Chase menatap Summer dalam. Mencari dan mencoba mengartikan kata-kata yang terucap dari bibir yang baru saja dicecapnya.
Chase menghela napasnya pelan. "Jangan pernah berlari dari apapun, Nona. Semoga anda bisa memastikan bahwa semua ini tidak benar."
Tubuh Summer luruh. Menjauh dari Chase.
Summer mengangguk ragu. "Kau benar. Maafkan sikapku." Chase merasa pandangan mata Summer sangat...entahlah...terluka?
Summer berbalik dan melangkah cepat keluar dari kamar Chase menuju kamarnya. Menyisakan Chase yang berdiri bingung sambil mengusap kepalanya.
Lalu terdengar jeritan dan teriakan Summer lima belas menit kemudian membuat Chase segera berlari ke arah kamar Summer.
Pintu kamar terbuka. Terlihat Derek yang tengah mencekal pergelangan tangan Summer dengan keras.
Chase merangsek masuk. Mendorong Derek menjauh dari Summer. "Pergilah! Sebelum terjadi apa-apa denganmu", ujar Chase penuh penekanan.
Derek dengan wajahnya yang penuh kesombongan. Kilatan matanya begitu menakutkan. "Maafkan aku Summer, sayang....aku tidak bermaksud seperti itu."
Pandangan mata Derek meredup. Mulai berkata-kata manis mengabaikan Chase yang berada di dekat mereka
Summer luruh.
"Pergilah, Chase. Aku baik - baik saja."
Chase menoleh. Menatap Summer yang tersenyum miris.
Chase menoleh ke arah Derek yang tengah bersimpuh di depan Summer. Memohon dan meratapi kesalahannya.
Chase menghela napasnya pelan. Menggeleng dan dia melihat sudut bibir Derek yang tersenyum licik penuh kemenangan.
Chase keluar dari kamar Summer dan tetap membiarkan pintu terbuka. Dia merasa harus bersiaga di koridor.
Masih terdengar suara Derek yang mengalunkan rayuan-rayuan yang di telinga Chase terdengar seperti bunyi gemerincing uang recehan yang berserakan di lantai.
Tak terdengar suara Summer. Hingga kemudian Chase memutuskan kembali ke kamarnya. Merasa semua aman dan sebejat apapun seorang Derek McClain, dia akan berpikir sejuta kali untuk melukai seorang Leandro.
Chase duduk di sofa. Menunggu apa kelanjutan dari drama yang di ciptakan oleh Derek. Akan berakhir indah mungkin...karena Chase melihat, Summer terasa luluh.
"Ciuman itu tidak berarti apa - apa", batin Chase sambil menggeleng.
Chase kembali berdiri sepuluh menit kemudian ketika terdengar pintu kamar Summer tertutup. Chase melongok dari pintu kamarnya dan mendapati Summer yang keluar dalam gandengan tangan Derek.
Sejenak Summer menatapnya. "Tidak usah memberiku pengawalan, Chase. Derek bersamaku. Istirahatlah."
Chase termangu. Sudut matanya menangkap Derek yang tersenyum puas sambil mencium puncak kepala Summer dengan gerakan berlebihan. Sedang Summer terlihat membenarkan letak tas selempang nya.
Chase menutup pintu sesaat setelah Summer dan Derek menghilang di balik lift.
--------------------------------
Chase memutuskan untuk makan siang di restoran hotel daripada harus memesannya dan tetap berada di kamarnya yang entah mengapa berubah menjadi sedikit panas.
Chase duduk sambil menyebutkan pesanannya pada seorang gadis cantik bersurai coklat kehitaman yang kebetulan menjadi waiter di sana. Kebetulan sekali gadis itu juga menatap Chase laksana menemukan barang bagus di depan matanya.
Chese mendengus dalam hati. Seorang wanita jelas berkurang nilainya saat wanita itu memandang pria dengan tatapan liar. Chase menunduk menekuri ponselnya, membuat gadis waiter itu menghela napas pelan dan segera berlalu.
Pesanan datang sepuluh menit kemudian dan Chase tetap memberikan cita rasa kekalahan pada gadis waiter yang entah mengapa mencoba mengajaknya bicara dan akhirnya menyerah kalah dengan berbalik menuju habitatnya.
Chase mendesis. Jelas sekali dia sudah memberikan stempel tak langsung bahwa pria Amerika tak cukup ramah untuk wanita Italia.
Chase menikmati makan siangnya. Mengabaikan rasa aneh yang sejak tadi menggelitik hatinya. Mencoba menempatkan semua pada posisinya. Chase yang seorang pengawal bagi seorang Nona besar bernama Summer Leandro.

Akan tetap seperti itu walaupun sepanas apapun ciuman mereka...dan sebesar apapun gairah yang coba dia ingkari. Toh, Summer tetaplah memuja seorang Derek McClain dengan sejuta pesona yang membuat gadis manapun rela bertekuk lutut di hadapannya. Membuka kaki jenjang mereka dan siap mengangkang memberikan kepuasan.
Chase menatap makanan penutupnya. Tak lagi berselera menghabiskannya saat bayangan Summer berkelebat. Berjalan cepat di balik kaca pembatas restoran. Sedang apa dia? Bukankah seharusnya dia masih bersama Derek sekarang? Sudah satu jam lebih dia melepaskan pengawasannya pada gadis itu. Dan seharusnya dia tidak melakukannya.
Tapi tetap saja, Summer membutuhkan waktu dan privasi lebih saat bersama Derek. Itu yang selalu ada di pikiran Chase selama ini.
Chase mengangkat tubuhnya. Berjalan untuk membayar makan siangnya. Tangannya sibuk mengeluarkan kartu debet dari dalam dompetnya ketika dia melihat sosok Summer masih berdiri di depan lift dan saat Chase menatapnya dari pintu restoran, kelabat gaun yang di pakai Summer menghilang di balik lift.
Chase menyelesaikan pembayaran makan siangnya dan bergegas menuju lift yang sialnya tidak terbuka dengan cepat dan ada beberapa lansia yang terlihat mesra di depannya.
Chase membawa kedua tangannya ke dalam kantung celananya. Gerakan biasa yang entah mengapa membuat dua gadis yang berada di belakangnya menjerit tertahan. Chase hanya mampu menaikkan satu alisnya heran.
Lift terbuka dan Chase menunggu para lansia itu masuk. Juga mempersilahkan dua gadis tanggung itu masuk terlebih dulu. Sekali lagi dua gadis itu tersenyum dan terkikik pada akhirnya tanpa melepaskan pandangannya pada Chase.
Chase menghela napas saat para penumpang lift turun seluruhnya. Menyisakan dia yang harus terus naik ke lantai paling atas.
Chase setengah berlari keluar dari lift dan segera menerobos ke kamar Summer. Chase mengedarkan pandangannya. Kamar itu terang benderang karena tirai terbuka seluruhnya. Dari balkon dapat terlihat bangunan bangunan eksotik abad pertengahan mendominasi kota ini.
Chase memeriksa semua ruangan. Bahkan hingga ke kamar mandi dan balkon. Dan dengan konyol dia juga memeriksa kolong tempat tidur. Namun tidak ada Summer di manapun. Padahal jelas sekali Summer baru saja masuk ke kamar ini dan tidak menguncinya lagi.
Chase keluar. Menutup pintu kamar Summer dan melangkah ke kamarnya. Membukanya dan terpaku.
Summer...obyek di muka bumi ini yang sedari tadi di carinya ternyata sedang duduk di sofa kamar hotelnya.
Abaikan bagaimana dia bisa masuk ke kamarnya. Dia seorang Leandro dan bisa mendapatkan kunci cadangan kamar hotel siapapun apalagi kalau hotel itu adalah salah satu jaringan bisnis keluarganya.
Chase berdeham.
Summer tak bergerak. Mengganti chanel televisi berulangkali tanpa menoleh sedikitpun pada Chase. Bahkan saat sofa itu terasa melesak karena Chase duduki, Summer tetap terdiam.
Chase mengutuk dirinya. Dia sama sekali tidak akan pernah mengerti mahkluk ber gender wanita yang Chase pikir memang sulit untuk di mengerti.
Chase memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Menatap langit-langit dan merasa bahwa Summer tak ingin di usik saat ini.
Semenit, dua menit hingga Chase terpaku saat sebuah tangan melingkari perutnya. Menggesek halus bantalan-bantalan yang hanya pernah di lihat oleh Summer. Menciptakan sensasi menggelinjang di dalam hatinya.
Chase hendak beranjak ketika di rasanya gelengan kepala Summer di dadanya.
"Anda?"
Hanya itu yang terucap sebagai apresiasi kekagetan Chase atas sikap Summer.
Summer kembali menggeleng. "Aku selalu berpikir...patah hati itu akan sangat menyakitkan. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Ada sedikit rasa...entahlah apa namanya. Tapi itu bukan rasa sakit."
Chase tertegun. Ingin bertanya namun menelan utuh-utuh pertanyaannya.
Summer menghembuskan napas hangatnya pelan. Yang dengan sialannya...menerpa d**a Chase membuat otak Chase mau tak mau mengoperasikan satu hal yang bernama fantasi liar seorang pria.
Seperti apa wajah cantik Summer saat dia memerangkapnya di bawah kungkungan tubuhnya?
Summer mengusap lengan Chase. Menusuknya lembut dengan telunjuknya. "Chase...aku memutuskan hubunganku dengan Derek."
Chase terpaku. Dengan tidak sopan, jelas sekali kelegaan menghampiri hatinya. Namun dia hanya diam.
"Kupikir...aku akan sakit hati. Tapi, nyatanya tidak. Dia marah. Aku seharusnya lebih marah."
Summer kembali menggeleng. Pipinya menggesek d**a Chase lagi dan lagi. "Tidak terasa sakit...rasa sakit itu justru karena meninggalkanmu di sini sendiri, Chase."
Chase terpaku. Menunduk menatap Summer yang mendongak hingga menyisakan jarak yang hanya beberapa centi di antara wajah mereka.
"Nona?"
"Summer Grace." Summer menyebut namanya sendiri seakan menyuruh Chase memanggilnya dengan namanya. Bukan dengan sebutan formal berupa Nona.
Suasana menjadi hening tanpa mereka melepaskan pandangan mata mereka satu sama lain. Hingga tangan Chase mengusap sudut bibir Summer lembut.
Mata gadis itu mengerjap. "Apa kau tidak ingin mencium ku, Chase?"
Pertanyaan lirih itu menyentak Chase dari keterpakuan nya akan keindahan wajah Summer. Bentuk wajah sempurna dan kulit tanpa noda. Bulu mata yang terlalu lentik dengan alis melengkung indah membingkai netra berbeda warna itu. Hidung kecil khas para puteri pilihan yang berasal dari gen superior. Lalu bibir yang merekah sedikit terbelah menambah tajam kecantikan Summer. Juga netra berbeda warna yang sanggup menenggelamkan siapapun yang menatapnya. Perpaduan sempurna yang di hasilkan oleh seorang Zachary Leandro dan Skyla Leandro. Di tambah wangi pinus yang menguar dari tubuhnya?
Hanya pria bodoh yang mengabaikan semua itu!
Binar geli? Berkelebat di mata Summer melihat Chase yang kebingungan. Manusia seperti apa Chase Dagwood ini? Hingga mampu mengabaikannya saat mereka sudah dalam posisi seintim sekarang?
Pria lain akan segera menerjangnya saat dia menawarkan sebuah ciuman pada mereka. Akan segera membuka pahanya lebar - lebar dengan beringas untuk meledakkan gairah ke dalam dirinya.
Lalu? Tidak terbersit kah niatan itu di hati Chase? Memerangkap nya di bawah tubuh liatnya. Membuatnya mengerang dan mendesah tak tahu malu? Membuatnya menangis saat tak kuasa menahan kenikmatan Chase yang melesak jauh dalam dirinya...
"Hentikan fantasi liarmu, Nona." Serak suara Chase membuat Summer mengerjap.
Chase bahkan tahu apa yang ada di pikirannya!
Chase menunduk. Menatap mata Summer tajam. Menghembuskan napas hangat yang membuat Summer menahan napasnya sendiri. Mengurung udara yang di salurkan Chase erat di dadanya.
Chase kembali mengusap lembut sudut bibir Summer. Membuat gadis itu reflek bergerak. Mengecup telunjuk Chase dengan tak tahu malu.
"Kau ingin aku mewujudkannya untukmu?" Pertanyaan yang membuat Summer kembali menahan napasnya.
"Fantasi liar mu akan tubuhku? Aku akan mewujudkannya untukmu, sugar."
Bisikan yang mengalun lembut di telinga Summer di sertai gigitan kecil bibir Chase membuat sesuatu berkedut di bawah sana. Gelegak jiwa perawan nya memberontak. Menuntut untuk segera di hancurkan hingga berkeping-keping...
---------------------------------