THE COMITMENT

1621 Kata
Summer mengerjap menatap Chase yang merangkul pundaknya dan mencubit kecil lengannya. Darah Summer berdesir hebat saat Chase mengatakan bahwa dia akan mewujudkan fantasi liar Summer yang bahkan sekarang tengah menari - nari di benaknya. "Benarkah?" Chase mengangguk. "Benar." Summer baru hendak mencium bibir Chase saat Chase mengatakan sesuatu. "Tapi nanti setelah aku memintamu pada Dadmu. Sekarang istirahatlah." Summer termangu. Dengan cepat Summer beranjak dari sofa secepat dia melepaskan pelukannya pada Chase. Napas Summer terengah. Pipinya memerah bahkan hingga menjalar ke telinganya. Sungguh memalukan. Bahkan Chase sudah terang-terangan menolaknya! Chase menatap Summer lembut. Mengulurkan tangan besarnya menggapai pinggang Summer hingga tubuh gadis itu kembali luruh ke sofa. Chase menghela napasnya pelan. "Jangan marah. Aku hanya perlu bicara padamu sesuatu yang serius. Mau mendengarkan?" Summer terdiam. Chase sungguh berbeda saat seperti ini. Suara bariton yang biasanya melafalkan kalimat yang terdengar formal dan kaku di telinga, sekarang terdengar sangat ramah namun penuh wibawa. Mengingatkan Summer pada sang Kakek, Ethan Leandro. Summer mengangguk ragu. "Well, Nona muda. Aku tidak tahu apa persisnya yang ada di kepala cantikmu ini? Sebuah hubungan harus mempunyai sebuah benang merah kejelasan dan batasannya. Aku sama sekali tidak menolak kau berfantasi liar tentangku. Bahkan kalau boleh aku akan menganggapnya sebuah sanjungan. Namun...akan seperti apa menurutmu hubungan ini? Sekedar s*x partner atau sesuatu yang lain? Aku tidak ingin kau memutuskan segala sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dulu. Sekarang...kondisimu sedang tidak baik sehubungan dengan Derek..." Summer menggeleng. "Bahkan aku tidak merasakan patah hati saat memutuskan hubunganku dengan Derek". "Bukan berarti kau harus berpindah hati secepat ini." Summer menatap Chase dalam. Menyelami netra abu-abu pria itu tanpa berkedip. "Bagaimana kalau ternyata aku jatuh cinta padamu? Pengawalku sendiri?" Suara Summer lirih penuh tanya. Chase mengusap sudut bibir Summer yang bergetar. "Maka kau akan beresiko terjebak denganku seumur hidupmu, Nona. Karena aku adalah pria dewasa yang hanya akan menjalani sebuah hubungan yang berakhir dengan pernikahan." Summer masih menatap Chase. Tak lagi hanya memikirkan dan melihat Chase sebagai pria yang seksi, tapi juga pria yang siap berkomitmen. "Pikirkanlah. Aku memaksamu. Berpikirlah seribu kali sebelum kau menyerahkan dirimu padaku, Summer Grace. Karena setelahnya, tidak akan ada jalan untukmu, untuk berlari dariku." Summer mengerjap. Oh...andai Summer tahu. Betapa Chase ingin mencium kelopak mata indah itu dalam dan lama. Summer menghela napasnya. Terdiam untuk waktu beberapa lama sebelum akhirnya beranjak. Melangkah keluar dari kamar Chase tanpa menoleh lagi. Chase menatap pintu yang baru saja di tutup oleh Summer. Gadis itu memilih keluar. Dan besar kemungkinan dia akan berubah pikiran. Sesuatu yang menyesakkan hinggap di d**a Chase. Andai Summer sampai berubah pikiran maka batasan itu akan semakin jelas. Pengawal dan Sang Nona. Seperti semula. Chase menghela napas keras. Setengah menyesali tindakannya menyuruh Summer berpikir lagi. Kenapa tidak menerima perasaan Summer? Walaupun dia masih berpikir bahwa Summer hanya berlari. Tentang cinta...bukankah bisa di pupuk kemudian? Chase menggeleng. Summer harus berpikir. Harus karena Chase bukan pria yang akan melabuhkan hati pada sembarang dan banyak wanita. Sekali terjalin sebuah komitmen dan Summer menyetujuinya...maka sekuat tenaga dia tidak akan melepaskan seorang Summer Grace...sekalipun dia adalah seorang Leandro! Jadi biarlah Summer berpikir daripada nantinya semua timpang dan menemui kegagalan. Chase mengunci pintunya lalu beranjak ke kamar mandi. Chase tak berlama - lama mandi. Keluar dan memakai sebuah kaos dan boxer. Chase menutup jendela dan tirai. Lalu mencoba merebahkan diri di ranjang dengan helaan napas kuat. Dulu saat mengabdi pada militer hidupnya tak seberat ini walaupun berada di daerah konflik yang penuh ketegangan hampir setiap hari sekalipun. Tapi sekarang? Dua hari bersama seorang Nona Leandro benar - benar telah membuatnya merasakan beratnya berpikir. Benar adanya kalau ini sudah menyangkut sesuatu yang bernama perasaan dan kata ajaib yang bernama cinta. Maka bersiaplah untuk merasakan rasa bingung, dan pikiran yang menjadi porak poranda. Apalagi untuk Chase yang terbiasa hidup dengan pola hidup seperti...robot? Kaku dan sesuai prosedur. Dunianya tak akan pernah sama seperti tiga...hampir empat bulan lalu saat semua berjalan dengan profesionalitas sebagai dasarnya. Chase berbalik. Memiringkan badannya membelakangi jendela yang sudah memperlihatkan bayang malam dari balik tirainya. Sebenarnya dia tidak perlu berpikir apapun untuk menerima perasaan Summer karena dia bahkan sudah jatuh cinta pada gadis itu! Tapi...bukankah wajar jika dia harus memastikan perasaan gadis itu apalagi gadis itu baru saja menjalani fase berpisah atas hubungannya dengan seorang Derek McClain yang mempunyai kadar ketampanan bak dewa - dewa Yunani? Chase kembali menghela napasnya pelan dan mulai memejamkan matanya. Selain harus memastikan perasaan Summer, ada banyak hal yang masih harus di selesaikannya. Tentang hidupnya. Tentang sebuah urusan keluarga yang hanya Zachary Leandro yang tahu. Chase terlelap dalam lelah. Bukan lelah raga namun lelah jiwanya. Malam semakin turun dan suara mobil di kejauhan semakin jarang terdengar. Milan tak pernah sepenuhnya tertidur namun lengang juga tak bisa di pungkiri saat malam menjemput dini hari dengan rangkakan yang terasa amat perlahan. Melelapkan jiwa-jiwa lelah seperti halnya Chase Dagwood. ---------------- Chase menggeliat pelan. Namun gerakannya urung saat merasakan tangan mungil nan halus melingkari dadanya. Juga kaki yang indah dengan betis kencang yang mengunci pinggangnya. Secara cepat, Chase otomatis membuka mata. Melihat siapa penyusup yang tidur di ranjangnya. Mata Chase mengerjap tak percaya. Summer tertidur begitu lelap memeluknya. Tertidur di hadapannya dengan posisi yang sama sekali tak manis. Chase menyibak rambut pirang madu Summer dan menyelipkannya pelan di balik telinganya. Pipi putih gadis itu terlihat begitu halus. Bibir merah muda itu menyunggingkan senyum seakan pemiliknya sedang bermimpi indah. Chase menarik selimut. Menyelimuti tubuh mereka hingga ke pinggang. Chase...hingga beberapa saat menikmati pemandangan indah di depan wajahnya. Hanya berjarak beberapa centi dan membuainya. "Aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku akan lebih menawan lagi dari hari ke hari hingga nanti umurku 22 tahun." Chase terkejut. Summer bahkan berbicara tanpa membuka matanya. Hening untuk beberapa saat sampai Summer membuka matanya pelan. " Aku jatuh cinta padamu, Chase Dagwood. Jauh sebelum aku menyadarinya. Aku terlalu sibuk memandangi pelangi yang indah di kejauhan yang nyatanya tak mampu mengubah warna hidupku. Dan aku mengabaikan seseorang yang ternyata mampu membuatku merasakan sebuah kehilangan yang menyakitkan hanya dengan aku meninggalkannya untuk sejenak". Chase membeku. "Aku sudah berpikir hingga lama. Yah...selain aku yakin dengan perasaanku sekarang. Aku juga percaya pilihan Dad tak akan pernah salah. Kau tahu...hubunganku dan Dad kadang memburuk. Aku rasa di saat itulah Dad menjadi semacam Hitler yang otoriter." Chase menyentuh sudut bibir Summer lembut dan mencoba menggeleng. " Semua Ayah akan tiba - tiba berubah menjadi sosok Hitler jika putrinya secantik dan senakal dirimu". Summer tersipu. Lalu mencebik kesal. Chase tertawa pelan. Sifat Summer hampir pasti mirip dengan sang Ibu, Skyla Leandro. Chase beberapa kali melihat Ibu Summer itu mencebik dan menghentakkan kaki kesal pada seorang Zachary Leandro. Dan...hal itu selalu sukses membuat Bosnya itu luluh tak berdaya. Merayu dan membujuk istrinya itu dengan rayuan gombal yang membuatnya terlihat kehilangan kadar kewibawaannya hingga 80 persen. "Chase..." "Hmm..." "Bagaimana?" Chase menatap lekat pada Summer. Menghela napasnya pelan dan mengusap pipi Summer berulangkali. "Aku akan bicara dengan Tuan Zachary dulu." Summer kembali mencebik keras. Terdengar sangat manis di telinga Chase. "Hanya untuk mengatakan...Aku jatuh cinta pada putrinya dan akan meminangnya saat dia berusia 20 tahun nanti." Summer memberengut kesal. Membuat Chase menaikkan alisnya heran. "Itu masih lama. Aku baru saja 19 tahun." Chase kembali tertawa pelan. Ini sepertinya akan terbalik. Gadis ini yang akan mengikatnya erat - erat hingga dia tidak mungkin bisa berpaling. Bukan dia! Chase melihat Summer terpaku. "Kau mencintaiku!" Pekikan Summer tak terhindar lagi. Oooh....kesadaran yang sungguh terlambat. Summer mengerjap berulang kali. Menatap Chase dengan binar bahagia yang begitu kentara. Chase mengusap pipi Summer berulangkali. Gadis ini tetaplah masih gadis 19 tahun yang terkadang akan meluap tak terkendali. "Aku mencintaimu, Summer Grace." Chase berbisik lirih. Namun bisikan selirih itu nyatanya sanggup membuat Summer terpaku dan menatap Chase dengan mata yang kian meredup lembut. Bibir Chase meraih apa yang sedari tadi ingin di raihnya. Mencium kening Summer dalam dan lama. Mendengarkan deru napas gadis itu yang tertahan. Chase menjauhkan wajahnya. Menatap wajah Summer yang memerah begitu cantik. "Baiklah..." Chase mendaratkan ciumannya di bibir Summer. Menggigitnya lembut hingga Summer terpekik lirih sebelum akhirnya mengikuti irama bibir Chase. Chase bergerak mengungkung tubuh mungil Summer di bawahnya. Ooh...dia akan selalu tahu batasannya. Dan Zachary Leandro pasti akan membunuhnya andai dia meniduri putrinya ini sebelum menikah. Gerakan saling menyentuh dan menekan semakin menjadi liar seiring dengan pagutan bibir mereka. Summer melenguh...membawa Chase pada kesadarannya. Menatap Summer yang menatapnya dengan napas terengah. Chase menggeleng. Menumpukan kedua tangannya di samping kanan kiri tubuh Summer. Summer terlihat memutar bola matanya kesal. "Baiklah. Aku tidak keberatan kita hanya akan berciuman dan saling tindih seperti ini sampai kau benar - benar menandaiku nanti." "Summer..." Chase menggeram kesal. Gadis itu bahkan sangat ringan mengeluarkan kata - katanya. Summer meledak. Tertawa keras sambil meraih tubuh Chase. Membawanya melekat pada tubuhnya. "Kau kaku sekali, Mr Dagwood dan itu menggemaskan." Chase menggeleng. Melemparkan tubuhnya ke samping dan memeluk Summer erat. "Jangan menggodaku berlebihan. Aku pria 25 tahun." "Kau tidak harus menahan diri." "Aku masih ingin kepalaku bertengger di tubuhku." Summer tergelak. "Dad tidak akan membunuhmu hanya karena kau bercinta dengan putrinya. Well...kita hanya akan mendapatkan sedikit ceramah. Minimal dua jam." Chase bergidik ngeri. Itu sama mengerikannya. Mereka terdiam. Membiarkan matahari menyelinap masuk melalui jendela. "Apa sekarang kita sepasang kekasih, Chase?" "Kita sepasang kekasih." Summer tersenyum. Mengusap lengan Chase yang memeluknya erat. Summer teringat sebuah novel yang pernah dibacanya saat dia berusia 16 tahun. Seorang gadis dari kalangan bangsawan yang jatuh cinta pada pengawalnya sendiri. Pengawalnya yang ternyata adalah pewaris gerakan hitam bawah tanah. Seorang putra mahkota kerjaan Mafiosso. Cerita yang mengharu biru penuh tawa, darah dan airmata sang putri dengan pangeran dari kerjaan mafia di mulai dari sana... "Apakah kau seorang putra mahkota Chase? Pewaris kerajaan Mafia yang sangat besar?" Pertanyaan Summer mengalun seakan dia tak menyadari pertanyaan itu. La Cosa Nostra? Chase membeku seiring ponselnya yang berdering... ---------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN