Azkia membuka gerbang rumahnya. Gadis yang sibuk dengan ponselnya itu melirik sesaat pada mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Wajahnya yang semula biasa saja itu langsung berubah saat plat mobil di depannya begitu mudah Azkia hapalkan. Melepaskan headset dari telinga, Azkia lalu berniat untuk berbalik. Kembali keluar dari rumah. Padahal menginjakkan kaki ke dalam rumah saja Azkia belum lakukan. Baru akan menutup kembali gerbang rumahnya, Azkia menutup mata seraya mengepalkan tangan.
Seolah jatuh lalu tertimpa tangga, Azkia begitu menyesali kepulangannya kali ini. Membuka mata dan menghela napas panjang, Azkia kembali masuk ke dalam rumah begitu lelaki dengan almamater yang sama dengannya berada di depan gerbang.
“Kak!” panggil lelaki itu yang mana membuat Azkia berhenti melangkah. Ia menoleh kecil tanpa membalikkan badan. Matanya mendelik tajam pada Reza yang telihat seperti tidak berniat pulang. Bahkan setelah tahu jika Azkia tidak akan masuk ke dalam rumah.
“Kenapa?” tanya Azkia. Tangan perempuan itu bahkah masih berada di gerbang.
“Bisa ngobrol sebentar?” tanya Reza dengan lembut. Azkia memutar bola matanya malas.
“Udah gue maafin. Pulang sana,” usir Azkia dan masuk ke dalam rumah. Gadis itu membeku begitu melihat siapa yang ada di depannya. Langkahnya lagi-lagi harus berhenti. Kenapa hari ini menjadi hari tersial baginya?!
“Kamu ngomong sama siapa? Baru pulang?” tanya lelaki yang berbeda 5 tahun dari Azkia itu dengan tenang. Azkia menarik napas panjang dan mengangguk kecil.
“Sama temen,” jawabnya lalu bergegas pergi dari hadapan sang kakak.
“Kamu mau ke rumah Kakak?” tanya lelaki itu lagi. Azkia terdiam beberapa saat sebelum menggelengkan kepala. Tak jadi kabur karena ternyata sang kakak ada di rumahnya. “Yakin? Mama gak akan di rumah, lho, Kia.”
“Emang kenapa?” Kali ini Azkia, lah, yang bertanya. Gadis itu berbalik dan menatap kakak laki-lakinya. “Biasanya juga nggak ada di rumah, kan? Kakak juga udah tahu kenapa aku mau ke rumah Kakak, kan?”
“Jesselyn di sini nggak akan lama, Kia. Dia juga sepupu kamu.”
Azkia mengepalkan tangannya. Rasanya amarahnya yang sejak siang itu semakin melambung tinggi. Meskipun sudah Azkia coba untuk mengalihkannya dengan bermain ponsel, nyatanya itu tidak membuat semuanya meredup.
“Terus? Dia sepupu, Kakak. Bukan sepupu aku,” jawab Azkia dan berlari memasuki rumah. Takut jika amarahnya akan meluap pada kakak tirinya itu. Yang lagi dan lagi, langkah Azkia kembali berhenti saat menemukan perempuan pengganggu itu sedang duduk dengan tenang di sofa bersama dengan sang mama. Tangan Azkia mengepal semakin kuat. Bahkan kuku-kukunya menancap pada telapak tangan.
“Kok, pulangnya telat, Kia? Jesselyn dari tadi udah pulang, lho. Kalau pengurus beda, ya, sama—“
Ucapan Mama terpaksa mengambang, sebab, Azkia sudah lebih dulu berjalan cepat dan naik ke kamarnya. Mama menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. “Kamu kalau liat Azkia kaya gitu terus, diemin aja, ya? Dia kalau badmood emang agak jelek,” ucap Mama dan tersenyum pada Jesselyn.
Azkia yang masih berada di tangga jelas mendengar semua ucapan sang mama. Gadis itu mencoba untuk tetap bersabar. Tidak. Ia tidak boleh marah. Tidak ada masalah apapun antara ia dan Jesselyn. Bukan begitu?
Ya, seperti yang kalian tahu, Jesselyn adalah sepupu Azkia. Lebih tepatnya sepupu tiri. Mamanya menikah dengan sang papa yang sudah memiliki anak yaitu lelaki di depan sana. Lelaki yang berumur 25 tahun itu adalah bawaan dari sang papa. Sedangkan Jesselyn adalah anak dari adik papanya. Sampai sini jelas, kan?
Namun, karena masalah yang entah Azkia juga tidak mengerti sampai saat ini, mamanya dan sang papa memilih bercerai. Hubungan keduanya tidak baik. Namun, anehnya hubungan keluarga sang papa tidak putus dengan mamanya. Begitupun kakak tiri Azkia yang rutin mengurus mamanya dan mengecek keadaan. Padahal lelaki itu memiliki ibu kandung sendiri.
“Iya, Tante. Maafin Jesselyn yang ngerepotin Tante, ya.”
“Ish! Enggak papa. Tante malah seneng Azkia punya temen. Biasanya dia sendiri di sini. Kalau ada kamu, pasti bisa lebih sering di rumah.”
“Semoga ya, Tante.”
***
Sedangkan di depan gerbang Reza masih diam. Lelaki itu memangku helmnya dan menatap balkon di sebelah barat yang mana itu adalah kamar Azkia. Keadaan kamarnya masih gelap. Itu artinya Azkia belum sampai ke kamar.
“Nyari siapa, ya, Dek?” tanya lelaki yang baru akan mengunci gerbang pada Reza.
Panik melanda Reza saat itu juga. Ia baru melihat lelaki di depannya ini. Kalau tidak salah, lelaki itu adalah salah satu mantan pacar Azkia, kan? Ah! Reza baru ingat. Lelaki ini, kan, yang ada di rumah Azkia dan mencium Azkia kala Reza datang meminta penjelasan. Kepala Reza mengangguk kecil. Ternyata mereka masih berhubungan.
“Ah, saya cari alamat, Kak. Kayanya salah,” ucap Reza sebelum menyalakan kembali motornya. “Saya tadi lihat nomor rumahnya. Ternyata bukan 45. Kalau begitu, saya permisi dulu, Kak. Mari.”
Lelaki yang masih berada di depan gerbang itu mengangguk. Matanya melirik pada nomor rumah yang menunjukkan nomor 35. Mengedikan bahunya kecil, lelaki itu lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Reza yang juga sudah pergi menarik napas panjang. Kenapa juga ia harus datang ke rumah Azkia? Ia bisa saja mengirim pesan pada gadis itu jika ia ingin meminta maaf, kan? Ah, bodoh sekali memang dirinya ini!
Membelah jalan menuju rumah Naza yang memang berada di komplek yang sama dengan Azkia, Reza menghentikan motornya saat Naza terlihat sedang membuang sampah. Lelaki itu memberikan klakson cukup keras, membuat Naza yang masih menuangkan sampah ke dalam tempat sampah besar itu berjengkit kaget dan mengusap dadanya. Reza yang melihatnya tak bisa menahan tawa.
“Sialan! Mau ngapain lo?” tanya Naza saat berbalik dan menemukan Reza yang masih berada di atas motor. Lelaki dengan kaos putih dan celana jogernya itu menyugar rambut ke belakang. Matanya menyipit kala melihat Reza yang langsung berubah menjadi kesal. “Kenapa lo?”
“Ada Tante?” tanya Reza.
Mata Naza membulat. “Mama gue masih waras buat milih lo!” ucap lelaki itu dengan lantang.
Reza mengernyitkan kening. “Apaan, dah? Gue tanya nyokap lo masih di rumah? Gue mau ikut main,” jelas Reza yang berhasil membuat Naza menghela napas lega.
“Lagian, datang-datang nanyain nyokap gue.”
“Ya, kalo gue nanyain lo, buat apa? Lo ada di depan mata gue.”
Naza terkekeh pelan. Lelaki itu menggeser pagar rumahnya dan membiarkan motor Reza masuk ke halaman rumah. “Mama gue kayanya bentar lagi pulang. Lagian dia juga nggak akan ganggu kalau lo ke sini. Tumben banget nanyain mama gue.”
“Mau minta makan maksudnya. Lo ‘kan kalau masak suka sedikit. Beda banget kalau lo yang masak.” Reza yang sedang melepaskan helmnya itu mengangkat halisnya melihat Naza yang terdiam di depan pagar dengan mata menatap ke arah sebrang. Merasa penasaran dengan apa yang sedang Naza lihat, Reza bergegas menaruh helmnya dan melangkah mendekat pada Naza.
Kening Reza mengernyit semakin dalam saat matanya tak sengaja melihat perempuan di depan sana yang tampak tak asing. Saat melihat name tag yang terpasang, Reza langsung membulatkan bibir.
“Aina juga di sini? Banyak juga yang tinggal di sini. Satu komplek pula sama lo,” ujar Reza tiba-tiba. Naza yang mendengarnya langsung menoleh.
“Lo kenal Aina?” tanya Naza yang diangguki pelan oleh Reza.
“Makanan yang gue tumpahin tadi, kan, punya tuh anak. Jutek banget. Sebel gue ngobrol sama dia. Temen-temennya yang lain kayanya biasa aja. Lah, dia kek mau makan orang, anjir!” curhat Reza. Naza yang mendengarnya tertawa kecil.
“Emang gitu dari kecil. Enggak jauh, lah, sifatnya sama Azkia. Sama-sama kasar. Jutek, keras juga,” jelas lelaki itu dengan tenang.
Reza yang merasakan sesuatu tak asing itu langsung menyipitkan mata dan menatap Naza dengan wajah jahilnya.
“Kenal banget, keknya, lo sama Aina,” goda lelaki itu dan menyenggol bahu Naza.
“Dia tetangga gue dari kecil. Jelas gue kenal sama dia,” jawab Naza dan berbalik setelah melihat Aina yang tersenyum padanya. Lelaki itu menutup gerbang dan menarik Reza agar segera masuk ke dalam rumah.
“Asli, nih, cuman temen kecil?” goda Reza semakin gencar.
“Gimana lo aja, dah!”
“Kok, gimana gue? Kan lo yang … ekhem.”
“Nggak jelas!” Reza tertawa mendengar kekesalan Naza. Lelaki itu lalu merangkul Naza dan berjalan berdampingan dengan lelaki itu.
“Gue lumayan deket sama Jesselyn. Bisa kali gue tanya sama dia. Ada hubungan apa, nih, antara kakak tingkat dengan adik tingkatnya,” ucap Reza yang masih asik menggoda.
“Ngapain? Harusnya gue yang tanya itu sama Aina. Ada hubungan apa lo sama Jesselyn. Kayanya deket banget,” balas Naza dan melepaskan tangan Reza. “Terus, gue kasih tahu sama Putra. Biar dilaporin ke kakak lo.”
Reza mencebik sebal. “Enggak asik main sama lo. Aduan!”
“Dari pada, lo? Baperan!”