Korban ke-7

1168 Kata
Di sana, di dalam sungai itu. Telah tertanam tujuh mayat gadis perawan. Korban dari nafsu Sang Juragan. Gadis-gadis itu diculik lalu dikorbankan untuk sebuah pelarisan. Sementara Paijan dan Sastro menjadi anak buah sang juragan untuk mencarikan anak gadis dengan imbalan yang fantastis bagi mereka, lima puluh juta untuk satu orang. Hingga kedua sahabat itu mampu membangun rumah, memberikan kehidupan yang lebih baik dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga lulus SMA. Semua itu tidak lepas dari pekerjaan yang mereka tekuni saat ini. "Ayo kita pulang sekarang, sebelum pagi tiba. Bisa-bisa para warga curiga kita berada di sini," ajak Paijan yang kembali menempuh jalan setapak diikuti oleh Sastro di belakangnya. Menuju rumah masing-masing. Keesokan harinya, Kampung itu digegerkan dengan adanya berita kehilangan dari keluarga Jasri, lelaki berumur empat puluh lima tahun itu dari semalam kehilangan anak gadisnya yang tidak pulang setelah berpamitan untuk belajar kelompok di rumah temannya. Gadis itu adalah Mawar, gadis cantik berusia enam belas tahun. Yang masih duduk di bangku SMA kelas dua. Mawar adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang bernama Jasri dan Minah. "Bagaimana kalau kita coba mencari Mawar di sungai," usul dari salah satu warga. Membuat Paijan dan Sastro terkejut. “Itu ide bagus, sebelum matahari terbenam kita harus bisa menemukannya,” sahut warga yang lainnya. Tampak jelas wajah Sastro dan Paijan yang semakin pucat. Mereka saling pandang dengan degup jantung yang kian tidak bisa dikendalikan. "Bagaimana menurutmu, apakah gadis itu masih tenggelam," bisik Sastro yang kemudian mendapatkan respons sangat santai dari Paijan. "Tenang saja, mayat itu tidak akan pernah bisa diketemukan karena batu yang menindihnya sangat besar." Paijan mengangguk dan kembali bersikap santai. Dari kejauhan tampak lelaki gagah dan tampan tengah menatap kerumunan warga yang terlihat panik. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya yang menawan. "Maaf," ucapnya sebelum berlalu. Lelaki itu pergi begitu saja tanpa menunggu jasad Mawar diketemukan. Para warga saling membantu dalam pencarian Mawar. Mereka membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari sepuluh orang per kelompoknya. Termasuk Sastro dan Paijan pun ikut dalam partisipasi masyarakat itu. Tentu agar tidak ada yang curiga terhadap mereka. Dan, bisa memberikan informasi penting tentang perkembangan selanjutnya kepada sang juragan. Para warga ada yang sibuk mencari di sungai, perkebunan atau pun persawahan. Bahkan ada juga yang mencari di desa tetangga. Mereka saling bahu-membahu dalam melakukan pencarian Mawar, anak gadis berusia enam belas tahun itu. Pencarian terus berlanjut hingga sore hari, namun tetap tidak ada hasil sama sekali. Hingga mereka memutuskan untuk meneruskan pencarian esok hari. “Pak ... Di mana anak kita sebenarnya? Kenapa dia tidak juga pulang? Apakah dia tidak merasa lapar?” Minah terus saja meracau. Wanita paruh baya itu belum bisa tenang setelah kehilangan anak gadisnya. Jasri mencoba menenangkan istrinya, meski di dalam hatinya dia pun merasa sangat terpukul. “Tenangkan dirimu, Minah. Anak kita pasti akan ditemukan, mungkin saat ini dia tengah berada di rumah sahabatnya yang lain,” ucap Jasri sambil menyodorkan air minum untuk istrinya. “Minumlah! Agar pikiranmu lebih tenang,” bujuk Jasri pada Minah. Minah pun mengambil gelas tersebut dan meminumnya hingga tandas. Jasri membelai rambut hitam istrinya dengan lembut dan menarik lengan wanita itu pelan. “Ayo! Lebih baik kita shalat dan meminta pertolongan untuk Mawar anak kita,” ajak Jasri kemudian. Minah pun mengangguk, mengikuti langkah kaki lelaki yang sudah menjadi imamnya selama 25 tahun itu. Sementara itu di tempat lain. Terlihat seorang lelaki tampan duduk dengan santai di salah satu kursi yang tersedia di taman belakang rumah tersebut. Sesekali terdengar suara bibirnya yang menyesap kopi panas yang terletak di atas meja. Matanya menatap jauh ke depan, di mana terdapat beberapa stoples yang berisi beberapa helai rambut dan segumpal daging kenyal berwarna merah di setiap stoplesnya. Stoples itu tersusun rapi di dalam lemari kaca yang cukup besar. Sementara di sisi lainnya terdapat beberapa boneka yang memiliki wajah yang tidak seperti boneka pada umumnya. “Terima kasih untuk pengorbanan kalian,” ucapnya lirih. Lelaki itu kembali meneguk minuman berwarna merah pekat yang terletak di atas nakas. *** Di rumah Memet, terlihat lelaki itu tengah duduk bersandar di teras rumah bersama Rosa. Mereka juga tengah asyik membicarakan tentang hilangnya Mawar dari rumah. Rosa dan Memet yang juga mendengar kabar atas menghilangnya gadis tetangga desa itu turut merasakan kesedihan yang dalam. Meskipun di antara mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Tepatnya sebagai bentuk toleransi sesama manusia. “Memet, kenapa kamu tidak ikut mencari keberadaan gadis itu?” tanya Rosa yang baru saja meletakkan wedang jahe di atas meja. Memet menatap wanita di sampingnya sambil menyesap wedang jahe yang dibuatkannya tadi. “Kasus itu selalu tidak membuahkan hasil. Seperti ada seseorang yang menyabotase semuanya, sudah ada tujuh gadis yang hilang tapi tidak ada satu pun yang berhasil ditemukan.” Memet kini bergantian menyesap rokok yang terselip di antara jarinya. Rosa terdiam sejenak, wanita itu terkejut karena baru mengetahui semuanya sekarang. Lalu, di mana dia selama ini? Kenapa kabar seperti itu baru dia ketahui? Tidak berselang lama Rosa kembali masuk ke dalam rumah. Wanita itu selalu sibuk membantu Bik Surti membersihkan rumah besar berlantai dua tersebut. Namun, di saat dia tengah menyapu halaman rumah, tiba-tiba Rosa menghentikan pekerjaannya dan segera berlari masuk ke dalam kamar pribadinya. “Aku harus cepat,” ucapnya sambil melepas bajunya dan segera mengguyur tubuhnya dengan air yang telah dia siapkan sebelumnya. “Bik, Rosa keluar sebentar, ya?” ucapnya berpamitan. Wanita itu sudah terlihat rapi dan sangat cantik dengan riasan wajah yang sederhana. “Loh, sendiri saja? Memet mana?” tanya Bik Surti yang terlihat masih menggunakan celemek andalannya. “Tadi dia pamit mau ikut mencari Mawar di desa sebelah.” Rosa segera bergegas menuju garasi mengambil sepeda, setelah memastikan penampilannya terlihat sempurna. “Di desa ini semakin lama, semakin tidak aman saja. Bibi jadi kepikiran dengan Seruni,” ucap Bik Surti sangat khawatir. Membuat Rosa menghentikan langkahnya sejenak. “Siapa Seruni itu, Bik?” tanya Rosa penasaran. “Seruni itu anak Bibi, Non. Dia sekarang tengah merampungkan kuliahnya di kota.” “Apakah dia tidak pernah pulang, Bik?” Rosa semakin penasaran. Dia sedikit tidak percaya bahwa Bik Surti masih memiliki anak gadis yang masih sekolah. Bahkan anak Bik Surti melanjutkan kuliah di universitas ternama di kota itu. Terdengar sangat mustahil dengan pekerjaan Bik Surti yang hanya seorang pembantu rumah tangga. “Tidak, Non. Seruni hanya pulang saat lebaran saja, tapi dia sudah dua tahun terakhir ini tidak pulang. Seruni hanya menelepon jika ada sesuatu yang penting saja.” Bik Surti menjelaskan. “Sabar, ya Bik? Mungkin Seruni sedang sibuk. Dan, semoga saja dia baik-baik saja di sana.” “Iya, Non. Kuharap juga begitu.” Bik Surti kemudian beranjak dari tempatnya dan segera membuka pintu gerbang untuk Rosa. “Bik, nanti kalau Memet pulang, bilang saja kalau aku pergi ke pasar sebentar,” pesan Rosa pada Bik Surti sebelum mengayuh sepedanya. Surti mengangguk, wanita itu tersenyum menatap Rosa yang terlihat lucu saat menaiki sepeda ontel miliknya. Surti mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Sepi, tidak ada seorang pun yang berlalu lalang di jalan. Mereka takut dengan isu yang beredar. Semenjak kejadian aneh yang kembali menimpa desa itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN