“Hihh.. ngeyel banget jadi orang!” balas Rey. Kedua tangannya yang masih basah menciprat – ciprat ke wajah Naya. Membuat Naya kelilipan dan mengusap –usap wajahnya.
“Liat noh dahimu mengkerut gara – gara nggak pernah healing!” balas Rey, telunjuknya mendorong dahi gadis itu, sampai – sampai Naya terhuyung saking kencangnya.
“Hah? Masa’ sih?” Naya langsung memegang dahi dengan kedua tangannya. Kepalanya langsung merunduk. Bercermin pada meja pantry yang terbuat dari marmer.
Dillihatnya secara seksama dahinya meskipun pantulan bayangannya agak kabur. Rasa- rasanya dahi hasil skinker tujuh lapis masih kencang dan glowing.
“Ahh.. tanya Elsa aja besok gimana dahiku..” serunya dalam hati.
“Aku mau bobo.. besok ada meeting pagi – pagi.”
“Hihh.. baru jam setengah delapan udah bobo.. dasar bayi!”
“Pusing jadi CEO. Nggak kayak jadi FO, yang cuma handle tamu sama buat laporan doang...”
“Ehhh.. ehhh.. ehh.. ! Ngeremehin kerjaanku kamu!”
“Ya emang gitu, kan.. apa bagusnya ngelakuin kerjaan yang sama tiap hari?”
“Iya emang aku ngerjain hal yang sama tiap hari.. tapi tantangannya beda, REYOG!” seru Naya, nada suaranya meninggi. Apalagi saat melihat Rey mengepal tangan ke arahnya.
“Coba kamu ngerasain jadi aku! Lagi fokus – fokusnya input reservasi grup dadakan yang minta kamar berdekatan dan satu lantai, tiba – tiba ada tamu dateng ke konter, komplain minta pindah kamar karena AC kurang dingin. ” Naya berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
“Okelah kalo hotelnya lagi sepi. Lha kalo hotelnya rame? Nggak tersisa satu kamar pun. Sementara grup dadakan itu wajib satu lantai, nggak boleh dipisah – pisah karena orang tua semua. Terus tamu yang minta pindah kamar bakalan ngancem kasih rating buruk di Traveloka kalo kamarnya nggak dipindah. Apa nggak pusing jadi FO? Huh!”
Rey yang sudah membuka mulutnya tiba – tiba bungkam. Kedua matanya bergulir melihat Naya. Wajah gadis itu jelas kesal karena diremehkan. Apalagi mengingat pressure dalam dunia perhotelan tidak main –main jika sudah memasuki peak season.
“Terus lagi.. ngurus pembayaran tamu grup yang nggak ada PIC- nya.. mau minta pelunasan sama siapa coba?!” seru Naya dengan suara kian meninggi. Kedua tangannya berkacak pinggang. Nafasnya tersengal, apalagi melihat Rey yang hanya bungkam saja.
Hening sejenak. Hanya ada suara nafas Naya yang ngos – ngosan. Sang anak bos besar itu sepertinya sedang membayangkan betapa runyamnya keadaan di balik konter reception saat peak season. Sesuatu yang dari dulu ia remehkan.
“Y- ya aku nggak bermaksud ngeremehin kamu.. habisnya kalian selalu senyam – senyum terus, kayak nggak ada beban. Apalagi kamu.. tukang cengengesan!”
“Hm? Tukang cengengesan?” gerutu Naya kesal. Alisnya berkerut, darimana lelaki itu tahu kalau dia suka tertawa – tawa dengan teman satu shiftnya.
“Darimana kamu tahu aku suka cengengesan?”
“Dari Pak Johan lah, emangnya dari siapa lagi? Huh!” balas Rey tanpa menoleh sedikit pun. Lelaki itu perlahan melangkahkan kaki memasuki kamarnya.
“Loh? Ngapain tanya – tanya Pak Johan tentang aku?” Naya hampir berteriak karena merasa tidak didengar.
Sekian menit tak ada jawaban dari Rey. Naya masih mematung di ruang tengah yang berdekatan dengan pantry. Kedua netranya bergulir kesana – kemari. Aneh. Mengapa gerangan lelaki sialan itu menanyakan tentang dirinya sama Pak Johan.
Lalu, kedua bola matanya membulat dan sekejap berhenti di satu titik. Senyum tipis tersungging di bibir gadis itu. Hatinya memulai persengkongkolan baru.
Naya berjalan memasuki kamar Rey dengan langkah seperti habis menemukan sesuatu. Begitu daun pintu dibuka, ia melihat Rey yang lagi – lagi memindahkan bantal kecil di sofa.
Bergegas ia menghampir Rey sambil berkacak pinggang.
“Heh! Jangan – jangan kamu mulai jatuh cinta, ya sama aku?” tanya Naya kepedean. Telunjuknya menuding dirinya dengan manja. Tentu saja, wajah yang kelewat genit itu membuat Rey kesal.
“Hihh.. hidung lebar aja pedenya setengah mati!” seru Rey asal. Tentu saja Naya langsung memegang cuping hidungnya untuk mengecek apakah benar hidungnya lebar.
“Enak aja.. hidung tirus gini dibilang lebar!”
“Daripada kamu. Muka kayak gorilla mohawk!”
“Apa kamu bilang?!” mata Rey langsung melotot mendengar cemoohan Naya. Tangannya yang sedang memegang bantal terakhir langsung ia timpukkan begitu saja ke kepala gadis itu.
“Duhh..! sakit bego!” teriak Naya. Sebenernya bantal yang berisi bulu angsa itu tidak menyakiti kepalanya. Hanya saja, ia ingin lelaki itu tidak mau memenangkan perang lagi.
Buru – buru Naya mengambil salah satu bantal yang lebih besar. Lalu ia timpukkan di tubuh Rey yang keras. alhasil, mereka berdua saling timpuk – timpukan. Jelas tidak ada yang mau mengalah. Malahan semakin keras timpukannya.
“Ihh!!”
“Uhhh..!”
“Ihh... Ihh!”
Sekian detik kemudian, bulu- bulu angsa di dalam bantal itu berterbangan. Jahitan di sisi bantal sobek gara – gara terlalu keras memukul lawan.Naya yang memang alergi debu langsung batuk – batuk.
“Sukurinn!! Kualat lo ama suami sendiri!” seru Rey mengakhiri timpukan di punggung Naya.
Sementara itu, Naya masih saja memejam dan berbatuk kian keras. Dipegangnya d**a erat –erat yang mulai sesak. Tidak peduli dengan omelan Rey.
Rey berkerut melihat Naya yang kesusahan bernafas. Bergegas lelaki itu langsung mengambil air putih di samping lampu tidur, yang biasa disiapkan oleh asisten rumah tangga jikalau ia terbangun di tengah malam.
“Ini.. minum dulu..” pinta Rey. Tangannya langsung membantu Naya meneguk segelas air putih itu. Setengah detik, segelas air putih habis tak tersisa.
“Makasih..” kata Naya. Suaranya jelas terdengar serak.
“Bilang dong kalo kamu alergi debu, biar aku nggak mainin bantal sama kamu!”
“Gimana mau..” Naya berdehem memperbaiki suaranya sebelum melanjutkan kalimat.
“Gimana mau bilang? Orang udah terlanjur kesel sama kamu!” kata Naya, sesaat setelah ia meletakkan segelas air putih di meja samping kasur.
Sekian detik tak ada jawaban dari Rey. Lelaki itu memilih membenamkan tubuhnya ke ranjang. Kedua tangannya melipat memegang tengkuk leher. Matanya berusaha ia pejamkan.
Naya tidak punya pilihan lain selain mengikutinya tidur. Selain capek kerja, juga tidak ada film menarik di netflix yang biasa ia tonton sebelum tidur.
Naya bergegas ganti daster batik kesukaannya. Lalu membenamkan tubuh di samping Rey. Aneh. Wajah lelaki itu tampak serius, seperti bukan orang sedang tidur.
Sekian detik Naya berkedip – kedip, menebak – nebak harga tirai kelambu di atasnya. Pasti nominalnya membuatnya menganga. Ia menghela nafas panjang sebelum memutuskan memejam.
Baru beberapa detik ia memejam, tiba – tiba ia merasakan telapak tangan yang besar memegang dadanya.