D_U_A_B_E_L_A_S

1670 Kata
“Mau ngapain lo di sini?” Adalah pertanyaan yang Azkia lontarkan begitu melihat Reza di depan rumahnya. Lelaki dengan motor ninja hitamnya itu melepaskan helm dan menatap Azkia. “Jemput lo, lah, Kak. Naik, gih. Bentar lagi dimulai acara hari kedua,” titah Reza dan memberikan helm lain yang memang sengaja ia bawa. Lelaki itu tersenyum kala Azkia menatapnya balik. Namun gadis dengan almamater merahnya itu terlihat dingin dari biasanya. “Gua bisa berangkat sendiri,” ujar gadis itu acuh dan berjalan melewati Reza. Baru akan memesan ojek online dari ponselnya, seseorang keluar dari rumah Azkia. Membuat gadis itu menolehkan kepala dan menghela napas jengah saat tahu siapa yang keluar. “Lho, Nak Reza. Mau jemput Azkia, ya?” tanya wanita paruh baya yang sudah rapi dengan jasnya itu. Reza tersenyum kikuk. Lelaki itu mengangguk pelan sebelum mengambil tangan kanan wanita itu. “Iya, Tante,” jawab Reza apa adanya. “Kamu kenapa di situ? Reza udah jemput juga. Kamu—“ Ucapan wanita itu tidak sepenuhnya rampung karena Azkia sudah lebih dulu berdecak dan kembali ke hadapan Reza. Mengambil helm yang Reza berikan sebelumnya, Azkia lalu naik ke atas motor lelaki itu dengan cepat. “Jalan,” titah Azkia seraya merekatkan pengaman helmnya. Reza segera memakai kembali helmnya. Lelaki itu menunduk kecil pada wanita di depannya sebelum mulai menyalakan mesin motornya. “Kalau gitu, Reza jalan dulu, Tante. Permisi.” Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Melambaikan tangannya pada Reza dan Azkia yang pergi, wanita itu bisa melihat dengan jelas delikan dari putrinya. Ia hanya bisa menghela napas saat tahu Azkia lagi-lagi menghindar darinya. Sedangkan di motor, Azkia berdecak kasar. Terpaksa naik ke atas motor Reza jelas bukan keinginannya. Namun, jika ia tidak berangkat dengan lelaki ini, Azkia yakin ia akan berangkat dengan sang Mama. Dan itu adalah hal yang paling Azkia hindari. “Name tag sama pinnya ada di lo, kan, Kak?” tanya Reza dari depan. Azkia hanya menjawab dengan gumaman pelan. Ya, ia kembali ke organisasi setelah mendapat petuah panjang dari Pak Husein bersama Reza kemarin. Kalau bukan Pak Husein yang meminta, Azkia tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke tempat rapat lagi. “Hari ini—“ “Jalan aja. Gue nggak butuh info dari lo,” sinis Azkia dan menaruh kedua tangannya di pundak Reza begitu kecepatan motor Reza bertambah. “Pelan-pelan!” Reza menggelengkan kepala. “Enggak bisa!” balasnya. Dengan lihai lelaki itu membelokkan stir ke arah kanan begitu melihat mobil di depannya akan berbelok. “Kenapa?!” “Udah telat!” “Telat apa, sih? Orang masih ada 20 menit lagi!” “Iya, buat anak-anak MABA 20 menit lagi. Kita harus sampe sebelum 20 menit! Kita yang buat acara, kalau Kakak lupa.” Azkia mencebik sebal. Gadis itu terpaksa melingkarkan tangannya di pundak lebar Reza. Terlalu takut jika hanya memegang bahu lelaki itu. “Lo mau gue mati, Kak?!” tanya Reza begitu merasakan lingkaran tangan Azkia semakin naik ke atas leher. “Makanya nggak usah cepet-cepet!” “Meluknya di perut ‘kan, bisa?! Kenapa harus di leher! Gue nggak bisa napas, Kak!” Azkia menoyor kepala Reza yang memakai helm. Gadis itu terpaksa menurunkan tangannya dan meraih ujung almamater Reza. Menggenggamnya dengan erat. Takut jika nanti ia akan terbang karena kecepatan lelaki itu yang tidak main-main. “Udah!” ucap Azkia. Gadis itu mengigit bibir bawahnya merasakan jantungnya berdegup kencang. Sialan! Seharusnya dari awal ia tidak mendengarkan Reza. *** Sesampainya di kampus, Reza segera mengulurkan tangan. Membantu Azkia untuk turun dari motornya. Lelaki itu melihat sekitar. Mahasiswa baru hampir seluruhnya sudah berada di lapangan. Beberapa juga ada yang baru datang. Mereka bergegas memarkirkan motornya dan mengambil kartu parkir yang tersedia begitu melihat Reza. “Helmnya enggak bisa dibuka,” decak Azkia begitu tangannya berusaha untuk melepaskan tali pengaman di helmnya. Gadis itu mendongak kala tangan Reza terulur. Kepala lelaki itu sedikit menunduk untuk melihat pengaman helm sebelum akhirnya berhasil melepaskannya. “Itu yang kemarin ditembak sama anak fakultas ekonomi bukan, sih?” “Eh, iya! Lho, kok udah punya pacar?” “Katanya mereka udah putus.” “Masa? Keliatannya nggak, deh. Liat aja tuh.” Baik Azkia maupun Reza sama-sama mendengar dengan jelas bisik-bisik mahasiswa baru yang tengah melewati mereka. Memutar bola matanya malas, Azkia lalu bergegas pergi setelah helm di kepalanya terlepas. Ia menatap Reza sebentar sebelum menggerakan kepalanya menuju lapangan. Memberitahu pada lelaki itu jika ia akan pergi lebih dulu. Reza yang paham hanya menjawab dengan anggukan kepala pelan. Lelaki itu menata rambutnya sesaat pada spion sebelum benar-benar turun dari motor. Ia melihat ke arah kanan di mana sebuah mobil berhenti. Setahunya, parkiran di sini hanya menerima motor dan sepeda. Dan parkiran mobil ada di sebelah fakultas kedokteran. Merasa perlu memberitahu, Reza segera mendekat. Namun, tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai, pintu belakang mobil itu terbuka. Menampilkan seorang perempuan dengan kemeja SMAnya dan rok abu yang berada di atas lutut. Rambut coklat panjang yang dimiliki perempuan itu diikat menjadi satu. Tak lupa sebuah pita berwarna biru tua menghias ikat rambut gadis itu. Reza terdiam beberapa saat. Wajahnya yang semula baik-baik saja langsung berubah menjadi dingin saat tahu siapa yang kini keluar dari mobil dengan anggun. “Jesselyn!” panggil seorang perempuan yang datang dari arah belakang Reza. Rahang Reza mengeras mendengar nama gadis di depannya. Jesselyn. Gadis yang kemarin menjadi salah satu kemarahan Reza pada Azkia yang tidak beralasan sama sekali. Dan gadis penyebab kemarahan Pak Husein, sampai-sampai Reza dan Azkia yang terkena hukumannya. Atas pasal melanggar keindahan taman dan tidak memimpin acara dengan baik. Padahal yang merusak tanaman anggrek di taman kampus bukan mereka. “Pagi, Kak,” sapa Jesselyn seraya tersenyum manis. Gadis itu menatap Reza beberapa detik sebelum menunduk dan pergi bersama temannya. Meninggalkan Reza yang mengepalkan tangan kesal. Bisa-bisanya gadis itu masih menyapa setelah apa yang terjadi kemarin? “Za! Sini!” teriak Putra dari arah lapangan. Yang mana berhasil menyadarkan Reza. Lelaki itu melambai dan menunjuk salah satu sound system yang tidak mau menyala. Reza yang menyadari itu langsung mengangguk dan mendekat pada Putra. Mengabaikan pandangan mahasiswa baru yang terus menatapnya. Apalagi saat ia tak sengaja melewati Jesselyn begitu saja. Bisik-bisik dan rumor tak jelas langsung menyebar. “Kenapa?” tanya Reza begitu sampai di depan Putra. “Ini kayanya rusak. Mau dibawa ke gudang apa gimana? Zayan lagi ambil yang baru, sih, dari ruang rapat.” “Taro dipojokkan aja dulu. Yang lain udah datang?” tanya Reza dan membantu Putra mengangkat sound system hitam di depan mereka ke pinggir lapangan. “Udah, sih, kayanya. Tinggal penanggung jawab kelompok hijau sama biru tua. Eh, iya, lo kemana dulu tadi? Gue kira lo langsung ke kampus.” Reza menyugar rambutnya ke belakang sebelum menggelengkan kepala. “Ada urusan sebentar. Barisin aja dulu anak-anak. Apel dulu kaya biasa. Gue mau data anggota dulu.” Putra menahan tangan Reza yang akan pergi. Lelaki itu menatap sebentar pada Azkia yang sudah bertugas di tengah lapangan. Mengambil ponsel mahasiswa yang terlihat. Padahal sudah diberitahu sejak kemarin, saat sudah berada di lapangan, maka ponsel harus sudah berada di dalam tas dan tidak ada yang memainkannya. “Azkia masih marah sama lo?” tanya Putra. Reza mengedikan bahunya pelan. “Gak tahu. Gue nggak nanya sama dia. Semoga aja udah nggak.” “Kena marah juga sama Pak Husein?” Kening Reza mengernyit. “Siapa? Gue?” “Bukan. Azkia.” Membulatkan bibirnya, Reza lalu mengangguk. “Pak Husein juga nggak izinin dia keluar organisasi.” “Alasannya?” “Ya, lo mikir aja kali. Acara lagi gede-gedenya, baru mulai juga, mana diizinin buat keluar.” “Terus gimana?” “Apanya?” “Azkia.” Reza mengusap tengkuknya kecil. “Masih jadi wakil. Cuman ya … gitu. Abis acara selesai dia tetep mau ngundurin diri,” jawab Reza. Lelaki itu menghela napas panjang. Matanya menatap Azkia yang kini sedang mengatur barisan. Dari kejauhan sekalipun Reza bisa melihatnya. Mata Azkia membengkak. Gadis itu pasti menangis semalaman. Apa yang dilakukannya kemarin jelas menyakitkan hati gadis itu. Ah, jika diingat kembali, rasanya Reza seperti orang bodoh. “Kak Reza.” Reza menoleh dan membalikkan tubuhnya begitu merasakan tepukan di bahunya. Lelaki itu mengernyit kasar melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Tubuh tingginya terasa seperti tidak ada apa-apanya dengan gadis di depannya ini. Memiliki tinggi sekitar 185 cm, gadis itu terasa seperti anak SMP. Dengan tinggi sebatas d**a Reza, gadis itu mendongak. Menatap Reza dengan senyum manisnya. “Kenapa?” tanya Reza dan menajamkan matanya. Berusaha agar membuat gadis itu takut. Namun, alih-alih merasa takut, gadis itu justru tersenyum lebar dan terkekeh pelan. Tangannya yang sejak tadi memegang paper bag itu akhirnya terangkat. Menunjukkan sebuah kotak bekal yang ia bawa. “Kakak udah sarapan? Ini aku buat sendiri. Jangan lupa dimakan, ya,” ujar gadis itu tanpa beban. Rambutnya yang diikat satu itu bergoyang kala kepalanya bergerak miring. Senyum manisnya tak kunjung lepas dari wajahnya. Menunjukkan jika apa yang ia lakukan benar-benar tulus. “Gue udah makan. Kasih aja sama yang lain,” tolak Reza. Kalau saja tidak ada kejadian kemarin, mungkin Reza akan dengan senang hati menerimanya dan memakan isi dari kotak bekal itu. Ditambah sejak semalam, Reza belum makan apapun. Saat di hotel pun, Reza lupa untuk sarapan terlebih dahulu. “Tapi, Jesselyn bikin ini buat Kak Reza. Kalau gitu, Jesselyn bawa lagi aja,” ujar gadis itu. Wajahnya berubah menjadi murung. Reza bisa melihatnya dengan jelas. Menelan salivanya dan menarik napas pelan, Reza menahan tangan Jesselyn. Yang mana membuat gadis itu kembali berbalik dan melihat ke arahnya. Jesselyn mengangkat kedua halisnya. “Iya, Kak?” “Siniin,” ujar Reza. Kalau saja Reza tidak ingat jika kakaknya juga perempuan, mungkin Reza bisa menolaknya. “Apanya, Kak?” “Gue bakal makan kalau senggang,” ucap Reza dan mengambil paper bag yang sebelumnya dipegang Jesselyn. “Eh, tapi … kalau Kakak—“ “Baris, sana!” titah Reza dan melepaskan tangannya dari tangan Jesselyn. Matanya melirik sesaat pada Jesselyn yang kembali tersenyum. Gadis itu menganggukkan kepala saat melihat Reza yang melihat ke arahnya. “Siap, Kak!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN