Pesona Janda Kembang

1029 Kata
Sepeninggal Paino dan Embul. Memet tersenyum girang karena telah membodohi kedua anak buah Jamari. Dia bisa menghalau kedua orang itu tanpa harus babak belur. Memet yang sudah tidak mendengar suara Rosa segera masuk ke kamar. Dia merasa sangat khawatir dengan keadaan wanita itu. Tanpa menunggu lama Memet segera menarik tubuh Jamari yang tengah berada di atas tubuh Rosa, menariknya kuat hingga lelaki itu terjungkal ke belakang. Tidak hanya itu, Memet pun kembali menghajar Jamari hingga babak belur. "Dasar Kucing Garong, tidak cukup dengan empat istri." Buk! "Rasakan ini!" teriak Memet sambil terus mengayunkan kakinya ke tubuh gemuk Jamari. "Sudah, Met ... Sudah hentikan!" Rosa mencoba melerai. Setelah Memet berhenti menghajarnya, Jamari langsung bangkit sambil memegangi badannya yang sakit. "Awas kamu anak ingusan, aku tidak akan melupakan kejadian ini. Tunggulah pembalasan dariku!" teriak Jamari sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Memet. Lelaki itu tidak peduli, dia malah tersenyum menyaksikan kondisi Jamari yang sekarang. "Kek ... Lebih baik urus tuh empat bini, dari pada cari yang lain. Ngaca dong! Umur sudah tidak muda kenapa masih cari bini lagi!” seru Memet pada Jamari yang berjalan menjauhinya. Sebenarnya ada rasa kasihan Memet pada Jamari, melihat lelaki bertubuh gempal itu berjalan tertatih dengan badan yang lebam. Tapi Jamari memang sudah sangat keterlaluan. Lelaki gendut itu selain terkenal dengan rentenir yang kejam, dia juga adalah orang yang gemar main perempuan. Apalagi jika itu bini orang. Main embat-embat saja. "Kamu itu loh, kenapa, sih bisa memasukkan dia ke dalam rumah. Ceroboh sekali. Untung saja aku cepat datang. Kalau tidak, mungkin kamu sudah digenjot keenakan sama dia!" Rosa kaget dengan ucapan lelaki di hadapannya barusan. Dia jengkel karena seolah-olah dia dituduh membiarkan Jamari menjamahnya. Rosa berkacak pinggang sambil mendongakkan kepalanya pada Memet. Tangan kanannya menunjuk ke d**a lelaki itu. "Hey ... Memet. Aku tahu kamu telah menyelamatkan aku. Terima kasih untuk itu. Tapi tidak seharusnya juga kamu menuduhku sekejam itu ... Kamu pikir kamu siapa, hah? Kalau memang tujuan kamu datang kemari hanya untuk menolongku lalu menjatuhkan aku. Lebih baik kamu pergi dan jangan pernah kembali." Rosa berkata tanpa jeda. Wanita itu terlalu jengkel untuk mengakui bahwa dirinya tengah bahagia dengan adanya lelaki itu di sampingnya. Memet terdiam, lelaki itu merasa bersalah karena telah melakukan kebodohan dalam ucapannya. Rosa duduk di pinggir ranjangnya sambil terus berharap agar Memet merayunya untuk berbaikan. Tapi di luar dugaan, Memet malah keluar kamar dan duduk di bangku ruang tamu. Dia pun masih merasa kesal dengan sikap Rosa yang menyuruhnya berhenti untuk menghajar Jamari. Rosa yang melihat Memet seperti itu menjadi tambah jengkel. Dia merasa tidak dibutuhkan lagi. "Dasar lelaki tidak peka, pantesan tidak pernah mendapat jodoh," ucap Rosa geram. "Apakah kamu berbicara denganku?" Terdengar sahutan dari ruang tamu. Rosa diam, dia malas untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya enggak penting itu. "Rosa ... Aku bertanya padamu," serunya lagi. Dia sudah tidak memanggil wanita itu dengan sebutan “Tante”. Lagi, Rosa lebih memilih memeluk gulingnya dari pada menjawab pertanyaan enggak jelas itu. Memet yang merasa diacuhkan setelah menolongnya, merasa tidak dihargai, dia lalu bangkit menuju kamar itu lagi. Menghampiri Rosa. Lelaki itu kaget saat melihat Rosa sudah melepaskan semua pakaiannya. Jantungnya seketika berdegup kencang. Antara ingin tapi tak mau. "Duh ... Sampai kapan aku akan menjadi lelaki penakut seperti ini. Tuhan ... Itunya kenapa lebat sekali, aku jadi penasaran untuk membukanya. Ya ampun ... Rumput hitam. Kenapa kamu tumbuh di sana. Tapi ...," batin Memet bergejolak hebat. Lelaki itu galau tingkat dewa, otaknya memerintahkan untuk menjamah, tapi hatinya terus saja menolak. "Pakai bajumu! Nanti bisa masuk angin." Memet meraih baju yang tergeletak di pinggir ranjang, memberikannya pada Rosa. "Pakaikan, dong!" Deg! Jantung Memet berdisko ria di dalam sana. Dia tidak menyangka Rosa akan menyuruhnya untuk hal yang sangat dia takuti. "Cepatlah ganti pakaianmu! Dan ikut aku pulang," ucap Memet sebelum berlalu pergi. Rosa tersenyum melihat tingkah lucu Memet saat dia mencoba menahan gejolak di hatinya. *** "Bik, tolong buatkan minum!" seru Memet saat dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa rumahnya. "Den Memet, ini minumnya!" "Loh ... Kok kamu yang bikin, bibi ke mana?" tanya Memet pada Rosa yang baru sampai dengan nampan di tangannya. "Bibi lagi masak di dapur." Rosa menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah lelaki itu. Memet menyesap kopinya lalu menghadapkan tubuhnya ke arah wanita di sampingnya. "Rosa, bolehkah aku bertanya?" Wanita itu mengangguk. "Kenapa kamu bisa berurusan dengan lelaki itu? Bahaya tau'." Rosa terdiam, wajah cantiknya tertunduk. Tidak seperti biasanya, tersirat kesedihan di sana. "Semua itu kesalahan mendiang suamiku, dia telah menghabiskan banyak uang untuk berjudi. Dan, sialnya lagi aku mengetahui itu semua setelah rentenir tua itu mendatangi rumahku. Tepat setelah 40 hari kematian Roni, suamiku." Pikiran Rosa melayang di mana dia merasa Tuhan tidak adil padanya. Baru satu bulan pernikahannya, dia harus kehilangan Roni suami tercinta. Kematian Roni yang sangat ganjil menyisakan teka-teki yang belum bisa terpecahkan hingga kini. Ditambah dengan kehadiran Jamari yang tiba-tiba menagih hutang padanya. Rosa yang tidak tahu-menahu tentang hal itu menjadi syok dan bingung. Dengan jumlah hutang yang tidak sedikit, membuat Rosa bergidik ngeri. Dia bingung harus dengan apa dia membayarnya. Sementara wanita itu belum memiliki pekerjaan tetap. Roni, suami yang baru dinikahinya satu bulan lalu itu nyatanya hanya seorang pembohong besar. Roni menghilang begitu saja tanpa ada kabar. Roni tiba-tiba dikabarkan meninggal saat dia berada di sungai. "Memang berapa banyak uang yang dia pinjam pada Jamari?" Rosa meremas ujung bajunya, dia bingung harus menjawab atau tidak karena ini urusan pribadinya. Memet menyentuh dagu wanita di depannya, menariknya agar bisa menatap wajah ayu Rosa, tapi dia malah menunduk. Malu. "Berapa, hems ...? Coba katakan padaku," tanya Memet kepada Rosa. "Lima ratus juta belum dengan bunganya." "Tunggu sebentar." Memet bangkit menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan membawa sebuah map berwarna coklat di tangannya. "Ini ada sejumlah uang, gunakanlah untuk melunasi hutang-hutang milikmu pada Jamari," ucap Memet sambil mengulurkan map di tangannya. "T ...tapi ...." Memet menggeleng. "Terimalah, aku tidak ingin kamu diganggu oleh lelaki itu lagi. Sudah cukup kamu dijamahnya waktu itu, apa jangan-jangan kamu ingin dijamah lagi olehnya," goda Memet kemudian. Membuat Rosa melotot ke arahnya. Dan dibalas gelak tawa Memet, Lelaki itu semakin gemas pada Rosa yang merajuk kepada dirinya. Wanita dewasa yang sangat cantik dengan segudang kelebihan pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN