Memet Cemburu

1049 Kata
Desa itu kembali digemparkan dengan berita hilangnya seorang gadis cantik yang bernama Mawar. Gadis-gadis di desa itu selalu hilang secara misterius sejak tujuh tahun belakangan ini. Entah sudah yang ke berapa kalinya kasus yang sama dalam kurun waktu tujuh tahun ini dengan kehilangan yang sama, hilang secara tiba-tiba dan tubuh korban yang tidak bisa ditemukan atau bahkan kembali. Membuat para warga berasumsi bahwa gadis itu tidak hilang, tapi pergi merantau, bahkan ada juga yang berpikir buruk. “Mungkin gadis itu pergi kabur bersama pacarnya.” Tapi seiring berjalannya waktu, pikiran mereka mulai berubah semenjak kejadian menghilangnya gadis yang ke-empat. Sebelum Rosa sah menjadi istri Roni. Dan, lelaki itu meninggal secara mengenaskan. Namun, anehnya kasus ini selalu ditutup setelah pencarian tiga hari setelah menghilangnya para korban. Seolah pihak yang berwajib sengaja menutup kasus tersebut begitu saja. "Mawar ... Kemana kamu sekarang, Nak?" Terdengar suara panggilan yang diiringi tangisan pilu orang tua untuk anaknya. Paijan dan Sastro yang tinggal sekampung dengan korban ikut merasa sedih dan iba melihat kesedihan keluarga korban. Namun, mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Karena semua yang mereka lakukan adalah tuntutan pekerjaan semata. "Jan, aku sebenarnya ndak tega melihat semuanya. Apa kita jujur saja sekarang dan menunjukkan mayat anak mereka," ujar Sastro. "Ssttt ... Jangan berkata seperti itu, nanti kalau ada yang dengar mati kita," sahut Paijan sambil menatap ke segala arah. Memastikan bahwa tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Ayo kita pergi dari sini?" Paijan segera menarik tangan sahabatnya pergi menjauh. *** Sementara itu Rosa yang baru saja pulang belanja dari pasar tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang telah lama sangat mencintainya. Lelaki tampan yang terkenal sebagai orang terkaya nomor dua di desanya itu menghadang Rosa di tempat parkir. "Selamat siang, Rosa! Lama tidak berjumpa dengan Anda." Rosa kaget saat mendengar namanya disebut oleh seseorang. Alangkah terkejutnya wanita itu saat dia mendapati Darwis berada tepat di belakangnya. Membuat tubuh Rosa bersentuhan langsung dengan tubuh kekar lelaki itu. Rosa terdiam sejenak, dia seakan terhanyut dalam harumnya tubuh kekar lelaki di hadapannya. "Ehm ...." Darwis berdehem, membuat Rosa sadar dan malu akan kekonyolannya itu. Wanita itu berundur perlahan sambil merapikan anak rambutnya yang berantakan tertiup angin. Sementara Darwis dengan sangat tenang, tersenyum ke arah wanita cantik yang selama ini menjadi idolanya. "Apakah kamu menyukai wangi parfum yang aku pakai?" Darwis dengan sangat pedenya mengutarakan dugaan yang ada dalam pikirannya. Rosa menarik nafas dalam-dalam, dia mencoba mengendalikan semua rasa yang tiba-tiba mengganggu kewarasannya. "Maaf, Kang. Saya tidak tertarik untuk berbincang dengan Anda saat ini, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap wanita itu lembut. Rosa pun segera berlalu dari hadapan Darwis bersama sepeda ontelnya. "Tunggu, Nona Rosa!" Darwis tiba-tiba mencekal lengan wanita itu. Membuat Rosa menghentikan langkahnya. "Ada apa, Kang?" Rosa berhenti tanpa menatap wajah tampan lelaki itu. Darwis tersenyum lembut sambil menaikkan alisnya. Lelaki itu menyentuh dagu Rosa dan menariknya ke atas agar bisa menatapnya dengan jelas. "Aku sungguh mencintaimu Rosa, jadilah makmum terbaik untukku," Darwis menatap wajah wanita itu intens. Matanya menusuk hingga ke rongga terdalam. Membuat Rosa terdiam dan bermain dengan pikirannya sendiri. Rosa tidak bisa berbuat banyak, wanita itu terpaku dengan sikap dan perilaku lembut yang dia terima dari lelaki tampan di depannya. Melihat reaksi dari Rosa, lelaki itu seolah diizinkan untuk melakukan yang lebih. Dia pun menyentuh bibir seksi wanita itu menggunakan jarinya, lembut. Membuat Rosa memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut lelaki itu sesaat. Bayangan nakal mulai bergerak bebas dalam benak Rosa yang semakin menggila. Lupa pada Memet yang tengah menunggunya di rumah. Perlahan Darwis mendekatkan wajahnya. Ingin segera menyatukan bibirnya dengan bibir seksi lembut milik Rosa. Namun, segera dia urungkan karena tiba-tiba ada seorang anak muda yang menghampiri mereka. "Ayo kita pulang," ajak suara itu yang membuat Rosa sadar dan membuka matanya lebar-lebar. Rosa terkejut saat dia sekarang ditarik menjauh dari lelaki yang sempat membuatnya melayang sesaat lalu. Memet, lelaki itu datang secara tiba-tiba dan menarik tangan Rosa secepatnya. Menjauh dari lelaki yang bernama Darwis. Sementara Darwis hanya tersenyum, menatap kepergian Memet dan Rosa yang semakin menjauh. *** Brak ...! Memet meletakkan sepedanya kasar. Dia terus berlalu menuju kamarnya tanpa melihat wanita yang bersamanya saat ini. Membuat Rosa terbengong melihat tingkah lelaki itu yang tidak pernah seperti ini sebelumnya. Memet. Lelaki itu membanting tubuhnya kasar di dalam kamarnya. Dia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Hatinya terluka dengan sikap Rosa yang selalu lemah dalam hal nafsunya. "Dasar wanita ... Kenapa selalu lemah bila berada di depan lelaki sialan itu ...." Memet melayangkan tinjunya pada kasur yang selalu siap menjadi pelampiasan emosinya. "Kamu itu milikku, hanya untuk aku, Rosa! Tidakkah kau mengerti betapa cemburunya aku saat ada orang lain yang menjamahmu, ia meluapkan kekesalan yang selama ini selalu dibendungnya hanya untuk menjaga perasaan wanita itu. Sendiri, lagi-lagi Memet sendiri yang merasakan sakit hati. "Aku memang terlalu lemah, bahkan untuk sekedar marah di depanmu saja aku tak bisa." Memet mengacak rambutnya asal, hatinya kacau semenjak Rosa hadir dan singgah di dalam hatinya. "Kenapa mencintai harus sesakit ini." Memet mengutuki dirinya sendiri, dia tidak sadar bahwa kini dirinya sudah mulai berubah. Semenjak ada Rosa yang selalu mengusik hari-harinya. Padahal dahulu, lelaki itu selalu menjauh bila di dekati seorang gadis. Bahkan sudah empat gadis yang dia tolak lewat perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Membuat ayahnya khawatir dengan sikap Memet yang selalu menolak untuk dijodohkan. “Aku belum siap.” Itu alasan yang selalu Memet berikan. Alasan yang menurutnya sangat aneh dan tidak masuk akal. Karena Memet tidak pernah terlihat dekat atau pun sekedar mengajak seorang wanita ke rumah. Untuk diperkenalkan dengan orang tuanya. Hingga mendiang ayahnya mengungkapkan permintaan terakhirnya, karena dia takut Memet akan salah arah, menjadi sosok lelaki yang tidak seharusnya. Selalu takut akan bayangan masa lalu. Rosa yang melihat sikap Memet yang dirasakannya sangat berlebihan itu membuatnya berpikir. “Apakah dia sudah mulai mencintaiku? Atau hanya sekedar untuk menjatuhkan aku di mata umum?” Tidak dipungkiri bahwa saat ini Rosa merasa gelisah, Wanita itu bingung dengan perasaannya. Ingin dia mempercayai bahwa Memet menaruh hati padanya, tapi dia juga takut bila nanti dia akan kecewa. Karena seperti yang dia tahu bahwa lelaki itu memiliki masa lalu yang suram dan mungkin butuh waktu lama untuk memulihkan kepercayaan dalam dirinya. Bruukk! Tiba-tiba pintu kamar Rosa terbuka lebar. Terdengar suara nafas yang memburu tak beraturan. Membuat wanita itu menoleh ke arah sumber suara. “K—kamu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN