Rosa. Janda kembang berusia 32 tahun, dia adalah wanita yang diminta untuk menemani Memet. Dan mengikatnya dalam perjanjian kerja yang rumit.
Rosa. Dia memenuhi ajakan dari wanita berumur yang berdalih ingin mencarikan jodoh untuk anaknya.
Dan, karena suatu hal yang sulit membuatnya menerima perjanjian yang tidak lazim.
"Memberi bimbingan dalam bercinta?" teriak Rosa. Wanita itu kaget dengan permintaan perempuan paruh baya yang bertamu di rumahnya siang bolong.
Perempuan ayu bertubuh gempal di depannya mengangguk.
"Ada bonus menggiurkan jika Nona bisa menyelesaikan semuanya." Perempuan yang bernama Surti itu menjelaskan.
Surti. Wanita paruh baya berusia 50 tahun adalah pengasuh Memet sejak kecil. Sudah 22 tahun lamanya wanita paruh baya itu mengabdikan hidupnya pada keluarga Tuan Ndoro, ayah Memet.
"Berapa bayaran yang aku terima?" tanya Rosa kemudian. Wanita itu memastikan sebelum menyetujui perjanjian kerja tersebut.
"Satu hektar tanah," bisik Surti. Membuat wanita di depannya tercengang, kaget.
“Satu hektar? Bila dijual uangnya bisa kupakai untuk menutup hutang-hutang pada bandot tua itu," batin Rosa girang.
"Dan. Bila semuanya telah selesai, ada tiga ekor sapi dan lima ekor kambing menantimu, Nona."
Perincian yang Surti ucapkan membuat wanita cantik di depannya berbinar ceria.
Ada bayangan tentang harta yang bakal dimilikinya, juga kebebasan dari hutang piutang yang selama ini membelenggu dirinya.
"Ok. Saya setuju," ucap Rosa girang.
Rosa merasa lega karena ketakutan yang selama ini mengungkung dirinya akan segera sirna.
Lelaki gendut yang selalu menyatroninya pun akan dibuatnya menjauh, tentu dengan cara yang sopan. Melunasi semua hutang yang dimilikinya dengan cepat.
***
Hari pun berlalu, Rosa menjalani profesi barunya. Memberikan pendalaman materi tentang hal-hal yang dilakukan muda-mudi setelah mereka beranjak dewasa.
Memet terlihat sangat antusias, berulang kali dia mengapitkan tangannya di antara kedua kaki. Sesekali lelaki berlesung pipi itu menggigit bibir bawahnya. Membuat Rosa gemas melihat tingkah lelaki muda di sampingnya.
Rosa menghentikan ucapannya. Wanita cantik itu memiringkan tubuhnya menghadap pada Memet.
Rosa menyentuh kedua pipi lelaki di depannya, menatap wajah lugu itu lekat.
"Apakah kamu ingin mencobanya sekarang?"
Memet terkejut, lelaki itu slow respon saat Rosa mendekatkan bibirnya pada bibir seksi lelaki itu.
Memet memejamkan matanya saat wanita itu mengusap bibirnya dengan jari telunjuknya lembut. Dadanya berdegup kencang, keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya.
Menciptakan rasa geli-geli sedap yang diiringi desiran hati yang mencoba menggulung kewarasannya.
Sengatan itu merambat dari bibir menuju ke hati lanjut ke kepala dan turun drastis ke bawah sana.
Di mana ada ular piton yang tengah tertidur lelap.
Mendapatkan sengatan yang luar biasa membuat ular piton itu berdiri tegak, kepalanya mendongak mencari jalan keluar dari kurungan dan bersembunyi di tempat yang aman.
Tempat yang hangat dan nikmat.
Memet terbelalak saat Rosa membasahi bibirnya dengan air dingin yang keluar dari mulutnya.
Wanita dewasa itu perlahan mengalungkan kedua tangannya pada leher Memet. Menekan sedikit kepalanya. Memet yang mulai kesulitan bernapas seketika mendorong tubuh seksi itu pelan. Hingga ciumannya terlepas.
"Sudah, cukup," desah Memet terengah-engah.
Lelaki itu menghirup udara sebanyak yang dia bisa.
Membuat Rosa tersenyum melihat kepolosan lelaki tampan di depannya.
"Bik, tolong ambilkan minum!" teriak Memet sembari membenahi penampilannya.
"Iya, Den!" Terdengar jawaban dari belakang sana.
Tak lama kemudian datanglah Bik Surti membawa sebotol air dingin beserta gelasnya.
"Ini, Den."
Surti menatap Memet dan Rosa secara bergantian.
Wanita tua itu tersenyum saat mengingat kejadian romantis yang dilihatnya beberapa menit yang lalu.
Ya, ternyata Surti mengintip
mereka dari dapur.
Melihat kemesraan Rosa kepada Memet, serta penolakan Memet yang masih dengan rasa takutnya.
"Den, alangkah baiknya bila Non Rosa tinggal di rumah ini bersama kita. Dia akan lebih cepat dan lebih mudah membuat Den Memet terbiasa dengan rasa itu," usul Bik Surti kemudian.
Memet yang ingin segera merasakan kenikmatan yang digadang-gadang mampu membuat orang melayang itu segera mengiyakan.
"Ide bagus itu Bik. Tapi apakah boleh kami tinggal serumah, bisa-bisa kita kena masalah," ucap Memet khawatir.
"Tidak, selagi kalian menikah.
Ungkapan Bik Surti seketika mendapatkan respons keras dari Memet pun Rosa.
"Itu tidak mungkin, Bik." Memet menolak.
"Iya, Bik. Itu tidak mungkin, secara di antara kami tidak ada rasa cinta, melainkan hanya sebatas perjanjian kerja saja," sahut Rosa.
Sontak membuat lelaki di sampingnya itu menatap wajah cantik Rosa sedih.
Dia tidak menyangka Rosa akan berbicara seperti itu.
Tapi Rosa tidak menyadarinya. Karena wanita itu terlalu fokus pada misinya.
Memet, mungkin lelaki itu memang belum siap dalam hal bermesraan. Tapi dia mulai merasakan ada getaran yang berbeda di antara mereka. Cinta? Entahlah, yang pasti lelaki itu mulai merasa nyaman bersama Rosa.
"Kalian hanya perlu menikah kontrak. Kon ... Trak. Mengerti? Dan, di sana pun pasti ada surat perjanjian juga. Kalian mau bentuk seperti apa pun bisa," ungkap Bik Surti.
Rosa dan Memet saling pandang lalu mengangguk tanda mengerti.
"Lalu bagaimana dengan masalah waktu?" tanya Rosa penasaran.
"Semua itu tergantung kalian, mau satu tahun, dua tahun bahkan selamanya pun boleh," jawab Bik Surti sambil terkekeh.
Membuat Rosa merajuk sebentar, dan kembali tersenyum manis.
"Baiklah, aku setuju," ucap Memet menyanggupi.
"Ok. Jika kalian setuju. Bibi akan segera mempersiapkan semuanya.
"Hore ...!" Memet dan Rosa bersorak kegirangan. Mereka pun saling berpelukan tanpa malu. Mereka lupa jika ada Bik Surti di sana. Mereka bertingkah seperti anak SD yang baru naik kelas.
"Ehem ...!"
Rosa dan Memet berhenti dan saling pandang satu sama lain. Kemudian menoleh ke arah Bik Surti bersamaan.
"Surti ...!"
Surti yang menyadari keusilannya itu langsung bangkit dan berlari ke belakang sambil cekikikan. Meninggalkan Memet dan Rosa yang menahan malu karena ulahnya.
Rosa pun kembali ke rumahnya, sambil menunggu Surti mempersiapkan pernikahan kontraknya dengan Memet.
***
Keesokan harinya, di pagi yang cerah. Di saat sang Surya mulai menampakkan eksistensinya di muka bumi.
Seorang wanita cantik yang sangat terkenal dengan suaranya yang merdu, dan tubuhnya yang aduhai tengah memeras baju yang hendak dia jemur di teras belakang rumah.
Rambutnya yang basah terbungkus handuk kecil yang melilit di bagian atas kepalanya. Sesekali tubuhnya bergoyang kecil mengikuti irama musik yang dia putar lewat radio miliknya.
Wanita itu adalah Rosa. Dia sudah lima tahun menjanda dan terpaksa harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sebagai biduan di desanya. Bahkan tidak jarang Rosa mendapatkan pelecehan dari lelaki hidung belang yang menyawernya.
Selain tuntutan ekonomi, wanita berusia tiga puluh dua tahun itu juga harus membayar hutang yang diwariskan mendiang suami untuknya.
Mendiang suaminya ternyata telah berhutang sejumlah uang kepada rentenir waktu hendak melamar dirinya. Dan, kini Rosa yang harus melunasi hutang tersebut. Karena rentenir itu selalu datang ke rumahnya sebulan sekali untuk menagih bunganya.
Brakk!
“Astagfirullah ...!” teriak Rosa sambil memegangi dadanya karena kaget.
“Hahaha ...!”
Rosa seketika menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari belakangnya.
“K—kalian!” lirih wanita itu tanpa mengurangi rasa keterkejutannya.
“Kenapa, Manis? Kamu terkejut? Bukankah ini sudah waktunya? Atau ... Kamu akan kembali berpura-pura lupa.” Lelaki berbadan kekar dengan perut buncitnya melangkah mendekati Rosa. Sementara dua anak buahnya yang juga berbadan kekar berjaga tidak jauh dari tempatnya menjemur saat ini. Membuat wanita itu melangkah mundur perlahan.
“T—tidak, Pak. A—aku tidak lupa, hanya saja aku merasa terkejut dengan kedatangan Pak Jamari yang sangat tiba-tiba,” jawab wanita itu dengan suara bergetar.
Rosa berhenti berundur karena tubuhnya yang sudah membentur dinding kamar mandi.
Lelaki itu tersenyum genit, dia mengangkat tangan kanannya dan mencoba menyentuh dagu wanita yang kini berdiri di hadapannya.
“Jangan takut, Manis! Aku tidak akan menggigitmu,” ucap lelaki itu lembut.
Rosa segera menyingkirkan tangan kekar tersebut dari wajahnya. “I—iya, Pak Jamari. Aku tidak akan takut lagi,” sahut Rosa pelan, mencoba menghindar dari tangan nakal lelaki yang memiliki perut buncit itu.
Namun, penolakan itu justru membuat lelaki yang bernama Jamari tersenyum genit sambil melemparkan kerlingan menggoda ke arah Rosa.
“Jangan panggil aku Pak Jamari, panggil saja Mas,” ucapnya sambil mencubit hidung mancung wanita incarannya itu.
Rosa mencoba menghindar, tapi karena posisinya yang kini berada dalam keadaan yang sulit. Membuat tubuhnya oleng dan masuk dalam pelukan lelaki hidung belang itu seketika.
“Lepaskan aku, Pak Jamari!” seru wanita itu dengan menekan ucapannya. Berharap agar Jamari segera melepaskannya.
Jamari menatap lekat wajah ayu di depannya, dia semakin mempererat pelukannya pada pinggang ramping wanita itu.
“Tidak akan ada yang bisa lepas dari cengkeraman tanganku.” Jamari mulai kurang ajar, dia mencoba untuk mencium bibir seksi Rosa.
Namun, wanita itu segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Menurutlah dan nikmati setiap sentuhanku, Sayang,” bisik lelaki bertubuh tambun itu. Dia kembali mencoba mendekatkan bibirnya pada bibir Rosa.
Rosa memalingkan wajahnya. “Aku tidak sudi,” lirihnya dengan wajah tak ramah lagi.
"Jangan galak-galak, Cantik. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Jamari sambil mengerling genit ke arah Rosa.
Tangan kekar Jamari mulai merambat naik, menyentuh pipi wanita itu lalu mengusap lembut bibir seksi Rosa yang terlihat sangat menggoda.
“Tidak sia-sia Roni meninggalkan istri secantik kamu,” bisik lelaki mata keranjang itu di telinga Rosa. Membuat wanita itu merasakan getaran yang berbeda merambat di sekujur tubuhnya.
Tidak munafik, Rosa hanya manusia biasa yang juga merindukan sentuhan dan kasih sayang dari seorang lelaki. Apalagi dirinya sudah lama hidup menjanda. Dia hanya sebentar merasakan kenikmatan bercinta sebelum suaminya tiada.
Wanita itu segera sadar bahwa dirinya keliru dengan menikmati setiap sentuhan dari lelaki tambun yang saat ini tengah mengarahkan ciuman hangat pada lehernya.
“Aaa ...!”