Pagi-pagi hari sekali, Simi dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil pengantar barang, tetapi bukan itu yang membuatnya terkejut melainkan ketika sopir pengantar barang itu menurunkan sebuah sepeda baru tepat di depan rumah Simi. Hal itu membuat Emak Jayanti dan juga Simi keheranan karena setahu mereka, mereka sama sekali tidak memesan sebuah sepeda. Apalagi sepeda itu terlihat sangat mahal dan bukan untuk orang-orang sepertinya, lantas apakah pengantar barang itu salah kirim? Terkadang memang ada beberapa orang yang salah sasaran, inginnya pergi ke sebuah rumah mewah yang berada tak jauh dari sini, malah kesasar ke rumah Simi. Hal itu sudah sangat biasa bagi Simi dan Emak Meriam, makanya mereka tidak heran lagi.
Namun, sepertinya keheranan itu kembali ketika pengantar barang itu mengatakan kalau sepeda mahal itu untuk Simi, Emak Meriam langsung menatap Simi tajam seraya berkacak pinggang. Berniat memarahi Simi karena mengira putrinya itu yang asal memesan barang tanpa melihat dulu harganya. Emak Meriam menyalahkan Simi karena biasanya Simi memang seperti itu. Ada beberapa barang di rumah yang merupakan pesanan Simi dan itu membuat Emak Meriam pada awalnya murka, tetapi langsung luluh ketika tahu kegunaan barang yang Simi beli.
"Kali ini Simi nggak pesan barang apa-apa, Mak," ujar Simi menggelengkan kepalanya. Merasa sedikit takut dengan wajah murka emaknya, tolonglah ... ia tidak memesan barang itu, mengapa emaknya berniat memarahinya di saat itu bukanlah kesalahannya?
"Terus itu sepeda atas nama kamu itu apa, Simi!?" tanya Emak Meriam menahan gemas.
"Simi juga nggak tahu, Mak," jawab Simi.
Simi memperhatikan sepeda mahal yang berada tepat di depan rumahnya, beberapa saat yang lalu si pengantar barang sudah pergi setelah selesai dengan urusannya. Meninggalkan Simi dan Emak Meriam yang hampir berdebat karena keberadaan sepeda mewah yang dituduh Emak Meriam kalau itu adalah ulah Simi.
"Kamu jangan coba ngibulin Emak ya, Emak nggak akan tertipu. Sekarang kamu harus ngaku, kamu 'kan yang belanja itu sepeda lewat hape kamu itu!?" tuduh Emak Meriam membuat Simi yang sedari tadi memperhatikan sepeda itu pun menoleh ke arah emaknya. Simi menghela napas, saat ini emaknya kenapa bawel sekali? Harus berapa kali ia bilang kalau bukan ia yang memesan.
"Dapat duit dari mana kamu buat beli sepeda ini? Jangan bilang kamu habis jual diri kamu itu. Eh, memangnya pria kaya mana yang mau sama kamu? Nggak ... kayaknya bukan itu. Jangan bilang kamu ini ngutang sama rentenir, Simi? Atau malah beli kredit? Simi ... siapa yang bisa bayar sepeda ini. Emak nggak akan sanggup!" ujar Emak Meriam merasa frustasi.
Simi menatap nanar emaknya seraya memegangi dadànya yang nyut-nyutan setelah mendengar tuduhan Emak Meriam yang sungguh tega, menyakiti hatinya sedemikian rupa sehingga tidak bisa lagi terbentuk dengan kokoh.
"Mak, dengar omongan Emak kenapa hati Simi sakit?" tanya Simi membuat Emak Meriam berdecak kesal. Wanita paruh baya itu menghampiri Simi, berniat menjewer Simi, tetapi dengan cepat Simi langsung menghindar.
"Mak, jangan asal jewer. Nanti kalau ini bukan Simi yang beli, Emak sok minta maaf lagi karena udah nyakitin Simi."
"Ini bukan waktunya bercanda, Simi, kamu ini di saat serius begini bercanda mulu! Emak lagi pusing mikirin ini sepeda," ujar Emak Meriam.
"Wuih, sepeda baru nih. Emak lagi banyak duit ya sampai-sampai kita beli sepeda baru, kayaknya harganya nggak murah." Laras—kakak Simi yang baru saja pulang menginap dari rumah temannya itu langsung penasaran ketika melihat sepeda mahal di depan rumah mereka.
"Bukan Emak yang beli, tapi Simi tuh. Nggak tahu dia duit dari mana, mana nggak mau ngaku kalau udah beli ini sepeda," ujar Emak Meriam kembali menyalahkan Simi.
"Kok Simi lagi sih yang disalahin, Mak? Kan Simi udah bilang kalau bukan Simi yang beli. Emak nyebelin ah!" Simi menghentakkan kakinya di tanah.
"Seriusan lo yang beli, Kartu SIM? Duit dari mana lo? Awas aja ya kalau itu duit dari rentenir. Jangan nyusahin hidup gue sama Emak yang udah susah, sekalian aja lo jual diri biar setidaknya ngasilin uang kek. Eh gue lupa, yang mau sama lo emangnya siapa? Lo pasang harga murah juga kayaknya nggak bakal ada yang beli," ujar Laras meledek Simi.
Emak Meriam yang mendengarnya pun langsung mencubit kuat-kuat lengan putrinya itu hingga membuat Laras mengaduh.
"Sakit, Mak!"
"Siapa yang nyuruh kamu menghina anak bungsu Emak?" Emak Meriam menatap Laras tajam.
"Ya, maaf, Mak. Habisnya Laras heran."
Simi yang melihat itu hanya memandang Emak dan kakaknya dengan julid, kerjanya sama saja. Tadi menghinanya dengan perkataan yang hampir sama hanya karena sepeda mahal ini.
"Simi udah bilang kalau ini bukan Simi yang beli. Kalian jangan terus fitnah Simi dong, ingat fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!" ujar Simi kembali membela dirinya yang memang tidak salah.
"Terus dari mana, Simi? Nggak mungkin 'kan ada orang baik hati yang tiba-tiba ngasih ini sepeda cuma-cuma. Ngaku lo! Kemarin habis ngapain aja sama ketemu sama siapa lo?" tanya Laras dengan tatapan menuding.
Simi terdiam, ia kembali mengingat hal-hal yang terjadi kemarin-kemarin. Hingga ingatannya mengarah pada pertemuannya secara langsung dengan Remix. Simi senyum-senyum sendiri ketika mengingat itu, wajah tampan Remix membuatnya terpesona.
"Heh! Malah senyum lo! Ditanyain juga!" Simi tersadar ketika Laras berteriak tepat di depan wajahnya.
"Nggak usah teriak juga kali, Kak, gue nggak budeg," gerutu Simi.
"Terus kalau lo nggak budeg apaan? Bolot?" Emak Meriam langsung menggeplak tangan Laras ketika Laras mengatakan itu.
"Nggak sopan kamu ngehina adik kamu sendiri," tegur Emak Meriam.
"Ya habisnya Laras geregetan sama Simi ini, Mak. Awas aja kalau sampai dia nyusahin kita," ujar Laras.
Simi hanya menatap emak dan kakaknya kesal, gadis itu berjalan menghampiri sepeda itu kemudian menaikinya. Emak Meriam dan Laras berteriak ketika Simi asal naik, tetapi Simi mengabaikan saja teriakan kedua orang berisik itu. Hingga tiba-tiba saja Simi melihat sebuah kertas yang ada di dalam keranjang depan sepeda, Simi mengernyit kemudian mengambil kertas itu.
Sepeda kamu yang rusak, saya ganti dengan sepeda ini. Maafkan saya, semoga cepat sembuh.
Kira-kira itulah isi dari surat itu, Simi yang membacanya pun tersenyum malu-malu. Membayangkan Remix repot-repot menulis surat ini untuknya benar-benar membuat Simi senang. Emak Meriam dan Laras yang melihat Simi kembali tersenyum pun saing pandang, kemudian keduanya berjalan mendekati Simi. Mereka mengintip isi surat itu di balik tubuh Simi.
"Simi! Jangan bilang kamu jadi simpanan om-om ya!"
"Simi! Awas kalau sampai lo jadi simpanan om-om!"
Emak Meriam dan Laras berteriak berbarengan tepat di belakang Simi hingga membuat Simi yang terkejut pun tak dapat menjaga keseimbangannya hingga ... BRUKK! Simi terjatuh dari atas sepeda begitupun juga Emak Meriam dan Laras yang ikut jatuh dengan Simi.