“Udah?” Jesselyn yang baru mematikan panggilannya itu langsung menolehkan kepala dan mengangguk. matanya menatap lelaki di sampingnya itu dengan kening mengernyit. Menelan salivanya sebentar, Jesselyn kemudian membalikkan badan. “Kakak dari kapan di sini?” tanya gadis itu panik. “Baru tadi. Gue kira lo kemana. Mau langsung pulang? Gue kebetulan bawa mobil,” tawar lelaki itu dengan lembut. “Eh, nggak papa? Jesselyn udah repotin Kak Reza dari tadi.” Reza mengibaskan tangannya pelan. “Santai. Lo juga udah bantu gue tadi,” jawab lelaki itu dengan santai. Jesselyn akhirnya menganggukkan kepala. Gadis itu menunduk dan tersenyum. Ah, kenapa ia bisa bertemu dengan Reza? Sebuah kebetulan yang sangat dipaksakan sebenarnya. Jesselyn memang berencana datang pada festival yang diadakan di

