Di sebuah ruangan yang gelap dan lembab, seorang lelaki tampan berbadan kekar tengah duduk bersila di tengah lilin menyala yang mengelilinginya. Dia memejamkan mata, membaca beberapa mantera dalam bahasa yang sulit untuk dipahami. Tangan kanannya menaburkan bubuk kemenyan di atas dupa yang menganga. Menciptakan harum semerbak yang seketika memenuhi ruangan tersebut. Cukup lama lelaki itu duduk dengan khusyuk dengan bibir yang terus bergerak pelan. Hingga sebuah kepulan asap disertai suara seperti embusan angin kencang melesat tepat di atas lelaki itu. Mengelilinginya dan berhenti tepat di hadapan lelaki itu. “Nyai Kenanga,” ucap lelaki itu lirih dengan kedua tangan yang di satukan di depan d**a. Sementara kepulan asap itu semakin lama semakin tipis dan berganti dengan sosok wanita cant

