Tersesat

1475 Kata
Minah tidak lagi mengandalkan suaminya maupun orang lain, dia sudah mempersiapkan semua yang akan dia gunakan untuk melakukan pencarian anaknya. Dari senter, senjata tajam yang bisa digunakan saat terdesak, juga korek gas yang mungkin akan membantu pencariannya kali ini bila kemalaman di hutan. Wanita itu tidak ingin tergantung dengan orang lain yang selalu gagal melakukan pencarian anaknya. Dia sudah bertekad akan mencari Mawar hingga dia diketemukan. Entah itu masih hidup ataupun sudah mati. “Aku bisa, aku pasti bisa! Tunggu ibu, Nak! Sebentar lagi ibu akan menjemputmu pulang.” *** Tanpa sepengetahuan Jasri, suaminya. Wanita paruh baya tersebut beranjak pergi dari rumah lewat pintu belakang, setelah selesai melakukan Shalat Magrib. Tentu saat Jasri masih berada di musala yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Minah bergegas menuju ke sisir sungai yang tidak jauh dari rumahnya. Dia terus berjalan tanpa menggunakan alas kaki, agar tidak ada warga yang tahu. Baju yang dia kenakan pun serba hitam, yang membuatnya tidak akan terlihat dengan mudah. Minah, sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Setelah keanehan yang terjadi pada Jasri. Dia tidak ingin kembali sebelum menemukan Mawar dan membawanya pulang ke rumah. Di bawah pancaran sinar bulan purnama yang sesekali tertutup awan. Tampak Minah menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pohon jati yang tumbuh liar di kebun warga. Satu kilo dari batas hutan yang hendak dicapai. Minah dengan rasa penasaran yang kuat terus menatap kumpulan cahaya yang tampak seperti obor dari kejauhan. [Apakah itu warga yang meronda? Tapi ... Kenapa mereka bisa sampai di tempat itu? Apakah mereka juga hendak mencari Mawar?] batin Minah sambil terus waspada. Sungai yang dia susuri masih cukup panjang membentang, bahkan harus melewati obor yang mencurigakan tersebut. Minah tanpa rasa takut terus mendekat dengan sangat perlahan. Walaupun sesekali dia harus bersembunyi di balik rerumputan liar untuk menghindari sorotan cahaya obor. Seperti yang Minah lihat saat ini, cahaya obor itu mulai kembali bergerak dan masuk ke dalam hutan yang semakin gelap dan menyeramkan. Begitu juga wanita paruh baya itu, dia tidak lantas menyerah dan pergi. Rasa penasarannya semakin besar, mengalahkan rasa takut yang semula ada. Firasat keibuannya menuntunnya untuk terus maju dan menyibak misteri akan hutan angker yang digadang-gadang bisa membawa petaka bagi yang memasukinya. Hutan yang bersebelahan dengan Desa Paguyuban. Semakin jauh Minah masuk ke dalam hutan, suasananya pun semakin dingin dan mencekam. Ditambah lolongan hewan malam yang bersahut-sahutan tiada henti, membuat nyali wanita itu kian ciut. Minah menghentikan langkahnya, dia kebingungan seperti kehilangan arah. Bagaimana tidak, obor-obor yang semula menyala dengan terang di kejauhan tiba-tiba padam. Membuat Minah bergegas meraih sebilah pisau yang dia selipkan di pinggangnya. Tangan kanan wanita itu menggenggam pisau dengan erat, siap siaga jika ada pergerakan yang mengarah kepadanya. Sementara kedua kakinya sudah siap dengan jurus kuda-kuda ala bintang film persilatan yang sering nongol di TV. Wanita itu mempertajam pendengaran juga penglihatannya di dalam suasana hutan yang gelap. Saat dia mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat ke arahnya. Tubuhnya yang bergetar semakin mundur dan merapat pada pohon besar di belakangnya. Bug! Minah merasakan ada benda tumpul yang mendarat dengan cepat mengenai perutnya beberapa kali. Membuat tubuh wanita itu tersungkur ke tanah seketika. Dia merasakan ada cairan berbau amis yang keluar dari mulutnya sebelum dirinya benar-benar kehilangan kesadarannya. *** Sementara itu di rumah. Jasri yang baru saja pulang dari Musala mulai merasakan ketakutan, di saat dia tidak mendapati istrinya di rumah. Lelaki itu mencari hingga tiada ruang yang luput dari pencariannya. Bibirnya tiada henti memanggil nama istri tercintanya yang belum juga ia temukan. Sudah beberapa hari ini Jasri memang sengaja melarang istrinya untuk keluar rumah. Bukan karena dia suami yang posesif, tapi lelaki itu hanya ingin menjaga Minah dari orang-orang jahat yang tengah haus darah dan harta. Dan, Jasri sangat tahu itu. “Minah ... Kamu di mana, Sayang? Jangan siksa aku seperti ini, Tuhan ... Cukup aku harus kehilangan anak semata wayangku. Jangan pula istriku ikut Kau ambil!” lirih Jasri di antara Isak tangisnya yang hampir tidak terdengar. Meski Jasri hanya sebentar bertemu mereka [Orang-orang yang mengancamnya] tapi Jasri masih ingat saat suara penuh ancaman itu ditujukan padanya. Jasri pun bangkit, dia menyadari satu hal, bahwa diam bukanlah pemecah permasalahan. Dengan diamnya Jasri, itu berarti dia membiarkan kejahatan merajalela. Lelaki itu menyambar golok miliknya yang terselip di dinding, yang biasa dia pakai untuk mencari kayu di hutan, memasukkannya ke dalam rangka dan mengikatnya erat di pinggang. Jasri menyambar senter di atas meja, melangkah keluar lewat pintu belakang, agar tidak ada seorang pun yang mengetahui aksinya. Sesampainya di belakang rumah. Lelaki kurus yang sebagian rambutnya mulai beruban itu menoleh ke kanan dan ke kiri, dia terlihat bingung, jalan mana yang harus dia tempuh terlebih dulu. “Minah pergi ke arah mana, ya? Ke kiri ... Atau ... Ke kanan?” Jasri terlihat asyik berpikir sambil memegang dagunya yang juga ditumbuhi bulu-bulu hitam yang ikal, sama seperti kepalanya yang sudah botak separuh. “Kalau aku ke arah kiri ... Itu artinya menuju hutan angker, tidak mungkin wanita itu berani ke sana. Dia itu orang yang penakut,” ucap Jasri dengan menimbang-nimbang arah yang akan dia ambil. “Ah ... Lebih baik aku ke kanan saja, di sana sepertinya aman dan tidak mungkin ada hewan yang membahayakan.” Jasri pun mulai melakukan pencarian yang tentu saja akan membuat dirinya terlihat mencurigakan bila ketahuan warga desa. Karena penampilan Jasri yang seperti seorang maling. Dia mengenakan penutup kepala berwarna hitam yang hanya memperlihatkan mata, hidung dan mulutnya. Sementara selongsong golok yang terselip di pinggangnya membuktikan hal negatif terhadapnya semakin besar. Jasri melangkah dengan mantap dan sangat percaya diri. Melintasi jalan di perkampungan itu tanpa membuka penutup kepalanya. Tanpa dia sadari ada beberapa warga yang tengah meronda, mengikuti dirinya yang terlihat sangat mencurigakan. Lelaki itu masih tetap berjalan seperti biasa, meski dari kejauhan tampak beberapa warga berlari ke arahnya sambil berteriak-teriak. Jasri hanya menoleh kemudian kembali berjalan tanpa rasa takut. Hingga tiba saat dia mulai penasaran dan mencari tahu tentang apa yang tengah terjadi pada para warga yang kini berada sepuluh langkah di belakangnya. “Maling ... Maling ... Maling ...!” teriak para warga berulang-ulang sambil terus menunjuk ke arahnya. Namun, lagi. Jasri masih belum menyadari bahwa ternyata dirinya yang mereka maksudkan. “Di mana, toh, malingnya? Aku kok kagak liat,” ucap lelaki itu sambil menengok ke segera arah. Mencari tahu tentang sosok orang yang dimaksud sebagai ”Maling.” “Itu malingnya ... Kita tangkap sebelum dia kabur!” Salah satu warga berseru sambil terus menunjuk ke arahnya. Dan, di situ baru dia menyadari bahwa maling yang dikejar-kejar warga itu adalah dirinya. “Astaga ... Mati aku.” Jasri secepatnya pergi dari tempatnya berdiri saat ini. Dia lari tunggang langgang layaknya maling yang hendak kabur dari kejaran para warga. Lelaki itu terus saja berlari tanpa henti, tidak peduli semak belukar atau pun apa saja yang menghalangi langkahnya. Hingga tanpa lelaki itu sadari, dia sudah berada di tempat yang salah, tempat yang seharusnya tidak dia ketahui. Dia berdiri di depan sebuah rumah tua yang sangat jarang dikunjungi oleh pemiliknya. Rumah dua lantai yang terlihat sangat usang dan tidak terawat. Cat pada dindingnya pun sudah mengelupas, bahkan sebagian dinding ada yang berlumut dan di sekeliling rumah itu ditumbuhi rumput-rumput liar yang mulai meninggi. Namun, ada sesuatu yang aneh dan tidak lazim di sana, rumah itu terlihat sangat terang di luar karena ada sekitar lima lampu teplok di setiap pojok bangunan rumah tersebut. Jasri terdiam, dia berdiri mematung di tempatnya saat ini berada. Di tengah halaman rumah yang sangat luas. Menatap ke depan, di mana rumah tersebut berdiri kokoh. Tidak terlihat ada kehidupan di dalam sana, karena rumah itu tampak gelap dan menyeramkan. Hawa dingin terasa begitu nyata. [Di mana aku selama ini? Kenapa tidak tahu ada rumah sebesar ini di desa ....] Jasri seketika menghentikan batinnya untuk berbicara. Kala dia menyadari bahwa dia sudah tidak ada lagi di desanya. Lelaki itu menatap di sekelilingnya, tidak ada rumah sama sekali. Seperti yang dia lihat satu jam yang lalu. Kini yang ada hanya semak belukar dan pepohonan yang tumbuh liar di sekelilingnya. Pepohonan besar yang terlihat sangat gelap dan seolah hendak memangsanya hidup-hidup. Tubuh kurus itu gemetaran, dia beringsut mundur perlahan. Nyalinya menciut seketika, saat dia tahu dirinya kini sudah jauh meninggalkan desa. Berdiri di tempat yang seharusnya tidak dia ketahui. Tempat menyeramkan yang selalu diceritakan oleh para warga. Apakah Jasri takut? Tentu saja. Dia sejatinya adalah seorang lelaki yang sangat penakut dan selalu menutupi ketakutannya itu dengan sebuah kesombongan. Menyesal? Sudah pasti. Ingin rasanya dia berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Meninggalkan tempat itu dan tidur nyaman di rumahnya yang jauh dari kata sederhana. “Aum ... Aum ...!” Jasri seketika berjingkat, saat tiba-tiba terdengar suara lolongan hewan malam yang bersahut-sahutan di kejauhan. Suasana semakin mencekam kala sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul di jendela kaca yang terbuka. Seolah melambaikan tangan ke arah lelaki kurus yang kini berdiri seperti sebuah kayu hitam yang menancap di tengah halaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN