CONFUSED (1)

1792 Kata
Summer berjalan keluar dari hotel. Berhenti sejenak di dekat pintu. Di dinding dekat pintu super besar itu terdapat rak kayu yang menempel menyatu dengan dinding. Berbagai brosur tentang destinasi wisata, hotel, dan spot - spot kuliner berjajar rapi. Summer mengambil salah satu brosur itu dan membacanya dengan teliti. Chase berdiri tegak di belakang Summer. Membetulkan jaket nya sejenak sebelum mengikuti Summer yang berjalan keluar dari hotel. Summer memilih berjalan di sepanjang trotoar sambil membaca brosur. Chase berjalan agak dekat dengan Summer dengan sesekali memberikan tatapan dingin pada banyaknya pemuda yang menatap Summer dengan pandangan yang menelanjangi. Chase menggeleng. Bagaimana para pemuda itu tidak menatap Summer dengan pandangan berminat kalau pakaian yang di pakai Nona nya itu sungguh menggoda dan entah mengapa menjadikan Nonanya itu tampak berlipat kali lebih menarik? Summer menyelesaikan bacaannya dan menoleh pada Chase. " Kita makan". Chase mengangguk. Sejurus kemudian ponselnya berbunyi sementara dia serius memperhatikan langkah Nonanya. Chase mengangkat telpon nya yang ternyata dari Bos nya. Zachary Leandro. Chase menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh Zachary sementara dilihat nya Summer tengah mengambil foto dirinya sendiri sambil terus berjalan di sepanjang trotoar. Chase mengantongi lagi ponselnya setelah Zachary menutup panggilan telpon. Chase kembali berkonsentrasi pada Nona nya yang ternyata berbelok ke sebuah restoran dan memasukinya. Chase mengambil tempat duduk di meja sedekat mungkin dengan Summer sebelum akhirnya Summer menariknya untuk duduk di sebelah nya. Chase meletakkan jaketnya. Menekuri meja sementara Summer memesan makanan pada waiter yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping meja mereka. Suasana restoran sedikit lengang. Walaupun nyatanya cukup banyak pengunjung di beberapa titik ruangan itu. Kebanyakan dari mereka tengah mengobrol dengan suara pelan bahkan ada yang sedikit berbisik hingga harus mencondongkan badannya pada lawan bicara nya. Pesanan datang lima menit kemudian dan Summer menatap Chase yang hanya terdiam. " Apa kau tidak menikmati liburanmu di sini Chase? Kau...tampak murung". " Tidak Nona. Saya menikmatinya. Terimakasih". Summer menatap Chase lekat. " Kau terlihat kurang nyaman". " Tidak Nona. Saya baik - baik saja". Summer mengangguk ragu. " Baiklah, ayo kita makan". Chase terlihat mengangguk kaku dan mengulurkan tangannya. Mengambil makanan dan memakannya dengan gerakan sama kaku dengan anggukannya barusan. Summer menghela napas putus asa. Dalam hati dia berjanji, akan mengajari Chase bersikap agak santai kalau dia ada waktu nanti. Mereka makan dalam diam. Menikmati hidangan khas restoran yang ternyata ada dalam brosur yang tadi di baca oleh Summer. Mereka menghabiskan hampir satu jam di dalam restoran sebelum akhirnya mereka keluar dari restoran dan kembali melangkah di sepanjang trotoar. Lampu - lampu di jalanan mulai menyala. Senja menjadi temaram. Chase menatap Summer yang berjalan di depannya. Dengan gerakan samar yang sangat terlatih Chase juga mengawasi sekelilingnya. Memastikan keamanan Summer adalah prioritas utamanya. Mereka akhirnya berkeliling cukup lama hingga Summer menghentikan langkahnya. Summer menoleh. " Ternyata aku sangat lelah dan mengantuk, Chase". Summer menunduk dengan bahu terkulai. Chase tetap berdiri. Menunggu Summer berjalan kembali. Namun pada kenyataannya Summer justru terdiam. " Maukah kau menggendongku, Chase?" Chase terpaku. Suasana menjadi canggung untuk Chase. " Baik, Nona". Chase membungkuk dan Summer perlahan naik ke punggung Chase. Merebahkan kepalanya di bahu Chase dan mulai memejamkan mata. Beberapa orang terlihat tersenyum melihat pemandangan itu. Mungkin mereka berpikir mereka adalah sepasang kekasih. Dan sang wanita terlihat kelelahan setelah berjalan - jalan dan sang pria dengan sepenuh hati menggendongnya. Chase melangkah tak terlalu cepat. Menghitung dalam hati bahwa hotel tempat mereka menginap sudah dekat. Lalu lalang orang semakin ramai. Membuat Chase harus sesekali memiringkan tubuhnya memberi jalan. Saat berbelok ke kiri, langkah Chase sedikit tertahan. Tertahan oleh pemandangan yang membuatnya merutuk dalam hati. Chase menghela napas pelan dan mempercepat langkahnya demi memastikan bahwa Summer tak melihat apa yang dilihatnya barusan. Deru napas halus Summer membelai leher Chase. Membuat Chase lega. Setidaknya Summer terlelap. Jadi besar kemungkinan Summer tak melihat kelakuan Derek yang tengah b******u dengan seorang wanita dalam sebuah kerumunan muda - mudi yang sedang menikmati hari yang menjelang malam. Dan setahu Chase, ini bukan kali pertama Chase melihat dan mengetahui tingkah liar seorang Derek McLain. Chase berbelok memasuki halaman hotel dan akhirnya membawa Summer menuju kamarnya. Chase membuka pintu kamar Summer dan membawa gadis yang terasa begitu ringan dalam gendongannya itu menuju ke ranjang nya dan merebahkan nya pelan. Chase menyalakan lampu tidur lalu menatap Summer lekat. " Kau berhak mendapatkan yang berlipat kali lebih baik darinya, Nona". Hening. Chase berbalik. " Aku tahu apa yang di lakukan oleh Derek. Tapi aku mencintainya". Chase yang sudah mencapai pintu kamar menoleh. Mendapati Summer yang sudah terduduk di ranjang. Chase mengangguk. Apa yang bisa di lakukannya kalau Nonanya itu sudah berkehendak. Summer menggeleng. " Aku mencintainya dengan membabi buta. Aku tidak tahu ini apa. Tapi...aku mencintainya". Chase menatap Summer yang masih terduduk. Cahaya temaram lampu tidur sekilas memperlihatkan wajah Summer yang begitu terluka. Chase mendekat dengan kaku. " Nona". " Aku...melihatnya, Chase. Tanpa kau bilang pun aku baru saja melihatnya. Aku hanya tak ingin membuat keributan". Summer menatap Chase yang masih berdiri tak jauh dari dirinya. " Dad...Dad tahu kelakuan Derek bukan? Dan itu membuatnya menolak Derek? Chase...". Chase mengangguk. Menatap iba pada Nonanya yang terlihat begitu terluka. " Aku yakin suatu saat dia akan berubah". Chase menghela napasnya pelan. Ingin rasanya membuat gadis belia itu tahu dan menyadari bahwa pilihannya salah. Apalagi kalau sampai Summer tahu betapa Derek hanya menganggapnya boneka manja keluarga Leandro! Chase menelan ludahnya susah payah. Berusaha menepis ingatannya pada kejadian beberapa minggu lalu saat Chase secara tak sengaja mendengar percakapan Derek dengan seorang teman modelnya. Bahwa dia...Derek McClain tidak mencintai Summer Grace Leandro dengan sungguh - sungguh dan hanya ingin mendapatkan ketenaran dengan menjadi kekasih gadis itu. " Selamat beristirahat , Nona". Chase berbalik dan melangkah menjangkau pintu. Keluar dari kamar Summer menuju kamarnya sendiri. Chase menyalakan lampu. Menggeram kesal dan meluapkannya dengan meninju sofa hotel dengan keras. Chase termenung di sofa. Duduk dengan kaki selonjor. Menghela napasnya pelan dan membuat ketenangannya kembali seperti semula. ---------------------------- Hari ke dua di Milan... Chase berdiri di depan kamar Summer dengan pikiran yang berkecamuk muak. Ini sore ke dua mereka berada di Milan. Dan sore nya menjadi sedikit memuakkan saat Derek dengan wajah tak berdosa dan kata - kata manisnya datang ke kamar hotel Summer. Berpura - pura kaget dengan kedatangan Summer yang tak di sangkanya. Mereka terlihat begitu menikmati bercengkerama di dalam kamar. Berbagi pelukan dan ciuman sementara Chase yang baru selesai di panggil oleh Summer melangkah keluar dan berjalan mondar - mandir di sepanjang koridor. Terdengar tawa Derek dari dalam kamar. Dalam pikiran Chase, Derek adalah aktor yang sangat hebat. Lalu...kenapa Summer seperti itu? Apa yang membuat seorang Summer Leandro begitu menggilai Derek yang b***t? Bahkan dengan mudahnya, Summer mengabaikan kesalahan Derek yang berulang kali terjadi. Chase memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Hingga satu jam kemudian, Derek terlihat keluar dari kamar Summer dan melangkah dengan tenang menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah. Chase yang hendak keluar dari kamar mengurungkan niatnya dan memilih untuk tetap berada di kamar. Chase menuang jus jeruk ke dalam gelas dan membawa sekantung besar keripik kentang ke sofa. Menyalakan televisi dan mencari chanel olahraga. Chase mengganti chanel berulangkali dan berhenti pada chanel yang sedang menayangkan sebuah pagelaran orkestra dengan Carlo de Antonis yang sedang menyanyikan sebuah lagu klasik dengan suara soprannya. Chase begitu menikmati acara itu dan terlena dengan keindahan suara sang penyanyi. Dia selalu berminat dengan musik. Jenis apapun. Bahkan hingga ke musik klasik ataupun heavy metal. Chase selalu merasa betapa jiwanya begitu bebas saat bermusik. Chase tiba - tiba merindukan kamarnya di bangunan di sisi mansion Leandro. Dan gitarnya yang akhir - akhir ini jarang di mainkannya. " Chase". Suara lirih sarat isak tangis membuat Chase urung mengangkat gelas jusnya. Meletakkan gelasnya di meja dan menoleh ke belakang. Chase beranjak cepat saat mendapati Summer yang berurai airmata. Menangis terisak dengan pandangan mata yang begitu terluka. " Derek...dia mengatakan pada temannya bahwa aku adalah boneka manja...aku...aku...menyusulnya ke lobi untuk...maksudku...dompetnya tertinggal. Dan aku tak sengaja mendengar...dia mengatakan itu Chase...". Summer mengacungkan dompet hitam milik Derek. Tangan gadis itu gemetar dan dompet itu luruh ke lantai. Chase terpaku. Bingung harus melakukan apa. Hingga Summer melangkah cepat ke arahnya.... Bibir gemetar Summer mencium bibir Chase keras. Menuntut balasan di sela isakan gadis itu yang terdengar sangat putus asa. Summer tak berhenti walaupun Chase jelas terlihat kaget dan bingung. Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Chase, memperdalam ciuman mereka. Kepala Chase terasa pening saat tangannya bergerak. Meraih pinggang ramping Summer dan bibirnya bergerak membalas ciuman Summer. Ciuman itu semakin keras dan kasar dengan di sertai gigitan - gigitan yang sedikit menyakitkan. " Nona". Chase menatap Summer yang masih memejamkan mata. Kening mereka beradu. Napas hangat mereka saling menerpa. " Apa aku manja, Chase?" Chase menggeleng. Summer adalah salah satu kesayangan keluarga Leandro dan Chase tahu hal itu tak membuatnya menjadi gadis yang manja. Bahkan Summer sangat mandiri di usianya yang baru 19 tahun. " Apa aku tidak cantik dan menarik?". Chase kembali menggeleng. Summer adalah gadis tercantik dan paling menarik yang pernah di temui nya selama 25 tahun masa hidupnya. " Apa kau tidak menginginkan ku seperti halnya Derek?" Chase terpaku. Membuka matanya dan menatap manik mata berbeda warna milik Summer yang selalu mampu membiusnya. " Jangan berlari, Nona". Summer kembali meneteskan airmatanya. " Bahkan kau tidak menginginkanku" Chase menggeleng. Jelas bukan seperti itu. Kalau bisa bicara jujur, Chase menginginkan Summer melebihi apapun di dunia. Summer menunduk. " Aku mendengar apa yang di bicarakan Dad padamu. Bahkan Dad lebih memilihmu di banding Derek...tapi...kau bahkan tak menginginkanku...sama seperti Derek". Summer luruh. Bahunya terkulai dan dia memutar tubuhnya. Hingga tubuhnya kembali membentur d**a liat Chase detik berikutnya. Summer terkesiap. Menatap Chase yang juga menatapnya dengan pandangan sendu. Chase bergerak. Tangannya mengeratkan pelukannya pada pinggang Summer. Persetan dengan semua keraguan...lakukan sekarang dan terima apapun nanti konsekuensi nya! Chase mencium bibir Summer lembut. Bergerak sangat lembut sambil menekan pinggang Summer ke arahnya. Menggigit pelan dan memabukkan. Bibir Chase berusaha memberikan ciuman terbaik nya pada Summer. Summer terpaku. Namun beberapa saat kemudian bibir indah Summer bergerak membalas seiring matanya yang terpejam. Chase terkesiap. Bibirnya bergerak seirama dengan bibir Summer. Persetan dengan kenyataan bahwa Summer mungkin hanya membuatnya sebagai pelarian! Decapan bibir tak kunjung berhenti hingga Summer melenguh... Menyentak kesadaran Chase yang segera menjauh. Summer menggeleng berulang kali. Mulai terisak lagi. Membuat Chase bingung dan segera memeluknya erat. Semua masih abu - abu. Chase yang masih menebak - nebak apa yang sedang dan akan terjadi selanjutnya. Summer yang memeluknya erat sambil menangis pilu. Mencengkeram pinggang kemeja Chase begitu kuat. Chase membawa Summer ke sofa. Memeluk Summer yang masih setia dengan isakannya. Sungguh... Berada di militer tak seberat menghadapi gadis yang menangis! Chase menatap Summer yang juga memeluknya erat. " Chase...". " Hmm..". " Apa kau tak keberatan kalau mempunyai kekasih berumur 19 tahun?" ".....". ----------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN