Malam itu, udara di dalam mansion Damian terasa lebih berat dari biasanya. Bagi orang luar, ruangan itu adalah simbol kemewahan yang tak terjangkau, namun bagi Alisa, setiap ukiran emas di langit-langit kamar adalah jeruji yang kasat mata. Keheningan setelah momen intim yang baru berlalu bukan lagi membawa rasa pasrah. Justru, di tengah aroma parfum mahal Damian yang masih tertinggal di kulitnya, sebuah api kemarahan mulai menyulut kesadaran baru. Sentuhan Damian yang biasanya membuat Alisa merasa kecil dan tak berdaya, malam ini terasa seperti racun yang memicu antibodi dalam jiwanya. Alisa menatap punggung Damian yang membelakanginya, pria itu tampak tenang, seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah negosiasi bisnis, bukan menghancurkan martabat seorang manusia. ‘Satu-satunya jala

