Beberapa hari kemudian.
“Sastro, aku mempercayakan ini semua padamu, lakukan dengan bersih, jangan sampai ada barang bukti yang tertinggal. Kalau perlu bunuh siapa saja yang membahayakan posisi kita,” ucap seorang lelaki tampan pada bawahannya.
Lelaki itu kemudian masuk ke dalam rumah yang biasa mereka sewa, setelah seorang pria yang bernama Sastro memasukkan seorang gadis belia ke dalam kamar yang sama.
“Pergilah! Aku akan memanggilmu setelah aku selesai dengan ritualku.”
Sastro keluar, lelaki itu melangkah ke depan rumah seperti biasanya. Dia bergabung bersama Paijan, sahabatnya yang tengah duduk dengan ditemani secangkir wedang kopi dan sepiring pisang goreng.
“Ada apa, Sas? Kok tumben lama sekali?” tanya Paijan penasaran.
Paijan memang tipe orang yang gampang sekali ingin tahu, dalam bahasa gaulnya adalah kepo.
Sastro menarik nafas dalam-dalam, pria berusia lima puluh satu tahun itu merasa sangat bersalah dengan apa yang dia lakukan.
Dia mulai bosan dengan pekerjaannya yang dirasa sangat berisiko.
“Apa kamu yakin kalau tidak ada yang melihat aksi kita semalam,” tanya Sastro pada sahabatnya itu.
Paijan mengangguk. “Aku sangat yakin, karena kita sudah memperkirakan semuanya.”
“Aku juga punya keyakinan yang sama, tapi kenapa juragan bilang, kalau kita harus melakukan semuanya dengan bersih dan bila perlu kita harus membunuh siapa saja yang membahayakan pekerjaan kita saat ini.”
Paijan terbengong mendengar penjelasan dari Sastro. Mereka berdua pun mencoba mengingat kembali saat mereka melakukan penculikan yang ketiga kalinya. Di desa yang berbeda.
“Aku rasa kemarin malam memang tidak ada yang melihat kita,” ucap Paijan memecah kebisuan di antara mereka.
Sastro mengernyitkan dahinya. “Tapi apa maksud dari ucapan juragan padaku barusan.”
“Mungkin dia hanya memastikan bahwa kita memang sudah melakukannya dengan sangat hati-hati atau belum,” tegas Paijan sembari menyantap kembali pisang goreng di depannya.
Di dalam kamar yang berukuran empat meter persegi. Terlihat seorang gadis cantik meringkuk ketakutan saat ada seseorang masuk dengan wajah mesumnya.
Lelaki itu melangkah mendekatinya sambil melepas kancing bajunya satu persatu dan melemparnya asal.
Tubuh gadis itu semakin gemetaran, dia beringsut mundur, kedua matanya terus mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melawan lelaki m***m di depannya.
Tapi, nihil. Di dalam ruangan itu tidak ada apa-apa yang bisa dia gunakan untuk memukul dan menghalau lelaki yang kini hanya mengenakan celana dalam bermotif Hello Kitty tersebut.
Hello Kitty? Celana dalam?
Bug!
“Awh ... Sialan kau gadis ingusan!”
Lelaki itu memegangi kepalanya yang terantuk dinding. Karena Mawar langsung berguling ke samping saat lelaki tersebut akan menerkam tubuhnya.
“Jangan harap kamu bisa lari dariku, Mawar,” desis lelaki itu, dia menatap tajam ke arah gadis berambut sebahu yang kini sudah berdiri dan bersiap-siap untuk lari.
Bum!
“Arh ...!” Mawar terjatuh tertelungkup di lantai. Terlihat darah segar mulai keluar dari bibirnya yang sedikit robek lantaran mulutnya yang membentur lantai dengan sangat keras. Lelaki itu telah menarik kakinya saat Mawar hendak melangkah.
“Hahaha ...! Aku bilang juga apa? Jangan main-main denganku.” Lelaki itu mendekati tubuh lemas Mawar, dia menatap mata sayu milik gadis cantik yang kini terlihat pasrah di depannya.
Air mata gadis itu luruh begitu saja. Saat tubuh mulusnya diangkat menuju kasur yang memang sudah tersedia di sana.
Lagi. Tubuh mungil itu dihempas dengan kasar di atas kasur yang empuk. Membuat Mawar menggeliat sesaat karena entakkan yang cukup keras pada tubuhnya.
Lelaki itu tersenyum m***m, menatap rok yang dipakai Mawar tersingkap ke atas dan memperlihatkan paha gadis itu yang putih mulus.
Lelaki tampan yang sering dipanggil juragan itu pun menurunkan celana dalam miliknya, memperlihatkan junior yang sudah berdiri tegak di tempatnya.
“Waktunya kita bersenang-senang,” ucap lelaki itu sambil terus merangkak mendekati Mawar. Naik tepat di atas tubuh gadis itu.
Mawar memejamkan matanya, jantungnya berdegup kencang saat nafas yang tak beraturan menerpa kulit wajahnya yang semakin pucat.
Sementara itu di luar rumah. Suasana semakin tegang dan menakutkan. Langit terlihat mulai menghitam, cahaya matahari yang semakin redup sudah tidak bisa menembus lebatnya pepohonan di sekitar rumah.
Sastro melirik jam di tangannya. “Jam enam lebih lima menit. Sudah hampir tiga jam juragan di dalam kamar.”
“Apa kita perlu mengeceknya?” Paijan berinisiatif.
Sastro terlihat sangat gelisah, tidak seperti biasanya.
“Aaa ...!”
Terdengar suara teriakan dari dalam kamar rahasia.
Membuat kedua sahabat itu saling pandang lalu mengangkat kedua pundak mereka bersamaan.
Bruukk!
Krompyang!
Lagi, terdengar suara bising dari dalam kamar yang sama.
“Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kalau cuma kepuasan, kenapa dia harus melakukan hal itu pada setiap gadis yang ditidurinya? Kenapa tidak dinikahi saja?”
“Entahlah, dulu aku selalu berpikir seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Yang aku pikirkan hannyalah duit, untuk masalah satu itu bukanlah urusanku,” jawab Paijan kemudian. Dia malas terlalu jauh mengurusi kehidupan sang majikan.
Ya, karena itu semua hanya sia-sia. Membuang waktu dan tenaga.
Sastro dan Paijan, mereka adalah dua sahabat yang selalu bersama dalam suka maupun duka. Sedari kecil mereka sudah menjadi sahabat yang sulit untuk dipisahkan. Tepatnya, sejak Sastro harus kehilangan kedua orang tuanya saat para warga menghakimi keduanya, gara-gara sebuah tuduhan yang tidak mendasar. Sebagai penganut ilmu hitam.
Yang tentu saja semua itu adalah fitnah dari seseorang yang iri dengan keberhasilan keluarganya. Karena kedua orang tua Sastro diberikan kepercayaan penuh untuk memimpin salah satu koperasi di desa itu.
Dan, di saat Sastro menjadi anak yatim piatu yang dijauhi para warga, Paijan datang sebagai seorang sahabat juga saudara untuk dirinya.
Sejak saat itulah mereka selalu bersama-sama hingga saat ini. Melakoni pekerjaan yang penuh risiko pun tetap bersama.
Setelah cukup lama, suasana pun menjadi hening. Tidak ada lagi suara gedombrongan dari dalam rumah.
Sastro dan Paijan sudah bisa menebak. Bahwa majikannya sudah bisa melumpuhkan santapannya malam ini.
Kriieekk!
Pintu ruangan berukuran enam meter persegi itu pun akhirnya terbuka.
Memperlihatkan seorang lelaki tampan berambut sebahu keluar dari sana.
“Kalian memang bisa diandalkan,” ucap lelaki itu sambil memperlihatkan senyum kepuasan di wajahnya.
Sastro dan Paijan mengangguk, mereka tidak berani menatap wajah lelaki itu bila sedang berhadapan.
“Ini upah kalian untuk Minggu ini,” ucap lelaki itu lagi, dia menyerahkan amplop berwarna coklat tebal kepada kedua anak buahnya.
Terlihat kedua lelaki paruh baya itu tersenyum saat menerima masing-masing satu amplop dari majikannya.
“Terima kasih, Gan!” seru kedua lelaki itu lirih.
“Bereskan gadis itu, jangan sampai meninggalkan jejak sedikit pun,” ucap lelaki tampan berlesung pipi itu tegas.
Dia pun melangkah pergi meninggalkan kedua anak buahnya sambil menenteng kantong plastik berwarna hitam. Yang entah apa isinya.
Sastro dan Paijan menatap punggung tegak itu hingga menghilang bersama sepeda motor yang dia kendarai.
Kedua lelaki paruh baya itu pun langsung membereskan tugas yang harus mereka lakukan dengan sangat rapi. Dengan cekatan Sastro meraih tubuh gadis malang tersebut. Memasukkan tubuh lemas itu ke dalam plastik besar berwarna hitam. Lalu memasukkan kembali tubuh itu ke dalam karung.
Sementara darah segar terus merembes keluar dari area sensitifnya.
Tanpa banyak bicara kedua lelaki itu merampungkan tugasnya.
Seperti biasa, mereka akan membersihkan tempat itu dan menghilangkan semua barang bukti yang ada sebelum pergi meninggalkan rumah yang mereka sewa.
Rumah mungil yang terletak di tengah hutan, yang tidak jauh dari desa mereka tinggal.
Di malam yang buta, tepatnya di hutan dekat ujung desa. Tempat di mana Surti melihat dua orang tengah membawa sebuah karung besar menuju sungai.
Malam ini pun terjadi lagi, ada dua orang berpakaian serba hitam di sana. Mereka membawa sebuah karung besar yang terlihat sangat berat.
Dengan tertatih mereka menuju sungai menuruni jalan yang menjorok ke bawah.
Berkali-kali terdengar mereka mengeluh, tidak sanggup dan ingin segera berhenti dari pekerjaan itu.
Tapi, lagi dan lagi uang pula yang memimpin semuanya. Mengendalikan semua orang dan menutup mulut-mulut keriput dengan uangnya.
"Jan, sebenarnya aku tu sudah capek, aku pengen istirahat. Dan, memulai hidupku dengan normal tanpa rasa takut, apalagi bersalah." Lelaki bertubuh tinggi dengan perut yang sedikit buncit itu kembali mengeluh setelah menenggelamkan karung berukuran besar itu ke sungai.
"Ck, jangan ngawor kamu Sas. Kamu itu sudah tidak bisa berhenti apalagi pergi begitu saja. Karena kamu sudah terlanjur mengetahui semua rahasia milik juragan," ucap Paijan menekankan.
"Dan, lagi. Bisa-bisa nyawa kita yang akan melayang bersama mereka," imbuh Paijan lagi.
Entah sudah berapa karung yang mereka bawa dan buang ke sungai yang sama.
Sastro mengangguk, terlihat wajahnya yang hitam menjadi pucat dalam kebimbangan.
"Kamu benar, Jan. Kita sudah terlanjur masuk dalam kubangan masalah yang bisa menyeret keluarga kita sendiri. Dan, ingat, jangan sampai anak istri kita ikut menjadi korban dalam pekerjaan kotor ini."
Sastro, lelaki berusia lima puluh tujuh tahun itu mengusap wajahnya kasar, frustrasi dengan jalan yang dia tempuh semenjak tujuh tahun silam.
"Sas, andai kita tidak menerima pekerjaan gila ini dari awal. Mungkin kita masih hidup damai tanpa dibayangi rasa bersalah setiap saat."
"Kamu benar. Dan, aku berharap suatu saat ada seseorang yang berani membongkar rahasia terselubung ini," ucap Paijan sambil menatap jauh ke dasar sungai yang dalam.