bc

Terpaksa Jadi Istri CEO

book_age18+
186
IKUTI
1K
BACA
HE
blue collar
kicking
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Rinaya Melodi, supervisor front office di salah satu hotel milik Sadewa Group, harus menelan kenyataan pahit saat mengetahui Andra, suaminya, hendak memadunya. Ia semakin tertekan ketika sang ayah memaksa untuk mempertahankan pernikahan karena tidak mau memiliki anak berstatus janda.

Rey, pewaris tunggal Sadewa Group harus segera menggantikan peran sang ayah yang sudah tua. Namun, sang ayah mensyaratkan dirinya untuk menikah terlebih dahulu sebelum menjabat jadi CEO.

Melanie, ibu Rey bekerja sama dengan keluarga Naya untuk menikahkan Rey dan Naya, atas dasar kepentingan masing - masing. Rey bisa segera memegang tongkat estafet jabatan sang ayah, dan Naya bisa selamat dari pernikahan toksik sebelumnya.

Namun, apakah pernikahan kontrak yang didasarkan oleh kepentingan dua keluarga bisa bertahan lama? akan kah Rey yang dingin bisa jatuh cinta pada Naya?

chap-preview
Pratinjau gratis
PILIHAN YANG SULIT
City car yang dikendarai Naya berhenti tepat di depan gerbang rumah orang tuanya. Jemarinya mengetuk – ngetuk setir mobil, menunggu seseorang membukakan gerbang kayu jati yang menjulang. Untuk kesekian kali, ia melirik lagi raut wajahnya di kaca spion tengah. Kantung matanya masih menonjol. Kedua netranya memerah, begitu juga dengan ujung hidungnya. Lalu ia menghela nafas dalam – dalam. Tak perlu bercermin pun ia sudah bisa merasakan otot wajahnya yang menegang, karena seharian menangis seperti orang gila, bahkan sampai habis air matanya. Ia tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa Andra, suaminya, berencana menikah lagi dengan gadis belia. Sekian detik menilai raut wajahnya, tiba – tiba Mbak Wati, pembantu rumah tangga orang tuanya mendorong pintu gerbang dengan tubuh gempalnya. “Makasih, Mbak..” balas Naya. Ia hanya mampu menarik tipis sudut bibir. Mbak Wati yang memahaminya mengangguk canggung. Setelah mobil menepi di halaman rumah yang luas, dimatikannya mesin mobil dengan perasaan tak tentu. Jantungnya berdesir pelan saat gadis jelita itu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Langkahnya meragu, pertanda tidak siap menghadapi amarah sang ayah yang tahu jika ia ingin bercerai dari Andra. Tentu ayahnya tidak setuju dengan keputusan itu. Karena nama baik keluarganya akan tercoreng jika anaknya tidak bisa mempertahankan rumah tangga.  Berkali – kali ia menghela nafas, agar angin sore dapat melonggarkan sesak di d**a. Namun percuma. Prasangka buruk kian bergumul mencekik lehernya. Langkahnya tinggal beberapa meter meraih pintu utama. Artinya, sudah terlambat untuk berbalik arah. Di tengah usahanya mengukuhkan hati, tiba – tiba pintu itu terbuka lebar –lebar. Sosok sang ayah yang meneror pikirannya berjalan terbirit ke arahnya, dengan wajah memerah dan nafsu memburu, “Sudah ku bilang lebih baik aku mati daripada melihatmu jadi janda!!!” Pak Amir, ayah Naya, menggertak anak bungsunya amat bengis, telunjuknya tak berhenti mengacung pada Naya. Membuat hatinya rontok seketika. “Sabar, Pak.. istighfar..” pinta Bu Wening, ibu Naya itu hampir terisak saat mengakhiri kalimatnya. Dipegangnya punggung sang suami, agar bisa sedikit terkendali. “Sabar gundulmu! kalau sabar terus anakmu ini terus membangkang!” gertak Pak Amir. Matanya mulai memerah. Nafasnya tersengal. Lelaki setengah baya itu memang tidak suka disinggung masalah kesabarannya. “Andra mau menikah lagi, Pak.. menikah.. apa Bapak tega melihat anak Bapak dimadu?” ucap Naya bergetar. Ia menahan diri untuk tidak menunduk, agar ayahnya mengerti ucapannya. “Lalu apa masalahnya?! Selama Andra bisa bersikap adil nggak jadi masalah, kan?!” Pak Amir menggertak lebih keras. Agar Naya segera mengubah pendiriannya. Lagipula, ia tidak suka prinsipnya disangkal. Prinsip bahwa semua wanita yang sudah menikah wajib menuruti perkataan suami. Itu lah yang menjadi alasan kemarahannya. “Pokoknya Naya nggak mau..” spontan Pak Amir mengepalkan tangan, bersiap memukul Naya. Namun tiba – tiba, Dayu, kakak Naya, bergegas memegang lengan ayahnya. Begitu juga dengan sang ibu yang memekik histeris. “Tahan, Pak.. Dayu mau ngomong sesuatu.” pinta Dayu. Kedua tangannya hampir terlepas dari genggaman sang ayah yang memberontak. Sementara itu, Naya hampir terisak melihat ayahnya yang seperti kerasukan setan. “Lepaskan aku!!” “Pak!” Dayu mengiba. “PAAAKKK!! DENGERIN DAYU DULU!!!” seketika mereka berempat berdiri mematung mendengar teriakan Dayu. Mereka tak percaya, wanita sabar itu bisa tersulut emosi. “Naya nggak akan menjanda! Dia akan menikah dengan pria lain.. Aku dan Ibu udah mempersiapkan pria lain untuk Naya..” “Apa?! Maksud Mbak apa?” tanya Naya kebingungan. Kedua alisnya bertaut. Kakak kandungnya yang jarang ikut campur masalah pribadinya tiba – tiba mencarikannya pria lain agar dirinya tidak menjanda. Jelas ini bukan untuk melindunginya dari amarah sang ayah. Karena ia pun juga sudah angkat tangan jika harus melawan sifat ayahnya yang keras. Lalu? Pasti ada alasan kuat di balik ucapannya. Sang ayah yang sedikit mereda menatap anak sulungnya penuh tanya. Disekanya keringat yang membasahi kumisnya, “Kenapa kalian nggak bilang sama Bapak?” suara Pak Amir jauh lebih enak didengar. Membuat Naya bisa sedikit bernafas lega. “Gimana mau bilang? Wong nyebut nama Naya aja langsung mencak- mencak.” Jawab ibu setengah kesal. “Ayo kita ngobrol di dalem aja.. ndak enak didengar tetangga..” pinta si Ibu. Bergegas mereka berempat masuk ke ruang tengah. Sang ibu meraih bahu Naya dan mengelus – elusnya agar lebih bersabar menghadapi sang ayah. “Siapa calon Naya?!” tanya sang ayah setelah duduk dan meneguk segelas air putih. Sikapnya sedikit melunak. Meskipun dalam hatinya masih ingin memarahi anak bungsunya yang pembangkang. Sementara itu, pandangan Naya tidak bergeming dari sang kakak. Menunggu jawaban tentang calon suami yang diusulkannya. Ia sebenarnya tidak mau menikah lagi. Karena semenjak memergoki Andra selingkuh, hatinya terhadap lelaki sudah mati rasa. Namun jika pernikahan ini bisa menyelamatkannya dari amarah sang ayah dan juga lelaki toksik seperti Andra, ia bersedia melakukannya. Meskipun tanpa cinta. Dayu berdehem sebelum berbicara, “Namanya Rey. Dia anaknya Ibu Melanie.. beliau ingin anak semata wayangnya itu segera menikah jadi kami bikin perjanjian. Bu Melanie akan menikahkan anaknya dengan Naya, dengan syarat mereka akan membantu kita meramaikan guest house kita lagi.” Sang ayah melongo tak percaya. Sementara Naya masih kebingungan. “Si – siapa Ibu Melanie?” tanya Naya terbata. “Beliau istri pemilik Sadewa Group” “Apaa?!! Bagaimana bisa aku menikahi anak dari keluarga yang bikin guest house kita hampir bangkrut?” bibir Naya bergetar. Bukan karena mengetahui akan menikah dengan Crazy Rich yang membuat bisnis keluarganya hampir bangkrut, tapi karena pernikahan ini pasti akan menghambat impiannya. “Justru itu kamu harus menikah dengannya. Kita udah kehilangan banyak tamu langganan semenjak mereka membangun hotel baru di samping guest house kita. Kamu pikir kamu bisa menyelamatkan guest house tanpa bantuan orang lain?” suara Dayu meninggi. Menyadari adiknya masih tidak mengerti bahwa sebentar lagi ia akan menutup permanen guest house-nya. Sang ayah yang sekian menit lalu emosian kini hanya diam memikirkan sesuatu. Segala pertimbangan ada di otaknya. Tapi apapun pertimbangan itu, yang jelas ia ingin usahanya tetap jalan dan anaknya tidak menjanda. “Aku nggak bisa memenuhi perjanjian Mbak dengan Ibu.. siapa? Melanie? Aku benci kapitalisme.” Naya mulai merunduk. Tidak sanggup melihat reaksi Dayu. “Kalau benci kenapa kamu masih bekerja di salah satu hotel mereka?!! Munafik sekali kamu!!” Dayu tidak sanggup menahan amarahnya yang memuncak. Membuat hati Naya tergores. Apalagi dikatai munafik. Ia memang membenci kapitalisme, tapi hotel tempatnya bekerja tidak seperti itu.  “Sadewa Boutique Hotel beda dengan hotel milik Sadewa Group lainnya, Mbak.. Hotel tempatku bekerja lebih mementingkan pelayanan daripada keuntungan. Tidak bisa dibandingkan dengan Hotel Sadewa New Residence di sebelah.” “Tapi hotel tempatmu bekerja masih di bawah naungan Sadewa Group. Sama aja, Bodoh!” “DIAAAAMM!! Bapak pusing denger kalian berdebat!” gertak sang ayah, sembari mengetok – ngetok gelas kosongnya di meja, agar kedua putrinya diam. “Kamu harus pilih salah satu! Mempertahankan pernikahanmu dengan Andra atau menikah dengan pewaris Sadewa Group! Yang jelas Bapak ndak mau kamu menjanda!!” Deg! Hati Naya rontok tak terkira. Tidak menyangka sang ayah akan memberinya pilihan sulit. Jelas ia tidak ingin kembali pada lelaki peselingkuh macam Andra. Tapi, jika ia menikah dengan anak pemilik Sadewa Group, perusahaan yang menaungi hotel tempatnya bekerja, impiannya akan hancur. Ia sudah lama bermimpi naik jabatan menjadi General Manager Hotel atas dasar kinerjanya yang bagus, bukan melalui jalur koneksi, atau sogok – menyogok, apalagi nepotisme. Dengan menikahi pewaris Sadewa Group, itu artinya, ia tak lagi bisa naik jabatan dengan jalur kinerja yang bagus. Sekeras apapun ia berusaha, teman – teman kerjanya akan menganggap dia bisa naik jabatan karena campur tangan pemilik Sadewa Group. Karena ia seorang istri pewaris Sadewa Group! Ahhh.. sirna sudah cita – citanya yang ia usahakan selama ini. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook