7. Habis Celaka, Terbitlah Keberuntungan

1062 Kata
Remix jelas saja tak akan lepas dari tanggungjawabnya sebagai seseorang yang sudah mencelakai Simi walaupun kecelakaan yang terjadi itu atas dasar ketidaksengajaan, apalagi di sana banyak saksi yang melihat. Pria itu memutuskan untuk membawa Simi ke rumah sakit terdekat karena luka Simi perlu diobati, apalagi kaki gadai itu sedikit pincang hingga membuatnya yang melihat pun meringis. Berada di dekat Remix seakan menghilangkan segera rasa sakit dan nyeri yang dirasakan Simi, sedari tadi gadis itu tak berhenti tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Saat ini ia berada di dalam mobil seorang pria yang sudah lama ia incar. Simi merasa beruntung akan hal itu. Sesampainya di rumah sakit, Remix meminta dua orang suster untuk membantu Simi turun dari mobilnya dan membawanya ke ruangan dokter sedang dirinya mengurus biaya administrasi. Hingga akhirnya luka Simi berhasil diobati, itu membuatnya lega. "Kamu akan diantar oleh sopir saya, saya tidak punya banyak waktu untuk mengantar kamu. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya," ujar Remix pada Simi. "Eh tunggu dulu!" Simi langsung menghentikan Remix yang hendak pergi. "Ada apa?" tanya pria itu kembali berbalik ke arah Simi. "Enak aja lo main pergi gitu aja setelah bikin gue luka kayak gini, lo harus tanggung jawab!" ujar Simi. "Bukankah saya sudah bertanggung jawab dengan membawa kamu ke rumah sakit ini? Luka kamu juga sudah diobati 'kan," ujar Remix. "Ck, lo pikir dengan ngobatin gini doang maka tanggung jawab lo selesai? Enak aja! Ada barang yang harus gue anterin sekarang ini dan gara-gara ulah lo, gue jadi telat. Gue nggak mungkin nganterin barang itu pakai sepeda karena kondisi gue yang kayak gini. Lo nggak lupa 'kan kalau sepeda gue juga rusak gara-gara lo." Simi mengingatkan Remix mengenai hal itu. "Sudah saya bilang kalau nanti sopir yang akan mengantarmu, kamu bisa meminta dia untuk mengantarmu ke tempat tujuan sekalian mengantar barang itu," ujar Remix. "Bukannya saat ini saya ingin lepas dari tanggungjawab saya, tapi saat ini saya sedang sibuk. Maka dari itu biar orang suruhan saya yang akan menggantikan saya." Perkataan Remix sama sekali tidak membuat Simi puas, padahal dirinya ingin agar Remix yang mengantarnya supaya ia bisa memiliki banyak waktu bersama pria itu. Namun, pria itu malah meminta orang lain untuk mengantarnya, itu membuatnya tak punya kesempatan lagi untuk berinteraksi dengan Remix. Ini tidak bisa dibiarkan, ia harus mencari cara supaya intensitas pertemuan mereka semakin banyak. "Tinggu! Gue belum selesai ngomong, kenapa lo mau pergi aja?" tanya Simi ketika Remix hendak pergi. "Apa ada yang kamu butuhkan?" "Gue minta nomor telepon lo!" ujar Simi. Diam-diam gadis itu tersenyum dalam hati, merasa kalau ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan nomor telepon Remix. Biarlah kakinya memar dan kedua tangannya yang terluka asal nomor telepon Remix yang menjadi hadiah dari kecelakaan itu. "Untuk apa?" "Y-ya buat ngehubungin lo lah! Barangkali lo nipu gue, jadi gue bisa ngehubungin lo." Remix terdiam, sejujurnya ia heran mengapa gadis ini malah meminta nomor ponselnya dan bukannya KTP karena biasanya orang pasti akan meminta KTP ataupun hal berharga lainnya, tetapi karena ia sedang terburu-buru, akhirnya ia memberikan saja apa yang gadis itu mau. "Lo bisa tulis nomornya di hape gue, awas aja kalau sampai lo nipu gue." Remix menerimanya ponsel yang Simi sodorkan, pria itu memberi ponsel Simi kemudiannya mengetikkan nomornya di sana. "Sekarang lo boleh pergi," ujar Simi sambil menerima ponselnya. "Semoga keadaanmu baik-baik saja, saya pergi." Setelahnya, Remix pun pergi dari ruangan di mana Simi berada. "Jelas gue baik-baik aja, gue 'kan udah dapat nomor telepon lo," gumam Simi sambil terkekeh geli ketika melihat nomor Remix di kontak ponselnya. Beberapa saat kemudian ada seorang pria paruh baya yang mengaku kalau dia adalah orang suruhan Remix yang akan mengantarnya pulang sekaligus mengantar barang. Simi dengan semangat turun dari brankar rumah sakit itu tanpa sadar kalau kakinya masih sakit, pria paruh baya itu membantu Simi berjalan keluar dari rumah sakit. Setelah mengantar barang, Simi akhirnya diantarkan ke rumahnya. Saat sampai di rumahnya, sudah ada Jayanti di rumahnya yang kebingungan karena Simi belum juga pulang. "Astaga, Simi! Lo kenapa?" tanya Jayanti ketika Simi berjalan ke arahnya dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja dengan perban di kaki dan tangannya. "Gue dapat keberuntungan, Jaya!" ujar Simi sambil tersenyum. "Lo kenapa deh aneh banget, lo itu luka-luka gini. Ini namanya sial, Simi, bukannya beruntung," balas Jayanti merasa heran. "Pokoknya gue merasa beruntung hari ini." Simi terus tersenyum dan itu membuat Jayanti terheran-heran. "Oh ya, sepeda lo mana?" tanya Jayanti. "Sepeda gue?" Simi berbalik untuk melihat keberadaan sepedanya yang tidak ada. "Iya ya, sepeda gue mana?" Simi malah balik bertanya, gadis itu kebingungan ketika orang yang mengantarnya tadi ternyata tak mengantar sepedanya yang rusak. "Simi, kamu kenapa!?" tanya Emak Meriam ketika ia keluar rumah, ia melihat anak gadisnya pulang dalam keadaan tubuh penuh luka. "Simi tadi kecelakaan, Mak, ada yang nabrak Simi dari belakang." Emak Meriam yang mendengarnya pun langsung menghampiri Simi untuk mengecek keadaan Simi, saat merasa kalau anggota tubuh Simi masih lengkap, wanita paruh baya itu menghela napas lega. "Syukurlah masih lengkap, Emak jadi nggak perlu khawatir." Jayanti dan Simi saling pandang mendengarnya. "Sepeda kamu mana?" "Sepeda Simi rusak, Mak, Simi nggak tahu sekarang sepedanya ada di mana." "Astaga, Simi! Kamu ini gimana? Itu sepeda peninggalan almarhum bapak kamu, kenapa malah sekarang hilang!?" "Mak kok tega sih? Simi pulang dalam keadaan luka gini, Emak malah lebih peduli sama sepeda. Mak tega, sungguh tega!" Simi mulai berdrama dan hal itu membuat Emak Meriam gemas dan menoyor kepala Simi. "Nggak usah bertingkah berlebihan kayak gitu, Emak peduli sama kalian berdua. Terus tadi siapa yang nolongin kamu?" tanya Emak Meriam. Simi malah senyum-senyum sendiri dan bukannya segera menjawab pertanyaan Emak Meriam. Bagaimana ia tidak tersenyum kalau ia teringat pada wajah tampan Remix yang tampak cemas padanya? "Cowok ganteng, Mak," jawab Simi malu-malu. "Hah!?" Jayanti dan Emak Meriam sontak berteriak mendengarnya. "Nggak mungkin, Simi! Lo jangan halu deh. Jangan bilang mata lo jadi rabun gara-gara kecelakaan?" tanya Jayanti sambil tertawa renyah. "Apaan sih, Jay? Jelas-jelas yang nolongin gue cowok ganteng idaman gue." "Tapi tadi gue lihat siapa yang nganterin lo, Simi, dia itu udah Bapak-bapak. Ya kali lo anggap dia ganteng, rabun mata lo!" tutur Jayanti. "Simi, jangan bilang kamu naksir sama orang yang udah tua? Emak nggak pernah ridho ya kamu punya suami seumuran Emak!" ujar Emak Meriam. "Terserah kalian ah, nggak mau ikut campur. Yang jelas-jelas tadi Simi beruntung setelah kecelakaan." Simi tersenyum lagi kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih-tatih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN