BAB 2. Hidup Baru

1198 Kata
Gadis dengan rambut diikat ekor kuda itu terlihat benar benar larut dalam dunianya sendiri, gadis cantik itu sama sekali tidak peduli dengan keributan lapangan dan fokus hanya pada novel fantasi yang sedang dibaca olehnya. Gadis itu juga tidak peduli jika dianggap aneh sibuk membaca ditengah keramaian seperti ini, di pinggir lapangan yang dipakai untuk untuk para penonton basket. Bukankah seharusnya gadis itu berada disana untuk menonton basket, tetapi mengapa malah sibuk membaca novel. Aneh sekali bukan. Seorang pria berperawakan tinggi dengan pakaian basket mendekati gadis yang masih saja cuek dengan keadaan sekitar. “ baca fantasy lagi” ucap pria tersebut, gadis itu berdehem singkat, sepertinya isi novel yang dibacanya lebih menarik bahkan dari pria tampan yang saat iini berada disampingnya. “Vya” panggil pria itu lagi “ hem?” “ lapar gak?” tanya pria dengan name tag Davian Lawrence, pria tampan incaran kaum hawa di SMA Bhintara Jaya, melihat gadis aneh itu didekati most wanted nya SMA Bhintara Jaya membuat kaum hawa iri sekaligus tidak suka. Lihat saja sikap gadis itu sok cuek. “ Vya belum lapar Dave” balas gadis bernama lengkap Divya Elakshi  Gadis yang selalu dianggap aneh tetapi cuek saja, gadis yang tidak memiliki teman selain Davian teman sejak kecil. Hanya Davian yang menerima semua kekurangan Divya, hanya Davian yang tidak pernah menganggap Divya itu aneh. Sejak masih kecil hanya Davian yang selalu membela Divya saat gadis itu dikucilkan oleh teman temannya. Davian adalah hidup Divya, bagi Divya Davian adalah segalanya. Entah bagaimana kehidupan seorang Divya tanpa Davian. Sejak SD, SMP sampai SMA Davian selalu mengikut kemana Divya akan melanjukan pendidikannya. “ nanti mau nonton dulu gak?, ada film fantasy keren yang pasti Vya  akan suka” ajak Davian, tertarik mendengar kata fantasi, Divya mendongak, mata coklat gadis itu menatap Davian penuh antusias. Tidak heran bukan hanya novel namun film berbau fantasi sellau menarik bagi Divya. “ mau..tapi kita izin sama bunda Vya dulu ya” ucap gadis itu dengan senyum yang sangat indah dengan lesung pipi di sebelah kiri. Davian mengangguk lalu mengacak rambut Divya membuat gadis itu cemberut karena harus mengikat ulang rambut pirangnya. Berteman dengan Davian yang merupakan most wanted sekolah mereka tentu tidak mudah bagi Divya, beberapa kali gadis itu dibulli oleh orang yang tidak menyukainya. Baik oleh kakak kelas, seangkatan bahkan adik kelas yang merupakan fans fanatik Davian, namun Davian selalu datang tepat waktu, membuat Divya tidak takut lagi. “ bunda Vya jalan sama Dave dulu ya” pamit Divya pada wanita paruh baya yang sudah melahirkannya dan merawatnya sedari kecil, Bu Rina tersenyum “ pulangnya jangan malam malam ya, jangan ngebut ya Dave” pesan Bu Rina, Davian mengangguk. Melihat putrinya kini tumbuh dengan baik membuat Bu Rina merasa terharu. Apa yang terjadi di masa lalu tidak akan menjadi masalah jika Divya tidak menunjukan warna bola mata yang berwarna hijau. Perbedaan itulah yang membuat putrinya dalam masalah. Divya berhak hidup  dengan tenang. Untuk itu juga Bu Rina memutuskan untuk mengubah sedikit penampilan putrinya. Divya tidak boleh melepas ikatan rambutnya atau menggerai rambutnya selama di sekolah. Biarlah semua orang menganggap putrinya tidak menarik dengan penampilan seperti itu, selama itu membuat Divya aman maka bukan masalah besar, ditambah lagi kini ada Davian yang sellau ada untuk putri polosnya. Awalnya Bu Rina menentang persahabatan antar Divya dan Davian, namun melihat bagaimana Davian sellau melindungi Divya sejak mereka pindah ke jakarta membuatnya luluh dan mulai percaya pada pria itu. Bu Rina masih mengingat dengan jelas awal persahabatan dua orang itu. Saat ituu pertama kalinya Bu Rina dan keluarganya pindah ke jakarta. Divya yang masih mengalami trauma dengan anak anak lain takut saat Davian mulai mendekati dan menyapa dirinya. “ halo, aku Dave kalau kamu” sapa anak laki laki itu Divya menatap takut anak laki laki dihadapannya itu. Saat itu warna bola mata Divya menarik perhatian Davian “ mata kamu indah sekali” puji Davian saat itu, bukannya senang Divya malah menangis Mendengar putri sulungnya menangis membuat Bu Rina segera menghampiri keduanya. “ kamu siapa nak” tanya Bu Rina pada anak laki laki itu “ Davian tante.. rumah Dave disebelah rumah tante..Dave gak bermaksud buat Hijau menangis, Dave hanya mau berkenalan sama dia” jelas anak itu “ hijau?” “ bola mata warna hijau, cantik banget, Dave suka, jadi Dave panggil Hijau deh hehe” ucap Dave dengan wajah polos “ Dave boleh temanan sama Divya, tapi Dave harus janji sama  bunda buat jagain Divya seperti Dave jaga diri Dave sendiri, gimana?” saat ditanya seperti itu, Davian dengan yakin mengangguk, sejak itu pula Davian benar benar menepati janjinya. “ Dave janji” seru Davian Bu Rina menatap putri sulungnya yang masih ketakutan sambil memeluk boneka beruangnya “ sayang..ini Dave, dia bukan anak nakal, Dave mau berteman sama Vya. Divya mau?” tanya Bu Rina dengan nada lembut khas seorang ibu Divya perlahan mulai menunjukan wajahnya, menatap Davian yang tersenyum hangat padanya. “ ayo bermain sama Dave, Dave tunjukan hal seru sama kamu” ajak  Davian lagi, Divya menatap sang ibu, Bu Rina mengangguk menandakan bahwa semua akan baik baik saja Saat itu benar benar menjadi awal untuk keduanya. Davian benar benar menepati janjinya untuk menjaga Divya dari apapun yang membahayakan gadis itu. salah satunya saat Divya hampir saja tenggelam karena tergelincir disungai ketika bermain. Dengan berani Davian masuk ke dalam sungai dan menyelamatkan  hidup  putrinya itu. “ Vya ..bangun, Vya ini Dave” panggil Davian mencoba menyadarkan Divya Sepertinya gadis itu sempat menelan banyak air sebelum Davian mengangkatnya. Daviaan mencoba pertolongan pertama dengan CPR ( Cardiopulmonary resuscitation) menekan d**a untuk memperlancar pernafasan. Setelah melakukaan beberapa kali Divya akhirnya terbangun setelah mengeluarkan air melalui mulutnya. Gadis kecil itu langsung menangis dan memeluk Davian. Siapapun pasti ketakutan saaat nyawanya dalam bahaya seperti tadi. “ tenang, Dave ada disini untuk Vya, jangan takut okey” bujuk Davian “ mau Dave gendong gak?” tawar Davian, Divya yang masih merasa lemas akhirnya mengangguk. Tubuh mungil Divya dengan mudah bisa diangkat oleh tubuh tinggi Davian. Baju mereka yang basah kuyub menarik perhatian Bu Rina saat keduanya tiba di rumah “ apa yang terjadi Dave?” terlihat jelas guratan kekhawatiran Bu Rina melihat keadaan putrinya yang masih lemas “maaf bunda Dave gagal  jaga Vya” sesal Davian, Divya menggeleng merasa kalau apa  yang terjadi bukan kesalahan Davian “ bund..Dave udah jaga Vya dengan baik, Dave juga yang udah selamatin Vya tadi..jangan marah sama Dave ya” mohon gadis kecil itu Bu Rina tersenyum lembut lalu menyuruh putrinya masuk dan segera berganti pakaian agar tidak masuk angin. “ Dave gak salah kok, bunda gak akan marah sama Dave, terimakasih sudah menyelamatkan putri bunda. Dave hebat banget” tutur Bu Rina, Davian yang tadinya menunduk karena merasa bersalah, kini tersenyum. Sifat keibuan Bu  Rina yang selalu dia rindukan. “ gih ganti baju, nanti masuk angin” Davian segera masuk dan menuruti permintaan Bu Rina, tidak sabar untuk menemui Divya kembali. Davian menyeyangi Divya lebih dari apapun. Bu Rina bisa melihat itu semua dari setiap tingkah Davian pada Divya. Entah karena anak laki laki itu tidak memiliki adik atau karena hal lain, Bu Rina tidak mengetahui dengan jelas, yang wanita paruh baya itu pahami adalah persahabatan keduanya yang semakin hari semakin erat dan semakin tidak terpisahkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN