I_G_A_B_E_L_A_S

1822 Kata
Tepat pukul 11.55, mahasiswa baru diizinkan untuk beristirahat. Biasanya jam-jam tersebut dipakai untuk isoma—istirahat, sholat dan makan. Setelah mendapat pesan agar kembali pukul setengah satu, mahasiswa baru kemudian dibubarkan dari barisan. Begitupun dengan Reza dan anggotanya. Mereka mendapat kebebasan seperti mahasiswa baru. “Lo mau makan di kantin, Za?” tanya Wahyu yang baru sampai di ruang rapat. Lelaki yang sedang melepaskan name tagnya itu mengernyit kala Reza menggelengkan kepala. “Lah, tumben. Kenapa?” “Gue bawa bekel,” jawab Reza singkat. Wahyu yang mendengarnya jelas membelalak terkejut. “Sumpah? Demi apa?” tanya lelaki itu tak percaya. “Dikasih makanan sama Jesselyn,” sahut Putra yang datang bersama Naza dan juga Zayan. Putra menggelengkan kepala saat melihat Reza yang tampak kesal karena ia membongkar kebenarannya. “Lo kok bisa baik banget sama cewek, sih? Udah tahu itu anak kayanya cuman main-main doang sama lo. Masih aja diterima,” cerocos Putra yang sudah kesal dengan kelakuan Reza. Naza yang mendengarnya terkekeh pelan. “Pak Ketua, penyelamat hati wanita,” ujar Zayan seraya mengangkat tangannya pada Reza yang duduk di kursi paling depan. Lelaki itu tertawa kala melihat Reza mendelik tak suka. “Kapan ngasihnya?” tanya Naza. Lelaki itu mendekat pada Reza sebelum menganggukkan kepala melihat makanan yang tersaji di depannya. Roti isi dengan buah anggur yang tertata di kotak kecil di dalamnya. “Sehat juga makanannya.” “Kalau ngasih ke orang ya, gitu, Na. Makanannya pada sehat. Bagian diri sendiri yang makan aja, micin sampe satu sekop di masukin ke masakan.” Wahyu dan Zayan bersamaan tertawa mendengar ucapan Putra. Terlihat sekali jika lelaki itu sangat tidak menyukai Jesselyn. Bagaimana bahasanya yang terus menjelek-jelekkan apapun tentang Jesselyn, membuat para temannya itu paham jika Putra menutup rasa sukanya terhadap gadis itu. “Lo kenapa, sih? Lagian dia kasih makanan juga gak beracun.” Reza mengernyitkan keningnya. Menatap Putra yang kini memutar bola matanya malas. “Gak beracun di mulut. Tapi, beracun buat otak lo!” “Lo ‘kan bisa nolak, Za. Kenapa harus diterima?” tanya Wahyu yang ikut penasaran. “Kakak Reza perempuan,” jawab Naza mewakilkan. Reza yang mendengarnya mengangguk setuju. “Sekalipun, gue sama kakak gue gak sedeket itu, gue tetep tahu apa yang dia rasain dulu. Ditolak juga termasuk perasaan yang gak bisa dilupakan. Gue tahu gimana waktu kakak gue ditolak padahal dia kasih sesuatu tulus banget,” ucap Reza seraya melahap roti isi di tangannya. “Selagi gue tahu apa yang mereka rasain dan hargain yang mereka kasih, kenapa harus ditolak?” Wahyu terdiam. Ia tidak pernah memiliki adik maupun kakak perempuan. Ia juga jarang berinteraksi dengan perempuan. Baru kali ini Wahyu mendengar jika perasaan perempuan ternyata sesensitif itu. “Tapi dari mukanya aja udah keliatan kalau dia cuman mau main-main sama lo, Za,” ujar Putra. Kekeh dengan keputusannya. “Mau dia mainin gue, kek. Mau dia punya niat jelek, kek. Selama gue gak ngerasa rugi dan apa yang dia kasih bermanfaat, kenapa harus ditolak? Put, manusia gak ada yang tahu isi hatinya.” Reza menutup kotak bekal yang tersisa satu roti isi lagi di dalamnya. “Gue tahu lo kesel. Lo marah dan gak suka sama cara Jesselyn deketin gue. Tapi, kalau lo liat baik-baik, anaknya nggak seburuk itu juga.” “Frizka juga awalnya kek cewek lugu. Akhirnya malah kek anak dakjal,” tutur Zayan. Naza menganggukkan kepalanya setuju. “Gue setuju sama Zayan, sih. Kita emang nggak pernah tahu apa yang dia rencanain. Tapi, waspada itu harus, Za. Lo juga harus belajar dari semua yang lo alamin. Masalah kakak lo yang pernah ngerasa terluka dan yang lain, itu kakak lo, bukan cewek yang deketin lo.” “Tuh, denger! Naza aja satu suara sama gue!” bangga Putra. Lelaki itu menyipitkan matanya pada Reza yang kini menghela napas. “Tapi, Na, gue takut apa yang gue lakuin buat orang lain malah kayak apa yang kakak gue rasain.” Naza menepuk bahu Reza sekali. “Gue paham. Jadiin itu pembelajaran buat lo. Bukan buat welcome sama semua perempuan. Kadang, perlakuan baik lo yang gak ada niat apa-apa, bisa dianggap lain sama perempuan.” Zayan mengangkat ibu jarinya pada Naza. Lelaki yang entah sejak kapan duduk di samping Reza itu menatap Reza dengan lekat. “Perempuan kadang berfikir lebih masalah perasaan. Lo juga harus bisa hati-hati kalau bertindak, Za.” Reza terdiam. Sebenarnya, apa yang salah? Ia hanya melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Melihat sang kakak yang sempat terpuruk karena lelaki, Reza tak ingin membuat para perempuan juga merasakan hal yang sama. Ia tidak mau menjadi lelaki yang sama dengan sosok yang pernah melukai kakaknya dulu. Reza belajar banyak akan hal itu. Dan Reza cukup tahu kenapa ia harus bertindak demikian. Kakaknya bukan perempuan lemah yang satu kali ditolak akan menyerah dan melupakan hal tersebut begitu saja. Kakaknya sosok yang paling kuat—setelah sang mama—menurut Reza. Kakaknya bahkan tidak pernah mengeluh atas hal apapun yang dialaminya. Tapi, satu hari di mana Reza yang melihat sang kakak menangis sampai hampir pingsan karena tidak kunjung keluar dari kamar, membuat Reza mengerti jika kakaknya selama ini tidak sekuat itu. Dan asumsi pertama yang memenuhi kepala Reza adalah, perempuan tidak setangguh itu. Mereka mungkin memiliki semua cara agar terlihat baik-baik saja. Namun, kenyataannya isi hati mereka terluka. Itulah satu-satunya pembelajaran yang Reza jadikan pedoman hidupnya saat dekat dengan perempuan. “Kalau lo gak mau ke kantin, ada yang mau dititip gak?” tanya Wahyu yang merasa pembicaraan mereka sudah jauh. Dan beberapa anggota juga sudah mulai berdatangan ke ruang rapat. “Gue ikut ke kantin,” jawab Reza. Lelaki itu kemudian bangkit bersama dengan Zayan dan Naza. “Tadi, lo bilang kagak mau ikut!” “Berubah pikiran. Perut gue gak cukup makanan sehat doang. Butuh sesuatu yang menyatu dengan kemicinan.” Naza menggelengkan kepala. “Pantes otak lo gak maju-maju. Makanannya aja micin.” “Biasa, generasi macam gue gak harus pilih-pilih makanan. Yang penting kenyang,” kelakar Reza. Lelaki itu menaik-turunkan halisnya pada Putra dan juga Zayan yang dengan semangat mengangguk setuju. “Tanpa micin, makanan gak seenak itu, Na,” tambah Putra. “Iya, dah. Gue ngikut aja,” pasrah Naza. *** “Bu, mie ayam dua, seblaknya satu, ya!” ucap Putra pada ibu-ibu pedagang di sampingnya. “Gue gak dipesenin apa-apa?” tanya Reza. Lelaki itu menatap Putra yang tersenyum lebar. “Tinggal pesen sendiri, Za,” jawab Naza yang datang dengan satu nasi goreng lengkap dengan acar. Reza yang mendengarnya hanya bisa mendengkus sebal. Lelaki itu terpaksa bangkit karena tergiur dengan nasi goreng yang Naza bawa. “Mau kemana?” tanya Putra begitu melihat Reza yang keluar dari meja. “Mau beli nasi goreng. Kenapa? Lo juga mau?” Putra menggelengkan kepalanya pelan. “Gak. Nanya aja. Siapa tahu mau nyari perempuan yang bening dikit,” goda lelaki itu. Reza memutar bola matanya malas. “Jangan sampe ada yang tempatin bangku gue! Yan, lebarin p****t lo!” titah Reza seraya menunjuk kursi di sebelah Zayan. “Dikira p****t gue p****t badak kali! Udah sana. Enggak akan ada yang mau nempatin juga.” Mata Reza memicing tajam. Mengangkat jari telunjuknya pada kursi, Reza lalu menggesek lehernya sendiri dengan jari tadi saat Zayan melihat ke arahnya. Zayan hanya bisa menghela napas dan menggeser duduknya agar bisa menempati bagian milik Reza juga. “Udeh!” jawabnya lantang. Reza lantas menyengir lebar dan mengacungkan ibu jarinya. Lelaki itu kembali berjalan dan berbalik. Namun, baru akan melangkah ke samping, Reza tak sengaja menabrak seseorang. Suara ringis kesakitan juga bisa Reza dengar. Dengan cepat Reza menunduk dan berjongkok. Lelaki itu mengambil mangkuk di depannya yang sudah terbalik menghadap tanah. “Ah, maaf. Gue gak sengaja tadi,” ujar Reza dan membantu gadis yang ditabraknya agar bangkit. Namun, alih-alih bangkit, gadis itu justru mendongak dan menatap Reza tajam. Reza mengangkat halisnya kala gadis itu berdecak cukup keras. Kedua mata Reza tak sengaja melihat pita yang berada di rambut panjang gadis di depannya. Rupanya yang ia tabrak adalah salah satu mahasiswa baru. “Kalau jalan tuh pake mata!” marahnya dan berdiri seraya membersihkan rok SMAnya yang basah. Tentu saja karena terkena tumpahan kuah ramen. Tidak merasa takut atau bersalah karena sudah membentak Reza yang notabenenya adalah kakak tingkat sekaligus ketua BEM. “Aina, lo gak papa?“ Reza menolehkan kepala begitu suara terdengar dari belakang tubuhnya. Dan sosok Jesselyn bersama dengan dua gadis lainnya menghampiri perempuan di depan Reza. “Gak jadi makan siang gue,” sungut Aina dan menghela napas kasar. Reza yang tersadar langsung merogoh saku. “Ah, biar gue ganti. Mau? Gue bisa—“ “Gak perlu. Gue udah gak butuh,” sombong gadis dengan name tag Aina itu sebelum berlalu bersama teman-temannya. Sedangkan Jesselyn masih berdiri di depan Reza. Gadis itu menunduk kecil. “Kakak gak perlu beli lagi. Maafin, Aina ya, Kak? Dia emang agak jutek,” ucap Jesselyn tanpa dititah. Reza menganggukkan kepalanya kecil. “Tapi, nggak papa gue gak ganti makanannya?” tanya Reza tak enak. “Enggak papa, Kak. Aina emang gitu. Nanti dia bisa beli yang lain. Kalau gitu, Jesselyn duluan.” Gadis itu menunduk hormat sebelum benar-benar pergi dari hadapan Reza. Reza mengedipkan mata beberapa kali dan mengangguk kecil. Lelaki itu menatap tangannya yang memegang mangkuk kosong. Beruntungnya mangkuk itu tidak pecah. Masih merasa tak enak, Reza memutuskan kembali membelikan apa yang dipesan Aina sebelumnya. Ia jelas tidak ingin membuat namanya semakin buruk. Ditambah keberanian gadis itu yang menyentaknya, cukup membuat Reza terkejut sekaligus tertantang. Sepertinya Aina bukan gadis biasa. Bisa-bisa ia dihalangi ketika pulang nanti. Atau paling menakutkan diajak bertarung. “Mas, ramennya satu,” pesan Reza seraya menyerahkan mangkuk kosong kepada pedagang di depannya. “Pedesnya mau segimana, Kak?” Reza menggaruk tengkuknya bingung. “Gue gak tahu lagi dia suka pedes apa nggak,” gumam lelaki itu frustasi. “Kak?” “Ah, pesen satu-satu aja, Kak.” “Yang pedes satu, yang sedeng satu sama yang gak pedes satu? Gitu, Kak?” Reza menganggukkan kepalanya. “Mau ramen varian apa, Kak?” “s**t!” umpat Reza begitu sang pedagang memberikan buku menu ke hadapannya. “Yang tadi pesennya apa ya, Mas?” Pedagang di depannya tampak mengernyitkan kening. “Yang mana, Kak?” tanya pedagang itu balik. “Yang … itu. Yang tadi tumpah. Mas liat, kan?” Reza beharap begitu besar Tuhan menakdirkan lelaki di depannya ini melihat kejadian tadi. “Oh, Adek yang tadi. Kakak mau beli buat dia?” Reza mengangguk semangat. Senyum cerah terbit di bibirnya. “Kayanya yang ini. Nggak pedes, Kak.” Reza langsung menggerakan kepalanya cepat. “Iya. Yang itu aja, Mas. Satu. Sama yang ini satu. Ini pedesnya sedeng aja ya, Mas.” “Oke, Kak. Tunggu sebentar, ya!” Reza mengangguk. Dalam hati ia bernapas lega. Kalaupun nantinya makanan yang ia belikan tidak dimakan, itu bukan lagi masalahnya. Yang terpenting, ia sudah memberikan apa yang seharusnya ia berikan. Sekaligus meminta maaf atas perbuatannya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN