BAB 1. AWALAN

1196 Kata
Seorang wanita paruh baya terlihat sedang berusaha melahirkan putri pertamanya, wanita itu menarik nafas dalam dalam kemudian mengejan untuk mengeluarkan bayi dalam kandungannya, setelah menguras cukup banyak tenaga, seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan bersinar akhirnya bisa melihat dunia ini, namun saat terlahir bayi itu sama sekali tidak menangis atau mengeluarkan suara seperti bayi pada umumnya, bayi perempuan itu justru terlihat tidur dengan begitu lelapnya, sampai membuat orang disekelilingnya sempat panik karena tidak mendengar suara tangisan bayi mereka.. “ bayi mu benar benar unik, sama sekali tidak menangis atau mengeluarkan suara sedikitpun, benar benar berbeda” tutur perawat yang menangani kelahiran bayi itu “ dia unik dan berbeda, dia juga anak yang istimewa, beri dia nama Divya Elakshi” pesan seseorang yang entah datang dari mana “ kenapa harus nama itu” tanya wanita paruh baya itu, perawat yang menanganinya  memandangnya heran “bu Rina berbicara dengan siapa?” bingung perawat tersebut, jelas jelas dirinya sama sekali tidak membicarakan nama  pada ibu dari bayi yang baru lahir tersebut “ oh ..tidak, saya hanya sedang kepikiran nama untuk putri saya” kilah Bu Rina, walaupun masih bingung mengapa perawat itu sama sekali tidak melihat sosok wanita tua yang memberi nama untuk putrinya namun wanita itu memilih menurut dan menamai putri sulungnya” Divya Elakshi” dimana Divya berarti anak istimewa yang indah dan Elakshi yang bermakna perempuan memiliki mata yang cerdas. Saat itu bayi Divya membuka mata untuk pertama kalinya, bola mata berwarna hijaau yang bersinar membuat semua orang takjub melihat keindahan mata bayi itu. Sungguh suatu keajaiban seorang gadis  terlahir dengan mata hijau sehijau pepohonan dihutan juga sehijau tanaman menjalar. “  apapun itu, kau tetap putri yang paling ibu sayangi” Tutur Bu Rina kala melihat warna bola mataa putri sulungnya,  meski masih tidak yakin Bu Rina tahu bahwa Divya bukan gadis biasa, bahkan saat lahir pun putri nya itu sama sekali tidak menangis dan malah terlelap sampai semua oraang berpikir bahwa bayi tersebut tidak selamat, nyatanya bayi Divya hanya tertidur lelap, sama sekali tidak terganggu dengan kepanikan sekitarnya “ dia akan tumbuh dengan baik, putri kita akan  jadi pembawa damai untuk orang sekitarnya, sama seperti tumbuhan hijau yang menjadi sumber kehidupan manusia” Ungkap pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah dari bayi Divya…seolah mengerti dengan ucapan kedua orangtuanya, bayi Divya tersenyum menampilkan lesung pipi yang sangat indah, juga bola mata hijau yang bersinar, benar benar bayi yang sangat sempurna… Bayi kecil Divya kemudian tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat sangat cantik, namun.. hari itu menjadi awal baginya untuk menyembunyikan warna bola matanya.. Saat itu Divya berusia 7 tahun pulang sekolah dengan tubuh dipenuhi lumpur dan telur yang sudah busuk, kedua orangtuanya benar benar panik melihat kondisi putri mereka yang terlihat tidak baik, dengan bergegas Bu Rina membantu putri kecilnya membersihkan diri, sebelum meminta penjelasan akan masalah yang menimpa putri kecil mereka “ Vya, katakan pada ibu yang sejujurnya, siapa yang lakuin ini sama Vya”Desak Bu Rina, ibu mana pun pasti tidak terima putri mereka diperlakukan seperti sekarang ini “ tenanglah, kau membuatnya takut” Tutur Pak Gibran, Bu Rina terlihat menghela nafas pelan, suami nya benar bukannya menceritakan apa yang terjadi Divya justru akan takut padanya, setelah emosinya reda, Bu Rina mendekati Divya yang menunduk dalam, mengangkat kepala putrinya itu..gadis kecilnya sedang menangis dalam diam “ Vya…Vya tahu kan bunda sama papa sayang banget sama Vya” Divya kecil mengangguk “ sekarang Vya jawab pertanyaan bunda oke” Pinta Bu Rina dengan nada tenang, Divya lagi lagi mengangguk, gadis kecil itu sudah tidak setakut sebelumnya. “ Vya boleh ceritakan semuanya sama bunda, bunda janji gak akan marah sama Vya, Vya mau kan sayang nya bunda” Bujuk Bu Rina, Divya terlihat ragu namun kemudian gadis itu mulai menceritakan semuanya.. “ mereka bilang Vya monster karena saat mereka mengusili Vya dengan melempari Vya dengan lumpur dan telur, tiba tiba mereka melihat bola mata Vya bersinar, dan ada banyak tumbuhan hijau yang menjalar mendekati mereka….hiks…Vya..Vya gak tau apapun Ma, Vya juga gak tau darimana dan bagaimana tumbuhan itu bisa muncul..Vya..”Tutur Divyaa sambil  sesengukan, sungguh Divya bahkan tidak mengetahui pasti apa yang terjadi, Bu Rina langsung memeluk putri kecilnya itu, awalnya wanita paruh baya itu terkejut mendengar kejadian tersebut, namun yang paling penting saat ini adalah menenangkan putri merekaa yang sama sekali tidak bersalah “ kenapa mereka mengusili Vya” Tanya Bu Rina lagi, bagaimana pun anak anak itulah yang terlebih dahulu menjahili putri mereka, masalah tumbuhan yang tiba tiba menjalar akan dibicarakannya dengan suaminya nanti “ mereka bilang, mereka tidak suka sama Vya, karena Vya cantik dan menarik perhatian orang yang mereka suka” tutur Divya dengan wajah polosnya, Bu Rina benar benar terkejut, bahkan lebih terkejut daripada sebelumnya..apa apaan ini, anak anak itu bahkan masih sd tetapi sudah tertarik dengan lawan jenis, bahkan berani membully putrinya..dasar anak anak zaman sekaarang.. “ Vya..Vya..gak mau ketemu mereka lagi..Vya gaak mau dipanggil monster lagi, Vya gak mau Bunda..” mohon Divya dengan airmata yang semakin mengalir dengan deras, Bu Rina kembali memeluk putri kecilnya “ semua akan baaik baik aja sayang, sekarang Vya masuk kekamar dulu ya..istirahat di dalam..bunda mau ngomong sama papa dulu” Pinta Bu Rina, Divya mengangguk meninggalkan kedua  orangtuanya yang tenggelam beberapa saat dalam pikiran masing masing “ kita harus bawa Vya pergi dari kota ini” Ucap Bu Rina memecah keheningan diantara mereka “ aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini, jika bola mata Divya bersinar itu sudah biasa, tetapi tentang  tanaman menjalar itu bagaimana mungkin bisa muncul bersamaan dengan bola mata Divya yang bersinar” Tutur Pak Gibran mengenai peristiwa yang dialami putri mereka, jika  dipikir laagi itu bukan fenomena yang biasa terjadi bukan “ sebenarnya ada hal yang ingin ku ceritakan padamu” Aku Bu Rina, membuat sang suami mengerutkan keningnya terlihat bingung “ mengenai apa?” “soal nama putri kita, aku memberi nama itu  atas permintaan seorang wanita tua yang datang entah darimana saat di ruang  persalinan waktu itu” Jelas wanita paruh baya itu “ apa maksudmu sebenarnya?” “ putri kita jelas bukan gadis biasa, kau tahu perawat yang membantuku saat itu bahkan tidak melihat keberadaan wanita tua itu, menurutmu apa dia manusia biasa?” Terang Bu Rina , Gibran memijit keningnya, memikirkan semua ini membuatnya benar benar pusing “ aku jugaa tidak tahu pasti soal hal ini, tetapi untuk sekarang yang harus kita pikirkan adalah keselamatan putri kita…kita harus melindunginya seperti seharusnya” “baiklah..kita akan meninggalkan kota ini, kita pindah ke jakarta besok, biar aku yang kesekolah mengurus semuanya..” Keputusan sudah dibuat, meski Divya bukan gadis seperti pada umumnya tetapi gadis kecil itu tetaplah putri yang dikaruniakan dikeluarga mereka, dan sudah menjadi tugas mereka untuk sellalu melindungi buah hati mereka apapun yang terjadi.. Kepindahan yang mendadak tentu menjadi perbincangan para tetangga mereka, tetapi  mereka sudah tidak peduli, bahkan saat anak anak yang membuly putri mereka pun mengadukan dan menceritakan apa yang telah terjadi pun, mereka tidak lagi peduli..yang terpenting adalah membawa dan menjauhkan putri mereka dari orang oraang yang ingin menyakitinya, dan menyembunyikan warna bola mata Divya agar tidak menjadi sorotan ditempat baru mereka nantinya..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN