B_E_L_A_S

1283 Kata
Jesselyn Santiardi. Nama lengkap gadis yang siang tadi sempat menyatakan cinta pada Reza. Sosok perempuan yang menjadi salah satu mahasiswa di jurusan fakultas ekonomi. Gadis berambut panjang dengan ujung yang ikal dan berwarna coklat itu adalah salah satu mahasiswa yang mendaftar secara mandiri. Yang mana secara tidak langsung, gadis itu cukup kuat dalam masalah keuangan. Mengingat universitas ini tidak semudah itu untuk dimasuki oleh kalangan murid biasa jika dalam jalur mandiri. “Lo masih cari tuh cewek?” tanya Putra. Matanya melirik pada laptop Naza yang sejak satu jam lalu itu masih menyala. Memiliki kepintaran dalam bidang IT, Naza ternyata handal dalam mengorek informasi. Lelaki itu hanya membutuhkan beberapa jam untuk mencari tahu siapa saja yang ingin lelaki itu cari. Mulai dari nama lengkap, anggota keluarga, alamat, bahkan sampai tempat yang pernah dikunjungi oleh orang tersebut juga bisa Naza lacak. Benar-benar sosok yang mustahil untuk Putra jadikan panutan. Sebab apa yang Naza kerjakan juga setara dengan kepintaran yang dimilikinya. Sehari Naza bisa menghabiskan waktu 18 jam untuk belajar dan mencari pembahasan baru. Sedangkan Putra? 3 jam di dalam kelas sudah seperti cacing kepanasan. Boro-boro 18 jam. “Lo liat anaknya, kan, tadi?” tanya Naza balik. Lelaki itu menggeser laptopnya dan menunjukkan sebuah foto pada Putra. “Dia, bukan?” Putra menatap dengan teliti wajah gadis di depannya sebelum mengangguk semangat. “Iya, dia! Tadi yang Reza tarik juga buat gak ada di lapangan!” jawab Putra penuh semangat. Lelaki itu bahkan sampai menepuk keras paha Naza. “Reza tarik?” Putra mengangguk. “Gue kira anak-anak udah pulang waktu denger di lapangan sepi, ternyata tuh cewek maju ke depan!” ujar Putra. Lelaki yang sedang mengunyah permen karet itu kemudian menceritakan seluruh kejadian yag terjadi beberapa jam lalu. Mulai dari Reza yang datang ke lapangan sampai pada Jesselyn yang tiba-tiba menghampiri Reza. Putra bahkan menceritakan apa yang ia dengar dari Zayan. Di mana Jesselyn yang mengangkat tinggi bunga anggrek ke hadapan Reza. Bunga anggrek yang sepertinya gadis itu ambil dari taman kampus. “Terus? Kenapa Reza tarik Jesselyn?” tanya Naza mulai menyimak. “Gue sih gak tahu, dia ngapain tarik tuh cewek ke lorong. Yang pasti, waktu itu lapangan gak kondusif sama sekali. Anak-anak mulai pada nyebar rumor gitu. Beberapa bahkan sampe ada yang ambil hape ke tasnya.” “Hape gak disita? Bukannya diambilin sama PJ masing-masing?” Putra menganggukkan kepalanya pelan. “Harusnya, sih, gitu. Tapi kelompok Frizka nggak. Frizka bilang lupa ambilin hape anak-anak. Jadi ada yang videoin gitu.” Naza berdecak pelan. “Reza tahu itu?” “Nggak. Wahyu sama Zayan juga bilang buat gak kasih tahu Reza. Kasian. Dia udah kena marah sama Pak Husein.” Naza terdiam. Siapapun tahu siapa Pak Husein. Pria dengan jabatan rektor itu memiliki ketegasan di atas rata-rata. Ia tidak akan segan memarahi dan menghukum siapapun yang melanggar aturan atau membuat kerusuhan. Dan masalah di lapangan terdengar sampai ke telinga pria itu. Naza tahu siapa yang mungkin melaporkannya pada Pak Husein. “Tapi gak dihukum apa-apa, kan?” tanya Naza khawatir. “Biasa. Push up sama buat surat permintaan maaf gitu.” “Sampe segitunya?” Putra mengangguk lemah. “Pengunduran diri Azkia juga ketahuan sama Pak Husein. Sempet diinterogasi sebelum pulang tadi. Lo emang gak tahu?” Naza tidak menjawab. Ia jelas tahu perihal Azkia yang akan keluar dari organisasi. Perempuan itu jelas tidak akan mau kembali lagi setelah mendapat perlakuan tidak mengenakan. Ditambah yang melakukan itu adalah sang ketua. “Tapi, tadi Jesselyn nggak kena apa-apa?” “Kayanya sih, nggak. Tadinya mau gua samperin, tapi dia udah dijemput gitu sama sopir. Orang berada, ya?” Naza menganggukkan kepala. “Orang tuanya cukup ada, lah. Ya, tapi, gitu.” “Gitu … ?” “Lo gak balik?” tanya Naza mengalihkan pembicaraan. Putra mendengkus sebal. Lelaki itu mencebik saat Naza tampak biasa saja tanpa melanjutkan kembali ucapannya. “Baru juga jam sepuluh,” jawab Putra santai. “Iy—Anjir! Kok udah jam setengah dua belas malem?!” Naza menjauhkan wajahnya begitu suara Putra terdengar sangat menggelegar. Lelaki yang semula duduk dengan tenang itu langsung berdiri dan mengambil tasnya. “Kenapa? Biasanya juga jam 2 lo baru balik.” Naza menatap bingung Putra yang tampak panik. “Kunci kos ada di gue!” jawabnya dan mengambil almamater juga topi yang ada di samping Naza. “Reza gak megang kunci?” “Kagak mau dia! Udah gua kasih yang satu lagi dia tinggalin di dalem kamar.” Naza menghela napas pelan. Kedua temannya ini memang selalu memiliki cerita. “Duduk dulu. Gue telepon Reza. Siapa tahu nggak pulang ke kos,” ucap Naza dan menarik Putra agar kembali duduk. Lelaki itu segera mencari nama Reza di ponselnya den menekan tanda telepon. Hanya butuh beberapa detik untuk menunggu Reza mengangkat panggilannya. “Halo? Kenapa lo telepon malem-malem?” tanya Reza dari sebrang sana. Suara lelaki itu terdengar serak seperti orang yang baru bangun tidur. “Lo ada di mana?” tanya Naza langsung pada intinya. “Hotel. Lo lagi sama Putra kagak?” Putra yang mendengar itu segera menggelengkan kepalanya cepat. Tangannya juga mengibas di depan d**a. Meminta agar Naza tidak mengatakan hal sebenarnya pada Reza jika ia sedang bersama lelaki itu. “Iya. Dia ada di samping gue,” jujur Naza. Putra yang mendengarnya hanya bisa memejamkan mata pasrah. “Heh, badak! Lo denger gue, kan?!” marah Reza. Putra menelan salivanya kasar. “Nggih, Kanjeng Raja,” jawab Putra dengan suara yang dibuat lemah. “Emang gila, lo, ya?! Gua udah bilang balik! Untung gue pinter nyari hotel! Kalau nggak, udah ditutupin sama nyamuk gue di depan kos!” amuk Reza penuh semangat. Putra tak bisa berkata-kata. Ia jelas tahu bagaimana marahnya singa jantan satu itu. “Sok-sok’an lo mau laporin gue ke Kak Ciama! Gue yang laporin lo nanti! Menelantarkan anak di bawah umur!” “Bawah umur, p****t lo!” seru Putra pada akhirnya. “Besok pagi, jangan kunci kosan! Gue gak bawa baju!” ujar Reza lantang. “Iye! Nanti gue gak akan kunci!” jawab Putra tak kalah keras. “Za,” panggil Naza. Lelaki itu kembali menarik ponselnya yang semula ia sodorkan pada Putra. “Kenapa?” “Lo kenal sama cewek yang nembak lo?” Beberapa saat tidak ada suara Reza. Hanya ada suara gesekan kasur yang sepertinya muncul karena Reza yang berpindah posisi. “Enggak. Gue nggak kenal,” jawab Reza apa adanya. “Lo tau kalau dia dari kelompok Frizka?” tanya Naza lagi. Kali ini suara gumaman kecil menjadi jawaban atas pertanyaannya. Yang mana, berarti Reza tahu jika Jesselyn berada di kelompok Frizka. “Gue juga udah nanya langsung sama dia. Kenapa bisa tuh cewek keluar dari barisan terus maju ke depan.” “Dia jawab apa, Za?” tanya Putra yang ikut penasaran. “Dia, sih, bilangnya nggak tahu kalau tuh cewek maju. Katanya, dia juga nggak liat Jesselyn ambil bunga di taman.” Naza menatap laptopnya sesaat. Lelaki itu mencerna baik-baik apa yang Reza ucapkan. Jika mengambil kesimpulan dari pernyataan Reza, kedua perempuan itu kemungkinan tidak saling kenal. Namun, kenapa data di laptopnya berkata lain? “Lo gak tanya Frizka kenal dia apa nggak?” “Nggak. Mana kepikiran buat nanya kaya gitu sama tuh anak. Kerjaannya dari awal sampe akhir aja kagak ada yang bener.” Naza menganggukkan kepala pelan. “Ya udah. Kalau gitu, gua tutup dulu.” “Yoo!” “Na, kenapa di sini ada nama Frizka?” tanya Putra yang melihat laptop Naza. Lelaki itu melihat dengan teliti. Takut jika matanya ternyata salah melihat. “Katanya dia gak—“ Putra tak lagi melanjutkan kalimatnya saat melihat Naza yang berubah menjadi datar. “Gue yakin ada yang sengaja buat semuanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN