KEMBALI BEKERJA

1438 Kata
“Mbak Nay.. tumben kamu ambil cuti tiga hari.. emangnya ada acara apa sih? Sampe nggak bikin story di IG juga..” tanya Rendi, salah satu staf front office yang biasa incharge dengan Naya. “Biasaa.. ikut acara keluarga Mas Rey..” balas Naya datar. Wajahnya fokus mengecek satu per satu daftar kedatangan tamu hari ini di sistem. Sampai – sampai tidak menyadari bahwa ia telah salah ucap nama. “Rey? Rey siapa Mbak?” Seketika mata Naya membelalak, bergegas ia mengkonfirmasi keerorannya agar Rendi tak semakin curiga. “Ehh.. maksudku Mas Andra.. Maaf ya, salah ngomong tadi. Aku lagi baca bookingan hari ini terus ada tamu yang namanya Rey jadi malah keceplosan nama itu..” ucap Naya gelagapan. Digaruk – garuknya rambut yang tidak gatal, ternyata tidak semudah itu menyembunyikan sesuatu. Ditambah, berganti suami dalam waktu singkat membuatnya masih terbiasa menyebut nama Andra sebagai suaminya. Teman – teman kerja Naya tidak ada yang tahu kalau dia sudah bercerai dengan Andra. Bukannya Naya malu mengakui rumah tangganya yang tidak baik – baik saja. Tapi memang dirinya tidak pernah terbuka mengenai masalah personal.. “Ehh, mbak.. penggantinya Bu Maya masuk hari ini, loh..” kata Rendi sembari mengambil kertas A4 untuk memprint bookingan. “Oya? Siapa namanya?” “Namanya Mas Umay, dulu sales executive di Traveloka. Tapi aneh nggak sih? Masa Pak Johan ngerekrut orang dari luar? Nggak Mbak Naya aja yang diangkat jadi manager..” keluh Rendi. Spontan pikiran Naya melayang pada kejadian tiga hari lalu. Tampaknya memang stafnya tidak menyukai keputusan Pak Johan. Merekrut manager dari luar berarti menambah beban biaya operasional hotel. Beda jika mempromosikan jabatan itu kepada karyawan yang sudah ada. Maka biaya operasional masih bisa ditekan. Lagipula, bagaimana kepuasan tamu akan meningkat jika departemennya dipimpin oleh orang yang tidak berpengalaman menghadapi tamu secara langsung? “Ahh.. Bisa- bisa rating hotel kita jeblok..” gerutu Rendi. “Kita liat aja nanti, Ren..” kata Naya sembari meneguk sebotol air putih dingin yang telah ia siapkan di konter sejak pagi. “Oya, Mbak.. gosip – gosipnya nih.. anaknya Pak Buana mau in – house di president suite”. Seketika air putih yang Naya minum tersemprot begitu saja dari mulutnya. Membuat lantai konter basah dan Rendi tertegun oleh reaksi dadakan Naya. “A-ada apa mbak?” Rendi berhenti sejenak dari aktifitasnya. Alisnya bertaut melihat Naya batuk – batuk dengan wajah memerah. “Ng- nggak apa –apa, kok..” kata Naya, suaranya terdengar serak. Dipegangnya tenggorokan yang masih panas, sembari meneguk kembali air putih yang masih tersisa agar batuknya mereda. Gadis itu bergegas mengambil kain pel di ruang penyimpanan barang tamu. Lalu ia jongkok sembari mengelap lantai yang basah. “Selamat pagi, Pak..” Rendi dengan santunnya menyambut tamu yang berjalan mendekati konter reception, tangannya memberi aba – aba kepada Naya untuk segera berdiri. Bergegas Naya berdiri sebelum tamu itu melihatnya jongkok. Posisi yang tidak sopan itu memang dilarang oleh HRD karena terlihat tidak profesional dan bisa mengurangi integritas hotel. Saat dirinya hendak berdiri, hatinya mencelos seketika melihat sosok yang disambut oleh Rendi. Sosok tinggi jangkung itu menatapnya datar. Membuat Naya semakin tak kuasa berdiri. “Ngapain tuh cewek jongkok kayak gitu?” kata sosok itu kepada Rendi. Tentu saja Rendi kebingungan menjawabnya. “Jawab, mas.. ini Pak Rey, anaknya Pak Buana..” kata Bu Rita, asistennya Pak Johan yang berdiri di belakang Rey. “O-ohh maaf Pak, tadi Bu Naya ngelap air yang tumpah di lantai.” “Kenapa nggak panggil housekeeping aja?” tanya Bu Rita sinis. Wanita 40 tahunan itu menatap tajam ke arah Naya yang masih jongkok. Tangannya memberikan gestur ke gadis itu untuk segera berdiri. Tapi bagaimana mau berdiri jika kakinya saja masih lemas melihat Rey berdiri dengan wajahnya yang menjengkelkan. “Hehh.. berdiri!” perintah Rey. Membuat Rendi dan Bu Rita terlonjak kaget oleh suara sang anak bos yang terdengar galak. “I – iyaa, Pak..” jawab Naya terbata – bata. Dengan bantuan Rendi, akhirnya gadis itu bisa berdiri. Wajahnya gugup, tidak sanggup melihat Rey yang mungkin saja akan mempermainkannya. “Ikut aku..” ucap Rey datar. Anak bos itu langsung berlenggang santai menuju lift. Bu Rita yang mengekorinya menoleh ke arah Naya dan membisik kata ‘ayo’, lalu mengkode lantai berapa yang akan mereka sambangi. Bergegas Mayra berpamitan pada Rendi yang terlihat khawatir. Gadis itu segera berjalan ke lift karyawan dan memencet lantai 7 dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata – kata. “Pokoknya bilang maaf, jangan nyangkal. Pak Rey orangnya nggak suka dibantah.” Kata Bu Rita sesaat setelah Naya berdiri di depan kamar president suite. “Nggak usah dibilangin aku juga udah tau, Bu..” seru Naya dalam hati “Baik, Bu..” bergegas Bu Rita berpamitan dengan Naya setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan. Pelan –pelan gadis itu membuka pintu kamar lalu menutupnya. Dilihatnya Rey yang sedang duduk di sofa bagai raja. Membuat Naya meredupkan kelopak mata. “Kenapa kamu nyuruh aku ke sini?” tanya Naya kesal. Ia semakin tambah kesal saat melihat Rey tidak mempedulikan kedatangannya dan hanya sibuk mengganti – ganti channel televisi. “Lo udah baca SOP hotel kan, kalo staf front desk dilarang jongkok?” tanya Rey masih cuek. Tatapannya tidak bergeming pada layar televisi. “I-iya udah.. tapi emang biasanya staf front desk pada bersihin lantai kotor sendiri dengan posisi kayak gitu, kok. Lagian, kalo nggak segera dibersihin malah airnya kemana – mana, apalagi kalo keinjek sepatu dari luar, malah tambah kotor nanti.” jelas Naya. “Halahh, ngeles aja.. dah, sekarang ambilin tasku disana tuh..” perintah Rey sembari menunjuk tas hitam di meja. Naya memutar kedua bola matanya sembari berjalan meraih tas kulit. “Nih..!” dilemparnya tas kulit itu ke arah muka Rey saking kesalnya. Spontan saja lelaki yang tadinya duduk santai langsung terkesiap. “Ehhh.. ngawur lo ya! Aku ini bosmu..” ujar Rey. Matanya tak henti – hentinya memelototi Naya yang berekspresi meledek. “Bye.. aku mau kerja..” “Ehh sini dulu.. potongin kuku gue.. dah panjang nih..” pinta Rey, tangannya menyodorkan potongan kuku di hadapan Naya. “Dasar bayi! Potong sendiri lah!” Naya menghentakkan heels sekeras mungkin lalu bergegas menuju pintu kamar agar bisa segera keluar. “Potongin atau aku laporin ke HRD kalo kamu udah ngelanggar SOP?!” Langkah Naya terhenti begitu saja. Kedua tangannya mengepal saking geramnya dengan Rey yang suka berbuat seenaknya. Ia tak ingin kasus jongkok itu membuatnya dikenai sanksi oleh HRD. Susah payah mempertahankan kinerja yang bagus tiba – tiba dapat sanksi hanya karena jongkok. Sungguh apes jika itu terjadi pada dirinya. Naya yang tak punya pilihan lain pun perlahan membalikkan badan. Dilihatnya lelaki bayi yang duduk bagai raja sambil cengengesan. Membuat kedongkolannya naik ke level yang lebih tinggi lagi. Bergegas ia duduk di samping Rey dan mengambil potongan kuku dari tangannya. Alisnya terangkat melihat wajah menjengkelkan itu menyodorkan jemari tangannya. Kukunya tidak telalu panjang dan bersih. Malah terlihat seperti sengaja dipelihara sedikit agar tampak terawat. Naya memotong kuku kelingking lelaki itu dengan hati – hati. Sebenarnya jiwa monsternya ingin menggigit tangan Rey yang kekar. Tapi ia urungkan niat itu. Karena bagaimana pun juga, lelaki songong itu adalah pewaris tunggal tempatnya bekerja. “Kamu mau in – house di sini?” tanya Naya memastikan gosip Rendi. “Iya, dong..” “Kenapa harus di sini? Pengen ketemu aku tiap hari?” Naya mendongak dan mengibaskan rambutnya manja. “Hihh kepedean.. emang sebelum nikah sama kamu aku harus pindah ke sini. Buat memantau keadaan hotel yang revenue- nya nggak naik –naik.” “Ohh.. kirain..” Naya kembali memotong kuku Rey. Sementara itu, Rey menyenandungkan lagu bahasa inggris sembari bertopang dagu. “Kenapa kemarin nggak bobo di rumahku?” “Di rumahku ngadain acara syukuran, bego.. aku harus bantu – bantu masak..” “Ehh ngatain bego lagi kupelintir punyamu!” “Jangaann!” spontan Naya menutupi kedua dadanya dengan tangan. Membuat Rey tertawa cekikikan. “Sini.. balas dendamku belum tuntas kalo belum melintir punyamu..” Rey menarik kedua tangan Naya. Spontan Naya terkesiap dan langsung berdiri menjauhi Rey. Rey yang tak mau kehilangan kesempatan ini mengejar Naya yang hendak keluar. Kedua tangan Rey memberi gestur memelintir. Membuat Naya semakin merinding. “Aaarrhhh.. jangan!” pekik Naya saat Rey berhasil meraih kedua tangan Naya dan memegangnya erat – erat. Perlahan tangan Rey siap mencubit d**a Naya, namun tiba – tiba.. *** Berikut istilah – istlah dalam dunia perhotelan yang tidak author jelaskan secara langsung di atas: 1. In – charge: orang yang bertanggung jawab / bekerja pada shift yang telah dijadwalkan. 2. In – house: menginap di hotel dalam kurun waktu yang lama. 3. Revenue: seluruh pendapatan yang dihasilkan satu perusahaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN