“Aaa ...!” teriakan Jamari mengudara.
Tubuhnya yang besar itu seketika limbung dan terjatuh ke tanah. Saat Rosa mendorongnya dengan cepat.
“Kurang ajar! Beraninya kamu ...!” teriak Jamari, matanya melotot tajam ke arah Rosa yang kemudian mundur dan segera masuk rumah lewat pintu belakang.
“Buka ... Buka pintunya!” Kedua anak buah Jamari menggedor pintu yang sudah tertutup rapat dari dalam.
“Lewat pintu depan,” usul dari Jamari, lelaki itu mencoba bangkit sambil memegangi pinggulnya yang sakit akibat terbentur tanah dengan cukup keras.
Kedua anak buahnya mengangguk lalu segera berjalan cepat menuju pintu bagian depan. Mereka kembali melakukan hal yang sama, menggedor-gedor pintu yang ternyata sudah ditutup oleh Rosa dengan cepat.
Sementara di sekitar rumah itu, banyak orang yang mengintip aksi rentenir berbadan besar tersebut bersama kedua anak buahnya.
Hal itu bukanlah pemandangan langka untuk mereka, karena Jamari memang terkenal sebagai seorang rentenir yang mata keranjang dan kejam.
Dia tidak bisa melihat sosok wanita cantik berada di depannya. Karena lelaki itu pasti akan langsung menggodanya.
Bahkan, pernah ada seorang suami yang harus merelakan istrinya untuk melayani nafsu bejatnya. Karena mereka tidak bisa membayar hutang yang sudah terlalu banyak .
“Pak, bagaimana kalau Rosa sampai dikerjai sama Jamari?” tanya seorang wanita pada suaminya. Mereka sudah dari tadi mengintai gerak-gerik Jamari dan anak buahnya dari dalam rumah mereka.
“Ya harus bagaimana lagi, Bu. Kita tidak mungkin bisa menolongnya, kalau kita sampai pergi ke sana, itu sama saja kita menghantar nyawa,” jawab suaminya sambil terus mengawasi rumah Rosa dari dalam rumahnya yang hanya berjarak lima belas meter.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah berat Jamari yang menghampiri kedua anak buahnya.
“Apakah wanita itu masih belum mau membuka pintu rumahnya?” ucap Jamari yang melangkah mendekati jendela yang juga tertutup rapat.
Lelaki itu terus mencoba mengintip ke dalam rumah, mencari celah yang bisa digunakan untuk melihat ke dalam rumah.
Nihil. Tidak ada celah sedikit pun. Tangannya yang kekar mencoba memutar knop pintu lalu memutarnya. Tetap tidak bisa.
Karena putus asa, lelaki itu pun menendang pintu yang berbahan kayu tebal tersebut dengan sangat kuat hingga membuat kakinya kesakitan.
“Aw ...!” Jamari berjinjit sambil terus merintih kesakitan.
Dia tidak menyangka bahwa kakinya tidaklah cukup kuat untuk bertarung dengan pintu kayu berukuran persegi panjang tersebut.
Jamari melotot tajam ke arah kedua anak buahnya yang sedari tadi hanya menonton dirinya yang tengah kesakitan.
“Dasar anak buah tidak bisa diandalkan, tahunya cuma makan!” teriak Jamari kesal, dia merasa percuma memiliki anak buah yang tidak bisa membantunya untuk mendapatkan sang pujaan hati.
Di dalam rumah. Rosa mengurung diri di dalam kamarnya setelah menutup semua pintu dan jendela dengan rapat.
Wanita itu meringkuk di pojok kamarnya, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hingga rapat. Jantungnya terus saja berdegup kencang. Bahkan keringat dingin mulai merembes dan membasahi sekujur tubuhnya yang bergetar.
“Tuhan ... Lindungilah aku dari gangguan para lelaki jahat itu!” Rosa tetap berdiam di dalam persembunyiannya.
Wanita itu tidak berani keluar bahkan untuk buang air kecil pun dia takut.
Rosa terus menutup telinganya rapat dengan kedua tangannya, dia tidak ingin mendengar panggilan dari Jamari dan juga anak buahnya.
Wanita itu sangat menyayangkan tindakan bodoh mendiang suaminya yang telah melakukan kebohongan besar terhadap dirinya. Yang telah berhutang sejumlah uang kepada Jamari untuk membiayai pernikahan mereka.
“Rosa ... Besok aku akan kembali lagi ke sini. Persiapkan dirimu secantik mungkin untuk menyambut kedatanganku!” Terdengar suara Jamari dari luar. Yang kemudian disusul dengan derap langkah kaki yang semakin menjauh. Membuat wanita itu merasa lega karena Jamari dan para anak buahnya sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Rosa membuka selimut yang menutupi tubuhnya perlahan, wanita itu mulai berani untuk menggerakkan tubuhnya. Dia berjongkok lalu merangkak mendekati pintu kamarnya, membuka kenop pintu, memutarnya perlahan.
Klik!
Pintu pun mulai dibukanya pelan hingga terbuka lebar. Wanita itu menjulurkan kepalanya ke depan, mencoba mengintip dari balik pintu kamarnya.
Bola matanya memindai keadaan sekitar, mencari tahu apakah Jamari dan anak buahnya sudah benar-benar pergi dari rumahnya.
“Syukurlah, akhirnya mereka pergi juga.” Tangan Rosa berpegangan pada kedua sisi pintu, mencoba untuk bangkit.
Wanita seksi dengan badan yang masih terlilit handuk itu pun melangkahkan kakinya perlahan. Dia mengendap-endap seperti seorang maling di rumahnya sendiri.
Rosa menempelkan kedua telapak tangannya pada dinding, dan dia pun mulai berjalan miring dengan tubuh yang bersandar membelakangi dinding.
Dengan hati yang gelisah Rosa terus menggerakkan kakinya menuju ruang tamu, wanti-wanti jika ternyata Jamari masih berada di sana.
Setelah dia sampai di depan jendela ruang tamu, bola matanya otomatis memantau keadaan di sekitarnya.
Tidak ada pergerakan yang mencurigakan di luar sana, sepi. Itu pertanda bahwa rentenir genit yang telah memiliki lima istri tersebut telah pergi.
Kini Rosa sudah bisa benar-benar lega dengan kepergian ketiga lelaki itu. Namun detik berikutnya dia merasa sangat khawatir, pasalnya dia teringat dengan perkataan Jamari yang membuatnya harus berpikir keras.
“Besok lelaki hidung belang itu akan kembali datang ke rumah ini. Lalu, dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk membayar bunganya, sementara saat ini saja aku hanya memiliki uang dua ratus ribu rupiah.” Rosa bergumam sendiri sambil membuka pintu utama. Dia berjalan keluar kemudian menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu yang terletak di ujung teras.
Wanita yang memiliki julukan janda kembang itu mulai menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi tersebut. Dia berpikir, bagaimana caranya menghindari Jamari yang tiada henti mengganggu hidupnya, semenjak kematian suaminya yang terbilang sangat ganjil.
Bagaimana tidak, Roni meninggal dunia saat usia pernikahan mereka menginjak satu bulan.
Saat itu, masih terlihat jelas di dalam ingatannya Rosa. Roni yang berpamitan untuk mencari ikan di pagi buta. Lelaki itu memang sudah mempersiapkan semuanya sejak pagi. Hanya saja Roni memang memilih waktu yang tepat untuk melakukan memancing ikan tersebut.
“Mas, apa ini tidak terlalu pagi untuk mencari ikan?” tanya Rosa yang terlihat sangat gelisah dengan niatan Roni untuk mencari ikan di sungai yang terletak di perbatasan desa.
Roni mengecup kening istrinya cukup lama. Sepertinya dia merasakan bahwa dia tidak akan bisa mengecup kening istrinya lagi.
Sejak saat itulah Roni tidak kembali lagi. Dan diketemukan warga setelah lelaki itu dinyatakan hilang selama satu Minggu. Jasad Roni ditemukan warga yang tengah memancing di sekitar sungai dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Tubuhnya sudah bengkak dan tidak utuh lagi. Kedua tangan juga alat vitalnya pun sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Para warga berasumsi bahwa Roni sudah diserang oleh buaya rawa saat dia tengah memancing di sekitar sungai.
Di saat Rosa tengah asyik melamun, dia tidak menyadari ada tiga pasang mata yang mengintainya dari samping rumah. Mereka adalah Jamari dan kedua anak buahnya. Mereka ternyata tidak benar-benar pergi dari tempat itu. Mereka sengaja bersembunyi agar Rosa mau keluar dengan suka rela.
Bug!
Jamari melompat dan mendarat dengan selamat tepat di depan Rosa. Membuat wanita itu kaget bukan kepalang.
“Kamu tertipu. Aku masih di sini dan aku pastikan kali ini kamu tidak akan bisa pergi dariku.” Jamari terkekeh mengerikan.
"Maaf, Pak. Jika tidak ada hal penting, silakan Anda pulang karena Saya masih ada pekerjaan lain." Rosa dengan cepat melangkah pergi menuju rumah.
Bukan Jamari jika dia menyerah begitu saja. Lelaki tua itu pun mengikuti langkah Rosa dari belakang.
Rosa yang merasa risi diikuti langsung berbalik dan berkata, "Bapak silakan pergi dari sini!"
Lelaki gendut itu malah mendorong tubuh Rosa hingga masuk dalam rumahnya. Dengan cepat Jamari menutup pintu yang dijaga oleh kedua anak buahnya.
Matanya menatap genit ke arah tubuh seksi Rosa yang hanya dibalut dengan kain jarik. Memperlihatkan kulit mulusnya.
Jamari mulai mendekati tubuh semok yang berundur perlahan. Berusaha menjauhinya. Lelaki gendut itu terus mendekat hingga tubuh Rosa menempel pada dinding.
“Anda mau apa?” tanya Rosa dengan tubuh yang mulai gemetaran.
Kembali, Jamari membasahi bibirnya dengan lidah yang bermain nakal di sana. Sementara mata genitnya tertuju pada gundukan daging yang terlihat menantang dan menggoda. Matanya menatap tajam siap melumat habis tubuh molek wanita malang itu.