapi Rosa tetap harus menjaga privasi lelaki itu. "Mari kita bicara di tempat yang nyaman, Non!" Surti menggandeng tangan Rosa dan menuntunnya hingga di pinggir danau yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. "Mau bicara soal apa, Bik? Cepetan! Aku tidak ada waktu." Rosa mulai geram dengan sikap Surti yang bertele-tele. "Sabar to, Nduk Ayu!" Surti mencoba berdiskusi ulang tentang Memet. "Ya sudah, buruan!" "Baik. Begini Non Rosa, aku ingin kamu tetap meneruskan perjanjian kita tempo hari dengan tuan muda Memet.” "Haruskah aku melakukannya?" "Tentu saja!" jawab Surti mantap. "Apa yang membuat Bibi yakin seperti itu," tanya Rosa yang langsung balik menatap wanita di sampingnya. "Selesaikan perjanjian itu, bantulah Memet untuk menjadi lelaki seutuhnya." Surti memohon. Wanita itu berharap Rosa masih mau meneruskan perjanjiannya dengan Memet. Ia ingin melihat Memet berubah menjadi lelaki pada umumnya. Tidak takut lagi berdekatan dengan lawan jenisnya. "Melayani lelaki seperti itu? Aku rasa dia memang memiliki kelainan." Rosa mencebik saat mengingat kebersamaannya bersama Memet beberapa hari ini. Surti menggeleng, berusaha meyakinkan wanita di sampingnya. "Dia lelaki yang baik, Non. Hanya saja Memet memang belum pernah dekat dengan wanita mana pun. Mungkin itu yang membuat dia merasa risi dengan dunia barunya, yang terkesan dipaksakan," jelas Surti pada Rosa. Rosa merajuk, wanita itu merasa kecewa karena Memet telah mempermainkan dirinya. Namun, hatinya merasa tak tega setelah mendengarkan penjelasan dari Surti dan bersedia melanjutkan perjanjian konyol itu. *** Dua minggu yang lalu di Desa Pacitan. Di pinggiran Kota Pringsewu. Tepatnya jam 8: 56 WIB. “Apa ...?” Suara Surti menggelegar dahsyat. Membuat Memet langsung menutup kedua telinganya rapat. “Apaan sih, main teriak segala,” dengus Memet kesal. “hehehe ... maaf, Den.” “Bik, carikan aku wanita cantik, seksi dan berpengalaman!” serunya lagi saat Surti menyuguhkan kopi untuknya. “A—apa, Den?” Surti merasa ia salah dengar dengan ucapan Memet barusan. Pasalnya lelaki itu alergi dengan yang namanya wanita. “Carikan aku seorang wanita!” Memet mengulangi ucapannya. Surti melongo seketika. Wanita berusia 50 tahun itu hampir saja pingsan. Dia tidak menyangka lelaki 28 tahun yang belum pernah terjamah itu memintanya untuk mencarikan seorang wanita. “Kenapa harus pakai acara pingsan segala?” Memet geram dengan tingkah pengasuhnya itu. “Aku terkejut, Den.” Surti terkekeh seraya bangkit dari pingsan palsunya. “Sudah buruan, Surti ...!” teriak Memet Membuat Surti langsung menarik diri dan menyambar sepedanya. Menyusuri jalanan desa yang sepi. “Kena setan apa anak itu, tiba-tiba minta dicarikan wanita. Biasanya juga malas bila harus berurusan dengan yang namanya wanita.” Surti nyerocos sepanjang perjalanan. Wanita itu bingung dengan tingkah majikannya beberapa hari ini. Aneh bin ajaib. Satu jam, dua jam, tiga jam. Surti belum juga menemukan wanita yang cocok untuk majikannya. “Wanita cantik, seksi dan berpengalaman. Di mana aku harus mencarinya, dasar Memet,” gerutu wanita itu lagi. Karena merasa tubuhnya mulai letih, Surti pun mampir sebentar di kedai kopi pinggir jalan untuk melepas lelah. “Mbak, minta kopi panasnya satu, ya!” Surti menjatuhkan bobotnya pada kursi kayu di depannya. “Dari mana, Bude? Kok terlihat capek sekali?” tanya wanita muda pemilik kedai sambil menyuguhkan kopi pesanan Surti. “Emh, ini Saya mau cari jodoh untuk anak saya,” ungkap Surti berbohong. “Jodoh? Memangnya belum punya pacar?” pemilik kedai itu penasaran. “Belum. Anak saya itu takut sama wanita.” Pemilik kedai itu mengangguk lalu berkata, “Coba Bude datang ke rumah Rosa. Siapa tahu cocok.” “Rosa? Siapa dia?” “Dia itu janda kembang di desa sebelah. Janda muda yang cantik dan bahenol,” ungkap pemilik kedai sedikit memiringkan bibirnya. Seperti ada masalah di antara mereka. Setelah cukup lama berbincang, Surti pun pamit untuk meneruskan pencariannya. Karena hari sudah hampir petang. “Terima kasih infonya, Mbak. Ini ambil saja kembaliannya.” Surti beranjak pergi setelah membayar pesanannya. “Semoga saja anak bude itu cocok sama Rosa. Aku ketar-ketir kalau dia belum juga menemukan jodohnya. Bisa-bisa suamiku jadi target berikutnya,” gumam pemilik kedai. Kenapa gelar seorang janda selalu dikaitkan dengan hal yang negatif, padahal tidak semua orang yang menyandang status janda bersifat demikian. Surti pun kembali mengayunkan sepedanya, mencari rumah Rosa, di kampung sebelah seperti yang ditunjukkan oleh pemilik kedai. Setelah bertanya dengan beberapa orang akhirnya Surti pun sampai di depan rumah yang dituju. Rumah mini malis berwarna merah muda dengan aksen putih di setiap kusennya. “Assalamualaikum!” Surti memberi salam. “Waalaikum salam.” Terdengar jawaban dari dalam rumah. "Cari siapa, Bik?" Suara merdu sang pemilik rumah mengagetkan Surti dari lamunannya. "Cantik, sempurna, seperti yang Memet inginkan," gumam Surti saat ia mendapati sosok wanita cantik di depannya. "Umh, anu cah ayu. Saya mencari Rosa, Benarkah ini rumahnya," tanya Surti basa-basi. "Benar, Saya Rosa. Ada perlu apa, ya?" "Ini masalah pribadi, cah ayu. Boleh saya masuk?” tanya Surti kemudian. Rosa mengangguk, "Mari masuk, Bik!" ajak Rosa yang langsung menggandeng tangan Surti, menuntunnya masuk. "Tunggu sebentar ya, Bik! Rosa ambilkan minum dulu." Surti mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi di depannya. Beberapa menit kemudian Rosa kembali dengan segelas wedang jahe hangat. "Silakan diminum, Bik! Ini sangat bagus untuk tubuh." “Terima kasih.” Surti mengambil wedang itu lalu meminumnya perlahan. “Begini Cah Ayu, kedatangan saya kemari adalah untuk meminta kesediaanmu untuk menjadi menantu di rumah kami,” jelas Surti tanpa basa-basi. Yang tentu saja membuat Rosa kaget bukan kepalang. “A—apa? M--menantu?” Rosa tidak menyangka akan mendapatkan jawaban secepat ini, dari doanya beberapa hari yang lalu. Ya. Rosa sekarang memang tengah ada dalam masalah besar. Dia harus melunasi semua hutang peninggalan suaminya yang telah meninggal dunia lima tahun silam. "Apa ini jawaban dari semua do’a-ku selama ini, Tuhan." Rosa membatin. Wanita itu bingung harus mengiyakan atau menolak. Bila ia menolak, itu sama artinya dia membiarkan tubuhnya menjadi b***k nafsu sang rentenir. Tapi bila ia menerima tawaran itu, ia belum siap untuk berumah tangga kembali. Hatinya masih menyimpan cinta untuk almarhum suaminya, belum siap untuk membuka hati untuk lelaki lain. Tapi lagi-lagi ia teringat hutang yang berjibun karena mendiang suaminya. Perjanjian itu pun terjadi, hitam di atas putih. Dengan materai senilai enam ribu rupiah menempel di ujung kertas bagian bawah. “PERJANJIAN BELAJAR BERCINTA.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN