Setelah pergulatan batin di depan jendela kamar, Alisa memutuskan untuk turun. Ia membutuhkan ruang. Ia membutuhkan aroma kopi yang nyata untuk membuktikan bahwa dirinya tidak sedang terjebak dalam mimpi buruk yang panjang. Namun, ketika kakinya menginjak lantai marmer dapur utama yang luas, langkahnya terhenti seketika. Di sana, di balik meja counter granit hitam yang elegan, berdiri Damian Sagara, Don Corvus. Pria itu tidak mengenakan jas lengkapnya. Ia hanya memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengannya yang kuat. Alisa terpaku. Seorang Don mafia dari sindikat Corvus yang paling ditakuti sedang memegang sudip kayu dan menuangkan kopi ke dalam cangkir porselen. “Duduklah!” Suara Damian memecah keheningan. Nadanya tidak m

