Saat bel istirahat berbunyi, Kaila memilih menghabiskan waktu istirahat berada di dalam kelas. Bekal yang dibawanya tidak ia makan. Pikirannya kacau. Satu nama yang berhasil membuatnya uring-uringan seperti sekarang, Kak Iwan. Rasa bersalah tentu saja menguasai dirinya. Yang ia tahu Kak Iwan bukanlah sosok orang yang mengambil keputusan sendiri. Apalagi perihal sebuah hubungan. Tatapan kecewa Kak Iwan menjadi bayangan yang benar-benar mengganggu pikirannya. Apa selama ini Kak Iwan begitu tersiksa saat bersamanya? Kaila menghela nafas panjangnya. Putus dari Kak Iwan bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Dan kembali dekat dengan Haikal bukanlah rencananya. Sedikitpun tidak terbesit dalam dirinya untuk kembali dekat dengan Haikal. Saat itu, ia sadar jika Kak Iwan saja sudah cukup untuknya. D

