K-POPERS | 2

1425 Kata
Kaila menelan ludahnya kasar. Bola matanya bergerak ke samping, melirik Haikal yang berpindah duduk di sampingnya. Demi keseksian Park Jimin! Jantungnya rasanya ingin keluar dari tempatnya karena sudah tidak tahan lagi berdisco di tempatnya. Bau parfum Haikal yang membuatnya ingin terlelap saking wanginya serta keringat yang dengan lancangnya melewati kening, pipi, dagu dan terus berjelajah ke d**a bidangnya, perut kotaknya dan sampai ke ehemmm... pisang hidupnya *eh Kaila menggeleng pelan. Otaknya ini memang tidak jauh-jauh dari hal-hal yang berbau m***m. Inilah hasilnya karena sering membaca FF 18+ sampai tengah malam demi meresapi tiap kalimat yang tersaji dan menciptakan imajinasi liarnya. "Lo ngapain geleng-geleng? Mau goyang bang jali?" Celetuk cowok yang duduk di sampingnya, menatapnya dengan sebelah alis terangkat dan senyuman mengejek yang terbit di bibir seksinya yang sialnya lagi bibir Kim Taehyung kalah keseksiannya. Kaila gelagapan, menggigit bibir bawahnya karena sudah ketangkap basah. "Enghh... eee... a-apa, sih lo suka banget kepoin gue. Jeon Jungkook yang jadi suami online gue aja gak mau tahu banyak tentang apa yang gue lakuin. Lha, lo mau tau banget." "Manusia jelly lagi. Bisa gak, sih, lo sehari aja kalo ngomong, tuh, gak usah bawa-bawa si manusia jelly. Geli gue dengernya. Suami online lah, doi online lah, jodoh online. Lama-lama jadi manusia jelly online." Kaila mencubit lengan Haikal dengan mata yang melotot kesal. "Mereka punya nama! Mereka bukan manusia jelly tapi manusia yang memiliki banyak talenta seperti boyband kesayangan gue, BTS." Mata Kaila langsung berbinar kala menyebutkan nama boyband kesayangannya yang sukses membuatnya senyum-senyum sendiri dan berani menghabiskan kuota internet 10GB dalam jangka waktu tujuh hari. Pencapaian yang mengesankan dan menguntungkan bagi counter yang menjadi tempat langganan Kaila. "Eleh, plastik. Jijik gue dengernya." Kaila menarik bibirnya ke bawah, cemberut. Selalu saja kata 'plastik' yang menjadi pengantar ketidaksukaan non-kpop kepada artis Korea. Padahal tidak semua orang Korea operasi plastik, contoh nyatanya boyband kesayangannya yang tidak memiliki catatan operasi plastik. "Gak ya."cicitnya sambil memainkan gantungan kunci sepeda motornya yang terpampang jelas wajah boyband kesayangannya. "Mati akal, kan, lo. Makanya kalo ngefans, tuh, sama artis Indo. Gak oplas, gak lembek, dan gak lipsync." "Gue bingung, deh, sama pandangan non-kpop, orang yang ngidolain artis Korea di bilang gak cinta tanah air sedangkan mereka yang non-kpop suka nonton video bokep di bilang sudah sewajarnya. Ini otak gue yang gak berfungsi atau hidup kadang perlu di tertawakan?" Kaila menatap Haikal sinis. Sambil mengangkat tinggi-tinggi laptop Kaila untuk mengecek bagian bawah laptop yang terdengar bunyi dari gerakan penyejuk laptop yang mengeluarkan hawa panas, Haikal menjawab perkataan Kaila tanpa menoleh sedikitpun. "Bukannya begitu. Coba, deh, lo pikir tujuan non-kpop yang dominan cowok semua suka nonton video bokep. Itu karena mereka lagi mendalami materi untuk bekal mereka nanti setelah punya istri. Kan gak lucu kalo malam pertama mereka gak ngasih service yang luar biasa ke istrinya. Kan ada teknik-tekniknya, tuh, seperti posisi contoh kecilnya." Kaila bergedik. "Ih, kok gue jadi pengen muntah, sih, denger perkataan lo." Haikal tersenyum tipis. "Pengen muntah apa pengen tahu." Kali ini Haikal memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Kaila yang sudah merona. "Sumpah itu muka lo kayak p****t yang habis di masukin anu," tawa Haikal pecah, menunjuk wajah Kaila yang semakin merona. "Anu? Maksudnya?" Haikal meredakan tawanya. Dalam hati ia mengumpat karena kelepasan berbicara. Bisa-bisanya dirinya berkata hal-hal yang sukar diketahui oleh kaum wanita. Haikal gelagapan, ia meletakkan kembali laptop Kaila ke meja dan berpura-pura mengecek ponselnya membuka berkas dokumen yang berisi tentang perakitan komputer. "Laptop lo gak bermasalah. Cuman keyboardnya aja yang bermasalah. Dan, kursornya juga gak masalah karena yang berpengaruh disini keyboard." Ujar Haikal, mengalihkan pembicaraan. Kaila yang semula begitu penasaran dengan kata 'anu' yang Haikal katakan akhirnya tidak lagi memikirkan kata 'anu'. Kayla menarik laptopnya dan melihat-melihat keyboard laptopnya, melihat bagian mana yang bermasalah. "Yang mana yang bermasalah?" Haikal berdecak. "Lo b**o atau gimana, sih?! Kalo satu keyboard bermasalah, maka semua juga begitu. Apalagi tangan lo yang gede tapi lumayan kecil itu mukul keras keyboard sehingga ada satu atau dua keyboard yang tombolnya ke bawah." "Yang mana?" "Ini sama ini." Haikal menunjuk keyboard yang tenggelam ke bawah. "Bisa di benerin, gak?" Tanya Kaila ragu-ragu. Ada secercah harapan untuk bisa di perbaiki agar dirinya tidak membeli keyboard baru. Haikal mengangguk, menatap keyboard laptop Kaila serius. "Bisa. Tapi keyboard lo cara kerjanya akan melambat." "Kok bisa?" "Kan gue udah bilang kalo keyboard lo bermasalah." "Terus gimana dong? Apa gue harus ganti keyboard? Atau.... ada cara alternatif?" Tanya Kaila dengan tatapan penuh harap. Haikal mengangguk. "Ada cara alternatif. Mudah di jangkau dan hemat duit." Mata Kaila berbinar setelah mendengar kata 'hemat duit'. "Gimana caranya?" Tanya Kaila tak sabaran. "Lo tahu alat untuk isi angin di tukang tumble?" Kaila nampak berpikir. Bibirnya bergerak membentuk kata, "tukang tumble." Hingga beberapa detik kemudian senyumnya merekah setelah mendapat jawaban dari pertanyaannya. "Oh iya iya, gue tahu. Btw, mau di gimanain? Kan itu keyboard bukan ban." Ujar Kaila polos. Haikal memutar bola matanya. "Gini, nih, kalo otaknya isinya oppa-oppa Korea mulu, sampek gak tahu apa-apa tentang masalah sepele kayak begini. Lo kal___" "Alah, bacot! Cepetan, kek, kasih tahu." Potong Kaila cepat membuat Haikal menghela nafas panjang dan meliriknya tajam. "Bawa laptop lo ke tukang tumble, terus lo minta tolong ke tukang tumble buat kasih angin ke keyboard. Mungkin cuma lima atau sepuluh menit. Setelah itu keyboard lo kembali seperti semula. Tapi, jangan lo pikir keyboard lo gak bakal bermasalah lagi. Karena setelah satu atau dua minggu, keyboard lo kembali bermasalah." "Jadi, kalo keyboard gue bermasalah lagi, gue balik lagi gitu ke tukang tumble?" Tanya Kaila. "Yapp, betul. Menghemat duit, kan?" Kaila mengangguk membenarkan. Menghemat duit memang. Tapi, ia harus bolak-balik ke tukang tumble tiap minggunya. Tapi tidak apa-apa asal hemat duit cuma ngeluarin duit seribu rupiah, tidak buruk. "Oke. Pulang sekolah gue bakal ke tukang tumble buat benerin keyboard." "Sip. Btw, layar laptop udah menyala. Jadi, totalnya sepiring nasi pecel plus es jeruk di resto. Deal! Istirahat kedua." Setelah mengucapkan itu, Haikal langsung bergegas meninggalkan bangku Kaila dan berjalan mendekati segerombol teman-temannya yang asik mabar. Kaila mengerjap, mencerna baik-baik perkataan Haikal. Hingga detik kemudian matanya melotot. Secara tidak langsung ia diminta untuk mentraktir Haikal makan di resto sekolah. "Mati gue. Nasi pecel sama es jeruk totalnya sembilan ribu. Yahhh... berkurang, dong, uang tabungan gue yang bakal gue beli albumnya BTS. Tapi, kalo gue tolak nanti gak ada kesempatan buat deket-deket Haikal. Ehmmm..." Kaila nampak berpikir keras jalan keluarnya. Ia enggan mentraktir Haikalmakan, tapi sangat di sayangkan jika kesempatan eman ini ia sia-siakan. Dan satu lagi, jika makannya di resto sekolah rasanya kurang nyaman karena ia yakin disana pasti ada adek kelas centil yang menyapa Haikal. Kaila menggeleng, ia tidak mau itu terjadi. Tiba-tiba terlintas di otaknya untuk dinner bersama Haikal. Dinner? Ah, kedengarannya sangat lucu. Tapi..... kalau berdua dengan Haikal rasanya itu yang terbaik. Kaila berdiri dari duduknya, tangannya terangkat ke atas sambil berteriak, "Haikal." Yang di panggil menoleh. Ada kekesalan yang terpancar karena cowok itu baru mengambil ponsel di saku celananya dan teriakannya menghentikan pergerakan Haikal. Meski kesal, Haikal tetap berjalan mendekati Kaila. "Apa?" "Lo mau gue traktir, kan?" "Iyalah. Lo lupa gue abis bantuin benerin laptop dan ngasih solusi yang tepat." Ujar Haikal dengan nada angkuhnya. Kaila mencebik tetapi tidak bisa di pungkiri jika jantungnya berdebar, membayangkan makan malam romantis bersama Haikal. Uh, rasanya ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. "Lo gila." Kaila tersadar dari lamunannya ketika mendengar celetukan tidak enak yang berasal dari mulut cowok tampan di hadapannya. "Itu mulut lemes banget ngomongnya. Untung gue penyabar. Oke, to the point aja ya. Gimana nanti malam lo ke rumah gue. Kita makan di rumah gue aja. Nanti gue pesenin kebab dan burger sama Chocolate blanded sama green tea. Gimana?" Haikal nampak menimang-nimang perkataan Kaila. Burger, kebab, Chocolate blanded dan green tea, totalnya hampir mencapai lima puluh ribu dibanding harga nasi pecel dan es jeruk di resto. "Tapi nanti malam gue ada pertemuan sama anak-anak ML." Kaila terlihat kecewa. "Besok malam?" Tanyanya dengan penuh harap. "Besok malam dan seterusnya gue gak bisa, Dewan Ambalan persiapan untuk adek kelas kemah." Kaila cemberut. Jadwal Haikal cukup padat. Terlebih, Haikal aktif dalam beberapa organisasi sekolah. Cowok itu merupakan wakil MPK, dan ketua Dewan Ambalan pramuka di sekolah. Ditambah lagi tiap minggu pagi Haikal mengikuti ekskul robotik yang diadakan oleh guru RPL dan minggu siangnya membimbing adek kelas yang mengikuti kursus sinematografi yang diikuti khusus oleh anak jurusan Multimedia. "Udah, lo tenang aja. Nanti malam gue ke rumah lo. Lagian pertemuan itu gak penting." Senyum Kaila tercetak. Kaila tidak bohong jika hatinya sedang berbunga-bunga. Secara tidak langsung Haikal menganggap ajakannya ini penting. Arghhh... kenapa menjadi sebahagia ini? Padahal Haikal tidak memberinya bunga atau cokelat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN