P_A_T_B_E_L_A_S

1781 Kata
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya pesanan Reza datang. Lelaki yang sejak tadi melihat sekitar kantin itu segera membayar pesanannya. Matanya masih menyusuri sekitar kantin. Berusaha mencari bangku Jesselyn dengan teamn-temannya. Tidak mungkin, kan, Reza memakan semuanya sendiri? Sudah banyak, tidak pedas pula. Reza tidak bisa memakan itu. “Lah, ngapa lo beli dua? Laper?” tanya Wahyu begitu melihat Reza yang datang dengan dua mangkuk. Lelaki itu menaruh satu mangkuk dan kembali berjalan. Membuat para temannya mengernyit kening. “Kemana lagi, tuh, anak?” Putra mengernyitkan kening dan mendongak. Melihat Reza yang berhenti di meja sebrang dekat dengan gerbang kantin. Lelaki itu membulatkan mata saat netranya tak sengaja menemukan sosok Jesselyn sedang duduk di sana. “Dia beneran gila, ya?” Naza dan Zayan yang sejak tadi anteng itu langsung menolehkan kepala dan melihat ke arah mata Putra yang seolah menunjuk. Keduanya terdiam saat melihat Reza tampak mengobrol tenang dan menyerahkan satu mangkuk di tangannya pada Jesselyn. “Bukannya waktu kemarin ditolak, ya? Sampe ditarik keluar lapangan sama Reza, kan? Kenapa baik banget sekarang?” ucap Zayan yang ikut curiga dengan kelakuan Reza. Ketiga lelaki itu menatap tajam Reza yang kembali. Senyum manis tidak lepas dari bibir lelaki itu, membuat para temannya menatap dingin Reza yang duduk di samping Zayan. “Abis ngapain lo?” tanya Naza pada Reza. Dan tanpa merasa bersalah, Reza menunjuk pada meja Jesselyn. “Naza nanya ngapain. Bukan dari mana,” sinis Wahyu. Sekalipun, ia tidak begitu mengerti dengan masalah Reza dan Jesselyn, namun mendengar jika lelaki itu menolak Jesselyn kemarin, sedikit membuatnya sebal. Untuk apa Reza masih baik dengan gadis itu jika memang tujuannya bukan untuk mendekati Jesselyn? “Abis anterin makanan,” jawabnya dan mulai membuka bungkus sumpit. “Gak usah mikir aneh-aneh. Tadi, gue gak sengaja numpahin makanan temennya Jesselyn. Gak enak kalau gue gak gantiin,” jelas lelaki itu yang paham dengan tatapan mata para temannya. Putra yang mendengarnya hanya mencebik kecil. Merasa tidak percaya dengan apa yang Reza katakan. “Yakin?” tanya Zayan seraya menatap Reza yang asik menyantap ramennya. “Enggak percaya? Lo tanya aja sana,” jawab Reza dan menunjuk meja Jesselyn yang tampak penuh dengan lelaki. “Kalau nggak ada urusan juga ngapain gue ke sana.” “Iya, dah. Percaya, Za. Santai kenapa, sih?” Reza mengedikan bahunya acuh. “Lagian gitu banget setiap gue deket sama Jesselyn.” “Bukan gitu, Za. Lo sama Jesselyn, kan, udah dikenal hampir satu kampus. Kalau ketahuan lo berdua, rumor tentang lo makin jadi. Lo tahu sendiri forum anak-anak kampus sekarang gimana. Masalah Jesselyn nembak lo kemarin aja belum selesai di forum.” Naza mengangkat tangannya dan menatap para temannya dengan lekat. Kala mereka menatap balik, Naza segera menggelengkan kepala. Meminta ketiga lelaki itu agar berhenti membicarakan hal yang sudah terjadi. Sebab, di kantin terkadang lebih banyak mata-mata daripada di kelas. “Kak Kia!” panggil Putra semangat. Lelaki yang duduk berhadapan dengan Naza itu melambaikan tangannya pada seorang gadis yang sedang membawa piring di tangannya. Di sebelah gadis itu ada seorang perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah teman satu kelas Azkia. Azkia yang merasa namanya dipanggil langsung mengedarkan matanya. Kala netranya menangkap sebuah tangan yang melambai, Azkia lalu mendengkus sebal. Gadis itu membuang wajahnya ke arah lain dan mulai mencari tempat duduk yang kosong. Sialnya, semua bangku dan meja sudah terisi. “Mau makan di mana, Kia? Gue udah laper banget, nih. Abis ini ada presentasi. Lo enak bisa absen dulu,” keluh temannya seraya memegang lengan Azkia. “Sini, Kak!” ucap Putra lagi dan menunjuk bangku sebelah Wahyu yang kosong. Karena bangku yang diduduki Putra dan Wahyu bentuknya panjang, membuat sisi Wahyu dan Putra masih tersisa banyak. Azkia menatap temannya sebelum akhirnya terpaksa berjalan menghampiri Putra setelah mendapat anggukan pelan. “Gue ikut makan,” ujar Azkia dan meminta Wahyu untuk menggeser tempat duduknya. Lelaki itu dengan cepat bergeser ke samping dan membiarkan Azkia untuk duduk di sampingnya. “Gue sama yang lain aja, deh, Kia. Itu ada Vino. Gue sekalian mau bahas presentasi abis ini juga,” ujar teman Azkia dan menatap Azkia dengan tatapan memohon. Azkia menutup matanya sesaat sebelum menganggukkan kepala. Sebetulnya Azkia paham kenapa gadis itu langsung menghindar dan beralasan agar duduk dengan temannya yang lain. Tentu saja karena keberadaan Reza yang tepat berada di depan Azkia. “Makan apa, Kak?” tanya Zayan yang merasa suasana semakin memburuk. “Lo bisa liat gue makan apa,” sarkas gadis itu sebelum mulai memotong ayam di piringnya dengan garpu dan sendok. Zayan yang mendapat balasan menohok hanya bisa membuang wajah dan mendengkus sebal. Rasanya ia menyesal sudah bertanya pada gadis sejutek Azkia. “Kak Kia, gue minta maaf,” ujar Reza yang sejak tadi diam. Yang mana berhasil membuat perhatian teman-temannya beralih pada lelaki itu. Begitupun dengan Azkia yang langsung terdiam. “Gue minta maaf karena udah nuduh lo yang nggak-nggak. Gue juga belum bilang maaf yang bener sama lo.” Azkia menggenggam garpu di tangannya dengan erat sebelum menjatuhkannya ke atas piring. Membuat suara detingan itu cukup keras. Walau begitu, keadaan kantin yang ramai tidak membuat suara detingan garpu Azkia menjadi tontonan mereka. Hanya beberapa orang yang melihat ke arah meja Reza. Begitu juga dengan Jesselyn dan teman-temannya yang langsung melihat ke arah meja Reza. “Gue gak tahu harus maafin lo gimana. Yang pasti, maaf lo gak akan buat gue tetep di organisasi,” balas gadis itu kemudian bangkit. “Kak, makanan lo belum—“ “Udah gak nafsu,” potong Azkia dan berlalu pergi. Meninggalkan Reza yang masih menunduk dan mengigit bibir bawahnya penuh penyesalan. Kenapa bisa ia sebodoh ini? Tentu saja Azkia tidak akan memaafkannya semudah itu. Ditambah Azkia yang belum menyentuh sama sekali makan siangnya. “Lo, sih, Put! Ngapain pake manggil coba!” gerutu Wahyu dan menggeplak kepala Putra dengan sendok di tangannya. “Ya, gue kan kasian sama dia. Daritadi nyari tempat duduk,” balas Putra seraya mengusap kepalanya. Lelaki itu kemudian mencium bekas geplakan sendok Wahyu. “Bau mie ayam, Anjir!” Wahyu yang melihatnya langsung menyengir lebar. “Maaf. Enggak ngeh kalau itu habis dari mangkuk, sendoknya.” Putra mengepalkan tangannya dan hampir memukul kepala Wahyu balik, namun, Wahyu dengan cepat menghindar. Membuat kepalan tangan itu memukul udara. “Lo mau kemana, Za?” tanya Naza dan Zayan bersamaan saat Reza bangkit dari kursinya dan membawa piring Azkia yang masih utuh. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Naza dan memilih pergi begitu saja. “Pasti mau bujuk Azkia,” gumam Naza dan menghela napas. “Emang ada masalah apa, sih? Kok gue gak tau, ya? Lo tau, Put?” tanya Wahyu pada Putra. Dengan polos Putra menggelengkan kepala. “Semalem dia kagak pulang ke kosan soalnya. Gue jadi kagak tahu ada berita terbaru. Ada apa, sih, Na?” Naza hanya mengedikan bahunya dan segera mengambil minum. Lelaki itu menggeser piringnya yang sudah bersih sebelum bangkit dan menyusul Reza. Meninggalkan para temannya yang menatap datar Naza. *** “Ada Azkia?” tanya Reza begitu kakinya sampai di depan ruang rapat. “Ah, ada, Kak. Lagi tiduran di deket meja,” jawba salah satu adik tingkat Reza. Gadis itu kemudian menunjuk bagian pojok ruang rapat. Di mana terdapat kaki seseorang yang terlihat di antara rak buku besar. Reza yang melihatnya langsung mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lelaki itu bergegas masuk ke dalam dan menyalakan pendingin ruangan kala ruang rapat terasa panas. “Mama, kenapa, sih?! Dia juga punya rumah, kan? Ada bibi sama adiknya juga. Kenapa harus di rumah?!” sentak Azkia dari belakang rak buku. Langkah kaki Reza spontan berhenti. Lelaki itu tidak mungkin melangkah lebih dekat. Mengingat Azkia yang sepertinya sedang melakukan panggilan video dengan sang mama. “Cuman satu minggu, Azkia. Mama juga nggak bisa ada di rumah. Sekalian nemenin kamu, kan?” ujar wanita dengan jas hitamnya itu dari sebrang. “Aku enggak butuh temen! Liat aja. Kalau sampe dia beneran di rumah, aku tinggal di apartemen Kakak!” ancam Azkia sebelum akhirnya mematikan panggilan. Gadis itu menjatuhkan ponselnya ke samping sebelum menatap langit-langit ruangan dengan tajam. “Apa gunanya jadi penguping, sih?” Reza terhenyak. Lelaki yang masih berdiri dengan piring di tangannya langsung melihat ke arah Azkia yang masih menatap langit-langit ruangan. “Dapet apa lo dari nguping?” ucap gadis itu lagi. Kali ini kepalanya bergerak menoleh pada Reza. Reza menelan salivanya begitu mata Azkia terlihat sangat tajam. Memberanikan diri mendekat, Reza lalu duduk di samping Azkia yang berbaring terlentang. Gadis itu sepertinya kepanasan. Salah satu kebiasaan Azkia sejak dulu. Saat merasa panas, gadis itu akan berbaring di lantai dengan berbantalkan almamater. “Maaf. Gue gak sengaja denger,” ucap Reza. “Makan siang lo belum—“ “Gue udah nggak nafsu,” potong Azkia kemudian bangkit. Gadis itu membenarkan letak ikat rambutnya dan mengambil jas yang masih tergeletak di lantai. Bergegas pergi dari hadapan Reza. Sayangnya, Reza tidak membiarkan ia pergi. Lelaki itu menarik tangan Azkia. Membuat Azkia kembali duduk dengan wajah yang berhadapan langsung dengan Reza. “Lo boleh marah sama gue. Tapi, apa harus lo marah sama diri lo sendiri? Yang punya masalah gue sama lo. Bukan perut lo,” ujar Reza dan menunjuk perut Azkia dengan telunjuknya. “Kalau emang lo marah, marah aja. Teriak. Bentak gue balik. Pukul gue kaya biasanya. Kenapa harus nyiksa diri lo sendiri?” Azkia terdiam. Tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Reza yang selalu berhasil menyentuh hatinya. Sialan! Apa lelaki itu tidak tahu akibat dari ucapannya?! Jantung Azkia semakin keras berdetak. Jika terus seperti ini, Reza pasti bisa mendengarnya. “Gue udah nggak mau makan,” jawab Azkia dan membuang pandangannya. “Atau mau yang lain? Gue ada roti isi dari Jesselyn. Mau?” tawar Reza. Lelaki itu menggeser duduknya sedikit agar bisa melihat wajah Azkia. Dengan cepat Azkia menggelengkan kepalanya. “Gak perlu.” “Tapi lo harus makan, Kia. Lo bisa nggak, sih, sayang sama diri lo sendiri?” Reza menarik napas panjang. Azkia dengan keras kepalanya adalah paket komplit. Entah dua tahun lalu atau sekarang, sikap gadis itu ternyata tidak berubah. Pernah menjadi kekasih Azkia selama beberapa bulan, cukup membuat Reza paham jika gadis ini memang sebebal itu. “Apa urusannya sama lo?” tanya Azkia balik. Keduanya yang sibuk beragumen tidak sadar jika sejak tadi ada seorang perempuan yang mematung di tengah-tengah ruang rapat seraya mengepalkan tangan kesal. “Lo—“ “Kak Reza, Kak Azkia, dipanggil sama Pak Gunawan,” ucap seorang perempuan setelah berdiam diri sejak beberapa menit lalu. Baik Azkia maupun Reza, keduanya langsung menoleh dan bangkit. Pegangan tangan Reza pada lengan Azkia juga dengan cepat dilepas. “Ah, di mana, Jess?” tanya Reza dan berjalan lebih dulu dari Azkia. Azkia yang melihatnya langsung mengeraskan rahang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN