Ancaman Mematikan

1123 Kata
“K—kamu ...?” Rosa seketika langsung duduk, wanita itu membuka matanya lebar, segera menarik selimutnya untuk menutupi bagian pahanya yang terlihat menantang. “Jangan GR kamu! A—aku ke sini hanya memastikan bahwa saat ini kamu baik-baik saja, tidak lebih.” Memet menatap dinding kamar tidur itu, dia tidak berani menatap wajah Rosa yang selalu bisa menghipnotis dirinya. Dan membawanya pada kenikmatan yang sangat dia hindari. Tercipta seulas senyuman di bibir seksi Rosa, wanita itu perlahan bergerak menuruni ranjang dan melangkah mendekati tubuh kekar yang berdiri kokoh di ambang pintu. Memet yang awalnya berniat untuk menunjukkan kewibawaannya seketika itu juga langsung diam mematung, tubuh dan lidahnya tidak bisa diajak kompromi. Nyalinya menciut seketika. Lelaki itu terlihat gugup saat sebuah sentuhan mendarat di pinggangnya dan menjalar naik menyusuri lekuk tubuh kekarnya, menari-nari di sekitar tengkuk leher yang mulai merasakan sengatan-sengatan yang terus menjalar ke seluruh tubuh. Rosa memeluk pinggang lelaki muda itu perlahan, “Apakah kamu cemburu?” bisik wanita itu di samping telinganya, sontak membuat Memet menoleh ke arah Rosa cepat. Mata elang itu menghunjam dengan sangat tajam, menghancurkan benteng pertahanan yang Rosa miliki seketika itu juga. Memet menatap wajah cantik di hadapannya secara intens, di dalam hatinya dia sangat mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu. Tapi lelaki itu tidak membenarkan jika dia harus mengakui itu pada wanita yang kini menjadi incaran para lelaki di desanya. “Cantik. Bahkan sangat cantik, tapi aku tidak boleh mengatakan hal itu padamu. Karena itu akan membuat kamu lebih mudah untuk lupa. Bahwa ada aku juga yang sangat menginginkan dirimu di antara para pria itu,” batin Memet sedih, dia sangat mengerti dengan posisi dirinya saat ini, bahwa hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih dari itu. Memet mulai mengendurkan pelukan Rosa pada dirinya. Menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi janda kembang itu dan mendekatkan wajahnya perlahan, memangkas jarak di antara mereka. Nafas segar Memet yang mengeluarkan aroma mint itu menyapu wajah ayu di depannya. Membuat Rosa terdiam dan memejamkan matanya perlahan, saat Memet semakin mendekatkan wajahnya. “Buatkan aku telor mata sapi, aku lapar,” bisik lelaki itu pelan sebelum meninggalkan Rosa yang masih mematung dengan wajah masamnya. Wanita itu menoleh ke arah Memet yang berjalan menjauhinya menuju ruang makan. Lelaki itu dengan santainya duduk dan membalikkan piring yang tengkurap di hadapannya. Memainkan sendok dengan memukulkan pelan. “Tante, mana telornya? Cepetan!” seru Memet lirih, lelaki itu mulai mengeluarkan jurus jitu miliknya. Membuat wajah seimut mungkin untuk meluluhkan hati Rosa yang mulai geram karena ulahnya. *** Sementara itu di kediaman keluarga Jasri dan Minah yang saat ini tengah berduka karena kehilangan anak gadisnya. “Pak, bagaimana ini? Kenapa anak kita belum juga ditemukan?” Minah terus saja mendesak suaminya. Wanita paruh baya itu sudah tidak bisa terus menunggu dan berdiam diri untuk mengetahui hasilnya tanpa berbuat sesuatu. Jasri tertunduk lesu, tidak tahu harus berbuat apa. “Nanti kita cari bersama-sama, tidak usah menunggu sesuatu yang tidak bisa membuahkan hasil. Sudah tiga hari Mawar menghilang, tapi kenapa tidak ada titik terang sama sekali.” Minah mencoba memberikan solusi untuk masalah yang mereka hadapi saat ini. Namun, lagi. Jasri hanya terdiam. Lelaki itu seolah enggan dan tidak begitu peduli dengan masalah anaknya. Tanpa menjawab usulan dari istrinya Jasri pun beranjak pergi begitu saja. Minah hanya bisa terbengong menatap punggung suaminya yang berlalu, meninggalkan rasa penasaran yang semakin kuat di dalam benaknya. “Ada apa sebenarnya? Kenapa Jasri seolah tidak peduli dengan nasib Mawar?” Minah pun beranjak mengikuti Jasri yang berjalan menuju kamar. Wanita itu sudah tidak bisa membiarkan persoalan itu berlarut-larut. “Pak, kita harus segera bergerak. Anak kita sedang dalam bahaya, jangan sampai kita menyesali kebodohan kita karena telah membiarkan semuanya begitu saja seperti yang sudah-sudah,” ucap Minah tegas saat mendapati suaminya yang berdiri di depan jendela kamar utama. Jasri tidak bergeming, lelaki itu terlihat asyik menatap keluar jendela. Melihat kerimbunan pohon rambutan yang berbuah sangat lebat di samping rumah. Minah semakin geram dengan sikap suaminya yang dinilainya sangat keterlaluan. Dan tidak bertanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga. Wanita paruh baya itu mendekati tubuh suaminya, menatap dengan saksama wajah tampan yang mulai memperlihatkan kulit keriputnya itu. “Pak, ayo kita coba cari anak kita malam ini! Ibu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” lirih Minah lagi dengan penuh harap. Jasri membalikkan badannya dan menghadap ke arah Minah yang tengah menunggu jawaban darinya. Lelaki itu menatap wajah wanita yang sudah dia nikahi dua puluh lima tahun silam. Dengan wajah serius Jasri mengatakan jawaban yang sedari tadi ditunggu istrinya. “Sabar, Buk. Kita tunggu saja hasil penyelidikan dari kepolisian, jangan beratkan pikiranmu dengan masalah sepele seperti itu,” jawab Jasri enteng. Dia kembali pergi setelah memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang ayah membiarkan anak gadisnya menghilang begitu saja tanpa kabar. Dan, bersikap acuh terhadap apa yang menimpa anak semata wayangnya itu. Minah terlihat semakin geram dengan sikap aneh suaminya beberapa hari ini. Banyak spekulasi yang bermain di dalam benaknya. Sementara itu di tempat yang terlihat sepi, tanpa seorang pun yang melintas di waktu senja seperti ini. Terlihat Jasri duduk termenung di bawah pohon, sorot matanya menatap jauh ke depan, sesekali lelaki berumur itu mendesah kasar dan mengusap air yang membuat penglihatannya semakin buram. “Maafkan aku, ini semua aku lakukan untuk kebaikan kita semua,” ucapnya lirih, ada sesak dan rasa berontak di dalam hati. Namun karena sebuah ancaman membuat lelaki paruh baya itu harus menuruti perkataan seseorang yang berhasil membuatnya takut dan tunduk. *** Dua hari yang lalu, di saat semua orang sibuk mencari keberadaan Mawar yang dikabarkan menghilang. Jasri yang baru saja selesai melakukan Shalat Magrib tiba-tiba didatangi oleh dua orang yang memakai penutup kepala berwarna hitam. Kedua orang itu menarik tubuh Jasri masuk ke dalam gudang miliknya. Satu orang dari mereka membekap mulut lelaki paruh baya itu dan menyudutkannya pada tumpukan karung gabah kering. Sementara yang satunya lagi memegangi kedua tangan Jasri kuat, agar tidak berontak. “Anakmu ada dalam genggaman kami, jika kamu masih ingin keluargamu selamat, hentikan pencarian itu dan jangan mencoba untuk macam-macam,” gertak seseorang dari mereka sambil terus menempelkan belati pada leher lelaki paruh baya tersebut. Jasri hanya bisa terdiam dengan tubuh yang terus gemetaran menahan takut. Hingga tanpa dia sadari ada cairan bening yang keluar dari burungnya yang bersembunyi di antara kedua pahanya yang terus bergetar. “Apa kamu mengerti, hah?” ucap lelaki bertopeng itu lagi. Jasri mengangguk tanda setuju. “Bagus, jaga juga istrimu. Jangan sampai dia berbuat sesuatu yang bisa berakibat fatal.” Jasri kembali mengangguk. Dia sudah cukup mengerti bahwa semua ini adalah suatu penculikan. Yang entah apa tujuannya. Detik berikutnya, salah satu lelaki bertopeng itu menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Jasri lalu meninggalkan tubuh malang itu setelah memastikan lelaki itu tertidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN