Gagal Bercinta

1037 Kata
Hujan yang semakin deras mampu menyamarkan suara yang berasal dari luar pun sebaliknya. Jamari yang kian tidak terkendali berusaha melepas celananya dengan cepat. Dan, hal itu segera dimanfaatkan Rosa untuk berlari menuju pintu keluar. Wanita itu lupa bahwa di depan sana ada dua body guard yang siap menghadangnya. Bug! Lagi, Rosa terlempar ke lantai dengan posisi terlentang. Membuat kedua body guard itu menatapnya tak berkedip sesaat, sebelum Jamari memberi peringatan kepada kedua anak buahnya. "Maaf, Bos! Khilaf," ucap mereka serentak, kemudian kembali menutup pintu itu rapat. "Mbul, kenapa si bos selalu menang banyak, ya?" Salah satu penjaga itu bertanya. "Biasa itu mah, No. Kan mereka maju duwit. Hahaha ...!" jawab Embul pada sahabatnya, Paino. Mereka pun kembali menempelkan telinganya pada pintu itu, berharap bisa mendengar suara desahan nikmat yang berasal dari dalam. Sementara itu Rosa berundur perlahan, berharap Jamari tidak kembali menjamahnya. Lelaki gemuk itu merangkak, mendekati wanita yang kini menatapnya ngeri ketakutan. Rosa kembali mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk membela diri dari rentenir itu. Rosa menggeleng. "Kumohon jangan lakukan ini padaku, Tuan. Aku berjanji akan segera membayar semua hutang milikku." Jamari tersenyum senang menatap wanita yang kini dilanda ketakutan. "Aku tidak perlu uangmu, Sayang. Nikmatilah permainan kita, dan aku akan melupakan jumlah nominal yang tertera atas namamu." Jamari merayu. "Cih ... Sampai kapan pun aku tidak akan menjadi istri mudamu. Ingat itu!" Rosa kembali menolak tawaran yang diberikan untuknya. Entah sudah yang ke berapa kalinya, yang pasti dia selalu melakukan hal yang sama. Menolak. Hahahaha ...! Jamari tertawa mengejek. "Apa kau kini merasa sudah menjadi kaya, hah?" Tangan kekar lelaki itu menyentuh dagu Rosa kemudian merangkak mendekat. Bug! Tubuh Jamari seketika terjungkal ke belakang. Dia tidak menyangka wanita itu bisa menendangnya dengan kuat. Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Rosa segera bangkit dan meraih kemoceng yang tergantung di dinding. Menghampiri rentenir itu dan memukulnya berkali-kali. Jamari merasa kesakitan pada tangan dan badannya. Lelaki itu terus memohon untuk dikasihani. "Rosa, sudah hentikan, sakitt ...!" Jamari berteriak memohon. Lelaki itu menatap Rosa, memelas sambil menyatukan kedua tangannya di depan d**a. Namun, Rosa tidak akan tertipu dengan wajah palsunya. Wanita itu semakin gencar mengayunkan kemoceng itu ke tubuh gemuk lelaki di hadapannya. Rambutnya yang panjang kini terlepas dari sanggulnya, terurai dan bergerak mengikuti gerak tubuhnya. Hingga kejadian yang memalukan itu terjadi. Kain jarik yang melilit pada tubuhnya tiba-tiba melonggar dan melorot ke bawah. Memperlihatkan sepasang gundukan kembar dan muara yang tertutup rumput liar di sana. Astaga ... Melorot? Rosa terkejut dengan keadaan dirinya yang sekarang, polos tanpa sehelai benang. Jamari tersenyum. "Aku tidak menyangka ternyata engkau ganas juga." Tanpa meminta izin lelaki itu langsung menarik lengan Rosa hingga wanita itu terjatuh dalam pelukannya. Rosa meronta-ronta sejadinya. Dia tidak peduli dengan tubuh polos yang terlihat menantang. Wanita itu mulai menjambak rambut hingga kumis Jamari yang panjang. Membuat lelaki itu meringis kesakitan. Mendengar kegaduhan yang ada, sontak membuat kedua anak buahnya mengendap-endap menuju jendela yang terbuka. Mengintip aksi majikannya. "Duh, mantap itu, Mbul. Lihat dadanya! Mulus seperti sabun lux," ucap Paino sambil menelan ludahnya berulang. "Lihat apa, Bang?" tanya seseorang yang baru saja tiba di rumah itu. "Itu loh, Mas. Ada pemandangan gratis," jawab Paino tanpa melihat orang yang bertanya kepadanya. Orang itu tak lain adalah Memet. Memet yang penasaran langsung melihat ke dalam. Sontak dia terkejut saat melihat Rosa yang hendak disuntik sama Jamari. Memet langsung berlari menuju pintu untuk menyelamatkan Rosa. Bruukk! Pintu pun terbuka lebar, membuat Jamari kaget dan geram. Karena lagi-lagi lelaki itu harus gagal dalam pelampiasan hasratnya. Memet menghampiri lelaki gendut itu dan langsung menariknya kasar. Memet yang terbakar emosi seketika mendaratkan bogem mentahnya berulang. Buk! Buk! Buk! Jamari yang tidak sempat melakukan perlawanan langsung babak belur dihajar Memet habis-habisan. "Embul ... Paino ...!" Jamari berteriak dengan sisa tenaganya. Berharap kedua anak buahnya datang untuk menolong. Bukannya datang untuk menolong, Si Embul dan Paino malah asyik menonton Jamari yang dihajar oleh Memet. "Mampus kamu ... Rasain, suruh siapa kegatelan." Teriak Embul sambil mengangkat kedua tinjunya. "Iya bener. Dasar Si Gendut yang serakah. Sudah punya empat bini masih cari bini lagi," jawab Paino cepat. "Hajar terus ... Sampai bonyok ...," teriak mereka bersamaan. Jamari yang mendengar suara teriakan dari kedua anak buahnya langsung melotot tajam sambil mengacungkan tinjunya. Embul dan Paino yang menyadari itu langsung ketakutan dan segera berlari masuk rumah. "Bos ... Bos ... Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu jadi jelek sekali," ucap Paino panik. "Iya, Si Bos juga gak tahu malu. Itu si otongnya enggak ditutupin," sahut Embul kemudian. Membuat Jamari semakin geram. "Gundulmu pecah, kenapa kalian tidak membantuku? Dasar punya orang tidak berguna," amuk Jamari geram. "M--maaf, Bos! Kami khilaf, habis seru sih, lihat si bos dihajar. Seperti melihat tinju profesional," jawab Paino asal sambil tertawa. "Dasar kutu kupret ... Sekarang kalian hajar lelaki itu!" Jamari meraih bajunya yang berserak dan memakainya. Memet pun menyuruh Rosa untuk segera masuk ke dalam kamar dan memakai pakaiannya. Sementara dirinya bersiap untuk bertarung dengan kedua anak buah Jamari. Memet menangkis tinju yang dilayangkan Paino padanya, sementara kakinya menendang perut Embul yang ikut menyerangnya. Melihat kesempatan untuk mendekati Rosa lagi, Jamari langsung masuk ke dalam kamar dan menyergap tubuh Rosa yang tengah memakai pakaiannya. "Lepaskan ... Tolong aku Memet ...!" Rosa berteriak sambil menendang-nendangkan kakinya ke udara. Jamari yang tidak ingin gagal lagi langsung mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke ranjang. Dengan sangat tidak terkendali Jamari menindih tubuh Rosa dan menghujani dengan ciuman. Rosa yang terus berontak akhirnya kehabisan tenaga dan pasrah. Memet yang mendengar teriakkan Rosa menyadari bahwa Jamari sudah memasuki kamar tidur wanita itu. Memet tiba-tiba mengangkat kedua tangannya, masih dengan napas yang tersengal-sengal. Menahan Embul dan Paino agar berhenti menyerangnya. "Stop! Sudah kita jangan berkelahi lagi!" seru Memet dengan nafasnya yang tak beraturan. "Kenapa emangnya? Bilang saja kalau kamu tidak sanggup melawan kami," ucap Paino sambil berkacak pinggang. "Kalian ini bodoh, lihat di dalam sana! Jamari tengah main kuda lumping. Sementara kalian mau-maunya berkelahi demi dia," pancing Memet agar mereka mau berhenti berkelahi. Sontak Paino dan Embul saling pandang lalu mengangguk bersama. "Yang dia katakan itu benar, Mbul. Kok kita mau ya dibodohi sama Jamari." Embul mengangguk setuju. "Makasih, Mas. Kamu sudah menyadarkan kebodohan kami," ucap mereka serentak dan mereka pun pamit pulang. "Ayo, Mbul! Kita pulang saja!" Mereka pun saling melambaikan tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN