N_A_M_B_E_L_A_S

1105 Kata
“Sesuai sama janji gue.” Frizka mengambil amplop putih di atas meja. Gadis itu tersenyum kecil sebelum mengangguk. “Oke. Berarti urusan aku sama Kakak selesai. Jangan suruh aku untuk lakuin ini itu lagi!” Perempuan di depan Frizka mengangguk kecil. “Iya. Tugas lo juga udah beres. Makasih bantuan lo, ya, Friz.” Frizka tersenyum. “Iya, Kak Kia. Tapi, sebenarnya aku mau pacaran lebih lama sama Kak Reza kalau nggak ada janji sama Kak Kia.” Azkia mengangkat halisnya. Gadis itu menyeruput es jeruk di depannya dan menatap Frizka bingung. “Why? Reza gak sepinter itu, lho.” Frizka menggelengkan kepala tak setuju. Perempuan yang akhir-akhir ini selalu terlibat masalah di organisasi itu menghela napas panjang. “Emang nggak pinter. Tapi, baik banget. Kak Reza bisa tiap hari jemput aku ke rumah. Padahal jalan dari kosannya ke rumah aja bisa sampe setengah jam. Belum kalau tiba-tiba macet. Kak Reza juga peka banget, Kak Kia. Aku belum bilang apa-apa, dia udah tahu duluan.” Azkia terdiam beberapa saat. Ia menunduk sebentar sebelum menatap lantai dengan sendu. “Jadi, lo nyesel, nih, ikut truth or dare sama kita?” tanya Azkia dengan kepala yang kembali mendongak. Frizka diam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Kalau aja bukan karena nenek, Frizka lebih baik pacaran aja sama Kak Reza.” “Lo nggak butuh duit?” tanya Azkia dan kembali mengambil amplop yang sebelumnya ia berikan pada Frizka. Melihat itu, Frizka dengan cepat menggelengkan kepala dan kembali mengambil uang dari Azkia. “Aku butuh! Makasih ya, Kak.” Azkia terkekeh pelan. Gadis itu mengambil ponselnya yang terasa bergetar sebelum mendengkus melihat nama siapa yang tertera di sana. Bangkit dari kursinya, Azkia kemudian menepuk kepala Frizka lembut. “Kalau operasi nenek lo selesai, kasih tahu gue. Kalau ada kekurangan di biaya, jangan sungkan minta sama gue.” Frizka menganggukkan kepalanya pelan. Matanya menatap polos pada Azkia yang kini tengah tersenyum. “Sekali lagi makasih ya, Kak.” “Sama-sama. Kalau gitu, gue duluan. Lo bisa pulang sendiri, kan?” Frizka menganggukan kepalanya dan menunjuk pada sepeda berwarna hitam yang ia bawa dari rumah. Azkia yang melihatnya juga langsung mengangguk dan pergi. Meninggalkan Frizka yang menatap nanar punggung Azkia dari kejauhan. Azkia membuka pintu café dengan perlahan. Matanya yang terlalu fokus pada ponsel membuatnya tak sadar jika ada seorang lelaki di depannya yang sedang bersedekap. Tinggal selangkah lagi untuk keluar dari café, tiba-tiba saja kening Azkia didorong oleh sebuah tangan. Gadis itu dengan cepat mendongak. Melihat siapa yang baru saja mendorong keningnya. “Ngapain lo di sini sama Frizka, Kak?” tanya lelaki di depan Azkia dengan santai. Azkia yang mendengarnya langsung menelan saliva. Matanya melirik pada Frizka yang langsung menunduk. Menatap ke bawah untuk menghindari lelaki di depan Azkia mengenali wajahnya. Namun, sayangnya lelaki itu sudah melihat Azkia dan Frizka sejak tadi. “Lo sendiri ngapain di sini?” tanya Azkia balik. “Mau ngopi,” jawab lelaki itu jujur. “Gue liat lo kasih amplop. Apaan tuh?” tanyanya lagi. Azkia membuang wajahnya ke samping. Berusaha untuk tidak menatap mata lelaki di depannya atau semua yang ia rencanakan gagal sudah. “Itu isinya surat peringatan. Lo ‘kan tahu, Reza baru aja kasih peringatan sama dia buat lebih baik, kan? Anak kaya dia kalau dikasih nasehat aja, gak akan jera.” Lelaki di depan Azkia tersenyum miring. “Kalau isinya cuman surat peringatan, kenapa harus di café? Kenapa nggak di kampus aja? Sekalian kasih wejangan ala lo kaya biasa.” Azkia mengepalkan tangannya gugup. Keringat dingin mulai membasahi lehernya yang dibiarkan terbuka. Sebab, rambut panjangnya ia ikat menjadi satu dan ditutupi dengan topi. Berusaha untuk tidak terlihat mencolok. Tapi, sayangnya lelaki ini ternyata cukup pintar mengenalinya. Bahkan setelah ia mengganti pakaiannya menjadi lebih gelap. Putra memang cukup tajam dalam penglihatan. “Apa masalahnya sama lo?” tanya Azkia. Mencoba untuk tetap tenang. Karena, semakin ia mudah panik, maka semakin mudah juga Putra menebak. Saat ia menangis saja lelaki itu dengan mudah menebak alasan ia menangis. Bahaya jika lelaki itu sampai tahu apa yang ia lakukan dengan Frizka. “Gak ada, sih. Ya, gue ngerasa aneh aja. Lo yang biasanya blak-blakan terus tiba-tiba privat gini, kan, lumayan mencurigakan. Atau … kecurigaan gue bener?” Putra mendekatkan wajahnya dan tersenyum lebih menyeramkan dari sebelumnya. Azkia yang melihatnya langsung memundurkan wajah dan mendorong kepala Putra agar menjauh. “Curiga apa lo sama gue? Masalah apapun yang gue lakuin sekarang, karena permintaan ketua lo yang nggak jelas. Kalau bukan karena kepengen, tuh, anak, mana mau gue datengin dia sendirian. Lo kira atas perintah siapa gue dateng jauh-jauh ke sini?” balas Azkia meyakinkan. Putra menganggukkan kepalanya. Benar juga. Reza pasti meminta Azkia untuk datang karena tidak ingin Frizka dimarahi habis-habisan di depan anak-anak. Belum lagi mental Frizka ‘kan tidak sekuat Azkia. “Oke. Alasan lo kali ini gue terima. Kalau lo ketahuan bareng lagi sama Frizka, kayanya gue harus lapor sama Naza,” ujar lelaki itu dan tersenyum manis. Tangannya terangkat guna membuka topi Azkia sebelum menggunakannya pada kepalanya sendiri. Setelah dirasa pas, Putra lalu mengusap kepala Azkia dan memasuki café begitu saja. Lumayan, topi seharga lima ratus ribu bisa Putra jadikan barang bukti saat bertemu Naza nanti. “Balikin topi gue!” pinta Azkia dan menarik tangan Putra yang akan masuk ke daam café. “Topi lo masih banyak, Kak. Lo ngedip sekali aja bisa beli rumah. Remahan biskuit kaya gini masa kagak ikhlas?" tanya Putra seraya menaik turunkan halisnya. Azkia yang mendengarnya langsung berdecak pelan. “Balikin besok di kampus!” Putra mengangguk patuh. “Awas aja lo sampe kagak dibalikin!” Putra mengangguk kembali. “Nggih, Ratu. Besok sama saya dibalikin lagi,” jawabnya penuh tanda hormat. “Kalau inget tapi.” Azkia membulatkan mata begitu melihat Putra yang masuk dengan cepat ke dalam café. Berdecak kesal karena tidak ingin membuatnya malu sendiri di dalam, Azkia lalu memilih berjalan ke parkiran. Gadis itu menekan tombol pada kunci mobilnya sebelum memasuki mobil itu dengan perlahan. Panggilan di ponselnya yang sempat terabaikan itu kembali berdering. Azkia memutar bola matanya malas. Dengan sebal Azkia angkat telepon itu dan menekan tombol speaker. “Kenapa?” tanya Azkia dengan nadanya yang kesal. “Jutek banget sama sepupu sendiri. Gimana? Udah, kan? Dia bisa tutup mulut, kan?” Azkia mengepalkan tangannya. “Lain kali, urus sendiri sama lo, Pengecut!” Tawa renyah terdengar dari sebrang sana. “Gak seru kalau gue langsung keluar. Oh ya, Om Dawin udah gue kasih tahu. Tenang. Dia bakal temuin mama lo. Kalau gitu, gue tutup ya. Bye!” Azkia menggenggam erat-erat stir mobil. “Sialan! Dia yang punya dendam, gue yang kena!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN