Tubuh molek itu terus bergerak pelan, mencoba menghindari amukan tubuh gempal Sang Rentenir.
Merayap ke sebelah kiri menuju pintu dapur.
“Menurutlah padaku, aku akan menganggap semua hutang suamimu itu lunas dan kamu tidak perlu bersusah payah bekerja untuk melunasi hutang itu.” Jamari terus saja merayu Rosa tiada henti.
Bahkan lelaki itu selalu mengeluarkan gombalan maut yang tidak ada habisnya.
“Dan, lagi. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu juga orang tuamu di kampung tentunya. Asal kamu mau menikah dengan diriku. Menjadi istri ketujuhku,” rayu lelaki itu lagi.
Membuat Rosa bergidik ngeri, mendengar sebutan istri ke-5 dari mulut Jamari.
Jangankan istri ke-5, istri sebelumnya saja dibiarkan menganggur, sementara dirinya asyik bergonta-ganti pasangan di luar rumah.
"Manis, jangan takut padaku! Aku tidak akan memakan dirimu, aku cuma akan memberimu kehangatan dan kenikmatan yang sudah lama tidak engkau rasakan. Hem ... Ayo kemarilah! Jangan menjauh." Jamari terus mendekat, lelaki itu merasakan ada tantangan tersendiri saat Rosa melakukan penolakan terhadapnya.
"Apa kamu tidak kasihan dengan ular piton milikku, lihatlah sedari tadi kepala ular ini terus bergerak, mencari tempat yang hangat untuk mengeluarkan lendirnya," desah Jamari sambil mengelus-elus bagian depan celananya yang terlihat besar tegak seperti terong yang tersembunyi di balik sana.
Rosa menatap sekilas tangan Rentenir tua itu sambil menelan air liurnya paksa. Tidak munafik, Rosa juga membutuhkan belaian dan kehangatan dari seorang lelaki.
Apalagi Rosa sudah ditinggal mati suaminya setelah sebulan dia menikah. Rasanya belum puas wanita itu menyesap nikmatnya dunia. Wajar jika Rosa sangat ingin menyalurkan hasratnya.
Menjanda selama lima tahun lamanya, bukanlah pilihan, tapi takdir yang mengharuskan dirinya demikian.
Jujur. Rosa merasa tertipu oleh mendiang suaminya.
Pasalnya lelaki itu menyimpan rahasia yang sangat besar. Tentang hutangnya terhadap rentenir yang saat ini berada di depannya.
Yang membuat dirinya terjebak dalam hutang yang berjibun dan tidak mungkin dia bayar untuk saat ini. Meski dia menjual rumahnya sekalipun, itu tidak akan mampu melunasi hutang suaminya.
Semakin lama Rosa menatap tangan kekar Jamari yang bermain dengan juniornya, semakin besar pula getaran itu menyusuri sekujur tubuhnya.
Wanita cantik itu merasakan ada desiran aneh di dalam dirinya. Yang membuat dia tidak bisa mengontrol hasrat yang tiba-tiba muncul di otaknya.
"Pak, kumohon jangan lakukan ini padaku." Rosa tanpa sadar mengeluarkan suara yang sedikit mendesah, padahal wanita itu memohon agar Jamari tidak menjamahnya.
"Hahaha ...! Apakah tandanya kamu juga menginginkan ular ini terperangkap dalam muaramu?" Lelaki itu melangkah sambil melepas kancing bajunya satu persatu, memperlihatkan dadanya yang berbulu.
'Astaga, ada apa dengan diriku ini, apa benar jika aku menginginkannya? Tidak, ini tidak benar. Sadar Rosa! Saat ini dirimu dalam bahaya,' batin Rosa bergejolak.
Rosa menggeleng saat Jamari mengulurkan tangannya, agar wanita di depannya lari ke dalam pelukannya.
"Ayolah, kita bersenang-senang hari ini! Cuaca mendung begini sangat cocok untuk kita," ucap Jamari lirih.
Lelaki itu tidak menyerah meski Rosa berulang kali menolaknya.
"Aku akan memberikan posisi terbaik di antara keempat istriku. Jika kamu mau menjadi istri mudaku. Kamu akan hidup bahagia dan serba kecukupan. Aku juga akan membuatkan sebuah rumah yang megah setelah kita menikah nanti," bujuk Jamari.
Berapa kali pun lelaki itu memohon, Rosa tidak akan pernah mau menjadi istri mudanya, istri yang kelima.
Jamari memang terkenal dengan rentenir terkaya dan paling suka main perempuan. Bahkan tidak terhitung wanita yang telah dia mainkan. Dari wanita yang masih lajang sampai istri orang pun dia embat. Yang penting suka sama suka.
Rosa yang mulai terpojok langsung meraih sapu yang berada tidak jauh darinya.
Wanita itu dengan cepat mengarahkan gagang sapu yang dia pegang ke tubuh gemuk Sang Rentenir.
Buk!
Buk!
Buk!
“Aw ... Sakit ... Sudah, jangan diteruskan,” pinta Jamari sambil menunduk dengan kedua tangannya melindungi kepala. Takut jika kepalanya kena pukul.
Wanita itu terus melakukan aksinya, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dia miliki saat ini. Rosa berhasil memukul Jamari beberapa kali. Dan, tidak akan berhenti. Namun, detik berikutnya Jamari berhasil memegang gagang sapu tersebut. Dan, adegan tarik-menarik pun terjadi.
"Lepaskan! Biarkan aku memukul tubuhmu. Dasar nakal!" teriak Rosa sambil terus menarik sapu itu.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan dirimu memukulku, kecuali jika kamu bersedia menjadi istriku," jawab Jamari sambil menarik ujung sapu itu.
Melihat tingkah Rosa yang menggemaskan, Jamari langsung mengeluarkan jurus tenaga dalamnya, menarik gagang sapu itu kuat. Membuat tubuh Rosa terjatuh dalam pelukannya.
Rosa yang menyadari bahwa dirinya dalam pelukan lelaki m***m itu, segera berusaha untuk melepaskannya. Namun, itu semua sudah terlambat karena Jamari sudah memeluk tubuhnya erat.
"Sudah diam, dinikmati saja dulu," bisik Jamari pada telinga wanita itu. Membuat Rosa merasakan geli di sekujur tubuhnya.
Jamari tidak mau menyia-nyiakan waktunya.
Lelaki itu mempererat pelukannya dan mencoba untuk mencium wanita cantik itu lagi.
Rosa berusaha mengelak, meski dia tahu itu semua akan sia-sia.
"Ja--jangan, Pak! Le ... pas ...!" Rosa berteriak, tapi lagi-lagi teriakan itu berubah menjadi desahan.
ABG tua itu tersenyum dan semakin menjadi, menatap tubuh molek Rosa yang hanya dibalut kain jarik itu membuat libidonya semakin melonjak. Ular piton yang berada di tempat tersembunyi pun mulai bergerak aktif.
Rosa yang merasakan gerakan ular itu di perutnya merasa terangsang. Pikirannya mulai berfantasi ria di atas sana. Degup jantungnya kian berpacu seperti mau melepaskan diri dari tempatnya.
'Memet, kenapa bukan kamu yang saat ini memelukku? Kenapa harus ABG tua ini?' Rosa lagi-lagi membatin.
Desiran aneh itu kini memenuhi pikirannya, mengendalikan tubuhnya yang tengah melakukan penolakan.
Udara dingin seketika menerpa kedua tubuh itu lewat jendela yang terbuka.
Menciptakan hawa dingin yang membuat tubuh merinding ingin segera mencari kehangatan.
Lelaki bertubuh gempal itu menekan tubuh Rosa ke dinding. Sementara kedua tangannya memegang kepala wanita cantik yang tampak pasrah di depannya, mengangkat dagu Rosa hingga tatapan mata mereka saling beradu.
Jamari lantas mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya yang tebal pada bibir seksi Rosa yang hampir sama dengan milik artis terkenal luar negeri.
Rosa memejamkan matanya, tubuhnya lemas, tenaganya habis untuk melakukan perlawanan sesaat tadi.
Dia membiarkan bibirnya dipermainkan lelaki itu.
Tangan sebelah kiri Jamari menekan tengkuk Rosa dan tangan kanannya mulai melakukan gerakan nakal. Menyibak kain jarik itu dan menyelusup masuk, membelai paha mulus Rosa dan terus naik menuju lembah berumput hitam yang lembap.
"Ah ...!" Rosa mengeluarkan desahan yang tidak bisa dia kendalikan lagi.