1. Rosemary
"Aku suka kamu, Raline. Kamu mau gak jadi pacar aku?" Seorang pria berkacamata sedang berlutut dan menyodorkan buket bunga mawar merah dengan wajah yang tersipu malu.
Raline terdiam dan menatap pria itu selama beberapa detik, berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Sorot matanya kini berubah menjadi sinis dengan tatapan yang merendahkan. Ia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Raline tidak tau nama pria itu. Ia hanya tau manusia di hadapannya itu masuk golongan kaum paling tidak penting dan tidak berkelas untuk dianggap keberadaannya. Wajah pria itu tak akan membuatnya menoleh, apalagi memperhatikannya. Karena itu, sebuah kewajaran jika dirinya sama sekali tak mengetahui nama pria yang sedang berlutut di hadapannya kini.
Raline menatap pria itu tanpa mengeluarkan kata apapun selama beberapa saat. Ia menyunggingkan senyum sinis, lalu membuka tasnya dan mengambil cermin rias dari dalam sana. Ia lalu menegakan posisi duduknya dan menyodorkan cermin yang dipegangnya ke arah pria itu. "Ngaca!" tegas Raline dengan senyum sinis.
Pria itu tampak syok dengan balasan pernyataan cintanya. Pria itu hanya mampu terdiam mematung sambil menatap wajahnya di cermin dengan mata yang mulai memerah. Sangat terlihat pria itu mencoba menahan air mata dan amarahnya. Satu kata yang diucapkan oleh Raline sanggup memukul hebat hati pria itu.
Namun Raline memang wanita berhati dingin. Linangan air mata pria itu tak membuat Raline luluh dan melunakan sikap kejamnya. Raline tak menunjukan raut wajah berempati. Kesedihan pria itu benar-benar tak memiliki makna di mata Raline.
"Udah sadar? Kalo belum, otak lo yang rusak! Berani-beraninya pria kayak lo ngajak gue pacaran. Sebelum lo bermimpi jadi pasangan gue, lo harusnya pantesin diri lo dulu buat berdiri dihadapan gue!" sindir Raline dengan senyum sinis.
Semua orang yang ada di kelas itu menarik nafas secara bersamaan. Keheningan yang tercipta terasa mencengkam. Tak ada yang tidak tau betapa kejamnya Raline ketika sedang membenci. Semua bisa melihat betapa Raline menganggap pernyataan cinta yang diterimanya itu sebagai sebuah penghinaan. Raline benci menerima pernyataan cinta dari orang yang dia anggap tidak sekelas dengan dirinya. Di mata Raline itu bagai sebuah penghinaan.
Melihat tatapan tajam dan raut sinis dari wajah Raline yang tak berubah sedikitpun, pria itu akhirnya menurunkan buket bunganya dengan lemas. Kepalanya tertunduk menahan malu. Pria itu bangkit berdiri, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah lunglai. Pria itu tampak menerima perlakuan kasar Raline tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia memilih melarikan diri dari situasi memalukan ini.
Pria itu tak dapat membela dirinya, begitupun semua orang yang ada di ruangan itu. Raline melemparkan fakta tajam tak terbantahkan pada pria itu. Memang benar, tak ada orang yang bisa menyamai kelas Raline di kampus. Raline begitu cantik, kaya, dan memiliki tubuh yang sempurna. Selama ini tak pernah ada pria yang bernyali mendekati Raline. Selain karna takut, memang tak ada yang merasa bisa menyamai kelas seorang Raline.
Suasana kelas kini masih sunyi. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, apalagi berbisik menggosipkan peristiwa yang baru saja terjadi. Hanya Syeiba dan Claudia, teman Raline, yang berani mengeluarkan suara tawa cekikikan saat ini. Syeiba dan Claudia bertepuk tangan secara serempak sambil geleng-geleng kepala dan menatap kagum Raline. Mereka menghampiri Raline yang masih terduduk di kursinya.
"Daebak! Raline emang luar biasa!" seru Syeiba sambil tertawa keras.
"Penolakan terkejam yang pernah gue liat," timpal Claudia.
Raline hanya tersenyum datar sambil memainkan ponselnya. Ia mengangkat dagunya dan memasang wajah angkuh. Keangkuhan khas seorang Raline. "Oh, kejam ya? Lagian dia juga mimpinya keterlaluan. Gak sadar diri. Ya akhirnya gue sadarin lah," ucap Raline dengan nada ketus.
Claudia lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Raline. "Lo gak takut jadi jomblo seumur hidup apa?" tanya Claudia penasaran.
Pertanyaan Claudia tentu membuat suasana kelas kembali menjadi tegang. Semua orang di ruangan itu bertanya dalam hati, darimana keberanian Claudia itu berasal hingga terucap pertanyaan yang berpotensi menyinggung perasaan Raline.
Raline lalu memalingkan wajahnya ke arah Claudia, kemudian menatapnya dengan tajam. "Siapa? Gue? Gue jadi jomblo seumur hidup? Hahaha." Raline tertawa mendengar celotehan Claudia yang dirasa seperti omong kosong. Tawa Raline terasa seperti lantunan sindiran dan ejekan. Senyum sinis pun kembali tersungging di bibirnya.
"Sebelum lo khawatirin gue, mending lo khawatirin masa depan lo! Emang lo lebih cakep dan tajir dari gue? Hahaha. Kalo gue jomblo seumur hidup, mungkin lo bakalan jadi perawan tua lapuk!" seru Raline dengan mata terbelalak dan nada tajam yang menusuk. Kemarahan tampak jelas dari raut wajah dan nada bicara Raline. Siapapun tau bila Raline benar-benar tak suka mendapatkan pertanyaan itu.
Claudia tampak terkejut dengan kalimat sarkas yang baru saja diucapkan oleh Raline. Balasan seperti itu tak diperkirakan Claudia akan diterimanya. Namun ia mencoba untuk tersenyum, daripada membalasnya dengan penuh amarah. "Gue cuma bercanda Raline. Why you so serious?"
"Jangan bercanda sama gue kalau selera humor lo jelek," pungkas Raline dengan senyum sinis.
"Oh... oke." Claudia lalu kembali ke posisi duduknya dengan Syeiba yang mengikutinya di belakang.
Raline menatap sinis ke dua manusia yang mendapat julukan temannya itu. Sesungguhnya dari hati Raline tak pernah menamakan mereka teman. Raline hanya membiarkan mereka berada didekatnya. Sebenarnya ia lebih suka sendiri. Namun ia pasti akan dianggap aneh bila selalu menyindiri. Karena itu Raline mengijinkan mereka menyandang predikat sebagai temannya dan berkeliaran disekelilingnya.
Tentu saja Claudia dan Syeiba mendapatkan keuntungan dari status itu. Tak ada yang berani mengganggu mereka. Bahkan mereka ikut disegani dan dipandang berkelas. Popularitas mereka juga meningkat di kampus. Baik dikalangan mahasiswa, maupun di mata pria. Banyak pria yang mendekati mereka hanya untuk bisa mendekati Raline dan mendapatkan keuntungan dari situ.
Suasana kelas berubah ketika tiba-tiba seorang asisten dosen masuk ke dalam kelas dan hendak memulai kuliah hari ini. Kehadiran asisten dosen itu tentu menyelamatkan suasana kelas yang masih terasa sangat mencekam.
"Baik. Kita mulai kuliah hari ini ya. Oh ya, saya belum perkenalan diri ya. Oke... nama saya Rika. Mulai hari ini saya asdos Bu Rini yang baru. Jika Bu Rini berhalangan datang, saya yang akan mengajar mata kuliah ini."
Raline meletakan ponselnya, menatap sekilas asisten dosen yang baru itu, lalu memainkan pulpennya sambil menyilangkan kaki. Ia tampak tak peduli dengan materi kuliah hari ini. Baginya... kuliah hanya sekedar formalitas. Ia menghadiri kelas hanya untuk sebagai syarat kelulusan. Nilai? Siapa yang butuh nilai bagus, jika asset dan uang di rekeningnya tak akan habis tujuh turunan. Ia hanya butuh gelar di belakang namanya.
"Sekarang kita absen ya. Saya gak mau ada yang titip absen dan bolos di mata kuliah ini." Bu Rika tampak mengambil lembaran data absensi dari dalam tasnya, lalu mulai memanggil nama yang tertera di sana satu per satu.
"Clara..."
"Tina..."
"Syeiba..."
"Maudy..."
Satu per satu tampak menyahut dan mengangkat tangannya ketika dipanggil. Setelah memastikan nama yang disebutnya itu benar-benar hadir, Bu Rika kembali melanjutkan menyebutkan daftar absensi yang tersisa.
"Rosemary..."
Namun tak ada yang menyahut meski beberapa detik telah berlalu. "Rosemary? Dia gak masuk?" tanya Bu Rika untuk memastikan.
Namun tak ada yang menjawab. Bu Rika memicingkan matanya ketika ia merasa suasana kelas justru menjadi hening mencekam. Ada keanehan yang dirasakan asisten dosen itu. "Kalian bisu? Saya tanya... Rosemary gak masuk?!" tanya Bu Rika dengan nada mulai meninggi.
Seorang mahasiswa yang duduk paling depan mengangkat tangannya dengan wajah sedikit takut. "Ibu harusnya jangan panggil nama itu. Ibu panggil pake nama Raline. Dia pasti jawab."
Bu Rika semakin bingung dengan jawaban yang didapatnya. "Kenapa begitu? Jadi yang mana Rosemary?"
"Raline, Bu. Namanya Raline," sahut mahasiswi yang duduk di dekat pintu sambil menggigit bibirnya.
"Namanya di absensi itu Rosemary. Ya saya panggil dia Rosemary lah!" Bu Rika mulai kesal dengan kerumitan yang dirasa tak terlalu penting ini.
"Tapi dia gak bakalan nyahut kalo dipanggil Rosemary, Bu," timpal mahasiswi itu lagi.
Bu Rika menghela nafas kesal. Asisten dosen itu tak pernah mengalami kerumitan hanya karna penyebutan sebuah nama. Namun Bu Rika tampak mencoba bersabar, kembali menghela nafasnya, dan mengendalikan emosi hatinya. "Baiklah. Jadi mana yang namanya Raline?" tanya Bu Rika dengan alis terangkat sebelah.
Raline mengangkat tangannya tanpa menatap wajah Bu Rika. Ia tersenyum sinis dan seolah acuh dengan keberadaan pengajarnya tersebut. Raline terlihat memainkan pena yang ada di tangannya. Memutar pena tersebut dengan jemari tangannya. Seolah kemarahan asisten dosen itu tak memiliki arti baginya. Raline justru menunjukan wajah angkuh yang menjadi ciri khasnya.
"Oh... jadi kamu yang nama aslinya Rosemary. Tangan kamu berat banget ya buat diangkat? Sudah lima menit yang lalu saya panggil, kenapa kamu gak nyahut?!" teriak Bu Rika dengan mata terbelalak. Nadanya meninggi dengan nafas terengah-engah. Tampak jelas asisten dosen itu kesal dengan sikap Raline terhadapnya.
Raline akhirnya memalingkan wajahnya ke arah asisten dosen itu dan menatapnya dengan tajam. "Nama saya Raline."
"Tapi di kertas ini nama kamu Rosemary!"
"Nama saya Raline. Apa anda gak bisa Bahasa Indonesia? Nama saya Raline," tegas Raline dengan nada sedikit meninggi.
"Kamu kurang ajar ya sama dosen! Apa kamu gak diajarin sopan santun?" balas Bu Rika dengan nada membentak.
Raline tertawa mengejek. Kemudian menatap asisten dosen itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mengejek. Kalimat yang baru saja terdengar di telinganya terasa seperti omong kosong yang menggelikan.
"Anda bukan dosen. Anda hanya asisten dosen. Gaji anda bahkan gak sebesar dosen dan gak sebesar sepersepuluh biaya hidup saya sebulan. Berhenti berlagak jadi orang penting. Anda bukan siapa-siapa untuk pantas memarahi saya seperti itu!" Raline menatap tajam asisten dosen itu dengan raut wajah penuh kemarahan.
Bu Rika tampak terbakar emosi. Matanya melotot sempurna dan tangannya terkepal menahan amarah. "Kamu keluar dari kelas saya! Saya gak mau ngajarin mahasiswa kurang ajar kayak kamu!"
Raline tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. Tak ada rasa takut yang ditunjukan Raline. Kemarahan asisten dosen itu terasa begitu menggelikan baginya. Raline menganggap wanita itu hanya lalat kecil yang sebenarnya bisa dipukul dengan sangat mudah. Namun Raline menuruti perkataan asisten dosen itu dan bangkit berdiri dari kursinya. Dengan wajah penuh keangkuhan, Raline berjalan mendekati Bu Rika yang masih menatapnya penuh emosi. Raline tersenyum sinis dengan tatapan merendahkan, sebelum melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kelas itu.
"Saya keluar dari ruangan dan kampus ini, saya gak akan jadi miskin serta pengangguran. Kalo Ibu yang keluar dari sini... penghasilan Ibu akan berkurang atau bahkan gak ada. So... bye!" Raline melambaikan tangannya ke arah dosen itu sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Suasana kelas semakin menjadi hening mencengkam. Seluruh mahasiswa yang ada disana mengerti maksud tersirat dibalik ucapan Raline. Mereka lalu menatap prihatin dan kasian ke arah Bu Rika yang masih terlihat penuh dengan amarah.
Selama beberapa saat tak ada yang berani mengeluarkan suara di ruangan itu. Mereka masih terus terdiam dan membayangkan nasib buruk yang akan menimpa wanita yang saat ini sedang berdiri di depan kelas. Semua orang, kecuali asisten dosen itu, sangat tau apa yang pernah dan sanggup Raline lakukan ketika dikuasai kemarahan dan kebencian.
CONTINUED
*************
Hai guys!
Akhirnya cerita ini aku publish! Selamat menikmati Kisah Rosemary ya... eh Raline maksudnya :D
Jangan lupa Love dan komen ya! Thank you! ^^